Kabut Pagi di Simpang Lima 01

111 views

Cerita Sex : Kabut Pagi di Simpang Lima 01

Tahun 1997 adalah tahun-tahun keperkasaanku, dimana saat itu aku masih berusia 25 tahun dan banyak gadis-gadis menunggu giliran apelku tiap malam minggu. Aku sendiri sekarang sudah berkeluarga, mempunyai seorang putra yang berumur 4 tahun.

memek Percantik blog bugil_WM
Cerita Sex

Cerita ini dimulai saat aku mengambil cuti tahunanku selama 1 minggu dalam rangka refreshing setelah aku berhasil mengerjakan proyek berskala besar untuk perusahaanku. Perjalanan kuawali dari kota Surabaya dan tujuanku adalah Semarang. Semarang adalah kota wisata dan juga kota esek-esek, seperti juga Surabaya yang juga memberikan segala macam keinginan, style, daun-daun muda ataupun keromantisan suasana. Anda akan terpuaskan disana. Akan tetapi petualanganku kali ini menghasilkan sensasi luar biasa dengan seorang tante dan mahasiswi yang juga callgirl.

Turun di Stasiun Tawang, aku naik taksi menuju kawasan yang 3 tahun lalu kutinggalkan. Tujuanku adalah menjemput Santy, seorang callgirl. Semasa aku kuliah dulu, aku menjadi bodyguard-nya.

Tepat pukul 4 sore, aku menginjakkan kakiku di stasiun Tawang. Aku lantas menuju taksi dan kuperintahkan ke arah sebuah kawasan kost mahasiswi di Sampangan, tujuanku adalah melepas kangenku dengan Santy seorang mahasiswi perbankan. Santy adalah mahasiswi tingkat akhir yang juga gadis panggilan papan atas. Namun ada juga lelaki yang beruntung seperti aku dapat menikmati tubuh indahnya secara gratis, hanya dengan imbalan mengantar dan menjaganya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Atau barangkali aku ini dianggapnya bodyguard.

Singkatnya, aku sudah sampai di tujuan pertamaku, perlahan namun pasti kumasuki pekarangan rumah kost itu, kulihat hampir tidak ada perubahan disana. Sebagai tambahan informasi, bahwa rumah itu memang kost-an mahasiswi di lingkungan kampus sekitar situ dan penghuninya ada juga yang punya second job atau bahkan berprinsip free love jika anda beruntung.

Tampak olehku sepasang kursi kayu di sudut taman depan rumah telah diganti dengan yang baru, atau barang kali hanya di cat ulang.
“Ah persetan..” makiku dalam hati.
“Ting.. tong.. ting tongg..” suara bel setelah kutekan sambil kudekatkan wajahku ke kaca Ray Band melihat siapa gerangan yang akan datang.
“Huu.. Yess..!” teriakku kegirangan saat melihat yang datang ternyata seorang mahasiswi dengan celana jeans potongan tepat di bawah lipatan pahanya dan berkaos singlet coklat bermotifkan bunga-bunga keemasan.
“Mau cari siapa Mas..?” tanya gadis itu ramah.
“Emmh.. Santy ada..?” jawabku.
“Santy sudah pindah lama Mas.. nggak tahu pindah kemana tuh. Silakan masuk Mas..!” sambung gadis itu sambil mempersilakanku masuk.

Kami terdiam sejenak, lalu sesaat kemudian, “Eh iya nama Saya Yanto.” kataku sambil mengulurkan tangan dan aku mendapatkan respons dari gadis itu.
“Saya Yuni.” sahut gadis itu, “Emang Mas ini..?” selidik Yuni.
“Yach Saya kawan lama..” sahutku singkat dan kami pun terlibat basa-basi dan akhirnya Yuni menawarkan minuman segar kepadaku.

