Nikmat Membawa Sengsara – 3

87 views

Galeri Foto Memek Tante Nakal Terpanas, dan Terbaru 2015, Lagi-lagi tante, tante nakal memang tak ada habisnya untuk diperbincangkan Very Hots

Foto Cewek Bugil, Foto ABG Bugil, Foto SMP Bugil,  (14)_WM

Dari bag 2

Lima menit adegan itu berlangsung, gerakan mereka semakin liar dan pinggul Wiwin semakin keras bergerak, ke atas ke bawah dan ke kiri kanan. Desahan dan erangan mereka terdengar semakin lama semakin keras. Tetapi tiba-tiba Wiwin mengentikan gerakannya. Kepalanya menengok ke arah Atok yang masih berdiri tegak di sebelahnya.
“Aduuh, Mas Atok yang malang”, kata Wiwin dengan lucu.
“Masih nunggu giliran yach? Sini, masukin kontolmu ke Wiwin”, katanya lagi.
Tangan kanannya meraih pinggulnya dan membuka belahan pantatnya, “Ayoo Mas, cepetan”.

Atok tampak bengong, “Dimasukin ke mana Win?”, tanyanya.
Wiwin pura-pura jengkel, “Ya dimasukin ke pantat, bego! Belum pernah main pantat ya?”, tanyanya.
Atok garuk-garuk kepala, “Ee.., belum pernah Win. Gimana rasanya?”.
“Pokoknya luar biasa deh. Ayoo, cobain sekarang. Nggak sembarang cewek mau beginian loh”, Katanya setengah memaksa.
Atok dengan gerakan kikuk menuruti perintah itu, dan mengarahkan kemaluannya ke lubang pantat Wiwin yang sudah setengah terbuka itu, “Begini ya Win?” tanyanya meminta konfirmasi.
Wiwin mengangguk, “Iyaa.., begitu. Coblos saja sekarang yok. Jangan ragu-ragu.”
Atok menurut, dan kulihat pinggulnya bergerak ke depan. Pelan tapi pasti, batang kemaluannya melesak ke dalam lubang pantat Wiwin. Sekarang Wiwin melepaskan tangannya dari belahan pantatnya, sehingga seluruh kemaluan Atok terjepit pantat yang bahenol itu.

“Aaah.., enaak” desis Wiwin.
Kepalanya menoleh ke belakang, “Kamu enak nggak Mas?”, tanyanya.
Atok mengangguk sambil mulai menggoyang pantatnya ke depan dan ke belakang.
“Hiyaah nih.., enak banget. Gua belum pernah ngerasain Win. Peret banget..”.
Sambil berkata begitu ia semakin memperkuat gerakannya, sedangkan kedua tangannya meremas-remas pantat Wiwin yang bahenol.

Wiwin terkikik senang, “Gitu doong. Sekarang kita mulai main kuda-kudaan ini yah”, katanya.
Dan dia segera mulai menggerak-gerakkan pantatnya lebih kuat lagi sehingga kemaluan Deni semakin cepat keluar masuk lubangnya yang sudah tampak sangat basah. Ketiga orang di depanku ini sudah tampak sangat kesetanan, terbenam nafsu yang luar biasa, sama sekali lupa pada lingkungan sekitarnya. Sedemikian kuatnya mereka memompa, sehingga terdengar suara berkecipak ketika cairan kemaluan Wiwin muncrat tertekan batang kemaluan Deni. Sekali lagi posisi dudukku yang dekat dengan pinggul Wiwin menyebabkanku dapat melihat dengan jelas bagaimana kedua batang kemaluan itu merojok-rojok kedua lubang di tubuh Wiwin.

