Hutang 03

88 views
Hutang 03,5 / 5 ( 1votes )

Cerita Sex : Hutang – Episode 3

toket toge makyus_WM
CerSexMek

Sambungan dari bagian 02

“Jahat! Kamu jahat, Jay..!” Shinta memukul-mukul punggung Jay dengan gemas, ketika mereka berdua sudah duduk berboncengan di atas motor besar pemuda itu.
Jay tersenyum-senyum kecil. Ia masih menikmati desiran angin di sela-sela rambut gondrongnya.
Tanpa menoleh, ia berteriak lantang, “Aku suka kamuu, Shintaa!”
Sontak, Shinta membelalakkan matanya, lalu melirik ke kiri-kanan. Mereka masih berada di lingkungan kampusnya, dan beberapa mahasiswa yang sedang berjalan di dekat mereka terlihat tersenyum-senyum geli. Tanpa disadarinya, Shinta ikut tersenyum.

Wajahnya merunduk di samping telinga Jay, “Kamu bandel!” bisiknya lirih, sambil menyelusupkan jari ke balik jaket pemuda itu, lalu menghadiahkan cubitan kecil.
“Wadaaoow!” jerit Jay, dan tiba-tiba menarik handel rem.
Shinta yang tidak menyangka aksi itu, spontan memeluk tubuh si Pemuda dari belakang. Hanya beberapa detik, Shinta langsung melepaskan dekapannya. Wajahnya terlihat merajuk, dan memerah kembali. Ia tidak ingin disangka mengambil kesempatan.

“Apaan sih, Jay..?” jerit gadis itu seolah-olah sedang marah. Khas perempuan, selalu ‘jaga image’.
“Lhah, kamu, pake nyubit segala!” Jay mengusap-usap pinggangnya.
Lumayan merah juga. Anak ini bener-bener mirip kepiting, batin Jay.
“Abis, kamu bandel banget sih..!” Shinta memperhatikan lagi ke sekeliling.
Mereka sudah berada dekat lapangan basket di belakang kampus. Syukurlah, tidak ada orang di sini, batin Shinta lega. Cukup dua kali saja ia jadi tontonan hari ini.

“Kalo pengen meluk, bilang aja deh, aku ikhlas kok,” goda Jay lagi.
“Yeey, enak aja!” Shinta membuang muka.
“Emang enak!” timpal Jay cepat.
Shinta sudah tidak berani bicara.
“Shin..” Jay berbisik lembut.
Ia membalikkan punggung, menatap wajah gadis itu dari dekat. Shinta melengos, membuang muka ke samping. Dadanya sudah berdebar tidak karuan. Napasnya memburu cepat, seirama dengan dadanya yang naik-turun.

“Aku pengen dipeluk lagi.” ucap Jay sambil berbalik ke depan, seraya menarik gas.
Shinta tidak bergeming.
“Masih malu-malu, dia,” batin Jay geli.
Kuda besi dengan dua penunggang berbeda jenis itu kembali menderu.

“Memangnya, kenapa kamu ngelakuin itu semua tadi, Jay?” ucap Shinta, ketika mereka sudah keluar dari areal kampus.
Belum lima menit, dan gadis itu sudah tidak tahan untuk berdiam diri.
Jay tersenyum simpul, “Aku udah bilang, kan?”
“Apa? Kamu suka aku?” tukas gadis itu cepat-cepat. Ada nada tidak percaya di sana. Juga keceriaan. Dan Jay bukannya tidak tahu.
“Iya.”
“Trus?” Shanti masih mengejar.
Seketika ia sadar sudah bertindak agresif. Sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama ini. Sesuatu yang justru selalu dilakukan oleh pemuda-pemuda lainnya. Ia mulai terheran-heran pada dirinya sendiri.

“Ya udah. Itu aja..” sahut Jay kalem.
“..dulu.” lanjutnya sambil terkekeh dalam hati.
Gadis di belakangnya seketika tersenyum kecut.
“Itu aja..?” batinnya kecewa.
“Tapi, aku minta tolong nih..” ucap Jay kemudian.
“Hmm..?”
“Pinggangku masih sakit abis kena cubit, nih.”
“Pegangin dong..!” lanjut Jay lagi.
Shinta tersenyum manis sekali. Sayang Jay tidak dapat melihatnya.

