Kamar 19

84 views
Kamar 19,5 / 5 ( 1votes )

CerSexMek >>> Kamar 19

memek jilbab perawan_WM
CerSexMek = Cerita Sex Memek

Nama saya Paul dan tentunya itu bukan nama asliku karena aku tidak mau jika ada temanku yang membaca kisah nyataku. Saya sekarang sedang mengambil study di Australia di bagian Electronic Commerce. Semenjak saya lulus dari Bachelor study, banyak teman-teman saya yang berasal dari Indonesia pulang dan bekerja di Indonesia sehingga kehidupan saya di Perth terasa sangat membosankan karena teman baruku sekarang tidak seheboh teman-teman lamaku.

CerSexMek >>>>> Terima Kasih Atas Kunjungan nya, Baca Sampai Selesai Yach Gan 🙂

Karena kebosananku inilah, yang membuatku mengalami kejadian nikmat ini. Suatu ketika, saya merasakan kebosanan yang amat sangat apalagi ketika teman serumah saya selalu menganggu saya dengan pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran. Walaupun saya selalu menjawab pertanyaannya dengan baik, dalam hati, saya sangat jengkel dengan mulutnya yang sangat cerewet. Untuk menghindari mulutnya yang tidak bisa diam tersebut, saya akhirnya jalan-jalan keluar apartemen.

Di jalan, saya melihat banyak bule yang sedang membawa jalan-jalan anaknya atau anjing peliharaannya. Udara di Perth saat itu adalah sedang dingin-dinginnya sehingga nafsu seksual saya menjadi semakin meningkat apalagi saya memperhatikan banyak sekali gadis Australia dan Asia yang sedang menunggu bis atau sedang berjalan kaki. Kecantikan alami mereka membuat batang kejantananku menjadi membesar dan saya mesti bisa tahan karena jika saya tidak menahannya, saya bisa melakukan pemerkosaan terhadap mereka dan saya akan berakhir di Penjara Fremantle.

Akhirnya tibalah saya di sebuah rumah toko yang membuat saya penasaran. Di dinding rumah yang mempunyai papan nama bertuliskan Langtrees executive play ground, saya sempat memperhatikan ada gambar silhuete tubuh seorang wanita yang sedang striptease dan tak lama kemudian, keluarlah seorang gadis bule yang cantik yang memberikan kedipan mata pada saya dan dia langsung naik ke taksi yang sudah menunggunya dan pergi dari hadapan saya. Saya sempat bengong beberapa saat melihat perlakuan dari cewek tersebut. Di dalam batin saya, saya menyadari bahwa ini pasti tempat yang nikmat dan berguna bagi kejantanan saya yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, pikirku.

Saya langsung masuk ke dalam rumah itu dan mendekati kasir yang dijaga oleh seorang cewek caucasian yang sangat cantik. Setelah saya membayar ruangan dan ceweknya, saya diberikan sebuah kartu yang bertuliskan angka 19. Pertama kali, saya sempat tidak mengerti apa maksud dari nomor 19 tersebut. Setelah saya bertanya, dia menerangkan bahwa saya akan mendapatkan service di kamar nomor 19. Saya senang dan langsung berlari mencari kamar nomor 19. Sambil menunggu kedatangan cewek yang saya pesan berdasarkan photo yang saya lihat dari album photo yang diberikan oleh kasir di meja depan, saya kemudian melihat keadaan dalam kamar nomor 19 tersebut.

Tak lama kemudian, pintu kamar saya terbuka dan masuklah cewek yang saya pesan tadi. Saya kaget sekali karena cewek yang berada di depan saya ini lebih cantik dari cewek yang saya pesan di meja depan. Saya menurut saja dan cewek itu mulai mengenalkan dirinya bernama Jennifer.

Jennifer adalah seorang gadis Asia yang lahir di Australia, hal ini dapat dilihat dari wajahnya yang cukup oriental dan seksi dan logat bicaranya yang sudah seperti orang Australia itu. Saya sempat menelan ludah sewaktu Jennifer membuka bajunya dan bagai sebuah robot, saya langsung mendekatinya dari belakang.Dengan lembut ditariknya tangan saya dan saya menurut saja, dirangkulnya pundak saya dan dengan lembut diciumnya bibir saya. Terasa hangat dan merangsang, dan dengan pasti dilumatnya bibir saya. Tercium lagi oleh saya bau parfum yang dipakainya, yang membangkitkan gairah saya yang selama ini tertidur dan tak tersalurkan.

Sekali lagi terlintas di kepala saya prinsip tentang bahaya AIDS, namun rupanya saya sudah tidak bisa menahannya lagi. Maka dengan perlahan dan pasti saya bimbing Jennifer menuju tempat tidur saya, Jennifer di atas saya menciumi bibir, wajah dan leher saya, tangannya dengan cepat membuka kancing baju saya dan terdengar nafasnya terengah-engah. Diciuminya dada saya dan dihisapnya puting saya secara mengejutkan, mengakibatkan rangsangan yang sulit dijelaskan. Saya telentangkan badannya di atas kasur, dan langsung saya lumat dadanya yang masih terbungkus BH dan baju, terasa sangat padat dan bulat.

Saya tarik ke bawah retsleting bajunya dan terlihat lingkaran padat menonjol indah terbungkus oleh bra hitam yang dikenakannya. Tanpa melepas pengait branya, saya turunkan cup yang menutupi buah dada nan indah itu, langsung saya hisap dan dengan lidah saya permainkan putingnya yang masih merah muda dan kecil. Tidak saya sangka bahwa ternyata puting Jennifer masih demikian indah, seperti nampaknya anak muda belasan tahun. Tentunya saya tidak akan berhenti di kedua tonjolan indah nan kenyal milik Jennifer itu, saya terus turun ke daerah pusar, sambil tangan saya mencoba untuk membuka celana kain yang dikenakannya.

