Kehidupan yang Indah 01

70 views

CerSexMek: Kehidupan yang Indah Part 1

memek dan kontol_WM
CerSexMek = Cerita Sex Memek

Oh yah, anggap saja namaku Alvi, pria 27 tahun. Hmm, bagaimana aku harus menjelaskan diriku yah? Hmm, kalian tahukan, untuk buang angin yang tidak kelihatan saja, aku malu untuk sombong ke orang lain, apalagi untuk identitas aku yang kelihatan. Jadi maaf yah, aku sembunyikan detail-detail khusus. Jadi jangan berusaha menebak-nebak yah, walaupun ini kejadian nyata. Dan kalau berharap untuk kisah Superman bermain seks, sepertinya lebih bijak untuk click ke cerita yang lain. Ini cuma kisah nyata sederhana yang diceritakan dengan sopan, setidaknya itulah yang bisa kulakukan untuk menghormati kaum Ibundaku.

CerSexMekCerita Sex Memek 😀 Terbaik

“Sialan, kamu cantik banget, huahaha.” Iya, aku masih ingat kata-kata spontan yang keluar waktu pertama kali kenalan dengan Zefa-nya. Anya seorang model dan banyak prestasi di bidang yang berhubungan dengan kecantikan (no list okay). Tidak, tidak seperti bidadari, cuma teman abangku. Dan aku tidak macam-macam dengan teman abangku, kecuali mencoba untuk membuat suasana yang akrab dengan membuat sambutan yang menyenangkan. Amat disayangkan untuk penggemar fisikisme pasti amat tidak menyenangkan kalau aku tidak mampu menceritakan tentang fisik Anya sedetail-detailnya. Lagi pula aku bukan tukang jahit yang membawa meteran kemana-mana. Tapi Anya setinggi dahiku, dan tinggiku 179 cm. Aku akan buang waktu untuk menjelaskan kecantikannya. Sediakan saja syarat fisik wanita cantik idaman kamu, fisik Anya akan memenuhi syarat kamu di atas tiga perempatnya. Lupakan kalau berpikir langsung adegan ranjang, kalau langsung demikian, aku sudah berangkat ke Hollywood menggantikan Tom Cruise.

Untuk waktu yang panjang, aku sibuk dengan diriku sendiri, demikian juga dia. “Ih, hebat banget ada bunga yang bisa mencet bel,” kataku kepada anjingku, tapi sambil cuek kubukakan pintu untuk Anya. Iya, sore itu Anya muncul di rumahku, sambil berbicara imut sekali juga senyum-senyum dengan anjingku dari luar pagar. Dia suka sekali anjing, demikian ceritanya sambil berdiri di halaman. Satu hal yang menarik adalah anjing yang dia miliki adalah hanya seekor anjing kampung betina, biasa saja bukan. Yang penting adalah bagaimana merawatnya, bukan jenis apa anjing itu, demikian penjelasannya. Anya sebenarnya ingin mengembalikan beberapa barang yang dipinjamnya dari abangku, tapi kebetulan abangku tidak ada. Kami jadi tertawa-tawa dan membahas bunga-bunga mawar dan bunga matahari yang ada di tamanku. Aku memang kadang abdi rumah tangga, soalnya aku ‘kan cuma tinggal berdua satu rumah, jauh dari Ayahanda dan Ibunda.

Anya mengajakku untuk makan malam dan menemaninya undangan perkawinan anak dari rekan bisnis ayahnya. Satu hal yang membuat kami tertawa sepanjang malam itu adalah kami mengenakan satu warna yang sama, yaitu merah maroon. Anya mengenakan gaun malam terusan yang menutup ketat tubuhnya, sementara aku mengenakan kemeja merah maroon juga. Seperti kembaran dan banyak orang-orang yang menyapanya menanyakan hal itu. Tidak ada cerita jorok, cuma menceritakan satu moment yang membuat kami dekat.

