Hutang 07

93 views
Hutang 07,5 / 5 ( 1votes )

Cerita Sex : Hutang Episode 7 – Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Istri, Cerita Sex Janda, Cerita Sex Lesbian, Cerita Sex Mahasiswi, Cerita Sex Masturbasi, Cerita Sex Ngentot, Cerita Sex Pelajar, Cerita Sex Perkosaan, Cerita Sex Pramugari, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Selingkuh, Cerita Sex Setengah Baya, Cerita Sex SPG, Cerita Sex Suster, Cerita Sex Tante, Cerita Sex WTS, Terbaru.

Cerita Sex , cewe bugil, memek mahasiswi_WM
Cerita Sex Bergambar

Sambungan dari bagian 06

“Masuk aja, Shin. Nggak usah sungkan-sungkan.” Jay membuka pintu depan lebar-lebar. Melangkah masuk.
Dengan santai, dilemparnya serangkai kunci yang digenggamnya ke atas meja ruang tamu. Shinta melongok ke dalam ruangan itu dengan hati-hati.
“Emm, nggak ada orang, Jay?” bisiknya pelan.
“Nggak. Aku cuman tinggal berdua ama adekku. Dia sekarang lagi mudik nemuin ortu.” Jay menurunkan ransel hitamnya di atas lantai.

Lalu dibukanya jaket kulitnya yang lembab terguyur gerimis tadi. Juga T-shirt di tubuhnya. Hanya tersisa jeans hitam yang membalut bagian bawah tubuhnya. Shinta terkesiap. Ini pertama kalinya ia menyaksikan tubuh polos Jay. Dada yang meski kurus dan ditonjoli belulang iga dan vena, tetapi ditumbuhi bulu halus di tengah-tengahnya. Shinta memalingkan wajah malu. Ini yang kedua kalinya, seorang laki-laki melepaskan pakaian di depannya begitu saja. Setelah bapaknya, tentu saja.

Jay memasuki sebuah kamar dan kembali dengan handuk beserta satu set training berwarna hitam di tangannya.
“Wah, cuman ada ini, Shin. Yang laen belom dicuci.” Jay menyodorkannya ke arah Shinta.
Gadis itu menerimanya sambil mengernyit heran. “Buat apaan, Jay?”
“Huu, elo udah kuyup gitu, gimana sih?” Jay meringis sambil mengedipkan mata.
“Ah?!” Shinta seperti baru tersadar.

Ia melihat ke tubuhnya. Memang, kemeja sesiku yang dikenakannya lumayan basah, juga celana hipster putih yang dikenakannya. Tubuh indahnya terbayang begitu jelas di situ. Refleks, ia menutupkan training ke arah dadanya. Tapi Jay sudah berbalik, sambil menunjuk ke kamar yang baru saja dimasukinya.
“Ya udah, ganti aja di kamarku. Aku mau mandi dulu nih.”
Shinta sejenak termangu. Kamarku? Kamar Jay?

Tidak lama, terdengar suara shower dari kamar mandi. Juga suara Jay yang cempreng bersenandung keras-keras. Tidak jelas, lagu apa yang diteriakkannya. Shinta mengendap memasuki kamar pemuda itu. Sebuah ranjang, lemari, meja, cermin seukuran orang dewasa, dan poster! Banyak sekali poster yang terpampang di dinding. Semuanya bergambar tokoh Superman. Itu, temannya Batman dan Spiderman. Cukup rapih untuk ukuran pemuda seperti Jay.

Diam-diam, Shinta menyukai kamar itu. Nyaman, dengan selarik sinar matahari yang menerobos dari jendela nako menimbulkan hawa yang terasa hangat. Kamar itu ternyata menghadap ke Timur. Dalam cuaca hujan seperti ini, kamar Jay benar-benar tempat idaman. Bergegas, gadis itu menutup lalu mengunci pintu kamar. Pelan-pelan, Shinta melolosi pakaian luarnya sambil menatap bayangan di cermin. Mengagumi bentuk tubuhnya sendiri yang hanya tertutup underwear.

Setengah menggumam, “Kamu memang menarik, Shin!” ucapnya pada cermin yang untungnya tidak punya perasaan.
Kalau punya, ia pasti sudah mengerayangi tubuh memek india, si gadis di depannya erat-erat. Sudah beberapa menit, tapi Shinta masih saja memandangi dirinya. Di benaknya, terngiang kembali rayuan pemuda-pemuda yang memuji-muji keindahan raganya. Ia bukannya tidak sadar akan itu. Bagaimana pun, perempuan punya kecenderungan narcism. Memuja dirinya sendiri. Itu fakta. Sayang, gadis itu tidak sempat ‘menikmati’ diri lebih lama lagi.

