Iswani 2: Kebersamaan – 3

104 views

Cerita Sex So sexy. So hot.Related image with ceritasexmemek is so hot imgur. Carmen Electra – el álbum del Club de Fans, memek abg fan club

Cewek Arab Bugilm Susu Montok, Memek Perawan,  colok memek_WM

Dari bagian 2

Berbaring tiduran sambil nonton TV kutunggu waktu hingga pukul 10 pagi. Setelah berganti pakaian aku keluar kamar dan memulai jalan-jalan tanpa arah yang jelas. Kususuri jalan-jalan di kota Banjarmasin dibawah naungan mendung. Bermodal selembar foto kopi peta kota Banjarmasin yang kuperoleh di Balikpapan, aku takkan khawatir tak dapat kembali ke penginapan. Kunjunganku ke kota ini adalah yang ke-2 kalinya setelah kurun waktu yang cukup lama, akibatnya aku samasekali tak tahu jalan.

Tersesat adalah bagian dari rencana jalan-jalanku ini, yang penting adalah bisa kembali balik dan tak menjadi soal berapa lama waktu yang kuperlukan untuk menemukan kembali jalan yang benar. Semakin aku tersesat, semakin lama pula aku menemukan jalan yang benar meskipun sudah ada peta di tanganku, tapi itulah asyiknya rencanaku ini. Entah petanya yang salah atau aku yang keliru memilih jalan tapi yang jelas banyak jalan kecil yang kulalui tak tercantum di peta. Bila cuma mengikuti jalan besar yang ada di peta bisa kupastikan aku takkan tersesat tapi jika kulakukan hal itu berarti membuat jalan-jalanku ini tak ada tantangannya dan menjadi tak menarik.

Waktu luang yang kumiliki benar-benar kunikmati seorang diri untuk memperhatikan kesibukan kota. Pemandangan dan kesibukan orang-orang disekitar sungai yang berada di tengah kota sangat menarik perhatianku karena merupakan hal yang tidak pernah kutemui di kota-kota pulau Jawa. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Perutku yang hanya terisi kopi sejak pagi terasa lapar. Kulihat sebuah restoran terapung di depan kantor gubernuran yang menghadap ke arah sungai. Keinginanku untuk mencoba makan di restoran berbentuk perahu kayu yang berukuran besar tersebut sudah tak tertahankan lagi. Kulangkahkan kakiku memasuki restoran tersebut dan dapat kurasakan ayunan seperti diatas sebuah perahu dan memang restoran itu awalnya adalah sebuah perahu kayu besar yang sudah diroMbak dalamnya. Kupilih meja yang berada di lantai atas agar dapat melihat lalu-lalang berbagai jenis kendaraan air seperti perahu dan speed boat secara lebih langsung karena lantai ini tidak memiliki jendela sehingga kelihatan terbuka. Tiap kali ada kendaraan air melewati restoran, terasa ayunan akibat dari gelombang yang menghantam lambung restoran. Hal ini benar-benar mengingatkanku pada pekerjaanku 5 tahun yang lalu di sebuah kota kecil di Propinsi Kalimantan Tengah.

Kubaca menu makanan lalu kepesan ikan bakar khas masakan Banjar yang sudah lama tak kurasakan. Tak lama kemudian pesananku tiba dan segera kulahap sampai tak tersisa sedikitpun. Selesai makan kunyalakan rokok dan kunikmati tiap kepulan asap dengan santai sambil merasakan sentuhan angin dari hawa sungai pada wajahku. Cuaca yang sudah mendung sejak siang tadi berubah makin gelap. Tiba-tiba datang angin kencang yang disertai hujan deras. Arah angin mengarah ke dalam perahu dan sebagian masuk membasahiku. Khawatir akan basah kuyup aku pindah ke lantai bawah dan memesan kopi panas sambil menunggu hujan reda. Kurasakan hujan akan lama jadi kusulut kembali sebatang rokok sambil menikmati kopi panas. Tak beberapa lama setelah menghabiskan sebatang rokok dan secangkir kopi, hujan reda. Setelah kubayar aku kembali melanjutkan perjalananku.

