Kegelisahan Sang Petualang

75 views

CerSexMek: Kegelisahan Sang Petualang

memek CSSHTML bugil_WM
CerSexMek = Cerita Sex Memek

Kisah-kisah tentang wanita tidak akan pernah berakhir, setidaknya buatku. Dalam kesibukan pekerjaanku, setiap hari selalu dihiasi oleh keindahan wanita, dengan segala nalurinya. Di atas meja kantorku, kuhiasi dengan photo dari gadis kecil berumur 3 tahun setengah. Dialah anakku, gadis yang paling berharga dalam hidupku. Segala tingkah dan ekspresinya terasa sangat indah bagiku. Dialah penyejuk dalam hidupku di tengah hiruk-pikuknya Jakarta dengan segala permasalahannya. Istriku bahkan beberapa kali marah karena aku tidak bisa memarahi anaknya yang menumpahkan air di lantai atau mengacak-ngacak dompet ibunya. Bagiku dia adalah anak yang sedang berkembang dengan baik. Kadang ingin mencoba melanggar aturan dan mengetahui apa akibatnya. Dan lebih banyak lagi adalah dalam proses berkembang dan belajar. Karena itu aku sangat hati-hati dalam mengeluarkan aturan. Aku hampir tidak pernah mengeluarkan aturan atau perintah, kecuali sesuatu untuk menjaga keselamatannya. Dibanding istriku, aku mungkin lebih sering memandikan anakku. Aku sering bepergian berdua dengan anakku apalagi kalau istriku sedang tugas pada hari sabtu atau minggu. Kadang ke mall untuk mencari makan atau membeli baju, kadang pergi berenang. Sering aku menjadi objek perhatian orang tatkala memandikan gadis kecil di shower pria, kemudian mendandaninya dengan baju yang cantik.

CerSexMekCerita Sex Memek 😀 Terbaik

Wanita kedua dalam hidupku adalah istriku. Ia tidak dapat dibandingkan dengan wanita lainnya, karena ia adalah istriku. Aku cukup puas mendapatkannya sebagai istriku. Aku tidak mempunyai keluhan terhadapnya sama sekali. Mungkin juga karena aku masih punya kesempatan jalan dengan wanita lainnya. Sehingga setiap kali ada masalah dengan istriku selalu sirna tatkala aku kembali membuka pintu rumahku. Rasanya ia tidak banyak mengeluh dalam kesehariannya. Apalagi setelah punya anak yang lucu dan kubelikan mobil untuk membantu pekerjaannya. Akan tetapi hidup itu harus punya tantangan. Setelah semuanya terpenuhi, hidup bisa salah arah karena orang tidak mampu merumuskan tantangan dan cita-citanya. Karena itu aku memberikan tantangan kepadanya untuk membesarkan anaknya sehingga kelak menjadi anak yang berguna. Demikian juga aku memberikan tantangan untuk terus belajar dan berprestrasi dalam pekerjaannya. Dari yang kutangkap, istriku cukup bahagia dalam kesehariannya. Rasanya aku tidak salah.

Wanita ketiga dalam hidupku adalah pacar-pacarku. Aku akan protes kalau aku disamakan dengan laki-laki hidung belang atau mata keranjang. Bagiku wanita adalah bagian dari keindahan alam yang patut dinikmati. Aku mungkin termasuk pemuja wanita. Orang lain mungkin menyebutnya kelemahanku adalah wanita, aku tidak peduli. Tetapi wanita memang selalu mempunyai arti yang sangat tinggi bagiku. Karena itu aku sering merasa risih kalau ada orang yang mengolok-olok atau melecehkan wanita. Demikian juga aku merasa risih terhadap wanita-wanita yang menjajakan dirinya. Walau kadang aku memahami bahwa sebagian dari mereka melakukannya karena terpaksa oleh sebuah kebutuhan.

Perjalananku bersama wanita sampai ke tempat tidur selalu diawali dengan sebuah proses yang panjang. Aku tidak mudah dekat dengan sembarang wanita. Dan hanya dengan wanita yang aku merasa comfortable aku bisa jalan. Karena statusku yang sudah berkeluarga, maka pacar-pacarku juga selama ini selalu punya lelaki lainnya. Entah ia sudah bertunangan atau masih pacaran. Kalaupun ada yang belum punya pacar, akan tetapi dalam perjalanannya, akhirnya ia punya pacar yang lain juga. Diantara pacarku, ada yang mempunyai pacar keturunan Chinese. Entah kepikiran apa, akhirnya aku juga menginginkan kalau suatu saat punya pacar keturunan Chinese. Hal tersebut suatu saat kuutarakan kepada temanku Hendro, dua minggu yang lalu. “Oh ada Mas, aku pernah berurusan membantu wanita Chinese, waktu itu dia bersama temannya yang cantik, namanya Linda. Cobalah telepon nih nomor HP-nya.” Melihat pacarku selama ini yang cantik-cantik, Hendro sangat yakin kalau aku bisa dengan mudah menggaet Linda. Betul juga, tanpa membutuhkan waktu yang lama di telepon, Linda sudah mau diajak jalan malam ini.