Aku pun terbiasa dengan suasana rumah itu termasuk dengan yang punya, karena orangnya memang sangat liberal. Agak lama Yuni belum juga muncul, akhirnya aku menyusul ke dapur, akan tetapi aku kaget bukan main saat melewati ruangan tengah. Ruangan itu kini tertata lebih rapih dengan dua sofa besar serta TV, lengkap dengan VCD dan home theaternya, lebih-lebih saat aku menyaksikan film di layar gelas tersebut yang ternyata adalah film “XX”. Cepat-cepat aku menghempaskan pantatku ke sofa.
“Eh.., Mas Yanto.. mau minum dimana nich..?” tanya Yuni enteng.
“Enakan disini saja sambil lihat film..” sambungku sambil menenggak minuman segar beraroma jeruk.
“Dari pada bengong Mas.., khan pada pulang kampung semua.” Yuni mencoba membela dirinya.

Setelah ngobrol cukup lama, akhirnya aku memasang umpan, karena aku takut Yuni bukan gadis sembarangan.
“Emm.. kenapa nggak pulang kampung..?” tanyaku.
“Males ah..” sahut Yuni kecut.
“Males apa males..?” godaku.
“Eehh.. ngeledek.. yach.. tak kasih.. baru tahu rasa.” ancam Yuni.
“Kalo dikasih kehangatan, Aku mau..” jawabku ngawur.
“Ehemm..” sindir Yuni.

Kami pun akhirnya terdiam beberapa saat, namun aku termasuk cowok tanggap dan berkesimpulan dari pada cari Santy jauh-jauh atau tidak ketemu, Yuni boleh juga pikirku. Tubuhnya proporsional dan kulitnya putih mulus, rambutnya tergerai indah seperti gadis-gadis sunsilk, pahanya bukan main, kecil, bulat, pasti bertenaga turbo.

Aku dan Yuni masih terpaku menikmati Blue Film tersebut, nafas kami sudah terdengar terengah pelan, dan aku melihat perubahan air wajah Yuni yang memerah menahan birahi. Sikapnya sudah gelisah dan mengigit bibir bawahnya. Waktu berlalu, akhirnya kami terdiam. Bagian depan celanaku terasa penuh sesak karena penisku sudah mulai mengeras dan terasa sedikit sakit, karena bulu-bulunya ikut tertarik. Aku beringsut dan dengan acuh aku membetulkan posisi penisku agar lurus, dan Yuni melirik ke arah tanganku.

“Mau dibantu Mas..?” goda Yuni sambil beringsut mendekatiku.
“Boleh..,” jawabku enteng dan mempersilakan Yuni membuka zipper celanaku.
Dan sekejap kemudian, menyembullah tongkat kenyal kebanggaanku itu karena aku tidak mengenakan celana dalam (kebiasaanku sejak dulu).
“Wowww..! Panjang banget Mass..” pekik Yuni perlahan saat menimang-nimang daging hangat nan kenyal yang sebentar lagi akan membuatnya terlena dan membuatku semakin terengah.

Aku menyandarkan diriku di sofa, darahku sudah berdesir kencang saat kucium harum parfum Yuni, tubuhku mulai menghangat. Kuraih pundak Yuni dan kusambut bibirnya, kukulum bibir bawahnya, lalu pindah ke lehernya.
“Hmmhh..” semerbak harum lehernya menambah keras penisku di bawah sana.
Aku merasakan kehangatan dan kelembutan menjalar mulai dari kepala penisku, rupanya Yuni sudah mulai melakukan permainan blow job-nya. Ooohh, betapa lembut kuluman bibirnya, hangat dan halus menggelitik di kepala penisku, lidahnya dipatuk-patukkan ke lubang penisku, membuatku semakin kelojotan dan dengan tak sabar aku melepas jeans-ku dibantu Yuni.

“Aaahhg.., lega..!” kataku.
Penisku kini sudah bebas mengacungkan diri dan berdenyut teratur sepanjang urat nadi disana, dan kubuka pahaku lebar-lebar. Kepala Yuni kini mengangguk-angguk teratur, mengeluar-masukkan kuluman bibirnya yang sedikit melebar namun tetap tebal sensual. Rambutnya digeraikan ke pundak kirinya dan bergelayut di kedua bukit kenyalnya. Aku meraih rambutnya dan membimbing kepalanya di antara kedua pahaku, sehingga kini Yuni lebih bebas berekspresi dan lebih dalam lagi penisku memasuki rongga mulutnya.

