Internet Friend 03

78 views

Cerita Sex : Internet Friend – Episode 3

cewe bugil, memek tante girang
CerSexMek

Sambungan dari bagian 02

Rini namaku (Bukan nama sebenarnya). Aku berasal dari Kalimantan Barat dari sekarang ini sudah pindah ke Jakarta bersama keluargaku. Aku kehilangan kegadisanku saat berusia 15 tahun (Well, dengan cowok pertamaku tentunya, alasannya klise, demi cinta). Aku ingat benar tiap cowok yang pernah berhubungan seks denganku. Setelah dua tahun meninggalkan cowokku yang pertama (dia cowok brengsek!), aku baru berhubungan seks lagi dengan cowok lain. Cowok kedua yang pernah menikmati tubuhku, adalah saudara sepupuku sendiri yang usianya 5 tahun lebih muda dariku. Dua tahun kemudian baru aku berhubungan kembali dengan cowok yang lain.Cerita Sex Terbaik Cowok yang ketiga adalah teman internetku. Namanya Wayne. Orang Vietnam keturunan Chinese dan usianya setahun lebih tua dariku. Dia adalah teman internet pertama yang pernah menikmati tubuhku. Saat itu aku berusia 22 tahun, berada di Melbourne untuk kuliah. Aku suka sekali chatting dengan Wayne yang berada di Brisbane. Awalnya kami cuman ber-cyberseks-ria. Dia adalah ‘pelanggan’ tetapku. Setelah beberapa kali cyber seks, kami pun mulai berphone seks ria.

Setelah hampir dua bulan perkenalan kami, tiba-tiba saja dia mengirimkan tiket pesawat dan uang saku untukku. Katanya dia ingin sekali bertemu denganku. Kamipun sepakat bertemu di Gold Coast karena dekat dengan Brisbane. Beberapa hari menjelang keberangkatanku ke Gold Coast, kami bersepakat tidak akan ber-phone sex atau pun masturbasi biar pas ketemunya kami tambah hot.

Aku sedikit tegang untuk bertemu dengannya. Kami sama sekali tidak pernah saling mengirim photo. Hari itu, di Gold Coast, aku menunggunya di kamar motel di mana aku menginap. Lewat handphone, aku menelepon ke rumahnya dan ternyata dia belum pulang kuliah. Lalu sekitar setengah jam kemudian, handphone berdering. Terdengar suaranya ketika kuangkat, katanya dalam satu jam dia akan tiba di tempatku setelah kukatakan nama motel dan nomor kamarku.

Deg-degan rasanya menunggu detik demi detik, menit demi menit. Aku berusaha membayangkan dia itu jelek sekali sehingga aku tidak akan terlalu kecewa bila bertemu dengannya. Satu jam sudah berlalu tapi dia tidak kunjung datang. Di kamar motelku ada dua ranjang. Satu single bed dan satunya lagi double bed. Sepertinya kamar yang kutempati adalah untuk keluarga. Karena semalam aku tidak tidur sama sekali, akupun jatuh tertidur di atas single bed yang nyaman serta empuk.

Sekitar hampir setengah jam, tiba-tiba terdengar suara memanggil namaku. Kutahu dia setengah mengantuk, kusuruh ia masuk karena pintu kamar sengaja tidak kukunci. Belum sadar penuh, samar-samar aku melihat seorang lelaki masuk, melempar tasnya begitu saja langsung berjalan ke arahku. Yang kuingat kemudian, orang itu memelukku, erat sekali. Kubuka mataku lebar-lebar menatap wajahnya ketika dia selesai memelukku. Wajahnya ternyata cute dan alisnya tebal.

“Wayne?”.
“Yah,.. Saya Wayne, kamu manis sekali Rin?”
Mendengar pujiannya aku cuman bisa tersenyum. Lalu ia pun pergi menutup pintu kamarku yang lupa ia tutup tadi. Sambil tersenyum simpatik dia menghampiri diriku lagi. Tiba-tiba saja dia mencium bibirku, diisapnya bibirku sehingga aku mendorong lidahku keluar, langsung saja dia mengisap lidahku begitu pula sebaliknya, aku memancing lidahnya masuk ke dalam mulutku sehingga dapat kuisap ke dalam mulutku. Lidahku suka sekali menjelajahi dalam mulutnya seakan-akan mengoda lidahnya untuk bereaksi dengan lidahku.

Wayne menghentikan ciuman kami dan ditatapnya buah dadaku. Kedua tangannya terangkat dan meremas kedua belah buah dadaku. Hatiku berdesir seakan disengat listrik ketika merasakan remasan tangannya. Dua tahun aku tidak disentuh oleh laki-laki, ini benar-benar bagaikan pertama kali saja. “Rin, payudaramu sungguh lembut dan besar!” pujinya membuatku terasa melayang apalagi jarinya menemukan putingku yang bereaksi dengan remasan tangannya. Nafasku mulai memburu begitu pula nafasnya.

