Hutang 05

97 views
Hutang 05,5 / 5 ( 1votes )

Cerita Sex : Hutang Episode 5 – Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Istri, Cerita Sex Janda, Cerita Sex Lesbian, Cerita Sex Mahasiswi, Cerita Sex Masturbasi, Cerita Sex Ngentot, Cerita Sex Pelajar, Cerita Sex Perkosaan, Cerita Sex Pramugari, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Selingkuh, Cerita Sex Setengah Baya, Cerita Sex SPG, Cerita Sex Suster, Cerita Sex Tante, Cerita Sex WTS, Terbaru.

Cerita Sex , cewe bugil, bugil kamar mandi_WM
Cerita Sex Bergambar

Sambungan dari bagian 04

Sesuatu yang tidak pernah ia pungkiri, adalah ia suka saat-saat kepalanya berada dalam pangkuan seorang wanita. Pangkuan itu lebih dapat membangkitkan nyamannya dibanding kasur dan bantal yang empuk. Penyakit lama. Mother complex. Dibawa kemana-mana.

Menit-menit berlalu, tanpa terasa. Dewi tersenyum saat merasakan pemuda itu sudah terlelap. Napasnya menghembus perlahan. Si gadis menyibakkan rambut yang menutupi samping wajah Ray. Mengamati beberapa lama, Dewi terenyuh. Di sudut mata pemuda itu, ia dapat melihat kerutan-kerutan. Wajah yang ada di pangkuannya itu, tidak seperti wajah yang biasa dilihatnya selama ia mengenal pemuda itu. Wajah ini sungguh jauh dari apa yang namanya bahagia. Dewi percaya, bahwa saat seseorang tertidur, itulah saat-saat di mana orang lain dapat melihat apa di balik semua cerita tentangnya.

Dan mengingat hal itu, membuat Dewi berbisik lirih, “Siapakah kamu sebenarnya?”
Seolah mendengar, tubuh Ray bergerak. Kedua ujung bibirnya tertarik. Pemuda itu sedang tersenyum. Dewi menghela napasnya dalam-dalam. Gadis itu meletakkan sebelah tangannya yang bebas ke bahu Ray, lalu menyandarkan tubuhnya. Dewi memejamkan mata. Menikmati kebersamaan itu.

Aku terlalu banyak menduga-duga, pikir gadis itu kemudian. Ray adalah Ray, yang sekarang berbaring di pangkuanku. Lain tidak. Aku percaya padanya. Ray terbangun lama kemudian. Menggeliat. Tidur yang nyaman, setelah beberapa hari kesibukan menyita waktunya untuk tetap terjaga. Pemuda itu menoleh dan melihat wajah Dewi dan senyum gadis itu di atasnya. Dalam tidurnya, Ray teringat sebuah perasaan aneh yang dirasakannya saat di elevator tempo hari. Sesuatu yang gawat. Ia merasakan kehangatan dari gadis itu! Matanya menatap mata gadis itu sekarang, mencari perasaan itu. Ia menemukannya.

“Kamu kenapa?” tanya Dewi setengah berbisik.
Ray menggelengkan kepala. “Tidak,” katanya, “Kamu begitu istimewa.”
“Istimewa?” tanya Dewi ingin tahu.
“Ya,” lanjut Ray, “Jarang ada gadis yang bisa membuatku hangat.”
Dewi tertawa kecil. “Kamu itu ada-ada saja,” katanya, tapi mau tak mau wajahnya memerah, malu bercampur bangga.

Ray bangkit dari pangkuan si gadis. Beberapa saat lamanya ia memandangi mata Dewi, membuat gadis itu merasa rikuh.
“Pandanganmu,” bisik gadis itu, saat ia tak tahan lagi.
Ray tertawa. Pemuda itu mendekatkan bibirnya ke telinga si gadis. Satu kecupan di pipi, Ray berbisik, “Kalau aku mengajakmu untuk bercinta. Kamu mau?”
Dewi menoleh tanpa sadar. Wajah mereka benar-benar dekat kali ini. Gadis itu terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Ray tidak pernah berkata demikian diluar guyonannya yang memang terkadang menyiratkan keinginan untuk itu. Selama ini Dewi beranggapan Ray hanya bercanda. Tapi saat itu, ia melihat satu keseriusan di mata si pemuda.

