Memusnahkan Guna-guna Pemikat Sukma 06

120 views

Cewe Bugil, SMP Bugil, ABG Bugil, ceritasexmemek,  Cerita Sex bisex_WM

Sambungan dari bagian 05

Sebentar kemudian gaun yang kukenakan sudah terbang entah kemana. Aku tidak perduli. Juga ketika secarik kain terakhir penutup aurat bagian bawahku ikut merosot turun dan lepas. Bahkan aku tidak mau kalah. Kulucuti juga apa saja yang melekat di tubuhnya. Kami bagaikan dua bayi yang baru lahir. Kutarik dia hingga kami roboh bergulingan di atas tilam wangi melati itu. Ingin kupuasi dahagaku selama ini. Kubenamkan wajahnya di dadaku dalam-dalam. Kurasakan hisapan-hisapan yang membuatku melayang-layang tinggi ke awan.

Beberapa bulan tidak bertemu, ternyata sekarang Mas Wid begitu perkasa. Tidak biasanya ia mencumbuku seperti ini. Menghisap kuat-kuat. Menggigit-gigit. Menelusuriku dengan lidahnya. Membangkitkan ledakan di bagian sensitifku. Membuatku menggelinjang. Meronta. Mas Wid begitu liar, ganas dan dahsyat. Aku kewalahan menghadapi ulahnya yang tidak seperti biasa.
“Hisap, Sur!” perintahnya sambil memasukkan jari telunjuk ke mulutku.
Terasa manis. Aku jadi ketagihan. Menghisap dan menghisapnya terus. Nikmat sekali! Apalagi bersamaan dengan itu kurasakan remasan-remasan di dadaku, kemudian disusul belaian di bawah pusarku. Aku semakin tidak tahan. Pantatku terangkat. Birahiku juga.

“Pandang mataku, Sur,” kembali perintah itu kudengar.
Sambil tetap menghisap jari itu, kubuka mata memandang wajah yang berada tepat di atasku. Dan.. wajah Mas Wid pelan-pelan sirna, beralih rupa jadi Mbah Purwo. Laki-laki itu dengan tubuh telanjang tengah mengangkangiku.
“Ouh.. Mbah.. kenapa kita begini?” samar kesadaranku mulai pulih.
Namun segera saja aku tersentak karena bibirku telah tersumbat bibirnya. Tubuhku pun didesaknya. Dilumatnya. Dihisap. Lidahnya membeliti lidahku. Aku kembali melayang-layang. Kecupan-kecupan di sekujur wajah, leher, dada, payudara, perut, pusar dan terus turun semakin memupus bayangan Mas Wid. Dalam sekejap aku telah melupakannya.

Walau sekarang kusadari Mbah Purwo yang tengah menggelutiku, aku tidak perduli. Yang penting birahiku yang menuntut kepuasan terpenuhi!
“Augh!” tiba-tiba rasa sakit melilit menyerang bawah pusarku.
Kulipat kaki secara refleks. Bersamaan dengan itu Mbah Purwo kurasakan menghentikan kegiatannya. Berbaring menopang kepala dengan tangan kiri sambil tangan kanannya membelai-belaiku.

“Tahan sebentar saja, Sur. Paku Bumi sedang bereaksi. Setelah dia selesai, kita akan segera menuju nirwana..”
Dipegangnya tangan kananku, dituntunnya menuju ke bawah pusarnya. Sementara itu aku terus bergelut dengan rasa sakit.

Gila! Tanganku tidak cukup besar untuk menggenggamnya. Dadaku ikut berdesir.. seperti tengah dibelai benda antik itu. Lima menit menahan sakit rasanya bertahun-tahun. Aku sudah tidak sabar lagi..
“Cepat Mbah, sekarang..” pintaku setelah rasa sakit itu mereda sambil menarik tubuh Mbah Purwo supaya menelungkupiku.
“Aku bukan suamimu, Sur,” dia tidak bergeming namun terus membelai-belaiku.
“Aku sudah tahu, Mbah.”
“Kau sungguh-sungguh sudah sadar dan rela melayaniku, Sur?” tanyanya lagi sambil terus membangkitkan birahiku.
“Iya, Mbah,” jawabku tegas seraya tetap meremas-remas.