Setelah aku menutup telepon, Hendro baru cerita bahwa Linda adalah seorang janda, bagiku tentu saja tidak masalah. Tetapi setelah menggambarkan kira-kira usianya dan postur tubuhnya aku menjadi sedikit ragu-ragu. Rasanya memang aku akan susah kenal dengan wanita dengan cepat. Pacarku selama ini selalu ada hubungan panjang dulu. Ada yang tetangga semasa aku masih kost, teman di kantor lama, client kantorku atau sekretaris pacarku. Melihat keraguan, yang memang rata-rata pacarku masih muda-muda, sedang usiaku masih kepala 3, Hendro cepat tanggap. “Nggak apa-apa Mas kalau tidak mau, untuk saya saja, kita suruh dia membawa temannya saja.” Hendro memang bajingan sama perempuan, baginya lancar saja meminta Linda membawa seorang temannya biar kita bisa jalan berdua-dua. Ternyata Linda menyetujuinya.

Tibalah waktu yang dijanjikan. Aku dan Hendro diminta menunggu di Hero Sunter. Tak lama kemudian masuklah sebuah taksi ke pelataran parkir tempat kami berada. “Tuh pasti dia,” ucap Hendro sambil keluar menghampiri mobil yang datang. Sedang aku tetap bersandar di mobil. Memang benar, tak lama kemudian muncullah dua wanita. Yang satu kupastikan sebagai Linda, dengan perawakan yang cukup besar menyalami Hendro terlebih dahulu, tampak mereka sudah pernah kenal, terlihat wajah Chinese-nya. Wanita yang kedua yang kemudian bersalaman dengan Hendro tampak sangat ragu-ragu dan canggung. Kulitnya sangat putih seperti halnya dari ethnis Chinese, tetapi bentuk hidungnya kecil mancung dan matanya bening memancar dengan tajam dihiasi alis yang manis. Aku ragu menebak siapa dia, demikian pula dari sikapnya aku ragu kalau dia merasa nyaman dengan pertemuan ini. Kelihatannya dia ogah-ogahan, pendiam, berbicara sangat singkat seperlunya kalau ditanya. Aku khawatir kalau ia datang dengan terpaksa hanya untuk menemani Linda.

Untuk mencairkan kebekuan, di mobil aku berbasa-basi dengan Linda, apalagi diantara kedua wanita tersebut aku lebih dulu kenal Linda walau hanya lewat telepon. Linda enak diajak bicara, orangnya sangat terbuka, sepertinya dia mudah ‘dekat’ dengan laki-laki, apalagi statusnya yang kosongan saat itu. Sambil nyetir si Hendro berbisik, “Mas mau milih yang mana?” Aku sempat ragu waktu itu. Apakah akan memilih Linda yang sudah kupastikan mudah diajak bergaul tetapi bukan seleraku. Atau si cantik, Tantri, dengan postur badan yang indah tetapi susah akrab. Akhirnya kuputuskan memilih si Tantri. “Ya udah, kalau begitu sudah jelas sasarannya.” Si Hendro memang bajingan, demikian pula si Linda. Mereka dengan mudah berbicara yang nyerempet-nyerempet bahaya. Aku tetap santun, demikian pula Tantri yang lebih banyak diam. Aku beberapa kali menanyakannya kenapa bersikap begitu. Dia menjawab memang sifatnya begitu, dan dia memastikan bahwa senang saja diajak jalan-jalan.

“Tantri kamu sukanya makan apa?” tanyaku penuh perhatian.
“Aku suka makan udang,” balasnya.
“Sama dong dengan aku,” kataku dengan nada sok akrab.
Hanya komunikasi yang memang perlu saja yang bisa kami lakukan. Sangat susah memancing dia untuk berbicara. Kalaupun ditanya, dia menjawab singkat sepatah dua patah kata. Dari jawaban-jawaban pendek itu akhirnya kurangkumkan bahwa Tantri lahir di Bukit Tinggi. Ibunya berasal dari Bandung, almarhum ayahnya punya keturunan dari Timur-Tengah yang berkulit putih bening. Ke Jakarta tiga tahun yang lalu, tinggal kost dekat kantornya di daerah Sunter. Selebihnya Tantri lebih banyak diam atau mendengarkan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Sari Kuring sekitar Jl. Gajah Mada. Linda dan Tantri duduk bersebelahan, berseberangan dengan aku dan Hendro.

