Kepuasanku – 2

86 views

Cerita Ngewe

Cewe Cantik Bugil,  nude_WMDari bagian 1

Sabtu aku libur, istriku sudah bersiap-siap pergi dengan beberapa teman komplek, katanya sih ada acara masak-masak di tempat temannya yang akan menikahkan anak sulungnya.
“Pa, Mama ajak Surti (pembantu rumahku) ya..” katanya.
“Mama lama ya?” kataku.
“Ah, nggak. Orang cuma di komplek aja kok. Sore juga pulang” jawabnya.
“Ya udah!” jawabku.
Gak lama istri dan pembantu udah ngacir pergi. Aku ambil perkakas kerja dan naik keatas genteng membetulkan yang bocor.
“Oom, Tante.. Pinta datang” teriak Pinta.
“Oom diatas, Pinta!” balasku.
“Ngapain? Jatuh lho main diatas genteng” candanya.
Aku tersenyum bergegas menyelesaikan pekerjaanku, dalam hatiku menggebu-gebu karena keponakkan kesayanganku datang.

Sampai dibawah, Pinta menghampiriku bertanya “Tante mana?”.
“Pergi ke rumah temannya, acara masak-masak” tandasku.
“Si Mbok dibawa juga” tanyanya lagi.
“He-eh, lho kamu udah liburan yah..” tanyaku balik.
“Iya, sambil nunggu hasil ujian” katanya.
“Kamu mau minum apa” tawarku.
“Gak mau minum, aku mau ama Oom aja” jawabnya dan merangkulku.
“Yeah, baru sampai langsung eksen..” candaku.
Dia terus merangkul aku dan mendekapku dengan kencang.
“Ayo dong Oom, nanti tante keburu datang” mintanya.
“Ah, Tante pulang sore kok” jawabku.
Kami ngobrol di depan TV ngalor ngidul menceritakan pengalaman kita bermain seks, ternyata Pinta memang tergolong keponakkan yang supel (“Suka Peler”).

*****

Singkat cerita kami sudah bergumul saling mencium dan melumat bibir lawan mainnya. Dia begitu panas hari ini, kulepaskan pakaiannya satu persatu dan terus melumat payudaranya. Dadanya bagus, kencang dan putingnya hitam kecoklatan. Aku hisap puting kanannya dan tangan kiriku meremas yang kiri. Dia menggelinjang kencang ditambah desisnya yang kadang mengencang ditambah suaranya yang keluar “Aahh..”. Aku jilati bagian perut dan pusarnya membuat dia makin tergila-gila menahan kenikmatan ujung lidahku. Puas diatas, ditengah sekarang aku ke bawah. Celana dalamnya masih dipakainya, kulihat celana dalamnya sudah basah oleh cairannya sendiri. Aku turunkan celananya dan membuangnya dekat TV. Aku turunkan kepalaku dan melumat bibir vagina keponakkanku. Dia mengerang keras dan menjepit kepalaku dengan kedua kakinya. Aku buka vaginanya dan kulihat itilnya yang kecil, segera kucium dan kujilati naik turun membuat dia semakin menggelora.

Lama sekali aku menjilati vaginanya, karena aku ingin membalas budinya pada malam itu. Sekarang saatnya aku membalas budinya dengan cara melumat dan menjilat kadang kusedot keras itilnya. Dia bergerak naik turun untuk mengibangi gerakan mulutku yang ada di sekitar lobang vaginanya.
“Ah, uh.. Pinta mau keluar Oom..” katanya terpatah-patah.
Aku semakin meningkatkan gerakanku, dan dia semakin mengencangkan jambakannya ke rambutku.
“Ahh.. ah.. Ooomm, Pinnta..” badannya mengejang keras.
Kakinya mendekapku erat dan aku hampir tidak bisa bernafas dibuatnya. Dia menegang beberapa kali, dan aku membenamkan seluruh mukaku ke vaginanya. Dia kejang-kejang sedikit begitu masih kujilati itilnya, kemudian dia tarik aku, dicium dan dilumatnya bibirku dengan nafsu.