Jay menggedor-gedor pintu dengan brutal.
“Wooii! Jangan nelor di dalem! Di WC aja!” teriak pemuda itu dari luar.
Sebal sekali. “Iya-iya! Ini juga mau selesai!” Shinta menjawab ketus.
Segera dikenakannya training set itu. Ternyata, kedodoran sekali. Terlihat lucu di tubuhnya. Seperti anak kecil yang hendak berolah raga dengan baju ayahnya.

Shinta membuka pintu kamar dengan wajah masam. Jay, yang tetap hanya mengenakan black jeansnya, spontan terbahak.
“Wuahahahahaa! Mau maen bola di mana, Neng?”
“Hmmph. Ini ‘kan gara-gara baju elo!” Shinta merajuk, lalu duduk sambil menghempaskan pantat keras-keras di sofa.
“Sori-sori. Abis nggak ada yang lain..” Jay membela diri. Senyum masih di bibirnya.

Dengan cuek, ia lalu duduk di lantai, berhadapan dengan gadis itu. Meraih asbak, kretek, dan Zippo. Tiga bersaudara biang penyakit, kata dokter. Tiga sejoli kekasihku, kalau versi Jay.

“Jay, aku minta tolong boleh?” ucap Shinta, setelah mereka saling berdiam diri hampir sepeminuman teh, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sementara, hujan di luar sana belum juga reda.
“Hmm? Apaan?” Jay menatap kepada gadis itu dengan raut serius.
Memang hanya di rumah, seluruh kesadarannya terkumpul. Tidak ada ulah konyol, kekanakan, atau pun melamun sendiri sambil tertawa-tawa.

“Ceritain dong, soal diri kamu, yang nggak dingertiin orang-orang?” Shinta menatapnya penuh harap.
Jay tertunduk. Gadis ini cerdas sekali, batinnya. Lebih dari yang lain-lain.
Menghisap dalam-dalam kreteknya, Jay membalas, “Boleh. Tapi aku pengen cerita sambil meluk kamu.”
Shinta seketika beranjak dari sofa, kemudian mengambil tempat di sisi Jay. Memeluknya erat dengan kepala menyandar di bahu si pemuda.

“Begini?” tanya gadis itu manja.
Jay tersenyum lembut seraya mengangguk. Lengan kurusnya balas mendekap Shinta.
“Aku nggak bisa cerita semua, kecuali..”
“Apa lagi, Jay?” Shinta menunggu was-was.
“Ah tidak, nanti saja. Mau cerita yang mana dulu?” Jay melemparkan umpan pamungkasnya.
Menggigit ujung bibirnya, sedikit kecewa, gadis itu berkata, “Apa saja, Jay.”
Si Pemuda tersenyum. Toh nanti akan datang waktunya.

Lalu segala cerita mengenai dirinya, mimpinya, dan sejarahnya di masa lalu, mengalir dengan runtut. Nyaris semua. Gadis itu mendengarkan semuanya dengan seksama. Sesekali tertawa kecil, mengangguk serius, juga ikut tercenung, berempati pada kisah hidup pemuda itu. Hampir tiga jam, Jay berkicau sendiri. Hebat, bisa saingan sama beo. Shinta menikmati saat-saat ini, dengan segenap rasa. Misteri yang sempat dipikirkannya, tersingkap satu demi satu. Kecuali hal terakhir.

“Jay, mau nanya lagi.” Ucap Shinta, ketika Jay sudah menyelesaikan novel hidupnya.
Jay mengangkat sebelah alisnya. Menunggu.
“Kenapa, kenapa kamu nggak pernah nge-kiss Shinta?” ada kegusaran dalam nada si gadis.
Jay menggelengkan kepala pelan. “Tanya aja yang lain, ya?”
Shinta mengerutkan kening tidak sabar.
“Kamu nggak bergairah sama Shinta, Jay?” kejar gadis itu lagi.
Sekali ini, Jay terdiam. Ia membuang muka. Shinta semakin penasaran.

“Jawab, Jay! Ayo!”
Jemari mungilnya mencengkeram lengan Jay erat-erat.
“Prinsip-prinsip kamu? Atau, karena menurut kamu, Shinta masih kecil? Seperti yang Rien bilang?”
Gadis itu tersengal, egonya terusik. Belum pernah, ada yang bersikap seolah tidak menginginkan dirinya. Bola matanya berkaca-kaca, diayun emosi.

Jay menatapnya kembali. “Hei, hei, bukan itu masalahnya.” tukasnya sabar.
Diusapnya perlahan rambut panjang gadis itu.
“Terus? Apa?!” Shinta menatap penuh tantangan. Berapi-api.
Akhirnya, seperti yang sudah kuduga, batin Jay dalam hati.
Tanpa pikir panjang, Jay menjawab, “Karena itu pasti yang pertama buat kamu.”