Tangan Shinta terulur ke depan, mengusap pinggang Jay yang dicubitnya tadi.
“Eh, yang satunya juga sakit, tuh. Nular kayanya..!” seru Jay.
Shinta nyaris tergelak. Ia mengerti maksud pemuda itu. Membungkukkan punggung, diraihnya pinggang si Pemuda dengan kedua lengannya.
“Begini?” Ia memegang pinggang Jay dengan lembut.
“Belum. Gini nih.” Jay menarik handel rem dengan cepat, membuat tubuh Shinta terdorong ke depan dan menempel dengan punggungnya. Lalu menarik gas kembali.
Gadis itu sudah memeluk tubuh Jay dengan erat. Hangat.

“Terima kasih..” bisik Jay sambil berpaling ke wajah gadis itu yang kini begitu dekat dengan wajahnya.
Kelopak mata gadis itu sudah terpejam, dan Jay dapat merasakan hembusan napas si Gadis di pipinya. Cut..!
Seketika Jay menyadari bahwa ia sedang melaju di jalanan. Terburu, ia membalikkan kepala ke depan, persis ketika seekor kucing sedang melintas di depannya. Sigap, ia membanting setir, bermanuver ala pembalap Grand Prix.

“Batal mati, kamu, Pus..!” umpatnya dalam hati.
Shinta yang kaget dengan manuver itu, spontan membuka mata.
“Kenapa, Jay?” tanyanya heran.
“Nggak pa-pa..” jawabnya gusar, “Hampir bikin sate kucing, kita.”
Dasar, kucing nggak tau orang seneng..!

Jay menghentikan motornya di depan pagar Asrama Putri. Langit sudah terlihat gelap. Mereka berdua memang sejak sore tadi, berkeliling kota tidak tentu arah. Shinta melangkah turun. Ia sebenarnya belum ingin berpisah dengan pemuda ini.

“Jay, nggak mampir dulu?” ucapnya berharap.
“Wah, aku kudu cepet balik, Shin. Ada kerjaan buat besok.”
Shinta mengangguk kecewa. Senyumnya terlihat dipaksakan.
“Oke deh. Makasih ya, udah dianterin.” Bola mata indahnya sedikit meredup.
Jay meringis lucu. “Hahaha! Aku yang makasih! Boleh ngebawa kamu kemana-mana! See you, Shin!”
Jay menstarter motornya, dan berlalu pergi.

Shinta masih berdiri memandangi punggung pemuda itu, sampai menghilang di ujung jalan. Lalu melangkah gontai ke dalam asrama.
“Masih ada esok hari, Shin!” hibur hatinya.

***

Dengan tombak, mangsa menggelepar sekejap, lalu mati. Dengan pancing, mangsa menggelepar lebih lama, lalu mati.

***

Target locked.. missile approaching.. zzcchh..!
Tiga belas hari menjelang Deadline

Terus terang saja, Dewi sedikit minder siang itu, ketika Ray membawanya jalan-jalan ke mall. Bagaimana tidak, seharian tadi Dewi sudah sebegitu sibuknya, hingga lupa memperhatikan kodisi diri. Sementara Ray, pemuda yang memeluknya dari belakang di eskalator itu, terlihat cerah.

Beberapa langkah di lantai empat, Dewi mendekat dan berbisik, “Ray, kamu ngga apa-apa? Aku kusut, loh.”
Pemuda di sebelahnya menoleh tanpa menghentikan langkah.
“Kamu ini,” kata si pemuda, “Sudah berapa kali nanya begitu? Aku kan sudah bilang, aku tak perduli. Mau kamu baru bangun tidur, kek, pakai piyama, kek, pakai kebayanya Mpok Echa, kek. Aku tak perduli. Sudahlah, cuek saja.”