“Ray, aku..”
“Ssshh..,” Ray berbisik.
Bibirnya meraih bibir si gadis. Lama. Waktu seolah berhenti. Dewi mengerenyitkan alisnya. Kali ini berbeda. Ada sesuatu yang lain dalam kecupan itu. Sesuatu yang memaksanya untuk menyerah. Gadis itu terengah saat Ray melepaskan bibirnya. Ray menggeser wajahnya, menempelkan pipinya ke pipi si gadis, menghembuskan napasnya halus, memastikan gadis itu merasakan getaran-getaran penggoda.

“Apa itu tadi, Ray?” bisik Dewi lirih.
“Itu,” desah Ray di telinga si gadis, “Namanya kehangatan. Keinginan. Hasratku.”
Dewi memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti, angannya terbuai. Terlena.
“Besok datang ke rumah?” desis Ray kemudian.
Tidak ada jawaban. Tidak ada gerakan. Dewi mengeluh dalam hatinya. Ia benar-benar kebingungan kini. Gadis itu merintih dalam hati. Hasratnya bergejolak. Satu anggukan kecil terjadi kemudian.

Tidak dapat dilihat Dewi, Ray membuka mata dan tersenyum. Gotcha..! Kehangatan yang kauberikan untukku akan membuatmu jatuh.
“Sekarang,” bisik Ray, lalu tiba-tiba menarik tubuhnya mundur.
“Sekarang?” Dewi bertanya, jantungnya berdegup kencang. Apa maksudnya?
Dalam debar jantungnya, gadis itu melihat pemuda di sampingnya membungkuk, lalu meraih-raih sesuatu. Sesaat kemudian, kaki pemuda itu sudah berada di atas kursi. Dewi tergelak tanpa dapat ditahan.

“Aduh,” gerutu Ray, “Sori jempolku..”
“Aku tahu,” potong Dewi, “Jempolmu birahi, kan?”
Ray mengangkat kepalanya, memandang dengan wajah bodoh. Mereka berdua lalu tertawa. Segala rasa kikuk menghilang, berganti dengan kemesraan. Dewi masih menyimpan debaran itu di dadanya. Ray pulang beberapa saat kemudian tanpa menyinggung tentang ajakan itu lagi.

***Some faces of Jay
Delapan hari sebelum Deadline

Jay mengetuk-ngetukkan pangkal kreteknya ke kaca arloji. Ia sedikit sebal dengan warung rokok di ujung jalan sana. Bukan apa-apa. Masa rokok kretek idolanya seempuk tahu Ebes? Benar-benar merusak selera, batin Jay lagi. Ia sedang duduk di bawah sebatang pohon di parkiran Kampus Merah. Sesekali, hidungnya menarik cepat cairan yang nyaris menetes dari lubang hidungnya.

Sejak empat hari yang lalu, ia terserang influenza berat. Dan belum membaik hingga saat ini. Entah kenapa, ketahanan tubuhnya kini menurun drastis. Ia semula sempat khawatir, jangan-jangan si OHIDA – Ray, telah menularkan virusnya hari-hari kemarin, waktu mereka berbagi secangkir kopi di Warung Senang. Atau juga karena TBC yang diidapnya sudah melewati tahap stadium menengah? Entahlah. Jay sedang mencoba tidak perduli dengan tubuhnya. Ia sedang mengkhayalkan tubuh yang lain.

“Hehehe..” Jay terkekeh sendiri.
Mirip orang gila di RSJ Menur sana. Dasar. Jay masih terlena dengan segala khayalan kotornya, bahkan saat dua telapak tangan mungil mendekap erat kelopak matanya dari belakang. Ia bahkan mulai tertawa-tawa dengan nada cabul, sementara si pemilik tangan yang semula tersenyum-senyum riang berubah melongo atas reaksi pemuda itu.

“Heheheh.. yaa.. matiin aja lampunya.. heheheh.. mmhh..”
“Aduh, geli sayaang, jangan digelitikin doong..!”
“Hehehe.. jangan dibuka dulu ritsluitingnyaa.. uuhh..”
Jay meracau makin tidak karuan.