Lidah Wayne menjelajahi leherku sambil tangannya masih meremas-remas buah dadaku. Tanganku tidak tinggal diam. Tangan kiriku meraba-raba dadanya lalu ke bawah, ke selangkangannya. Kuremas gundukan yang menonjol keluar dari celana jeans-nya. Wayne memutuskan untuk membuka kancing kemeja biru yang kukenakan. “Silakan, kalau kamu mau memandang langsung payudaraku!” bisiknya. Kubantu ia membuka kancing kemejaku. Aku memakai BH hitam waktu itu. Buah dadaku yang lumayan besar sepertinya akan mencuat keluar. Wayne membuka t-shirt dan celana jeans-nya dan hanya mengenakan kolor yang berwarna coklat. Ditarik tanganku dan didorongnya tubuhku ke atas ranjang yang lebih besar. Baru disadarinya kalau aku dari tadi ternyata hanya mengenakan pakaian dalam dan kemeja. Kini dengan pasrah aku berbaring di atas ranjang dengan pakaian dalamku saja yang berwarna hitam.

Dengan gemas dia menindihku dan menciumi belahan dadaku yang dalam. Tangannya meremas-remas pantatku. Dengan giginya dia melepaskan salah satu tali BH-ku. Putingku yang berwarna coklat muda pun mencuat keluar akhirnya. Seperti bayi saja dia langsung saja mengisap putingku dan digigitnya sehingga aku mengerang antara sakit dan nikmat. “Aakkhh.. hmm.. Waynee”

Tangan kanannya berpindah ke selangkanganku. Celana dalamku sudah basah karena cairan kewanitaanku. Tiga jarinya ditekan-tekan dan di gosok-gosok di antara selangkanganku. Benar-benar membuatku terangsang sekali. Sedangkan tangan kirinya meremas-remas buah dadaku yang sebelah kanan. Buah dadaku yang sebelah kiri masih diisapnya dengan rakus. Setelah beberapa detik kemudian, dia melepaskan celana dalamku dan celana dalamnya juga. Tanganku segera meraih batang kemaluannya yang tidak begitu besar tapi tegak sempurna. Kugenggam erat batang kemaluannya dalam tanganku dan kuremas-remas. Kali ini aku mendengar dia mengerang nikmat, “Ooohh.. Nikmat sekali”

Setelah itu dia pun membuka BH-ku. Membebaskan buah dadaku dari himpitan BH. Dibenamkan wajahnya di antara buah dadaku sambil lidahnya menjilat jilat. “Waynnee.. hmm.. oohh”, kugigit bibirku menahan nikmat ketika jarinya menggelitik bibir liang kewanitaanku dan mulutnya sibuk menjilat dan mengisap putingku bergantian.

Melihat aku sudah begitu terangsang. Wayne segera saja memakai kondom, dibuka lebar-lebar kakiku dan ditusuknya batang kemaluan ke dalam liang kewanitaanku yang telah basah sekali. Pertama kali merasakan tusukan batang kemaluannya, aku benar-benar merasakan bagai disengat listrik. Baru kusadari, setelah dua tahun, aku benar-benar merindukan tusukan batang kemaluan dari seorang laki-laki di liang senggamaku. Aku dan dia sama-sama mengerang nikmat saat itu. Lalu yang kuingat, Wayne mulai menggerakkan badannya naik.. turun, naik.. turun. Setiap gerakannya benar-benar membawa nikmat bagiku. Lalu diangkat kakiku sehingga membebani kedua pundaknya. “Ooohh.. uugghhmm”, benar-benar nikmat sekali. Terasa sekali batang kemaluannya menusuk liang kewanitaanku dalam sekali.

“Ohh Rini.. indahnya hidup ini.., kalau aku bisa bersetubuh denganmu terus! Ooohh.. ini lebih indah dari telepon seks!”
Wayne terus saja mengenjotku dengan batang kemaluannya. Matanya merem-melek menikmati batang kemaluannya.
“Genjot terus..”
“Uggh.. uugghh.. Ooouuggh.. ugh.. uggh”
Gerakannya semakin cepat dan keras. Terdengar suara-suara ‘basah’ setiap buah pelirnya bertemu dengan lubang pantatku. Keringat kami mengucur deras. Buah dadaku bergerak naik.. turun, naik.. turun dalam himpitan pahaku disetiap genjotan Wayne.

“Rinii.. ooh.. terus.., aku hampir sampai oouuggh” Wayne segera menurunkan kakiku dari pundaknya. Tangannya meremas buah dadaku dengan keras sehingga aku menjerit kesakitan dalam nikmat. “Aarrgghh.. waynee!”