Sedetik setelah mengucapkannya, Jay sadar, tidak ada kata mundur setelah ini. Shinta tersenyum manis. Lalu dengan satu gerakan cepat, ia meraih wajah Jay dengan kedua tangannya, dan menyentuhkan ujung bibirnya dengan lembut ke bibir Jay. Merekahkan tepiannya, lalu melumat lambat-lambat. Pemuda itu memejamkan mata. Kehangatan bibir gadis itu, coba diresapinya dalam-dalam.

Shinta menarik wajahnya mundur. Kelopak matanya tampak sayu. Sedang napasnya terdengar mulai cepat.
“Bukan yang pertama, untuk sebuah kecupan, Jay..”
Si Pemuda tidak sempat menjawab. Gadis itu sudah membungkukkan punggung, menciumi tiap senti dadanya yang telanjang. Menggigit, menghisap. Bahkan menjilat. Jay kembali memejamkan mata, dengan kepala terdongak ke belakang. Napasnya tanpa sadar mulai memburu. Gairahnya sedang dibangkitkan. Ia sangat-sangat sadar. Juga ketika jemari Shinta membuka kancing jeansnya, lalu menurunkan retsluiting dengan cekatan.

Dan bibir gadis itu makin turun ke bawah. Dengan ritme yang sama. Jay merasakan sesuatu menyesak di bawah sana. Sigap, ditahannya wajah gadis itu. Lalu si Pemuda mengangsurkan wajahnya, mengulum bibir si Gadis dengan penuh perasaan. Mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulut Shinta dengan liar, lalu keluar ke dagu, leher, dan belakang telinga gadis itu. Shinta mengerang tertahan. Ada rasa geli yang mengalirkan listrik ke seluruh syaraf di tubuhnya. Ia menggigit bibir, menahankan desiran dalam vena di sekitar kuduknya, yang meremangkan bulu-bulu halus di sana, berbarengan dengan tarian lidah Jay di bagian belakang lehernya.

Di samping telinga gadis itu, Jay berbisik lirih, “Jaketnya..”
Tanpa membuka mata, gadis itu menarik turun ritsluiting jaket training yang dikenakannya, kemudian melepasnya dengan cekatan. Jay menatap dada indah yang tertahan oleh bra berwarna merah jambu dengan hiasan renda di tepinya. Ujung jarinya mengangkat kaitan yang terdapat di bagian depan. Satu sentakan pelan, dan bra merah jambu meluncur ke lantai.

Jay menggeserkan hidungnya bergantian pada sepasang buah dada yang tertata dengan apik. Menghembuskan napasnya yang hangat. Shinta semakin tidak tahan. Didekapnya erat kepala si Pemuda, lalu menekannya kuat-kuat dalam pelukannya. Jay paham artinya. Dikecupnya tepian puting yang berwarna merah gelap, lalu ujungnya yang lebih terang, serta menjilatinya dengan penuh hasrat. Tangan Shinta yang bebas, bergerak menarik jeans yang dikenakan Jay, begitu pula sebaliknya. Lalu underwear.

Hanya sekejap, mereka berdua sudah bertelanjang badan. Polos. Keduanya saling tindih kini, di permukaan lantai yang dingin. Deru hujan di luar, seolah sedang terjadi badai petir yang dahsyat. Meski kalah dahsyat dengan badai dalam dada masing-masing mereka. Langkah terakhir. Jay menatap mata gadis yang terlentang di bawahnya.
“I want to touch,” satu bisikan, pernyataan sebuah keinginan.
Gadis itu mengangguk yakin. Lalu pejamkan mata.

Jay masih sempat melirik tanggalan yang terpasang di dinding ruang tamu. Pemuda itu menggeleng pelan. Bibirnya tersungging senyum tipis. It’s about time. Ia kembali menelusuri tubuh si gadis dengan bibirnya, lalu menarikan tango jari di bagian bawah si gadis. Yang kemudian melonjak-lonjak dan merintih tak keruan. Penuh kenikmatan. Kemudian meninggalkan gadis itu begitu saja, ketika jeritan tertahannya terlontar untuk yang kesekian kali, dan tergeletak lemas. Jay meraih sebatang kretek dan menyulutnya seraya duduk di sudut sofa. Entah sejak kapan, wajahnya terlihat begitu dingin dan bengis. Khas lelaki penakluk. Iblis Jahanam. Ada noda darah di lantai, diusap dengan ibu jari kaki.

***

Bersambung ke bagian 08