Oh yah, sebelum menuruniku dari mobilnya, dia mengucapkan terima kasih kepadaku untuk membuat dia tertawa dan tersenyum. Itu merupakan kombinasi make-up yang pas untuk wajahnya, katanya. Terus kujawab juga bahwa kalau aku ini ada keturunan super hero juga, sama-sama membasmi kesedihan dari muka bumi ini juga. Kuajak wanita yang sedih untuk makan siang dan membuatnya tertawa. Begitu deh kira-kira. Dan suatu kehormatan besar buatku, waktu dia tertarik untuk makan siang denganku. Kami akhirnya sering jalan bareng. Melakukan hal-hal bodoh yang kuajarkan kepadanya. Hal-hal tolol yang sebelumnya belum pernah ia lakukan dalam hidup. Keluar kota hanya untuk curhat kepada seekor kerbau, memandang awan, mengunjungi dan berdoa ke kuburan seseorang yang tidak kami kenal, berkebun bersama, iya itu termasuk mengajarinya mencangkul, mencuci mobilnya, mengajarinya melukis, berjalan kaki malam-malam bersama anjingnya, dia jago bernyanyi. Aku jago gitar, paskan.

Sampai suatu saat aku bertanya-tanya dengan diriku sendiri. Apa benar aku cowok yang paling tolol dan bodoh sedunia. Teman-temanku selalu mengatakan hal itu tiap kali aku menjelaskan bahwa aku tidak berbuat apa-apa dengan Anya. Bayangkan waktu itu, aku dengan Anya slow dance, tanpa musik, berdua di kamar kost mewahnya. Hanya suara dia menggumamkan lagu-lagu tidur. Mata indahnya terpejam damai, dan Anya seringkali menempelkan pipi putih halusnya ke dadaku, bernafas di leherku. Mulut halus dan hidungnya ditempelkan lembut menyuarakan lagunya dengan terkadang membisikkan khayalan-khayalan masa depannya.

Iya anda benar kalau bilang aku cowok tolol. Aku tidak mengambil tindakan apa-apa tuh, kecuali aku diamkan tanganku di pinggangnya, cuma seringkali aku menempelkan pipiku ke rambutnya untuk mencium aroma rambut Anya yang wangi itu. Itu saja. Herannya aku malah sibuk sendiri untuk mengatur langkah kakiku. Cowok aneh ‘kan. Aku terangsang sekali, aku tidak munafik. Tetapi selalu terpikirkan bahwa aku bukan binatang yang mengumbar nafsu kapan dia mau. Dan hanya karena aku terangsang, sungguh bukan suatu alasan yang pantas untuk tidak menghormati wanita yang di depanku.

Sampai suatu waktu aku dan Anya pergi ke perpustakaan besar bertingkat di kampusku. Semula tujuannya memang hanya untuk rileks sambil tertawa-tawa membahas orang lewat dari tempat duduk sofa di ruang tunggu perpustakaan itu. Namun aku sempat mempertanyakan hal kebodohanku sebagai pria pada Anya. Yang memang kadang mengganggu.

Tiba-tiba saja Anya bangkit dari bersandar santainya, “Mana cowok yang paling tolol sedunia itu?” Tanpa menunggu komentarku dengan ekspresi heran, Anya memegang pipiku dan mengecupku di bibir. “Alvii, emang kamu tolol banget, tapi kalau aku suka, terus kenapa?” tanya Anya sambil memiringkan kepalanya dengan ekspresi nakal menantang, sementara aku lebih sibuk untuk memperhatikan orang-orang yang melihat ke arahku dan Anya. Aku cuma cengar-cengir saja salah tingkah. Kemudian Anya menyuruhku diam dan menyuruhku untuk menyimak. Anya seakan bernafsu sekali untuk mengutarakan hal ini, sampai dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku.
“Dengerin, aku tuh bosen tau diperlakukan seperti piala trophy. Aku bosan diperebutkan.”
“Cuma kamu yang terlalu bodoh untuk tahu bahwa yang ada di depan kamu bukan piala.”
“Orang bilang aku cantik, makasih. Tapi asal kamu tahu saja Vi, aku juga kehilangan banyak teman hanya karena kecantikan itu. Okay aku malu dan sebel untuk ngungkapinnya, tapi kalau pakai bahasa film, aku akan bilang jangan benci aku hanya karena aku cantik.”