Gadis itu, Shinta, sontak melepaskan tangannya. Kedua alisnya tersambung.
Ia melangkah ke depan Jay, mengamati wajah pemuda itu yang lalu berseru, “Yaa! Kok dinyalain lagi lampunya!” protes Jay sambil tetap memejamkan mata.
“Jay!” Shinta berteriak kesal.
“Hah..?” Jay membuka kedua matanya.

Kaget. Satu-satunya yang masih tulus dari Jay. Shinta berkacak pinggang dengan wajah masam. Bibirnya yang semestinya indah, sudah bertekuk bagai lapis legit Surabaya. Tapi Jay tidak pernah suka makanan yang manis-manis. Bikin diabetes, katanya satu kali.

“Euuhh, ada apa, Sayang?” Jay mencoba merayu dengan wajah dipolos-poloskan.
“Kamu abis ngapain, barusan..?” Shinta menatap penuh selidik.
Ia mencari tanda-tanda ketidak sadaran di wajah pemuda itu. Tapi yang ditemuinya malah wajah malu-malu dan tatapan seorang maling jemuran yang tertangkap basah.
“Aku.. aku.. abis fantasi..” Jay akhirnya berkata jujur.
Wajahnya menunduk ke rerumputan. Sesaat, ia berharap ada uang receh yang tercecer. Lumayan, buat nelpon, pikirnya. Jay memang kurang peka pada situasi.

Shinta membelalakkan mata takjub. Petir di siang bolong, mungkin hanya membuatnya tersipu dibanding pengakuan jujur barusan.
“Di sini? Siang-siang?!” pekik Shinta tertahan.
Tanpa sadar, sebutir keringat dingin menetes di kening Shinta yang licin. Berfantasi seks di tempat dan waktu seperti ini, jelas bukan tanda seorang pemuda normal, bisik hati Shinta. Ia seperti baru saja mengenal Jay, atau setidaknya sisi Jay yang satu ini. Bahkan setelah kejadian malam hujan deras beberapa hari yang lalu.

“Berapa banyak sisimu lagi yang aku belum tahu, Jay?” tusuk benaknya.
Ada kengerian yang menerkam jantungnya. Ia bergidik. Kesunyian melanda mereka berdua untuk beberapa detik.
“Eh, kita nyari makan, yuk?” Jay tiba-tiba saja berdiri lalu meraih lengan Shinta.
Sepertinya, akal sehat sudah kembali di dalam kepalanya. Gadis itu semula berniat menepiskan tangan Jay yang terulur, tetapi sudut matanya menangkap kesungguhan di raut wajah pemuda itu. Dan bola mata kecoklatan Jay, tampak begitu hangat. Kehangatan di malam hujan deras. Dan wajah gadis itu lalu tertunduk.

Shinta menurut saja saat Jay menggandeng lengannya dan membawanya pergi. Namun, jauh di dalam hati, Shinta mendengar hati kecilnya mengucapkan peringatan. Mengenai pemuda yang telah mengambil hatinya dengan sukses ini. Bahwa ia, masih saja mendapati hal-hal yang asing dalam diri Jay. Misterius, dan terkadang dapat begitu mengerikan.

Mereka duduk bersebelahan di depan meja panjang kantin Kampus Biru. Jay asyik sekali menghadapi sepiring krengsengan yang dipesannya. Makan dengan lahap, memasukkan sendok demi sendok nasi dengan kegembiraan khas anak-anak. Shinta meliriknya sesekali dengan mimik menahan tawa. Pemuda itu seolah tidak bertemu makanan selama sebulan. Dalam tujuh menit, piring itu telah licin. Jay melirik ke kiri-kanan. Shinta menyodorkan sebotol teh di sampingnya.

“Nih, minumnya.”
Jay tersenyum bahagia, lalu menyedotnya seperti bayi yang kehausan. Habis juga.
“Huuaahh, kenyang deh..”
Jay menyandarkan tubuh ke dinding kantin, lalu menepuk-nepuk perutnya yang terlihat membuncit. Satu tangannya yang lain sudah menggenggam sebatang kretek yang siap disulut. Benar-benar cekatan, batin Shinta geli.