Lanjutan perjalananku setelah makan di restoran terapung tadi adalah kembali menuju penginapan. Kali ini aku harus benar-benar memperhatikan langkahku karena banyak genangan air di tepi jalan. Aku mencoba melewati jalan yang lain dari sewaktu aku berangkat tadi. Kusempatkan pula mampir disetiap agen perjalanan yang kulewati untuk mencari informasi harga tiket perjalanan balik ke Surabaya serta jadwalnya.

Langkah demi langkah kuayunkan menuju ke pengipanku. Bayangan Iswani muncul dalam setiap langkahku, mengundang 1001 pertanyaan yang belum pernah kupikirkan sebelumnya. Mengapa suaminya mengijinkan dia pergi seorang diri? Mengapa Iswani berani mengajakku, orang yang belum pernah dikenalnya, menginap bersama? Apakah urusannya di Banjarmasin? dan masih banyak lagi pertanyaan yang tak bisa kutebak kepastian jawabannya. Kecuali satu pertanyaan, Mengapa aku tergoda olehnya? Jawabannya karena aku seorang bujang yang belum pernah punya pacar dan sering sibuk oleh pekerjaan, jadi sebuah kesempatan di waktuku yang luang akan benar-benar kumanfaatkan untuk menikmatinya.

Tak terasa aku sudah kembali masuk ke penginapanku dan berada tepat dimuka kamarku. Kumasuki kamar kulihat tak ada tanda-tanda keberadaan Iswani dan kuanggap dia akan balik malam. Aku menyempatkan beristirahat sebentar sebelum mandi. Setelah mandi kulihat jamku menunjukkan pukul 7 malam, waktuku untuk mencari makan malam yang enak. Bergegas aku keluar dari penginapan dan mencegat sebuah kendaraan umum yang rutenya kuperkirakan akan melewati depot sate kijang di pojok perempatan Jl. MT Haryono. Dugaanku meleset, ternyata angkutan umum yang kutumpangi tidak melewati jalan yang kumaksud dan segera aku minta turun pada sopirnya. Dipinggir jalan yang agak terang kubuka foto kopi peta kota yang selalu terbawa dalam kantong jaketku. Rupanya aku salah pilih angkutan umum, aku berada jauh dari perkiraanku. Disaat aku tidak membutuhkan tantangan, secara tak terduga tantangan itu muncul.

Kupikir tak ada gunanya menyesal, bila memang rejeki malam ini aku akan dapat makan sate kijang bila tidak ya cuman makan angin, tapi masih ada hari esok. Aku berjalan sambil sesekali melihat peta. Tiba-tiba HPku berdering dan ternyata Iswani. Dia menanyakan keberadaanku dan kuterangkan dimana aku sesuai dengan tanda-tanda yang ada di jalan. Setelah menutup HPku, kulanjutkan perjalananku. Beberapa menit setelah berjalan kurasakan sebuah kendaran berjalan pelan dibelakangku. Kutoleh kebelakang dan kuhentikan langkahku, lampunya yang menyilaukanku membuatku menghindar dengan menoleh ke arah lain. Tanpa kutahu maksudnya, sedan itu berhenti tepat disampingku. Dengan perasaan terkejut, kulihat orang yang ada dibelakang kemudi ternyata adalah Iswani.
“Ayo cepat masuk Tok!” katanya.