*****

Ternyata dia memang belum mau berhenti, dia terus menciumi aku dan mendorongku untuk tiduran, aku mengikuti apa yang dia inginkan. Dia langsung mengarah ke burungku dan menghisapnya. Kubiarkan dia memainkan burungku, dia jilat bijiku, dia kulum kepala burungku dengan cepat. Aku duduk dibawah dan menuntunnya untuk menduduki aku diatas. Dengan cepat dia mengerti apa yang kumaksud, dia berjongkok diatas burungku. Tangan kananya memegang burungku dan mengarahkannya ke lobang vaginanya,
slleebb.. sekarang burungku ada disangkarnya.

Pinta mendesah dan menatapku dengan pandangan sayu dan birahi. Pelan dia angkat pantatnya dan pelan pula di menurunkannya. Aku hanya memperhatikannya dan melihatnya memasukkan dan mengeluarkan burungku di vaginanya. Setelah terbiasa dia mulai melakukan gerakan berirama. Kadang naik turun, kadang pantatnya memutar kiri dan kanan, membuatku benar-benar merasakan kenikmatan vagina keponakanku sendiri. Aku genggam pantatnya kubantu dia menggerakkan pantatnya. Pinta benar-bebar menikmati burungku dia terus menggerakkan dengan kekuatanya untuk mendapatkan kenikmatan kedua kalinya. Aku sendiripun sebenarnya sudah tak tahan lagi, tapi Pinta sepertinya mau keluar lagi.
“Ahh.. hhaahh” suaranya.
Desahan panjang dengan getaran badannya membuatku tahu kalau dia sudah orgasme untuk kedua kali.
Kuputar badannya untuk segera aku tindih, aku sudah nggak tahan.
“Oom nggak tahan nih..” pintaku.
Pinta membetulkan posisinya dengan duduk dan bersandar di sofa dibelakangnya. Aku masukkan kembali burungku ke vaginanya, kali ini aku sudah nggak tahan lagi.
“Oom, jangan dimasukkin yah maninya..” ajar Pinta kepadaku.
Aku mengangguk dan terus menggenjot pantatku maju mundur.

Pinta mencium bibirku sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku danmenjilati mukaku. Begitu mau keluar, kucabut batangku dan mengocokknya diatas vaginanya, Pinta terus menciumku dan ikut melihatku mengocok burungku sendiri.
“Achh.. ahh.. ahh..” desahku.
Kukeluarkan semua spermaku keatas perut, tembakan spermaku yang pertama kena di pipi kiri Pinta sementara sebagian ada di perut dan menetes di sekitar bulu-bulu vaginanya. Banyak juga kulihat spermaku keluar, kental dan banyak. Aku bagkit dan mengarahkan burungku untuk dikulum Pinta, aku geli luar biasa merasakan kuluman Pinta. Kami terkulai bersama diatas karpet di depan TV rumahku. Pinta tiduran di sekitar perutku sambil memainkan burungku yang sudah mengecil, dan aku duduk bersandar sofa.

*****

“Pinta, Pintaa..!” seorang gadis memanggil keponakanku di luar.
Kami sedikit panik dan bergegas untuk bangkit serta berbenah diri, tapi itu temannya Pinta sudah membuka pintu depan dan memandang kami yang bertelanjang bulat. Pinta langsung berlari ke depan pintu dan menarik tangan temannya itu.
“Kamu ngapain, Pinta?” tanyanya sambil melihatku bertelanjang.
“Kamu nggak usah bawel deh..” jawab Pinta dengan sedikit judes.
“Hai!” sapaku ke temannya Pinta yang nginap waktu itu.

Temannya tersenyum sedikit, dan Pinta menutup pintu kembali setelah menarik temannya duduk dekatku. Temannya bingung nggak karuan melihatku yang masih telanjang dan duduk disampingnya.
Pinta langsung duduk ditengah-tengah kami, dan berkata “Tumben kamu hari Sabtu kesini? Biasanya udah ngilang!” tanya Pinta.
“Aku.. aku, nggak jadi pergi, makanya aku kemari..” jawab temannya gugup.
“Kamu takut ya?” tanyaku kepada temannya Pinta.
“Takut..? Takut apaan.. dia takut? seneng kali!?” potong Pinta.
“Lho kok kamu yang jawab?” tanyaku ke Pinta.
“Dia ini Oom yang ngajari aku beginian..” jelas Pintaku.
“Ah, nggak Oom, Pinta bohong..!” jawabnya sambil tertunduk malu.