Anya sedikit kembali tersenyum kemudian melanjutkan isi hatinya tetapi kini agak melembut. “Alvi, kamu masih inget waktu kita slow dance. Aku sebenernya cuma pengen ngetest kamu, apa sih yang sebenernya kamu mau dariku. Tapi yah karena kamu bodoh waktu itu, kamu tidak aku tampar.” Aku masih ingat jelas kata-kata Anya seperti ini, walaupun diucapkannya dalam bahasa Inggris. Sekilas mungkin berkesan sombong, tapi andaikata Anya yang bicara rentetan kata di atas, lalu membandingkan dengan kecantikannya, aku tidak menganggapnya sombong. Sepanjang sore itu Anya mengeluhkan banyak hal seputar masalahnya dengan pria, cinta dan tentang kehidupan. Aku sendiri hanya menyediakan kuping yang baik untuk mendengarkan.

Singkatnya, sepulang makan malam Anya ke rumahku yang kosong karena Abangku pergi ke luar kota. Setelah aku mandi, Anya berniat untuk mandi, karena memang ia selalu membawa pakaian cadangan dalam mobilnya. Aku menunggunya dalam kamarku, dengan celana pendek dan kaos tipis baju tidur. Tadinya aku pikir erotis sekali kalau mendengarkan suara-suara Anya mandi. Tapi berpikir soal ditampar, lebih baik aku menunggu di bantal-bantal besar kamarku sambil menatap bintang-bintang dari fosfor yang kutempel di atap langit-langit kamar. Bersender pada bantal di dinding, dengan lampu belajar yang kuredupkan segelap mungkin melihat pada bintang yang menyala itu. Bukan munafik, cuma aku lebih beranggapan kalau mencuri-curi kesempatan seperti itu sama saja mati kawan, atau seperti mencuri sesuatu dari teman sendiri. Itu saja.

“Al.. Alvi..” panggil Anya lembut.
“Kamu ngapain?” tanya Anya lembut membuka pintu kamar.
Aku hanya membesarkan lampu, kemudian memberi isyarat untuk menyuruhnya duduk di karpet sebelahku. Aku berlaga acuh dengan rok mini yang dipakainya dengan baju satin putih ketat tanpa lengan. “Bagus khan!” kataku sambil melihat ke atas, sementara Anya lebih sibuk untuk mengatur bagaimana agar bantalku tidak basah dengan rambut lurusnya yang setengah basah. Lalu tanpa mempedulikanku, Anya menyandarkan punggungnya ke dadaku, sambil mengambil satu tanganku untuk dibawanya melingkar di perut kecilnya.

“Lucu,” katanya sederhana, sambil mengambil posisi santai untuk melihat ke atas dengan mengadahkan kepalanya di samping leherku. Terus lama deh sepertinya kita berdua bengong. Sambil cari bahan omongan, kucoba untuk meng-gombal iseng, biar buat lucu suasana.
“Nya, aku sering nanya loh kalau aku mau tidur. Kira-kira aku di bintang yang mana yah, kalau aku bisa pergi ke bintang-bintang itu.”
“Hmm.. sepertinya sekarang aku bisa jawab deh, mau tahu dimana?” tanyaku tanpa menoleh.
Anya hanya tersenyum menggenggam erat jari jemariku, lalu sepertinya ia penasaran juga, “Dimana Vii..” aku cuma sok senyum imut cengar-cengir sendiri untuk meyakinkan bahwa jawabanku cukup norak tapi romantis. Hmm, kujawab, “Disitu!” Kini Anya menoleh keheranan dengan jawabanku. “Iya di situ Nya, si samping kamu di salah satu dari bintang itu.” Aku sih tertawa ngakak, merasa betapa noraknya aku. Tapi malah Anya hanya tersipu malu menunduk, lalu merubah posisinya untuk mengelus halus pipiku. Malah kini Anya memeluk badanku dan merebahkan kepalanya di atas bahuku.