Setelah menutup pintu, Iswani langsung tancap gas. Belum sempat membuka omongan, Iswani sudah memberondongku dengan omelan yang tak ada habisnya.
“Kamu gila Tok, malam-malam begini kenapa jalan sendirian didaerah rawan seperti itu?”.
Setelah omelannya reda kuterangkan semuanya dengan malu-malu lalu terdiam seribu bahasa sambil mendengarkan nasihatnya yang bertele-tele. Perhatianku tertuju pada cara Iswani mengendari sedan yang kutumpangi, sedangkan nasihatnya hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tak lama kemudian Iswani membuat belokan dan langsung parkir, aku yang masih bingung arah bertanya padanya.
“Mbak, kita ini berhenti dimana?”.
“Katanya pingin makan sate kijang!”, jawabnya.
Dengan rasa tambah bingung kuperhatikan sekeliling jalan tempat Iswani parkir dari kaca depan mobil. Bersamaan dengan Iswani membuka pintu, aku mulai mengerti arah.
“Lha bener Mbak, sate kijangnya dibalik situ!”, teriakku kegirangan dan tanpa kusadari teriakanku mengagetkan Iswani.
Mungkin jengkel oleh teriakanku yang mengagetkannya, Iswani mengurungkan turun dan mencubit lengan yang kupakai untuk menunjukkan letak depot sate kijang.
“Aduh Mbak, aduh Mbak, sakit!”, keluhku tanpa dihiraukannya.
“Rasain kalau suka ngagetin orang!”, katanya dengan menambah daya cubitnya.
Dengan ratapan meminta belas kasihan aku berkata, “Mbak, Mbak, aduh.. kapok..”.

Di meja makan depot sate kijang, aku duduk menjauh dari Iswani, khawatir terkena lagi cubitannya yang sangat menyakitkan kulitku. Aku menunggu pesananku dengan diam seribu bahasa dengan perasaan masih jengkel pada Iswani.
“Kemana aja seharian? Kok diam aja Tok! Ngambek ya.. Seperti anak kecil saja”, goda Iswani padaku dengan tersenyum.
Berpura-pura pulih dari rasa jengkel, kubuka suatu bahan pembicaraan, “Eh, Mbak.. mm.. tadi di penginapan ada cowok yang menanyakan Mbak, katanya pingin sekali kenalan sama Mbak”, gurauku dengan nada serius yang sangat meyakinkan.
“Ah, kamu ada-ada saja!”, balasnya agak tak percaya dengan muka tersipu.
“Bener Mbak, kalau nggak percaya ya nggak apa-apa, nanti kubilang saja kalau Mbak sudah punya suami, beres kan”, jawabku santai.
“Eh.. Jangan bilang seperti itu dong, cakep nggak orangnya Tok?”, tanyanya penasaran.
“Masih muda, wajahnya mirip bintang TV”, jawabku santai.
“Aku pernah lihat tampangnya, apa nggak Tok?”, tanyanya semakin pingin tahu.
“Rasanya pernah, coba deh Mbak ingat-ingat..”, jawabku terpotong oleh datangnya pesananku.
Sambil mengerutkan dahi mencoba mengingat-ingat, Iswani kembali bertanya, “Terus tadi kamu ngomong apa saja pada dia?”.
Aku mulai mengaduk bumbu sate sambil berkata, “Aku cuma cerita sedikit kalau Mbak adalah kakakku dan lagi ke Banjar Baru”. “Terus..”, kejarnya.
“Terus aku mau makan dulu soalnya sudah lapar banget”, jawabku santai sambil memasukkan sesuap nasi ke mulut.
“Uhh..”, keluhnya tak sabar.

Dalam hitungan menit aku telah menghabiskan sepiring nasi dan 15 tusuk sate kijang sementara Iswani hanya makan sedikit. Kebiasaanku merokok sehabis makan sulit kuhilangkan, kali inipun demikian. Pada hisapan ke-4 Iswani kembali teringat pada cowok yang kuceritakan.
“Siapa sih Tok cowok yang kamu ceritakan tadi?”, tanya Iswani.
“Itu lho Mbak, Si Sin Chan, bintang acara kartun yang sering muncul di TV”, jawabku tanpa rasa bersalah sambil tertawa.
Wajah Iswani kembali bersungut dan sudah bersiap mencubitku lagi.
“Mbak, Mbak, sudah Mbak, nggak usah pakai nyubit, yang tadi saja masih sakit”, bujukku sambil menahan tangannya yang sudah bersiap-siap.
“Awas ya!”, ancamnya.
Mencoba mengalihkan kemarahannya, aku membuka beberapa pertanyaan yang ada dibenakku tapi tak satupun dijawabnya.
“Ngambek ya.. Seperti anak kecil saja”, godaku menirukan kalimatnya tadi.
Dengan agak tersipu, Iswani berkata, “Oh ceritanya ini tadi membalas ya”.
Tanpa meladeninya lagi aku langsung berdiri dan menuju ke meja kasir, membayar bon makanan.
“Coba lihat bonnya Tok!”, pinta Iswani padaku.
Setelah melihatnya dia melakukan tanya-jawab dalam logat dan bahasa Banjar pada penjual sate tersebut. Setelah keluar dari depot itu aku mengomentari tanya-jawab yang dia lakukan dengan penjual sate tadi.
Dengan keheranan Iswani bertanya, “Darimana kamu bisa bahasa Banjar?”.
Kujelaskan padanya kalau aku hanya ngerti bahasanya tapi logatnya susah kutiru karena pernah kerja agak lama di Kalimantan Tengah.
“Coba Tok kamu bicara bahasa Banjar, aku ingin dengar”, kata Iswani.
Baru 5 kata dan belum selesai kalimatku dalam bahasa Banjar, Iswani sudah terpingkal-pingkal. Dengan muka masam aku berjalan cepat meninggalkannya, ke arah mobilnya diparkir.