“Hmmhh.., ookhh..,” guman Yuni disela-sela kesibukannya mengocok penisku.
“Aaakkhh.. sshh.. ookhh nimath.. Yunn..” aku terpekik kala Yuni mulai memainkan kedua telorku dan mengigit-gigit kecil seperti bayi kebesaran dot-nya.
Yuni menjilat sepanjang bagian bawah penisku, lantas berhenti sejenak tepat di bagian bawah kepala penisku. Rupanya ia tahu bahwa disana lah semua syaraf birahiku berkumpul. Mulutnya dibuka lebar-lebar dan kedua bibirnya membentuk “O”. Aku terpana sejenak, apa yang hendak dilakukannya.

“Aaawww.. sshh .. aaghh..” desisku saat lingkar kepala penisku ia putar mengelilingi bibirnya.
Geli, nikmat dan seluruh penisku terasa bergetar kencang karena spermaku sudah mulai mendesak keluar. Aku tegang dan mendesah tidak karuan, tidak tahan dengan permainan Yuni. Kurebahkan tubuhku dan kugeser pantatku mendekati dada Yuni. Aku tidak mepedulikan lagi kepuasan bagi Yuni, pokoknya perjalanan jauhku semalam harus tuntas saat ini juga dan tampaknya Yuni tahu akan hal itu, atau entah pengaruh blue film yang kami saksikan bersama. Dengan tergesa-gesa kubuka t-shirt-ku, lalu kulempar entah kemana, karena aku ingin segera melepaskan rasa letihku dengan semburan-semburan spermaku yang kental.

Denyutan di ujung penisku semakin tidak teratur saat Yuni mulai meningkatkan tempo permainan dan variasinya. Tubuhku tegang sekali, seluruh aliran darahku terasa mengumpul semua di otakku. Dan mendekati sepuluh menit berlalu, aku merasakan seluruh aliran darahku turun cepat dan deras menuju ke selangkanganku.
“Ookkhh, Yunn.. sshh.. hisap.. cepatth.. Yang..!” memek bispak, pintaku sudah tidak sabar saat bibir Yuni menyusuri dan menjilat-jilat ruang di antara telor kemaluanku dan anusku.
Lama lidahnya dimainkan disana dan sesekali mematuk ke bagian depan duburku, sementara tangan kirinya teratur mengocok batang pejalku.
“Ayo Yunn..! Hissaapphh..!” pintaku sambil menarik kepala Yuni ke arah ujung penisku.

Nafsuku sudah tidak dapat kubendung ketika Yuni menghisap dalam-dalam ujung penisku. Darahku meluncur secepat kilat ke arah ujung penisku.
Tubuhku hangat nan bergairah, lalu sejenak nafasku terhenti beberapa detik dan, “Aaakkhh.. sshh.., ookkhh.. Yunn..!” teriakku keras, melepas semburan-semburan spermaku sambil kutegakkan tubuhku untuk menambah sensasi yang ada.
“Crot.., crotth..” spermaku deras terasa terhisap memenuhi rongga mulut Yuni dan entah berapa kali semburan.
“Aaah.. thanks Yun..” kataku sambil merebahkan tubuhku ke sandaran sofa.

Dengan telaten dan sabar, Yuni menghisap sampai habis dan menjilat sepanjang batang penisku hingga terasa kesat. Aku melihat ada beberapa tetes spermaku yang mengalir di sudut bibir Yuni yang tebal dan seksi itu. Lega dan ringan rasanya, akan tetapi belum sempat kumenikmati istirahatku, aku terkejut saat Yuni kembali menaiki tubuhku dan mendaratkan french kiss-nya. Bau spermaku yang khas dari mulut Yuni dan gesekan vagina Yuni di penisku membuat gairahku bangkit seketika. Kali ini kurasakan jeans pendek Yuni lembab, pertanda banyak mani menetes dari vaginanya, dan rupanya dia terangsang juga melihatku ejakulasi.

Aku harus tahu diri, ini adalah ronde milik Yuni yang kini meregang nafsunya di atasku. Lalu cepat-cepat kubalikkan posisi kami dan Yuni ada di bawah. Aku lepas jeans pendeknya, wow.., rupanya Yuni juga sehobby denganku, tidak senang memakai CD. Lalu kaos singletnya hanya kusibakkan sebatas kedua bukit kenyalnya yang tanpa BH. Karena agak kesulitan dengan posisi konvensional, maka kali ini Yuni kududukkan di Sofa dan kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Yuni sendiri mulai membuka singletnya, lalu mencampakkannya di meja.