“Eh, siapa itu Mpok Echa?”
“Tukang pecel kumel di sudut gang.”
“Hih, sialan,” tawa Dewi gemas. “Namanya gaul. Echa.”
“Nama aselinya Surtinah.”
“Nah loh? Ngga ada miripnya.”
“Makanya itu. Aku tadi nyomot dari mana, ya?”
Dewi tergelak. Pemuda itu lalu meletakkan lengannya di pundak si gadis, menariknya ke dalam pelukan yang erat dan hangat. Beberapa orang tersenyum menyaksikan mereka. memek Tiffany, Pengantin baru nih ya, salah seorang berbisik agak keras pada yang lain. Kebahagiaan Dewi, sampai ke tulang sumsum.

“Aku jadi mikir nih, De,” mendadak Ray menyeletuk.
“Apa?” tanya si gadis.
“Bagaimana kalau kamu telanjang jalan-jalan di mall.”
“Hiih..!” Dewi mencibir, jemarinya terulur. Mencubit mesra.

Siang sampai sore mereka habiskan di dalam bioskop. Ray sengaja mematikan handphone di sakunya. Tidak ingin ada yang mengganggu, bahkan orang media sekalipun. Semua berjalan begitu indah, begitu mulus, sebuah kesempurnaan.

Selama di bioskop, dalam kegelapan, dua kali Ray mengecup bibir si gadis. Dan sampai film yang diputar hampir selesai, mereka berpegangan tangan. Mirip anak SMA. Orang-orang di luar memandang mereka berdua saat keluar dari pintu bioskop. Rambut keduanya benar-benar mirip sekarang. Mirip genderuwo, gombal di sana sini. Cengiran terlihat di wajah mereka.

Tadi, sebelum film berakhir, beberapa penonton sempat menggerutu, mendengar mereka tertawa-tawa sendiri. Waktu itu, Ray, yang sebal ketika Dewi menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya, mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas. Buntutnya, mereka saling mengacak-acak rambut satu dengan lainnya.

“Tuh, kan, lihat nih. Aku jadi kucel abis,” gerutu Dewi, seraya meraba-raba rambutnya.
Di sampingnya, Ray seolah tidak perduli, malah asyik menggoyang-goyangkan kepala ala Van Halen, hingga rambutnya jatuh semua ke depan. Beberapa tatapan mata kagum melayang melihat rambut ikalnya.
“Terus? Kamu mau ngapain lagi? Mandi di sini?” celoteh Ray kemudian.
Dewi meninju lengan si pemuda, “Kalau ada sabun, kenapa tidak?”
Ray tertawa. Katanya, “Kamu tuh udah cakep. Mau bukti?”
“Bukti?”
“Iya,” sahut Ray, lalu menarik lengan si gadis, setengah menyeret menelusuri lorong keluar.
Dewi tidak dapat menebak apa yang ada di dalam benak pemuda itu.

Sampainya di depan bioskop, Ray menghentikan langkahnya. Berbalik, ia menatap mata gadis di depannya.
“Mau bukti?”
Dewi memiringkan kepalanya. Menunggu, walau dalam hati ia seratus persen yakin pemuda itu akan melakukan sesuatu yang gila. Gadis itu melihat Ray tersenyum. Kedua lengan si pemuda terulur. Dalam satu gerakan cepat, Ray sudah memeluk kedua paha gadis itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Kamu,” desis Ray saat gadis itu masih di dekapannya, “Sudah cantik.”
Dewi memekik. Suara tawa terdengar di mana-mana. Sekejap para pengunjung food court merasa hangat. Sepasang suami isteri tanpa sadar menyatukan jemari mereka dalam genggaman. Seorang gadis di depan counter Mc. D memeluk pacarnya yang tersenyum, ingin ia diperlakukan demikian.

“Kamu gila, ayo sini..!” Dewi menggerutu kemudian, seraya menarik lengan Ray menjauh.
Pemuda itu hanya terkekeh-kekeh. Senyumnya ditujukan membalas cengiran semua orang yang memandangnya. Di gang depan elevator, Dewi berhenti. Napasnya tersengal. Gadis itu merasakan jemari Ray mengusap rambutnya. Dewi mengangkat kepala, melihat Ray tersenyum di balik helai rambut yang menutupi wajahnya.