Tantri memang tipe orang yang tidak banyak bicara. Namun kala dia berbicara, walau suaranya lembut, menunjukkan dia orang yang lugas dan cerdas. Demikian pula sorot matanya yang tajam menunjukkan sikap yang smart dan tegas. Di kantor dia bekerja di bagian pembukuan, kadang merangkap pada bagian marketing. Aku menyimpulkan dia sebagai orang yang serius, tekun dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Namun dibalik semua itu terlihat ada sebuah misteri. Dia hampir seminggu dua kali pergi ke diskotik. Dibalik diamnya itu, aku mengira dia sedang menghadapi suatu masalah. “Kamu pakai HP nggak,” tanyaku. “Pecah Mas, aku banting. Aku memang begitu kalau sedang marah.” Betul juga dugaanku, dia memang penuh misteri, kalaupun ada masalah, aku memastikan bahwa masalah itu berhubungan dangan pacarnya.

“Kamu mestinya punya pacar yang sudah dewasa, sabar dan penuh pengertian,” saranku diluar konteks pembicaraan sebelumnya, namun aku yakin berhubungan erat dengan dia.
“Kok tahu?” tanyanya yang dilontarkan dengan segera. Ia kelihatan kaget dengan tebakanku, badannya kemudian tegak berdiri, sorot matanya menatap tajam, namun raut wajahnya sedikit tersenyum gembira.
“Kamu orangnya tekun dan serius, karena itu kamu akan sulit sekali menerima sebuah kenyataan kalau ternyata kamu dibohongi.”
“Mas kok tahu aja,” matanya kemudian berubah jadi sayu, namun senyumnya yang manis tidak dapat disembunyikannya. Raut wajahnya kini merekah seolah telah menemukan seseorang yang mengerti terhadap dirinya.
“Kamu sangat cocok untuk mengerjakan pembukuan itu, dan atasan kamu puas dengan pekerjaanmu,” lanjutku.
“Ya begitulah, Mas peramal yah.” Kini sikap dan bahasa tubuhnya terlihat lebih friendly, ia kelihatan lebih rileks dan menunjukkan sikap yang akrab.
“Aku mengerti kamu, lebih dari kamu sendiri,” ucapku, “Sering kali kamu seolah menerima suatu kenyataan.” lanjutku.
Sebelum aku melanjutkan kalimat ia segera menyambungnya, “Padahal dalam hati aku memberontak. Ya emang aku sering begitu.”

Keluar dari tempat makan, Linda mengajak kami untuk pergi ke café tempat dia nongkrong. Keluar dari mobil aku memberanikan diri untuk menggandeng Tantri. Ternyata dia tidak menolak. Kemudian juga ketika mengambil tempat duduk. Aku mengambil tempat bersebelahan dengannya dengan tanganku yang langsung kulingkarkan di pinggangnya. Dia kelihatan nyaman saja. Ini memang pengalaman yang paling cepat ketika aku akrab dengan seorang wanita. Di dalam aku sempat membisikkan bahwa rasanya aku sudah mengenalnya sejak lama. “Tri, kamu kan ngerti pembukuan, dalam neraca pembukuan di kolom sebelah kiri ada asset, dan di sebelah kanan adalah liability. Demikian juga karyawan di kantor. Ada sekelompok karyawan yang menjadi tulang punggung perusahaan. Maju dan mundurnya perusahaan ditentukan oleh sekelompok karyawan ini, yang merupakan asset dari perusahaan. Namun tidak jarang ada sekelompok karyawan yang justru menjadi beban bagi perusahaan atau liability. Akan tetapi kamu termasuk asset perusahaan, Tri.” Ia cukup tersanjung dengan pujianku. Dalam semaraknya café aku sudah larut dengan kehangatan Tantri. Jemarinya kuremas-remas, sesekali kukecup pipinya dan kubisikkan pujian terhadap kecantikannya. Sikapnya tetap tegar, namun tidak menolak semua belaianku.

Keluar dari café Linda menempatkan diri terlebih dahulu duduk di jok depan bersama si Hendro yang nyopir. Sedang aku kemudian membukakan pintu untuk Tantri kemudian duduk bersebelahan di belakang. Tantri sudah kelihatan mengantuk. Kemudian kurebahkan badannya ke pelukanku. Dia mengikutinya. Kubelai dan ciumi dengan penuh kemesraan. Tantri memang orang yang cukup cerdas, tekun, tegar dan tegas dalam bersikap. Namun dibalik sikapnya itu ia rindu kemanjaan. Ia membutuhkan perlindungan sekaligus tempat untuk mengadu. Kelihatannya ia sedang menghadapi masalah dan ingin lari dari kenyataan. Entah apa itu. Ia dengan terus terang bilang biasanya keluar malam seminggu dua kali dan sering juga on. Aku senang dengan pengakuan jujurnya, biasanya wanita sering menyembunyikan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dikategorikan kurang baik. “Apakah kebiasaan itu tidak bisa dinegosiasikan?” tanyaku. “Sebenarnya bisa saja kalau aku ada yang memperhatikan,” jawabnya.