Sekali lagi, dalam kondisi yang sangat terangsang si Wiwin masih menyimpan kesadaran. Sambil bertumpu pada kedua belah tangannya menahan tubuhnya yang semakin kuat bergoyang-goyang ditekan goyangan si Atok dan Deni, wajahnya berpaling kepadaku yang sedang duduk bengong memperhatikan.
Mulutnya tersenyum nakal, “Mas Nano, mau diemut lagi nggak? Mulut Wiwin lagi kosong nih. Yok sini..”, katanya sambil mengeluarkan lidahnya menggoda.
Aku, yang masih terpesona dengan segala keadaan yang serba tidak terduga ini, menggeleng.
“Nggak deh Win. Gua udah cukup duluan. Terusin aja sama sama si Atok dan Deni”, kataku.
Wiwin tertawa nakal, “Wii.., diberi kesempatan kok malah nggak mau. Ya sudah”, katanya.
Ia berpaling ke Dwi, mungkin maksudnya menawarkan hal yang sama, tetapi tidak jadi ketika melihat Dwi sudah tidur telentang dengan mata menerawang ke atas. Tampaknya dia sama denganku, masih shock menghadapi segala kejadian yang begitu tiba-tiba ini.

Permainan ketiga orang di depanku tampak semakin memanas. Kulihat Atok semakin melebarkan kedua kakinya, sehingga dia kini dalam posisi berdiri terkangkang lebar-lebar dan semakin keras merojok-rojokkan batang kemaluannya ke lubang pantat Wiwin. Demikian juga Deni dalam posisi telentang semakin kuat menggoyang pantatnya ke atas, mencoblos lubang kemaluan Wiwin yang tampak semakin basah.
Akhirnya, kulihat wajah Atok meringis, “Adduuh.., akuu..”, erangnya.
Dan akhirnya dia mencabut kemaluannya dari lubang pantat Wiwin, dan muncratlah air maninya, banyak sekali, menyemprot ke arah pangkal dan biji kemaluan Deni yang masih menancap di lubang memek si Wiwin.
Wiwin terkikik, “Hii.., Bang Atok udah kalah nih. Puas nggak Mas?”, tanyanya sambil menoleh ke belakang, sambil terus menggoyangkan pantatnya naik turun.
Atok mengangguk, “Enak banget Win. Belum pernah aku keluar mani sebanyak ini”, ujarnya sambil bergerak menjauh.

Tapi Wiwin segera memanggil, “Eeh.., mau kemana Mas. Sini Wiwin bersihin kontol mas. Lihat tuh, belepotan banget”, katanya.
Diraihnya kemaluan si Atok dan ditariknya ke arah mulutnya. Dengan paksa ditariknya batang kemaluan yang sudah lemas itu dan segera dimasukkan ke mulutnya. Terdengar suara seperti orang menyeruput air ketika ia menyedot dan membersihkan kemaluan Atok dengan lidahnya.

Atok mendesah, “Win, apa elo nggak jijik.., kan ini baru keluar dari lubang pantat kamu”, katanya.
Kulihat Wiwin membelalakkan matanya, sekejap mengeluarkan kemaluan Atok dari mulutnya.
“Jijik apaan.., wong napsu banget kok. Kalau udah main begini jangan omong soal jijik. Gua aja pernah dikencingin kok. Malah nikmat banget”, katanya sambil mulai lagi mengulum kemaluan Atok.
Temanku yang alim itu jadi diam saja.

Pada saat itu kulihat Deni semakin blingsatan gerakannya, napasnya semakin memburu dan tangannya semakin ganas meremas buah dada Wiwin yang seperti balon.
“Win, cepetin goyangannya. Aku mau keluar”, erangnya.
Wiwin (sambil terus mengulum kemaluan Atok) semakin memperkuat goyangan pinggulnya, dan akhirnya dia ikut menjerit.
“Aduuh, Mas Denii.., aku juga mau keluaar”.
Kulihat tubuhnya menegang, sebelum akhirnya melemah kembali. Kulihat ke arah kemaluannya, tampak cairan membanjir keluar dari sela-sela kemaluan Deni dan bibir kemaluan Wiwin. Campuran air kenikmatan kedua insan tersebut begitu banyak, mengalir ke arah bola kemaluan Deni dan bercampur dengan air mani Atok.