Tanganku hanya bergerak spontan untuk menyambut jari-jari halus di pipiku itu. Menggenggamnya dan kutaruh lagi di pipiku. Anya hanya memejamkan matanya, dan aku yakin bahwa ia tidak tertidur karena jempolnya tetap bergerak lembut mengelus pipiku. “Hmm.. kamu ngantuk?” tanyaku sok lembut, sambil mengambil rambut Anya dan menaruhnya kembali ke belakang telinganya. Anya hanya menjawab tidak dengan pelan. “Kamu santai saja yah Nya, kalau kamu mau tidur, ya tidur. Kamu dapet kunci kok. Terus kalau kamu nonton TV yah nonton. Pokoknya buat kamu sesantai mungkin,” kataku merayu. Jujur, aku mulai bawel untuk merocos tidak karuan. Dada lembut halus lembut Anya itu loh menempel hangat di dadaku. Paha putihnya ditumpuk di atas pahaku. Jempol tangan mengelus halus di bawah telingaku. Nah, aku sadar aku salah tingkah berat, merocos sok perhatian dan basa basi tidak karuan. Itu satu-satunya pertanda aku benar tidak konsentrasi sekali.

Sementara yang kulakukan hanya berulang kali menaruh rambut di telinganya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku mengelus-elus rambutnya yang tepat di samping kiri pipiku. Kata-kata tidak jelas itu akhirnya berhenti, waktu Anya pelan memanggil namaku, “Alvi..” Yang kutebak sih sepertinya Anya juga tidak mendengarkan omonganku saat itu. “Vi, sebelum aku lupa. Anya cuma mau bilang, Anya seneng ketemu kamu. Anya sayang kamu Vi.” Aku tidak jelas rangkaiannya, tapi aku yakin kalimat itulah dan teman-temannya sejenis kalimat itu yang Anya ucapkan dengan lirih manja. Betapa dia tidak ingin kehilanganku, betapa dia ingin bersamaku terus dan tebak sendiri deh. “Nya.. Anyaa..” aku coba menyebut namanya makin keras, aku tiba-tiba saja jadi sebal sendiri. Aku mulai membetulkan dudukku, sambil membangunkan Anya dengan mendorong halus bahunya. Anya keheranan melihat sikapku seperti itu. Aku tahu itu pasti. “Ssst..” aku melipat jari jemariku dan menyatukan kedua telunjukku di depan mulut untuk membuatnya diam, aku diam. “Biar kubuat sederhana untuk kamu ngerti.” Aku jadi emosi. Kira-kira begini yang kubilang, “Anya, hmm.. jangan bilang sayang atau cinta denganku deh, please,” kutatap memohon kepadanya.

Sebelum dia sempat bicara, kupotong dengan isyarat telunjukku untuk menahan protesnya. “Ssst..” Bagiku, kalimat itu artinya sama dengan kubakal kehilangan. Seseorang bakal pergi dari hidupku. Seperti tipuan menyenangkan dari kalimat selamat tinggal. Aku malas ah, capai, dibohongi. Aku sudah lama berhenti untuk percaya kata-kata itu.” Sensitif yah aku. Aku berlaga sok asyik saja menengok-nengok ke atas. Sementara Anya sepertinya juga jadi serba salah deh dengan menundukan kepalanya ke samping. Yah, jadi hening deh saat itu. “Hmm.. okay, kalau kamu tidak pengen Anya ngomong gitu, Anya ngelakuin sesuatu saja deh,” kata Anya yakin. Anya merubah duduknya berhadapan di sampingku. Ia menunduk memainkan jemarinya sendiri sesaat, sebelum memajukan kepalanya untuk memelukku. Kepalanya direbahkan di samping leherku di sisi yang berlawanan dengan duduknya. Sementara aku hanya membuka lipatan tanganku, tanda orang pasrah. Melihat Anya yang terpenjam tersenyum halus. Yang bisa dilakukan adalah melipat kakiku untuk jadi sandaran tanganku untuk menopang kepala Anya yang dilemaskannya itu. Beneran deh, aku deg-degan. Entah bingung atau tidak jelas deh. Bayangkan, bibir Anya itu di bawah daguku sedikit. Kalau aku menunduk, pasti kejadian deh, pikirku takut-takut begitu.