Aku mendekap Pinta dari belakang, kurangkul dia dari belakang sampai kuangkat dia kepangkuanku, kembali aku cium tengkuknya. Ku ciumi punggungnya dan tanganku meremas payudaranya. Kuputar sedikit badannya agar aku bisa mencium payudaranya. Aku terus mencium dan menghisap puting payudaranya, sedangkan kulihat tangan kiri Pinta mengelus pipi temannya. Temannya beringsut malu dan sesekali melirik kami berdua. Pinta melepaskan rangkulanku dan mendekati temannya. Dia ciumi temannya itu, temannya diam dan coba untuk membrontak tapi Pinta sepertinya tau kalau itu bohong.

Temannya melirikku dan melihat batang burungku yang masih tidur. Aku pegang kepalanya dan menuntun temannya kearah burungku, temannya mengikuti gerakan tanganku. Posisi kita di sofa sekarang benar-benar kayak di film bokep aja, temananya Pinta tertelungkup dengan mukanya di burungku, Pinta nungging membelakangiku dengan kaki kiri naik disandaran sofa membuatku melihat garis vagina keponakan. Sementara batang burungku asyik dilumat sama temannya Pinta tangan kanan kiriku meremas payudaranya temannya Pinta, tangan kananku memegang vaginanya Pinta. Sedangkan Pinta sudah asyik menjilati vagina temannya. Mereka berdua mendesah, bergumam masing-masing kudengar.

Lama kami saling menjilati, melumat dan mencium kemaluan lawan main. Aku membantu Pinta untuk membuka baju temannya, setelah itu kita saling memandang tubuh telanjang kami. Pinta langsung meniduri temannya dan kemudian menuntun burungku untuk dimasukkan ke vagina temannya. Kami bertiga bermain di sofa, aku mamsukkan burungku ke vagina temannya, Pinta menghisap dan memainkan payudaranya temannya. Aku kocok keluar masuk burungku, kudengar temannya hanya mendesah dan mengeluarkan kata-kata ah, uh aja.

Temannya memegangi tangan kiriku dan terus ikut mengerakkan pantatnya maju mundur sedangkan tangan kanannya merangkul Pinta untuk terus menghisap payudaranya. Payudaranya putih dan mulus kulihat bergerak keatas kebawah mengikuti sodokan burungku.
“Ahh.. ahh, akuu.. ahh” jerit temannya Pinta. Dan badannya mengejang tegang sekali, aku terus mempercepat gerakanku semetara Pinta melumat bibirnya dengan cepat. Kulihat temannya mengejang sampai akhir, kubiarkan burungku di dalam vaginanya. Temannya melepas rangkulannya ke Pinta dan datang menghampiriku sambil mendekap dan menciumiku.

Kucabut batang burungku, kali ini Pinta yang nungging dan minta untuk dimasukkan burungku. Aku menurut saja, kemasukkan burungku ke dalam vagina Pinta dan bergerak maju mundur. Pinta benar-benar nikmat sekali sepertinya, sementara temennya sudah tiduran di bawah payudaranya Pinta. Kulihat vagina temannya, sambil burungku main dengan vagina Pinta tangan kananku memegangi vagina temannya. Kulihat mereka asyik dengan permainan bebas berekspresi seperti ini.

Pinta membuat gerakan maju mundur yang berirama dan aku meihat temannya sudah basah lagi. Aku capek dibuat sama mereka, aku berhenti dan duduk di sofa, Pinta melihatku dan beranjak hendak menduduki aku. Kubiarkan dia memasukkan kembali batang burungku dan terus menggoyangnya dengan lihai. Temannya mendekati wajahku dan mencium bibirku. Kembali vagina temannya Pinta kupegangi dan sambil kumainkan itilnya.