Besoknya, Sabtu sore kutelepon Tantri di kantornya. Jam kantor tutup pukul tiga sore. Kukatakan aku kangen dengannya. Dia bilang, “Lalu..” Aku menjawabnya aku ingin ketemu. “Ya udah, jemput aja ke rumah jam limaan sore.” Di memang tegas, tidak banyak basa-basi. Pada jam yang ditentukan mobilku sudah masuk di pekarangan rumahnya. Sebelum aku membuka pintu mobil untuk keluar, Tantri sudah keburu menghampiri. Kubukakan pintu untuknya dari dalam, kemudian mobilku melaju lagi, belum tahu akan ke mana.

“Kamu capek sekali ya?” tanyaku.
“Ya, tidurnya sebentar sekali,” jawabnya.
“Kalau begitu kita cari tempat istirahat saja ya,” pintaku penuh arti.
“Ya boleh.”
Kini aku malah bingung mengartikan jawabannya. Kalau kubilang sewa hotel, takut dibilang kurang ajar. Kalau kuajak istirahat dalam arti duduk-duduk di tempat umum, khawatir jangan-jangan jawabannya lebih dari itu. Mobilku terus kupacu menjauh rumahnya di daerah Sunter. Setelah melewati Kelapa Gading aku menemukan pertanyaan untuk mempertegas dialog terdahulu. “Di daerah sini dimana ya tempat yang bisa disewa untuk istirahat sementara waktu?” Pertanyaanku cukup tegas untuk mengajak dia beristirahat di suatu tempat privat. Namun dengan pertanyaan tersebut aku dapat dengan mudah mengelak bahwa aku hanya bertanya bukan mengajak kalau seandainya ia tidak berkenan. “Aku tahu tempatnya, tetapi tidak tahu masuknya dari mana.” jawabnya. Jawabannya menunjukkan bahwa ia pernah diajak ke tempat seperti itu, tentu saja dengan lelaki. Demikian juga ia tidak menutup-nutupinya seperti kebanyakan wanita yang baru kenalan. Dan rasanya ia juga comfortable kalau kuajak. “Kalau begitu ke tempat biasa aku aja ya?” tanyaku. “Boleh,” jawabnya. Dengan jawaban tersebut maka setengah dari kemungkinan untuk bermain seks dengannya sudah kukantongi.

Setelah masuk kamar aku berbasa-basi dengan memijitnya karena dia kelihatan capai. Selagi tengkurap dia diam saja ketika kaitan BH-nya kubuka. Aku memijitnya sembari mencumbunya. Dia agak ragu-ragu waktu aku akan melepaskan celana panjangnya. Namun akhirnya ia membantu membukanya. Akhirnya perjalanan menelusuri keindahan ciptaan sang penguasa kulalui. Walau pertemuan dengannya cukup singkat tetapi aku merasa telah mengenalnya cukup jauh. Dibalik itu ia masih tetap menyimpan misteri. Tantri, siapakah engkau? Kamu punya banyak potensi untuk berkembang. Aku ingin merawatmu, membimbingmu dan mendengarkan setiap keluhanmu. Aku ingin suatu saat kelak melihat engkau menjadi wanita yang berhasil dalam karirnya.

Seperti halnya ketika kita sampai pada suatu tempat yang belum pernah kita lalui sebelumnya, disana kita akan menemukan bukti-bukti baru kebesaran Sang Pencipta. Disana pulalah biasanya kita tergugah untuk berinstropeksi dan merefleksikan diri. Kini dalam hatiku pun berkecamuk berbagai pertanyaan. Apakah aku ini sudah termasuk lelaki hidung belang yang mudah mengajak tidur wanita yang baru dikenalnya kemarin. Dan apakah justru aku ini termasuk orang yang tidak menghormati keluhuran wanita karena sering melengkapi persahabatan dengan hubungan seksual, padahal aku termasuk orang yang paling risih kalau ada yang mengolok-olok wanita. Dalam setiap kegelisahan, biasanya hanya kata hatilah yang bisa kita jadikan pegangan. Namun sayangnya kata hati seperti itulah yang selama ini mengalir dalam hidupku.

TAMAT