Tubuh Wayne mengejang sebelum akhirnya jatuh lunglai di atas tubuhku. Kurasakan keringatnya dan keringatku bercampur aduk. Diciuminnya pipiku dan membiarkan batang kemaluannya mengecil di dalam liang kewanitaanku. Dengan sendirinya batang kenikmatannya pun permisi keluar dari liang senggamaku yang masih berdenyut-denyut minta ditusuk lagi. Malamnya kami kembali berseks ria lagi dan lagi.

Keesokkan siangnya, Wayne tampak tidak bersemangat melayani nafsuku. Katanya kepala batang kemaluannya rasanya sakit sekali. Aku tidak kehabisan akal. Aku ingat ketika aku sakit gigi, aku suka sekali memakai es batu untuk mengusir rasa sakit walaupun cuma sebentar. Kuambil es batu dari lemari es dan kutaruh semuanya di atas mangkuk.

Wayne sudah bugil saat itu dengan batang kemaluannya yang sudah tegang. Kumasukkan salah satu es batu dan kugigit-gigit sehingga hancur di dalam mulutku. Lalu lidahku yang dingin pun menjilat batang kemaluannya. Kulihat Wayne gemetar dibuatnya. “Dingin! oohh.. apa yang kamu lakukan!” tanyanya. Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum dan meneteskan air es ke atas kepala kemaluannya lagi. Lalu kujilat, jilat, jilat dan jilat dengan lidahku yang mulai hangat lagi. Kumasukkan bongkahan kecil es batu ke dalam mulutku, lalu tiba-tiba saja kuisap batang kemaluannya ke dalam mulutku. Wayne merintih nikmat. “Oohh Rinn that.. really so uuggh.. nicee”

Aku terus saja mengisap dan menjilat batang kemaluan Wayne dengan es batu di dalam mulutku. Wayne terus saja merintih dan mengerang nikmat tiada hentinya. Jariku yang dingin bekas air es menyentuh pelirnya dan meremas lembut. Wayne mengerang tambah gila saja. Tangannya meremas kuat sekali pada bantal dan sprei. Kakinya mengejang terus-menerus menahan nikmat yang kuberikan dari mulutku yang dingin.

“Feeling better?” tanyaku iseng sebelum memasukkan es batu yang lain ke dalam mulutku. Wayne hampir saja tidak dapat menjawab, “Eeehh yes” jawabnya susah payah karena aku kembali mengisap batang kemaluannya dengan batu es yang masih utuh di dalam mulutku. Gerakan kepalaku kali ini kupercepat naik turun. Tanganku terus saja memijit-mijit pelirnya. Nafas wayne semakin berat dan memburu. Aku tahu dia sudah mau keluar. Kuperlambat isapanku lalu kupercepat lagi. Mempermainkan batang kemaluannya seperti itu benar-benar membuatku tambah gemas dan terangsang saja.

“Rinn.. cepat hisap..” mohon Wayne akhirnya aku mempercepat isapan batang kemaluannya. Kutarik keluar batang kemaluannya dari mulutku dan kuisap masuk lagi. Kubiarkan mulutku kehabisan es batu. Kuberanikan diri menelan cairan es batu yang bercampur dengan cairan batang kemaluannya yang asin. Sungguh, baru pertama kali ini aku menikmati melakukan oral seks. Terhadap mantanku, aku tidak pernah menyukainya.

“Uuuhhgg.. oohh yess.. uugghh.. oohh.. ooh.. arrghh.. arrgh”, rintihan Wayne semakin tidak beraturan saja, tapi aku terus saja mengisap batang kemaluannya dengan mulutku yang mulai hangat, “Oooh.. hisap sekarang!”

Kaki Wayne mengejang tegang dan batang kemaluannya yang berada di dalam mulutku bergetar. Aku mengambil inisiatif terus mengisapnya. Air maninya menyemprot keluar dalam mulutku. Kuputuskan untuk menelannya. Ah, ternyata rasanya nikmat juga, seperti air kelapa saja cuma agak asin. Kuisap habis air maninya tidak setetes pun yang lolos dari jilatanku.

Kupanjat tubuh Wayne dan tersenyum puas padanya. Aku puas dapat memuaskannya. Diciumnya bibirku. Lima belas menit kemudian, batang kemaluannya tegang lagi dan kali ini batang kemaluannya ditusukkannya ke dalam liang kenikmatanku dari belakang. Empat hari dengan Wayne, tiada hari tanpa seks. Aku sering memberikannya blow job dan dia pun sering menyiksa nikmat liang kewanitaanku dengan jari dan batang kemaluannya. Memang setelah berkali-kali kami bercinta, cuma sekali aku mencapai puncak. Saat itu posisinya aku yang di atas menaiki tubuhnya. Tapi bercinta dengan Wayne adalah salah satu petualanganku yang murni karena aku berseks ria dengan rela dan sepenuh hati. Bukan lantaran kepingin ditolong untuk melunasi hutangku (pada saat itu aku belum punya hutang). I really enjoy it. Wayne sekarang sudah menikah dan tinggal di Sydney.

Bersambung ke bagian 04