Didalam mobil yang berjalan kearah penginapan, aku tanyakan perihal Toyota Starlet yang dikendarainya. Iswani menerangkan kalau ini mobilnya yang ia titipkan di rumah ibunya di Banjar Baru karena belum sempat membawanya ke Balikpapan. Jalanan kota Banjarmasin sudah sepi padahal waktu masih belum menunjukkan pukul 22. Sesampai di penginapan aku langsung turun dan cepat-cepat menuju kamar untuk segera buang air kecil di kamar mandi. Iswani tampak tertawa melihatku keluar dari kamar mandi.
“Untung, kemarin naik bus Balikpapan-Banjarmasin bukan Mbak yang nyetir, kalau Mbak yang nyetir pasti tak hanya sandal yang berserakan tapi penumpangnya juga ikut”, ejekku padanya.
Iswani hanya melempar senyum tanpa sedikitpun berkomentar lalu masuk ke kamar mandi.

Iswani keluar dari kamar mandi dengan hanya dibalut selembar handuk sebatas dada hingga paha. Seusai melipat pakaiannya dan mengambil body lotion dari dalam tasnya ia memintaku untuk memijatnya karena kecapekan. Dengan serta merta aku meloncat ke ranjangku, menarik selimut hingga ke kepala dan pura-pura tidur. Tapi usahaku menghindar jadi tukang pijat sangat terlambat dan tampak terlalu menyolok.
“Ayo, nggak usah pura-pura tidur, atau kepingin kucubit lagi?”, ancam Iswani.
Mendengar kata “cubit”, aku langsung terduduk dan mencari alasan, “Mbak, seharian aku jalan kaki, aku sendiri sudah capek sekali”.
“Jangan banyak bicara, ayo!”, perintah Iswani.
Berlagak malas kuterima perintahnya dengan ditandai dengan kuterimanya body lotion yang diulurkan padaku.
“Tok, lepasin dulu celanamu!”, perintah Iswani berikutnya sambil menelungkupkan tubuh di ranjangnya.

Hanya dengan celana dalam dan kaos oblong, aku mulai memijat kakinya yang indah. Kupijat dulu kedua telapak, tumit dan pergelangan kakinya bergantian. Dengan tenaga yang kuat aku pijat bagian belakang kaki kanannya hingga paha bawah lalu berganti kekaki kiri. Kemudian kutumpahak body lotion secukupnya pada kaki kiri dan meng-urutnya. Aku urut dari bawah hingga ke atas, sampai menerobos pangkal paha yang ada dibalik handuknya. Kaki kanan juga tak ketinggalan.
Setiap kali kedua tanganku sampai pada pangkal paha Iswani mendesah, “Mmh, enak Tok!”.