Wiwin tampak sangat menikmati orgasme itu. Dia menelungkupkan badannya ke tubuh Deni, matanya tertutup dan napasnya tersengal-sengal. Tangan kanannya masih meremas-remas kemaluan Atok yang kini duduk di dekat kepala Wiwin. Deni memeluk tubuh bahenol yang ada di atasnya itu.
“Kamu puas Win? Bagaimana pelayanan kami berempat?”
Wiwin mendesah puas, tetap menutup matanya.
“Asyiklah Mas, luar biasa kalian ini. Kalau tahu begini dari dulu aku nggak perlu bingung cari-cari laki-laki pemuas napsu.”

“Kan ada Roni”, kata Atok menimpali.
“Memangnya dia nggak pernah beginian sama kamu?”
Wiwin mencibir, “Uuh.., si Roni?” tanyanya.
“Boro-boro. Orang alim macem itu.., tiap kali pacaran kerjanya cuman kasih nasehat doang. Paling banter cium bibir. Pegang susu aja kagak berani”.
Aku tertawa menimpali, “Bego banget si Roni ya. Ada barang begini indah dia ngak mau. Gratisan lagi”, kataku sambil mengelus-elus punggung Wiwin yang masih tidur telungkup di atas tubuh si Deni.
Wiwin memukul tanganku, “Enak aja, gratisan.., emangnya gua apaan?”, katanya sambil tertawa.
Dia kini berusaha berdiri, tetapi limbung dan akhirnya jatuh dan tidur telentang di sebelah tubuh Deni.
“Aduuh.., gua capek sekali nih. Maklum belum sehat”, katanya.
Dan seperti dikomando, mulailah serangan batuknya yang sejak kami mulai main tadi entah kenapa sama sekali berhenti. Aku pergi ke kulkas dan memberikan botol air es padanya.
“Minum dulu Win”, kataku.
Dia hanya minum seteguk.
“Udah ah, aku tadi udah minum mani kalian banyak sekali. Itu kan juga obat”, katanya sambil berdiri.
“Udahan dulu ya, Wiwin harus pergi ke rumah temen sekarang. Tapi Mas-Mas mau maen kaya tadi lagi kan? Wiwin pengen sekali lho, Oke?”
“Oke Wiin”, jawab kami seperti koor.
“Asyiklah kalau begitu. Sekarang gua sudah dapet dua, lainnya pasti menyusul”, katanya.
Aku tidak mengerti maksudnya. Wiwin berdiri, menyambar daster kebesarannya, tersenyum manis dan masuk ke kamar mandi. Tinggallah kami berempat di ruang tamu, telanjang bulat dan sama sama terdiam setengah bengong memikirkan apa yang tadi baru kami alami.

Itulah awal dari segalanya..

Mulai hari itu, Wiwin menjadi “mainan” kami. Tidak peduli pagi, siang, sore atau malam, setiap ada kesempatan kami selalu menggerayangi dan menikmati tubuhnya. Wiwin tidak pernah mengeluh, tidak pernah menolak, bahkan anehnya dia tampak “setengah memaksa” agar kita mau menikmati tubuhnya. Aku sadar dia ternyata hiperseks yang luar biasa, sangat suka permainan oral (“main emut” istilah dia), dan tidak segan-segan melakukan segala cara yang tidak lazim untuk memuaskan nafsu seks kami.

Kuliah kami jadi kacau balau, karena kami lebih suka tinggal di rumah dan melakukan pesta seks dengan Wiwin daripada pergi ke kampus. Tidak ada rasa malu lagi bagi kami untuk bersetubuh secara bergiliran (kadang-kadang Wiwin duduk di kursi dengan kaki terkangkang di sandaran tangan kursi, dan kami bergiliran menyetubuhinya). Aku sudah mulai terbiasa bangun pagi dengan “jam weker” si Wiwin (dia memang kalong, paling telat tidurnya dan paling cepat bangunnya di antara kami). Caranya membangunkan kami adalah dengan mengulum dan menarik-narik batang kemaluan kami secara bergantian, sampai kami bangun.

Kalau sudah begitu, siapa yang masih punya pikiran untuk ikut kuliah pagi?