“Aku mau peluk kamu. Boleh?” tanya pemuda itu seperti berbisik.
Dewi tersenyum. Ray menarik gadis yang masih terengah itu dalam pelukannya.
“Lain kali jangan pernah minder ya, kalau sedang bersamaku.”
Gadis dalam dekapan mengangguk lemah. Ia tidak berdaya di depan pemuda itu. Dalam elevator yang sepi, mereka berciuman.

Basement yang sepi. Mesin mobil hidup. Ray melumat bibir gadis di pelukannya. Gadis itu memejamkan matanya, jelas ia sangat menikmati perlakuan pemuda itu padanya. Setiap sentuhan bibir yang lembut. Helai-helai rambut yang terkadang menggelitik lehernya. Pelukan si pemuda membuat Dewi merasa nyaman. Mata gadis itu terbuka dengan sirat kekecewaan saat Ray melepaskan tubuhnya. Kesunyian menyusup diam-diam, mencuri waktu, sampai mereka keluar dari mall.

Ray termenung dalam pikirannya sendiri. Ia merasa ada sesuatu yang salah, yang ia sendiri belum dapat mengerti apa adanya. Semua sudah berlangsung dengan seharusnya, sesuai dengan apa yang diinginkannya untuk terjadi. Namun di elevator tadi, saat ia melumat bibir gadis itu, ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang hanya dapat dirasakan, tidak dapat dilihat dan diungkapkan dengan kata. Ray membuang pikirannya jauh-jauh saat merasakan Dewi menggenggam jemarinya.

“Ada apa?” tanya si pemuda.
Dewi tersenyum dengan tubuh dimiringkan, hingga menghadap si pemuda. Jemarinya yang menempel di jemari Ray bergerak, mengelus, meraba.
“Ada apa?” tanya Ray lagi, kali ini sambil menoleh dan tertawa. Dewi menggelengkan kepalanya.
“Aku tak kunjung kehilangan heran,” kata gadis itu lirih.
“Heran?”
“Ya,” lanjut si gadis, “Heran kenapa kita bisa bertemu. Untukku, kamu seperti seorang asing yang masuk tanpa ketuk pintu. Tapi kenapa ya, kok aku tidak bisa mengusirmu keluar setelah kau masuk.”

“Kamu mau mengusirku?” senyum Ray, matanya memandang lurus ke depan.
Dewi menggeleng, “Tidak. Aku tak ingin kamu pergi malah.”
“Kamu mencintaiku,” ucap Ray menuduh.
Gadis di samping si pemuda tersenyum. Dewi menggunakan lengan Ray untuk menarik tubuhnya mendekat. Satu susupan di lengan si pemuda, Dewi menempelkan tubuhnya, menyandarkan kepala di pundak Ray. Si pemuda menoleh dan nyengir. Ia melepaskan pegangannya di setir mobil, lalu mengelus rambut si gadis.

“Ray! Siapa yang nyetir?” seru Dewi setengah tertawa.
Ray, dengan sikap tenang berkata, “Biar saja. Ini kan mobil otomatis.”
Teett..! Teett..! C’kiitt..! “Hey..!”
Di tengah jalan. Di tengah keramaian pengemudi gusar. Mobil itu berhenti.

Salah seorang sopir taksi turun dari mobil, menghampiri dengan jemari terkepal.
“Hey, kamu..,” kata-katanya terhenti.
Di dalam mobil itu, dua makhluk berpagutan, berpelukan. Melekat. Si sopir serba salah. Ingin mengetuk, tapi kok rasanya tidak toleransi.

Ia teringat, dulu juga ia pernah muda. Menghentikan becaknya di pinggir sawah. Mengecup bibir perawan desa yang kemudian menjadi isterinya. Mirip di tipi-tipi. Si sopir akhirnya surut kembali ke mobilnya. Kerinduannya akan sang isteri muncul.

Saat si sopir melewati mobil yang masih berhenti itu. Ia melihat lengan kanan orang di belakang setir terangkat. Sebuah jempol teracung.

***

Bersambung ke bagian 04