“Kamu selalu ngabisin makanan sampai licin, Jay?” ucap Shinta sambil tersenyum menggoda.
Mie baso di depan gadis itu masih tersisa separuh.
“Heheheh..” kekeh Jay seraya tersenyum-senyum senang, sambil mengepulkan asap kreteknya lambat-lambat.
Dasar sableng, ia merasa ucapan Shinta sebagai sebuah pujian atas kemampuannya yang ‘mempesona’. Mendadak, Jay menegakkan tubuh. Senyumnya sudah menghilang. Matanya menatap sayu, lurus ke depan. Bersiap.

Shinta yang masih mengamatinya, jadi terheran. Ia mengikuti arah tatapan mata Jay. Seorang gadis berambut cepak, berwajah manis, berkulit kuning, dengan tubuh tinggi semampai menggiurkan, berjalan mendekat ke arah mereka. Kesinisan di raut wajahnya, membuat Shinta langsung merasa tidak suka. Gadis berambut cepak itu berdiri tegak di hadapan mereka.
Ujung dagunya yang runcing terangkat, “Jadi kamu cewek memek Yuri, barunya? Anak kecil!” si Cepak melempar pandangannya ke arah Shinta.

Api terpancar di bola mata si Cepak. Shinta mengerutkan keningnya. Ia tidak suka membuat masalah. Tapi dadanya sudah bergolak. Mendadak, ia merasakan genggaman di jemarinya. Terheran, ia menoleh ke samping. Jay masih tetap duduk, dengan pandangan sayu yang sama, dan kepulan kretek dari bibirnya. Hanya kini menunduk, menatap ke atas meja.
“Aku cuman mau makan dengan tenang, Rin. Dan dia temanku.” Jay berkata lirih.
Ia sengaja tidak menatap ke arah si Cepak yang dipanggil Rin. Ada yang disembunyikannya dari dua orang gadis di dekatnya itu. Sesuatu dalam sinar matanya.

Rin mendengus kesal. Ia berpaling menatap Jay sekarang.
“Temen? Hah! Dasar playboy!”
“Elo punya temen cewek?!”
“Seinget gue..” si Cepak nyaris melanjutkan kalimatnya, ketika Jay tiba-tiba berdiri dan menatap lurus ke bola mata gadis itu.
“Rin, please.. jangan ganggu kita.”
Kata-kata Jay terdengar berat dan dingin, seolah berasal dari dasar dadanya. Tetapi yang membuat Rin dan juga Shinta tercekat hampir bersamaan, adalah sorot tajam mata pemuda itu. Menyala-nyala dengan kebencian dan kekejaman. Bengis.

Si Cepak seketika membalikkan tubuh dan bergegas menjauh. Tak menoleh-noleh lagi. Shinta lalu tersadar, genggaman Jay di jemarinya terasa sedingin es. Satu lagi hal baru yang ditemuinya tentang Jay. Yang pernah didengarnya dulu. Jay yang dingin. Tetapi Shinta bersyukur, setidaknya gadis yang menyebalkan itu sudah pergi. Ia mencatat satu hal baru, yang perlu ditanyakannya pada Jay nanti. Apa masalahnya dengan gadis yang dipanggil Rin itu. Mereka sepertinya pernah mengenal dekat, terka Shinta dalam hati.

Jay seolah dapat membaca pikiran Shinta. Matanya berubah lembut, “Dia mantanku, namanya Rinka.”
“Oh?” Shinta sedikit kaget.
“Dan nggak pernah suka tiap kali ngeliat aku jalan sama gadis-gadis,” Jay mengisap kreteknya dalam, “Yaa, dia tipe posesif, dan masih pengen balik sama aku..”
“Jay,” potong Shinta cepat-cepat, “Gadis-gadis? Kamu beneran playboy?” Shinta tersenyum simpul.

“Eh, maksudku, bukan pacar lho..!” tukas Jay sigap. Ia sadar sudah salah omong.
Gadis ini terlalu cerdas dibanding yang lain. Calon pengacara, sih.
“Iya-iya. Aku juga tahu. TTM (tahu-tahu mau) kan?” Shinta masih saja menggoda pemuda itu.
Ia selalu suka melihat Jay salah tingkah. Kekanak-kanakan. Lucu.
“Hahaha..!” tawa Shinta meledak, demi melihat Jay hanya dapat meringis culun seraya menggaruk-garuk kepalanya. Salah satu pose favorit Shinta dari Jay.

***

Bersambung ke bagian 06