Pinta mempercepat gerakannya, dia asyik sendiri dengan menikmati burungku yang ada di dalam vaginanya kadang naik turun, memutar-mutar tak menentu. Temannya Pinta jatuh tidur di dadaku dan mendesah-desah karena itilnya kumainkan terus tanpa henti sedari tadi.
“Ahh.. ahh.. ah, Oom..” temannya Pinta sudah keluar lagi.
Dia gigit puting dadaku menahan rasa nikmat yang dia rasakan. Sementara itu Pinta semakin mempercepat gerakannya, badanku bergoyang dan bergerak nggak karuan akibat goyang si Pinta. Temannya Pinta sudah duduk di sampingku dan melihat Pinta yang sedang sibuk bergerak sendiri untuk mecapai orgasmenya lagi.
Kemudian, “Ahhcchh.. Ooomm, Piinntaa suudah kelluuaarr..” katanya.
Dia langsung jatuh kepelukkanku dan badannya kejang-kejang beberapa, bergetar dan kakinya menjepit pinggangku sambil menggoyangkan pantatnya memutar-mutar. Aku peluk dia sambil kuciumi tengkeku lehernya, tanganku memegang pantatnya yang montok dan keras itu. Pinta kembali bangun dari pelukanku dan menciumku dengan ganas.
“Ihh, Oom hebat juga yah..” katanya manja padaku.
“He.. he.. he” tawaku bangga.

Pinta kembali menciumku dan memelukku dengan gemas. Burungku masih ada dalam lobang vaginanya Pinta dan sudah nggak tahan untuk segera menyelesaikan permainan panas ini.
“Oom, belum keluar lagi ya?” tanya Pinta.
“Belum.. ayo dong cepet, nanti Tante pulang nih..!” jawabku cepat.
Pinta langsung mencabut burungku yang sudah mengkilat kayak abis disemir akibat cairan si Pinta.

Pinta mendekati burungku mengelapnya dengan kaosku karena cairannya Pinta sendiri yang membanjir burungku dan mulai mengocok serta menciumnya. Pinta langsung mengulum burungku dengan gerakan erotisnya, temennya Pinta tertarik untuk bergabung dengan Pinta. Dia ikut turun ke bawah dan memegang bijiku serta menciumi pahaku. Aku benar-benarterangsang berat melihat dua gadis sedang menikmati burungku, ada yang mengulum dan ada yang menciumi daerah sekitar burungku.

Aku merasakan nikmat yang amat sangat diperlakukan seperti ini. Kulihat kadang mereka berganti-ganti mengulum burungku. Akhirnya lama mereka mencium dan mengukum burungku, pertahananku jebol dibuat mereka.
“Ahh.. aarrgghh.. ah, uhh..” desahku.
Mereka berbagi sperma yang kukeluarkan sambil mengocok dan menempelkan bibir mereka di ujung kepala burungku yang masih mengeluarkan sperma.

Setelah selesai aku mengeluarkan spermaku, mereka kembali mencium dan menjilati batang burungku sesekali mengulumnya. Aku merasakan geli yang bisa membuatku terbang ke awan sono. Akhirnya aku angkat mereka dan kutarik duduk disampingku. Pinta sebelah kananku dan temannya ada di sebelah kiriku. Aku peluk mereka berdua dan kucium bibir mereka satu-persatu segbagai tanda terima kasihku.

Akhirnya mereka bangkit dan terus berjalan ke kamar mandi sedangkan aku masih duduk termangu memandangi tubuh mereka dari belakang berjalan dengan lenggak lenggok ke arah kamar mandi.

*****

Semenjak itu aku dan keponakan melakukannya lagi denganku disaat rumah benar-benar aman untuk kami berdua, kadang malam hari kadang siang hari disaat istriku sibuk ama teman kompleknya. Pinta sering juga mengajak temannya itu datang ke rumah untuk bisa melakukannya lagi bersama-sama aku. Sekarang Pinta sudah menikah dengan pacarnya itu, mereka sepertinya hidup bahagia begitu juga denganku dan istriku.

E N D