Gerakan kedua tanganku yang terbatas oleh balutan handuk bila mencapai pangkal paha dapat dirasakan oleh Iswani, tanpa kuperintah Iswani langsung melepas handuknya hingga telanjang bulat. Seusai bagian lutut kebawah aku pijat, aku pindah ke bagian paha hingga pantat. Tiap kali melewati selakangan, tanganku sengaja kugeserkan dengan daerah kemaluannya meskipun tak menyolok. Pantatnya kuberi pijatan yang menyerupai remasan dan kuurut sampai ke pinggul. Semakin ke arah punngung, posisi duduk yang ada disebelah Iswani agak menyulitkanku. Kuputuskan untuk menindih tubuh belakangnya dengan duduk dipantatnya. Setelah memberi pijatan bertenaga pada bagian pundak hingga punggung, aku tumpahkan lagi body lotion di punggungya lalu kuusap rata.
“Tok lepasin pakaianmu biar nggak kena lotion”, perintahnya.
Sewaktu kulepas pakaian dan celana dalamku, batang kemaluanku sudah dalam keadaan tegang berdiri. Kembali aku duduk diatas pantatnya dan batang kemaluanku merasakan kenyamanan bergeser dengan belahan pantatnya. Sementara tanganku terus memijat tengkuk, pundak dan punggungnya, geseran belahan pantat dengan batang kemaluanku dan pahanya dengan pahaku terus terjadi.
“Mmh.. Ssh.. Ssh”, desah Iswani.

Merasa cukup, Iswani memintaku untuk memijat lebih kebawah. Kuturuti saja kemauannya dan mengalihakan pijatan lebih banyak ke pinggul hingga paha. Terhenti pulalah gesekan nikmat pada batang kemaluanku tapi aku tak kehabisan akal, kujepitkan batang kemaluanku diatara kedua pahanya yang kutindih dan kukunci diantara kedua pahaku. Batang kemaluanku yang sudah licin terkena lotion dapat bergerak mudah maju-mundur mengikuti arah pijatanku pada pinggul hingga ke paha. Gerak maju yang kulakukan menyebabkan batang kemaluanku yang sudah tegang luar biasa bergesek dengan daerah kemaluannya yang makin lama makin basah. Diikuti oleh desahan Iswani yang makin menjadi membuat semangatku bagai terpompa. Tak lama kemudian Iswani sedikit menaikkan pantat dan tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya sambil menoleh padaku dengan pandangan mata berbinar dan bibir yang terbuka. Kutatap pula matanya sambil kuarahkan batang kemaluanku pada liang kenikmatannya.

Keluar desahan panjang dari mulut Iswani sambil memejamkan mata. Pelan tapi pasti batang kemaluanku masuk seluruhnya kedalam liang kenikmatan milik Iswani. Kemudian kutarik pelan dan kudorong masuk kembali, semakin lama semakin cepat, lalu kupelankan kembali untuk mengatur nafas. Sewaktu kuistirahatkan gerakanku, Iswani mengisinya dengan memaju mundurkan pinggulnya. Meredam gerakannya yang dapat mempercepat klimaksku, kutindih punggungnya dengan dadaku. Kumasukkan tanganku kedadanya dan kuremas-remas kedua payudaranya. Kucumbu tengkuk dan punggungnya sambil kubuat lagi gerakkan maju-mundur yang makin lama makin cepat.
Dan, “Ahh..aku keluar Tok”, desah Iswani menggelinjang.
Berusaha menancapkan batang kemaluanku lebih dalam lagi ke liang kenikmatannya akupun tak kuasa menahan klimaksku. Denyut otot-otot vaginanya seakan meremas-remas batang kemaluanku. Dalam keadaan tubuh Iswani yang terkulai lemas, aku mencabut batang kemaluanku yang berangsur-angsur lemas.

Kubalikkan tubuh Iswani lalu kulanjutkan pijatanku kembali ke bagian kaki. Kulihat mata Iswani masih terpejam dengan nafas yang masih berat. Kupijat kedua pahanya yang terlentang dengan posisi dudukku diantara keduanya. Kaki kanan yang kupijat dulu kuletakkan diatas pundak. Dengan kedua tangan berlotion kuurut paha kanannya keatas kebawah hingga pangkal paha. Setelah kuletakkan kembali kaki kanannya kuberi perlakuan yang sama pada kaki kirinya. Sayup-sayup mata Iswani terbuka dan tersenyum padaku. Seusai kedua paha kupijat kudekatkan dudukku pada selakangannya.