Kepalaku kudekatkan ke arah vaginanya dan Yuni rupanya sudah sangat bernafsu, karena dengan cepat-cepat kepalaku dibenamkannya dalam-dalam di vaginanya. Aku nyaris kehabisan nafas, akan tetapi saat lidah mulai mengitari bibir minora-nya ia tidak kuasa menahan geli, lalu mendesah sambil membuka lebar-lebar pahanya.
“Aaahhgghh.., Maasshh.., hisaapphh.., nngghh.. nngghh..” pinta Yuni, matanya terpejam dalam merasakan nikmatnya aliran udara hampa yang mengalir dari sudut rahimnya.
Aku juga merasakan mulut vaginanya berdenyut saat kuberhenti menyedot.
Mulutku tetap pada liang sanggamanya, dan beberapa lelehan mani yang mengalir tersapu oleh lidahku.

Tubuhnya bagai orang kepayahan dan pasrah bersandar pada sofa, kedua putingnya ia pelintir sendiri. Dalam kondisi begitu, tampaklah olehku inner beauty seorang Yuni. Wajahnya mengharap, memelas, merintih, pasrah dan wajah nafsu menjadi satu. Aku mengambil kedua pahanya yang bulat mulus, kuletakkan di kedua pundakku. Setelah itu kedua tanganku menggantikan tangannya untuk kerja di “penghalusan” kedua putingnya.

Kini kedua pahanya bertumpu pada kedua pundakku, hal ini memudahkan aku menjilat, menghisap dan mematuk dengan lidahku pada klitoris-nya, hingga tubuh Yuni kelojotan. Nafasnya terengah, kedua tangannya mencengkeram erat sofa pada saat yang bersamaan, kukombinasikan dengan pelintiran kedua putingnya. Tubuhnya yang mulus itu kini oleng, kadang terduduk, suatu saat pasrah tergolek lemah sambil mendesis, kemudian kedua bibirnya ia katupkan sendiri dan sesekali ia gigit bibir bawahnya sendiri. Vaginanya pasti terasa ngilu dan geli sekali, juga bercampur birahi, sehingga ingin segera ada sesuatu kekenyalan dan kehangatan penis yang menyumpalnya dengan cepat. Maninya semakin deras kurasa alirannya di lidahku, namun aku tidak peduli. Kukecup, lalu kuhisap dalam-dalam vaginanya hingga semua yang ada di mata air maninya mengalir deras diikuti gelinjang tubuhnya.

“Akkhh.. sshh.. sedotthh.. terusshh..!” desah Yuni sambil mempertahankan kepalaku di selangkangannya.
Aku tidak keberatan dengan permintaannya, karena disamping vaginanya legit, juga harum baunya dan terawat indah. Kini aku mengkombinasikan sedotan mulutku dengan permainan telunjuk kananku di klitoris-nya. Tubuhnya tersentak-sentak, seirama dengan tusukan telunjukku di leher rahimnya. Telunjukku kuputar-putar lembut disana dan kadang aku tekuk untuk menyentuh G-spot-nya. Dan pada saat bersamaan, G-spot-nya tersentuh, Yuni tersentak dan menggelinjang bagai terkena strum tegangan tinggi.

“Ooomhh.. mmpphh.. mm.. massukin Mass..! Ceppath..!” pinta Yuni sambil berdiri, lalu memposisikan diri dengan posisi doggy style.
“Rupanya ini posisi favoritnya.., kena Kau..!” makiku dalam hati sambil kubelai lembut seluruh punggungnya, pinggulnya dan kepalaku kuturunkan ke pinggulnya.
Kudekatkan wajahku ke anusnya. Kujulurkan lidahku mengitari anusnya, sementara kedua tanganku meremas-remas manja kedua bukit kenyalnya.
“Agghh.. mmpphh.. oohhghghh..” Yuni hanya bisa mndesah kuperlakukan demikian.
Tubuhnya bergelinjang hebat dan sudah tidak sabar untuk kumasuki dalam-dalam liang kewanitaannya.

Bersambung ke bagian 02