Lidah saya bermain di sekitar pusarnya, dan Jennifer terlihat menghentakkan perutnya ke atas karena terangsang. Dari luar celana dalamnya yang juga berwarna hitam berenda, terlihat dari bahan yang menerawang, rambut kemaluannya yang teratur rapi. Dengan jari tengah tangan kiriku, kuusap belahan kemaluannya dengan pelahan dan dengan pasti kuselipkan jari tanganku melalui samping celana dalamnya yang mulai basah. Kupermainkan klitoris yang tertutup bulu kemaluannya, perlahan-lahan kuselipkan jari manisku memasuki lubang kewanitaannya yang terasa hangat dan ketat. Agak sedikit kubengkokkan ujung jari manisku mengusap bagian dalam lubang senggamanya yang terletak di belakang klitorisnya. Jennifer menggelinjang hebat ketika dengan tepat ujung jari manisku mengenai pusat-pusat simpul saraf di dalamnya.

Beberapa saat kugerak-gerakkan ujung jari manisku di sekitar simpul-simpul saraf tersebut, dan terlihat pinggulnya berguncang hebat ke atas dan ke bawah mengikuti gerakan keluar masuknya jariku di dalam lubang kemaluannya. Berselingan kupermainkan antara lidahku di sekitar pusar dan jari manisku.

“Aaahh.. auwww.. please masukin dong Paul”, kata Jennifer.
Tapi karena saya berusaha untuk menenangkan diri dari nafsuku yang juga membara, maka kutahan untuk tidak segera memulainya. Saya sudah telanjang bulat dan juga Jennifer, ternyata semakin terlihat badannya yang putih mulus dan tidak ada cacatnya, perutnya yang rata dan terlihat sedikit berbuku-buku dan betapa menariknya rambut kemaluan dan daging klitorisnya yang begitu rapi bagaikan di buat oleh dokter bedah plastik.

Langsung kutancapkan lidahku di antara lubang kewanitaan Jennifer, dan kuhisap serta kupermainkan di sekitar klitorisnya, terdengar desisan, “Heehh.. hhehh.. sshh..” dari mulut Jennifer. Dengan cekatan Jennifer juga mulai meraih batang kemaluanku yang memang sudah menegang sejak tadi, dihisapnya batangku dan terasa sangat menggairahkan. Karena tak tertahankan saya pun mengerang, “Hhmm.. heehh” Tidak mau kalah, kuselipkan jari tengahku ke dalam lubang kemaluan Jennifer sambil kuhisap klitorisnya, kusentuh dengan ujung jari tanganku bagian simpul saraf yang terasa seperti benjolan-benjolan kecil, terasa pinggul Jennifer menegang dan menggeliat, dan dengan keras dia menjerit, “Aaahh.. saya mau keluu..arr” ternyata Jennifer mencapai klimaksnya.

Kulepaskan hisapanku di sekitar kemaluan Jennifer dan perlahan-lahan kuraba buah dadanya yang sudah mengeras, dengan puting merah muda yang mancung mengeras. Mulai lagi kuhisap puting merah muda itu, kujilat di sekelilingnya, sambil sesekali kuhisap dan kugigit perlahan ujung putingnya. Terasa pahaku menyentuh bulu-bulu kemaluan Jennifer, dan dengan kakinya melingkari kakiku, mulai digerakkan, digosokkan kemaluannya di pahaku. Rupanya Jennifer dengan cepat mulai bergairah lagi dan dia berkata, “Ayo Sayang, saya masih ingin lagi dan lagi..”

Kuarahkan batang kemaluanku menuju liang kewanitaannya yang masih basah, dengan sedikit tekanan, terasa secara perlahan batang kejantananku teremas-remas oleh otot-otot lubang senggamanya. Kuayun maju mundur dan diikuti gerakan pinggul Jennifer yang juga mengayun-ngayun, kucium bibirnya yang indah, gerakanku dan Jennifer semakin menggebu. Kita berdua saling menindih dan berguling tanpa terlepaskan lagi, gerakan demi gerakan antara pinggul Jennifer dan pinggul saya, dan akhirnya terasa ujung batang kemaluanku mulai berdenyut-denyut tak tertahankan, “Eeeuchh..” kuteriakkan perasaanku yang tertahan selama ini, bersamaan teriakan klimaks Jennifer yang semakin membuatku terangsang, kurasakan cairan spermaku memancar keluar dengan kerasnya, dan terasa jepitan yang mengeras di sekitar batang kemaluanku, serta getaran mengejang dari badan Jennifer. Akhirnya kita berdua terkulai lemas, kuakhiri permainan cinta ini bersamanya, dan tertidur pulas sambil berpelukan di bawah selimutku yang hangat itu.

Setelah kami bercinta selama 1 jam lamanya, saya kemudian berbenah diri dan mencium Jennifer sebelum saya meninggalkan kamar nomor 19 dan tempat yang memberikan kenangan tersendiri. Saya berharap agar saya bisa sekali lagi menikmati liang kenikmatan Jennifer. Ketika saya keluar dari tempat itu, saya baru sadar bahwa saya baru saja bercinta dengan Jennifer tanpa memakai kondom dan saya cuma tersenyum saja.

TAMAT