Kamu Laki-laki Bukan, Sih? – 2

115 views

CerSexMek >>> Kamu Laki-laki Bukan, Sih? Part 2
CerSexMek >>>>> Terima Kasih Atas Kunjungan nya, Baca Sampai Selesai Yach Gan 🙂

memek juicyads bugil_WM
CerSexMek = Cerita Sex Memek

Dari Bagian 1

Setelah seharian cukup lelah mengurus pekerjaan dengan Arif, aku kembali ke hotel jam 4 sore. Masih cukup waktu untuk santai berenang di kolam renang hotel. Pertamina Cottage adalah bangunan tua yang belum direnovasi seperti sekarang ini, saat ini sebuah cottage yang sudah berubah menjadi 2 kamar hotel, sedangkan dulu masih berupa satu kamar dengan ukuran luas, sehingga sangat nyaman tinggal disana. Salah seorang presiden Amerika pernah tinggal di salah satu suite di sana dengan kaca anti peluru. Salah satu mantan Presiden Indonesia pun mempunyai cottage khusus yang konon tidak pernah disewakan pada tamu lain.

Aku masih sempat tidur sekitar 3 jam dan pada jam 10:15 malam aku tiba di S dan Rara sudah duduk di bar. Tampak minumannya baru berkurang sedikit, tanda bahwa dia juga baru datang. Malam ini dia tampak lebih cantik dan anggun dibanding kemarin, mengenakan rok tipis terusan warna hitam agak span dengan belahan di sisi kiri sampai pertengahan pahanya, potongan dan bahan roknya sedemikian rupa sehingga menempel ketat di tubuhnya. Leher berbentuk V lebar yang cukup rendah, terlihat jelas sebagian buah dadanya yang montok. Rambutnya diikat ke atas, memperlihatkan bentuk lehernya yang jenjang.

“Sorry, aku terlambat ya.. Cukup lelah seharian bareng Arif ngurusin kerjaan, jadi aku ketiduran, kamu sudah lama?” tanyaku basa basi. Aku kecup pipi kiri kanannya.
“Nggak juga, cuma baru 3 jam, tadi sempet bantuin bersihin meja di sini”, jawabnya dengan riang. Aku tahu dia hanya menggoda.
“Wah, rugi deh si Arif kalau tamunya semua kaya kamu” jawabku.
“Emang kenapa? Terbalik lagi, kalau tamu banyak yang kaya aku, bakal banyak cowok yang masuk ke sini tahu..” katanya PD. Memang pada hari Jumat itu, sudah agak banyak tamu yang datang dan banyak pula yang memandang ke arah Rara.
“Tamu kaya kamu bikin rugi dong, masa 3 jam cuma minum 1 teguk, tuh gelasnya masih penuh he he he” ujarku.
“Aah.. Kamu bisa aja, awas ya aku bales kamu nanti” jawabnya sambil tangannya mencoba mencubit hidungku.

Aku tangkap tangannya, lalu aku cium punggung tangannya, bibirku menelusuri jari tengahnya, sampai di ujung jari, aku buka mulutku lalu jarinya kumasukan ke mulutku sambil aku hisap perlahan-lahan. Rara menarik nafas panjang terkejut.

“Awas kamu ya, jangan bikin aku horny di sini”, ujarnya sambil menarik tangannya yang basah kena liurku.
“Mau temani aku makan nggak?, atau kamu tunggu di sini, aku makan dulu” aku menggoda dia.
“Kamu bisa serius nggak sih, masa aku ditinggal di sini, kan kita janjian malam ini, kalau aku ditinggal terus ada cowok lain menggodaku gimana” sambil merajuk dia berkomentar.
“Menggoda itu hak mereka, mau atau nggaknya tergantung kamu, di samping itu, bagus dong ada yang menggoda kamu, itu artinya cewekku laku, aku nggak salah pilih dan itu bukan pasti lagi karena ini malam minggu Non, 10 menit aku tinggal kamu, 10 cowok juga akan mengerubung di sini”
“Untung sudah sadar kamu, yuk kita makan, aku juga lapar nih” katanya sambil menggandeng lenganku keluar dari S. Kami menuju warung Made, makan dan minum sampai jam 12 malam. Aku sudah agak pusing kebanyakan minum.
“Kita teruskan mengobrol sambil minum di hotelku ya” uajrku akhirnya. Langsung aku bayar bon tanpa menunggu jawaban dan aku peluk bahunya sambil berjalan ke arah mobil. Rara melingkarkan tangannya di pinggangku, rupanya Rara pun mengerti bahwa itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan.

Kebetulan bar dan coffe shop di hotel sedang direnovasi, jadi kami berjalan menyusuri beberapa cottage menuju kolam renang. Di sana ada restoran yang buka sebagai pengganti coffee shop dan bar. Di tengah perjalanan, aku lingkarkan tanganku ke bahunya. Tidak terasa ada tali BH di pundaknya. Lalu tanganku kuturunkan ke punggungnya, kutemukan kaitan BH di sana, rupanya Rara memakai BH model strapless. Kucari kaitannya, cuma satu. Dengan sekali sentakan antara telunjuk dan ibu jariku, terlepaslah kaitannya.