“Yah, kalau Anya tidak boleh bilang sayang kamu, jadi Anya bilang saja, Alvi yang sayang Anya. Hihihii..” kata Anya merajuk pelan melucu. Sepertinya strateginya berhasil deh untuk memecahkan keheningan, buktinya aku tertawa tuh. Tapi suasananya jadi hening lagi. Aku tetap menyenderkan kepalaku ke atas. Tanganku, yang jadi senderan kepalanya, hanya mengelus-elus rambutnya. Dan yang satu lagi, cuma aku telungkupi saja di pinggang. Payah deh aku, kok aku mulai ngelantur lagi, tapi kali ini serius sih maksudku. Tapi beneran deh aku tidak konsen habis. Soalnya jemarinya Anya loh yang satu itu ada di belakang leherku, dan jempolnya itu mengelus-elus belakang kupingku juga.

Akhirnya aku mengucapkan rangkaian kalimat ini dengan campur baur antara gentle dan cengengesan sendiri, “Nya.. sorry, aku minta maaf untuk kadang bohong ke kamu. Kadang aku tidak bisa jaga hormon. Hmm.. maksudnya, jujur aku seringkali punya pikiran jorok ke kamu, hihihi. Aku cowok, dan seringkali aku tidak punya kuasa untuk nahan hormon-hormonku lewat di otakku. Maaf kalau aku tidak bener-bener bisa jadi sesuatu yang baik untuk kamu. Aku cuma pengen kamu tahu saja bahwa sebenarnya aku tidak pernah bermaksud demikian, sorry okay.” Anya cuma mengangguk dengan suara tersenyum kecil. Entah apa maksudnya, aku menurunkan kepalaku ke bawah. Karena takut kena bibir, aku saja yang langsung inisiatif mencium keningnya duluan. Anya membuka sayu matanya. Lalu dengan gerakan pelan juga ia merubah posisinya. Kedua jempolnya ditaruh di belakang telingaku, menatap langsung mataku tepat dari hadapannya. Semula aku kaget, tapi karena kulihat ada sekilas tarikan senyum kecil di ujung bibir tipisnya, aku cuma bengong, menunggu kejadian berikutnya.

Gila, gila, aku deg-degan banget. Aku sempat menundukan lirikan mata ke bawah, tanda aku kalah bertatapan dengan mata besarnya. Sorotannya itu loh. Dia melihat, malah memperhatikan bola mataku. Matanya bergerak ke kiri dan kanan. Kadang sesekali dia melihat ke bibirku. Dia balik lagi melihatiku. Bibir bawahnya itu kadang digigit, dibasahinya bibirnya atau malah dikatupkan keduanya dengan cepat. Aku mencoba menebak banyak hal dengan cepat, aku berpikir, tapi kalimat jujur yang coba kuungkapan adalah aku tidak tahan sekali untuk menahan gairah di perasaanku. Aku mungkin juga sama kacaunya dengan Anya, dalam detik-detik itu dalam jarak muka yang dekat sekali. Anya melihat ke bibirku, mungkin juga memiringkan kepalanya hanya sedikit juga memajukannya. Namun kembali cepat ke posisi kepalanya semula. Walaupun semua gerakan itu mungkin hanya dalam hitungan mili, tapi bagiku itu merupakan bahasa yang mengisyaratkan sesuatu. Namun sebesar gairahku itu, sebesar itu pula ketakutanku ditolak. Deg-degan, gerakan kepala, mata yang mulai sayu menutup, mulut yang diam terkatup lemas, hirupan-hirupan nafas, entah apalagi. Semua itu rasanya bagai sebuah okestra keras yang mengantarkan kecupan pertamaku ke bibir Anya.