Di pihak lain, sakit si Wiwin semakin lama semakin parah. Batuknya semakin sering, tubuhnya semakin kurus dan frekwensinya ke dokter semakin sering. Pak dan Bu Hidayat semakin kuatir dengan kondisinya, dan akhirnya Wiwin menceritakannya pada kami.
“Mas-Mas, bulan depan Wiwin akan pergi ke Belanda, ke rumah Oom Wiwin di sana. Wiwin mau berobat lebih intensif”.
Aku menjadi heran, “Sebetulnya kamu sakit apa sih, Win, kok sampai begitu seriusnya harus diobati di luar negeri?”, tapi si wiwin jawabannya selalu dibuat ngaco, seakan tidak mau sakitnya diketahui.

Meskipun sakit, nafsu si cewek ini seakan tidak pernah habis. Di sela-sela serangan sakitnya dia tetap melayani kami, bersetubuh dengan sangat hot dan ganas di setiap waktu. Apapun yang kami minta dia bersedia melakukan. Kami semua sudah pernah merasakan lubang kemaluannya (itu mah harus), mencoba lubang pantatnya, mulutnya, orgasme dengan dijepit buah dadanya yang berukuran super.., apa saja! bahkan kami pernah memaksa dia “mandi lulur” dengan air mani kami, digosok merata ke seluruh tubuhnya. Tidak usah dibayangkan baunya, tetapi seperti dia katakan, kalau lagi nafsu segala kejorokan akan lenyap dari pikiran.

Tetapi sebenarnya aku semakin curiga dengan cewek ini. Kenapa dia begitu ngotot meminta kami menyetubuhinya? Bahkan kadang-kadang dia jelas sedang sakit berat, suhu badan panas, tetapi dia memaksa kami untuk bersetubuh. Meskipun enggan, kami mau juga melayaninya. Soalnya kalau kami menolak dia sering marah besar.

Pada suatu hari, aku lagi main dengan dia sendirian (yang lain sedang kuliah). Dalam permainan hot kami, aku menyungkupkan mulutku ke kemaluannya dan menghisap dan menjilatinya dengan bernafsu (Oh ya, dia sudah kami suruh cukur bulu kemaluannya supaya lebih enak ngisepnya. Dan dia menurut saja). Waktu itu aku melihat ada lingkaran kehitaman di pahanya, ada tiga yang cukup besar. Waktu aku melihat ke atas, tampak ada bulatan menghitam yang sama di bawah buah dadanya.

Aku menyentuhnya dan bertanya, “Apa ini Win?”, tanyaku.
Tapi dia menjawab sekenanya, “Enggak tahu, kata nenek itu kan digigit setan. Iya toh, setan genit kali..”, katanya terkikik.
Aku ingin bertanya lebih lanjut tetapi didahului olehnya.
“Ayolah, pakai diskusi segala macem. Wiwin udah mau keluar nih. Terusin dong ngisepnya”, katanya.
Dan lupalah aku dengan segalanya. Kami mulai bermain lagi.

Hingga tibalah suatu hari yang mengubah segalanya..

Hari itu hari Senin malam, hujan seperti dicurahkan dari langit. Di malam yang sangat dingin itu, aku, Atok dan Dwi berkumpul dengan Wiwin di ruang tamu menonton TV (Deni sedang pergi keluar). Aku duduk di sofa, Wiwin tiduran di sofa yang sama dengan kepalanya menumpu ke pahaku sebagai bantal. Kami menonton sinetron di TV, sama sekali tidak menarik dan membosankan.

Di tengah keheningan itu, Wiwin mulai dengan rayuan mautnya.
“Ngewe yok”, katanya to the point seperti biasanya.
Aku yang agak demam, terasa malas memenuhinya. Apa lagi kemarin malam kami baru saja pesta orgi gila-gilaan, full team (empat orang) menghabisi tubuh bahenol si Wiwin sampai dia terampun-ampun.
“Ngantuk ah, Win..”, kataku.
“Besok aku harus pagi-pagi ke kampus, bayar SPP. Entar telat, mati aku”.

lanjut ke bagian 4