“Vir, gila kamu ya, lepas nih BH-ku” katanya sambil memukul bahuku.
“Aku rasa lebih indah kalau kamu nggak pake BH, sekarang mau aku yang lepas atau kamu lepas sendiri” aku tersenyum.
“Kalau orang-orang liat gimana, kan aku malu, lagian nanti kamu marah aku diliatin banyak orang” ujarnya sambil tangannya menarik BH dari balik bajunya dan disimpan di tas kecilnya.
“Kenapa musti malu, kan putingnya masih di dada, belum di perut” bisikku sambil tertawa kecil.
“Makin banyak orang yang liatin kamu, semakin bangga aku jalan sama kamu” kataku mantap hingga dia tidak berkomentar lagi.

Dengan bahan pakaian tipis dan menempel ketat di kulit Rara seperti itu, jelas sekali terlihat bentuk buah dadanya yang indah bulat dan menantang tegak, terasa sekali masih sangat kenyal waktu dia melingkarkan tangannya di lenganku sampai menekan buah dadanya.

Akhirnya kami sampai di restoran. Di tepi kolam renang masih ada beberapa tamu di sana. Setelah selesai makan, kami duduk-duduk di tepi kolam renang menggunakan 2 kursi pantai yang biasa dipakai untuk berjemur. Kami mengobrol dari ujung ke ujung, bercanda riang dan diselingi oleh ciuman dan rabaan.

Sampai akhirnya Rara berbalik, naik duduk di atas pahaku dan menarik leherku, kami berciuman dengan penuh gairah dan panas. Kucium bibir Rara dari ujung kiri sampai ujung kanan diiringi gigitan-gigitan kecil. Rara pun tak mau kalah, dimasukkannya lidahnya ke dalam mulutku mencari lidahku, tanganku menjalar sepanjang dadanya, kuremas buah dadanya satu persatu, kupelintir putingnya. Rara terengah-engah kenikmatan sambil tangannya meremas penisku yang telah menegang.

Cukup lama kami berciuman sampai akhirnya kami kecapaian sendiri dan kembali kami duduk menghadap kolam, kulirik ke arah restoran. Beberapa orang tampak melihat ke arah kami duduk. Kulihat sudah jam 2:30 pagi, pada jam 9 aku harus ke airport pulang ke Jakarta.

“Rara, pulang yuk, aku harus ke airport jam 9 besok pagi, pulang ke Jakarta” ajakku. Rara diam tidak berkomentar. Setelah kutanda tangani bon, aku ajak Rara jalan menuju ke arah jalan masuk tadi.
“Kali ini aku antar kamu pulang ke Sanur ya” bisikku. Rara masih diam, aku tidak berani melihat wajahnya. Sewaktu kami berjalan di antara beberapa cottage, tiba tiba Rara mencengkeram lenganku keras sekali.
“Virano, kamu laki-laki bukan sih?” suaranya tegas, mantap dan agak mengejutkanku. Sekejap aku bingung untuk mencari jawabannya, padahal aku sudah tahu arahnya. Aku berhenti dan menarik dia ke pelukanku dengan erat.
“Kamu mau?” dengan sangat lembut aku bisikkan di telinganya. Dia hanya mencium bibirku dengan lembut tanpa nafsu sama sekali sambil berkata lirih..
“Sejak kemarin..”, lalu aku ajak dia untuk berbalik arah menuju cottageku yang memang telah kami lewati sedari tadi.

Sesampai di dalam, tanpa berkata-kata lagi, kujelajahi leher jenjang Rara dengan lidahku. Rara pun menengadahkan kepalanya untuk memberi ruang lebih luas buatku untuk bergerak. Kujilat belakang telinganya, kemasukkan lidahku ke dalam telinganya.

“Ooh.. Kamu kejam, sejak kemarin aku merindukan seperti ini” desah Rara.

Kucium dengan lembut bibirnya, demikian pula dia. Lama kelamaan ciuman kamu semakin hot, saling berebut mencari lidah masing-masing sementara tangan Rara sudah berhasil membuka celanaku dan terjatuh ke bawah. Sekarang Rara sibuk untuk membuka kemeja lengan pendekku sehingga aku tinggal memakai celana dalam. Aku pun tak tinggal diam, kutarik sangkutan baju Rara dari bahunya dan kuperosotkan ke bawah sehingga tinggal G-String yang melekat di tubuhnya. Kuraba vaginanya, bulu-bulu tipis menyelimuti sekitar vaginanya. Kucoba mencari liang vaginanya melewati klitorisnya.

“Vir.. Jangan siksa aku lagi kali ini.. Oohh..” katanya lirih bergairah.
“Aku janji Ra.. Kamu akan dapat yang terbaik..” kataku sambil memasukkan jari tengahku ke dalam liangnya.

Rara mencari penisku di balik celana dalam, dan diremas remas serta dikocoknya, penisku yang memang sudah tegang segera menyembul dari balik celana dalam. Perlahan tapi pasti, kami menggerakkan kaki kami ke arah ranjang yang berukuran king size sambil melepaskan celana dalamku.

Aku didorongnya sehingga telentang tiduran dan Rara menindihku sambil terus menciumi leher dan turun ke dadaku. Dihisapnya kedua putingku sambil tangannya terus mengocok penisku. Sesampainya ke arah perut, Rara tidak melanjutkannya ke bawah, tetapi balik lagi mencium bibirku sambil berusaha membuka celana dalamnya dan mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Hmm, aku sudah dapat mengukur tingkat permainannya. Aku menahan pantatnya agar tidak diturunkan lalu aku balikkan badannya sehingga sekarang dia berada di bawah.

Ke Bagian 3