Sekilas ia sempat menunduk, Anya kembali terpejam. Aku sepertinya telah melepaskan diriku pada naluri. Aku sudah jadi hamba naluri saat itu. Aku mengecupnya lagi dengan membiarkan bibirku lembut menempel di sana. Adalah hal yang indah untuk diterima menjadi bagian dari orang lain. Dan itu menyenangkan. Itu yang kurasakan waktu bibir Anya membuka. Aku senang untuk begitu besarnya rasa penerimaan itu. Lidahku ibarat anak kecil yang baru menyaksikan sebuah taman bermain baru yang indah. Untuk pertama ia diam di sana, dan kemudian ia menemukan teman bermain baru di sana. Berkomunikasi dengan bahasa sederhana yang jujur, dimana tidak perlu kuliah, ijazah dan uang untuk bisa melakukan berdansa gembira dengan lidah. Sepertinya lidah itu ingin saling berpelukan di dalam sana, saling menyambut dan ingin saling bicara. Berusaha menebak, melayani, menyambut. Berkomunikasi dengan cara yang baru yang menyenangkan, dan dalam. Sesekali saling tertunduk dan melanjutkannya lagi.

Anya mengusap-usap belakang kepalaku, dan tangan sesekali turun ke bawah untuk menelapakkannya di depan dadaku. Dia bicara dari tekanan-tekanan lembut telapaknya dan usapan-usapan jemarinya itu. Jemariku juga bicara lewat usapan-usapan lembut di belakang telinganya. Sementara tanganku berjalan lembut dengan punggung jari, membelai, mengusap lembut pada perutnya. Berjalan mengusap dengan ujung-ujung kuku, ke pinggang, menuju punggungnya. Berputar pada bagian bawah lengan atasnya, berbelok-belok pada ketiaknya, dan menuju jalan menurun di samping dadanya. Berjalan mundur ke ketiaknya dan menikung tajam ke lehernya bagian depan. Aku mengelusnya lama di sana, sekali-kali menukik ke bawah, ke tengah dadanya. Aku cuma ingin tanya sebenarnya apakah jemariku cukup berkenan untuk menyentuh dimensi pribadi kewanitaannya yang halus menempel di dadanya.

Tidak perlu orang jenius, untuk tahu Anya memberikan ijinnya kepadaku saat ia membusungkan dadanya. Tapi aku tidak mau jadi tamu yang menyelonong masuk dengan kasar. Sepertinya basa basi yang menyenangkan jika aku mengusap-usap lembut saja dari luar pakaiannya. Merasakan permukaannya pada keduanya dengan halus. Baru setelah itu satu jari telunjuk memimpin untuk mulai masuk ke balik bra berenda itu. Yah, kalian tahulah apa yang dicari jemariku di balik bra itu. Aku cuma bisa bilang bahwa merasakan putingnya yang besar, tapi lembut, tidak mengeras seperti permen kenyal. Cuma itu sih yang aku rasakan, soalnya dari tadi aku lebih sibuk untuk berciuman. Kissing-nya aku suka sekali, dan aku lebih menikmati konsentrasi ke situ daripada mengobok-ngobok liar. Bahkan kini, sekitar mulutku agak dingin dengan air liur yang menguap. Tapi sebagai cowok, kalau aku sih haus loh kalau ciuman kelamaan begitu, maksudnya yah kering saja. Kutarik tanganku keluar untuk mengecup kening Anya, sambil pamit sebentar mengambil minum.

Bersambung ke bagian 02