Dengan duduk kutempatkan kedua pahanya diatas kedua pahaku, hingga batang kemaluanku yang kembali terbangun menempel dan bergeser daerah kemaluannya. Bersamaan dengan itu kulihat kedua payudara Iswani menegang. Dengan pelan kupijat bagian perut dan naik ke arah payudaranya. Sesekali kumainkan puting susunya dengan jari-jariku. Rangsangan yang kuberikan pada tubuh Iswani makin membuat birahinya menggelora kembali. Bertumpu pada kedua kakinya yang terlentang ia membuat gerakan naik turun pinggulnya. Karena pantatnya berada diatas pangkuanku maka dia dapat menggesek-gesekan dearah kemaluannya pada perutku. Kudukung ia dengan pegangan kedua tanganku dikedua pinggulnya.

Tiba-tiba ia terduduk dan memegang batang kemaluanku dengan senyum yang menggoda. Makin lama ia merapat kearahku dan menduduki kedua pahakuku, menjepit batang kemaluanku dan mencumbu bibirku dengan hebat. Kedua payudaranya menempel erat dengan dadaku. Kedua tangannya memegang kepalaku dan kedua tanganku memegang pantatnya. Seakan tak ada habisnya kejutan-kejutan yang dilakukannya, tiba-tiba ia melepas cumbuannya, mundur keatas sedikit, mengarahkan penisku ke vaginanya kemudian kembali duduk, membenamkan seluruh bagian penisku kedalam liang kenikmatannya. Kembali ia mencumbu bibirku dan bergerak keatas kebawah diatas pangkuanku yang sedang terduduk. Karena lelah ia melepaskan cumbuannya dan bertumpu pada kedua tangannya yang diarahkannya belakang sambil terus membuat gerakan keatas kebawah.
Tak lama kemudian ia kembali merapat memelukku erat dan berbisik mendesah pada telinga kiriku, “Tok, aku mau keluar”.
Kutolehkan mukaku kearah bisikannya tapi mukanya telah kembali lurus dengan mata terpejam. Kudapati telinga kirinya dan kujadikan sasaran kuluman bibirku.
“Tok.., oh Tok, Ah..”, desahnya menghentikan gerakannya.
Pelukannya yang makin erat seiring dengan tegangnya otot-ototnya diikuti gelinjang tubuhnya.

Dalam keadaan lemas kubaringkan ia tapi batang kemaluanku masih belum tercabut. Kedua kakinya yang terlentang kurapatkan dengan jepitan dari kedua kakiku yang telah kubuat terlentang sebelumnya. Bersamaan dengan itu kurasakan jepitan yang makin erat liang vaginanya pada batang kemaluanku. Kubuat gerak menindih naik turun yang makin lama makin cepat sambil kuhisap leher kirinya membuatnya terbelalak dan menyambut irama permainanku. Sesekali kucumbu bibirnya dan kumainkan lidahnya dengan lidahku. Tak ketinggalan hisapan dan kuluman yang campur aduk tak terpisahkan. Akhirnya aku sampai pada puncakku dan meledaklah moncong meriamku mengeluarkan isinya. Denyutan demi denyutan melewati batang kemaluanku menghantarkan aliran cairan hangat kedalam liang kenikmatan Iswani. Ia rupanya tak mau kalah dan ingin mencapai klimaksnya sekali lagi. Dipeluknya dengan erat tubuhku hingga tak dapat kugerakkan, lalu ia gerakkan tubuhnya selama beberapa saat hingga diperolehlah apa yang dimauinya.

Setelah kembali lemas aku menarik tubuhku dan turun dari ranjangnya. Kemudian mandi dengan air hangat. Setelah mandi kulihat Iswani telah tertidur pulas telanjang bulat. Merasa kasihan kalau dia masuk angin oleh hawa dingin AC, kuselimuti tubuhnya dengan selimut yang ada diranjangnya. Setelah itu aku naik ranjangku sendiri dan tidur.

E N D