Sejenak kemudian tubuhnya sudah kembali di atasku. Aku mendesis membayangkan kenikmatan tiada tara.
“Sekarang proses Satu Raga baru akan kita mulai, Sur. Hisaplah dadaku,” perintahnya.
Mbah Purwo menyodorkan dada kanannya ke bibirku. Terasa manis. Kemudian beralih dada kiri. Aku semakin ketagihan dengan rasa manis itu. Kuperkuat hisapanku. Kuperkuat pula pelukanku.

Samar kudengar suara bergeremang. Mungkin dia sedang merapal manteranya. Aku tidak perduli. Hisapanku semakin liar kemana-mana karena ternyata seluruh tubuhnya terasa manis. Manis dan manis yang membuatku kian berani dan gila. Kudorong tubuhnya hingga jatuh telentang. Kini ganti aku yang berada di atasnya. Kunikmati kemanisan itu di sekujur tubuhnya. Di dadanya, di ketiaknya, di pinggangnya, di perutnya, di pusarnya dan di.. Oh, sungguh madu yang sangat harum itu terasa di lidahku yang terus menghisap dan menghisap. Dia nampak menggelinjang. Aku senang.

Terus kupermainkan hingga puluhan menit. Dan.., ia menggelinjang semakin hebat sampai kemudian lahar manis itu pun menggelegaklah. Menyembur keras menerpaku, memenuhi mulutku.
“Telanlah, Sur.. Telan..!” parau suaranya memintaku.
Tanpa disuruh pun aku memang sedang menikmati madu manis yang terus mengucur bagai tidak ada habisnya itu. Tidak kusisakan setetes pun sampai nafasku habis. Yang kuherankan, “tiang” itu tetap tegak tegar menantang dengan kebesaran dan kharismanya. Membuatku terlongong-longong memandangi benda ajaib itu.

“Itu yang pertama, Sur. Kita masih harus melakukannya beberapa kali lagi supaya kemampuan Satu Raga ini menjadi sempurna. Sekarang kau berbaringlah.”
Bagai tidak kenal lelah, sedetik kemudian tubuh kekar dengan dada berbulu itu telah membuatku megap-megap. Terlebih setelah benda ajaib itu menghantamku bertubi-tubi. Ugh.., lagi-lagi aksi Paku Bumi kunikmati. Rasanya kali ini bahkan melebihi. Aku ikut terangkat setiap ia bergerak ke atas. Dan terhempas keras setiap ia menghunjamku dalam-dalam. Aku terbeliak-beliak menahan sesuatu yang hendak keluar.

“Tahanlah, Sur..” pesannya sambil terengah-engah.
Tubuhku mengikuti irama gerakan tubuhnya. Naik-turun, naik-turun. Mengangkat-menghunjam, menggocoh-menggoyang, mendesak-memutar.. Aku tersengal-sengal. Tidak mampu lagi mengimbangi keliarannya. Kedua kakiku yang semula menggamit pinggangnya pun telah lunglai. Terkapar ke kiri-kanan.
“Ak.., aku tak tahan lagi..”
Mata kupejamkan. Bibir kugigit. Kupeluk erat tubuh berkeringat di atasku. Mengejan keras, lalu.., “Srr..” tubuhku terlonjak beberapa kali.
Aku telah kalah dalam pertempuran ini.

Tetapi goyangan di atas tubuhku masih terus kurasakan. Tidak kenal lelah. Tidak kenal henti. Semangatku yang sudah terkapar layu sedikit demi sedikit ikut terpacu kembali. Birahiku bangkit lagi. Kesakitan berubah jadi kenikmatan. Aku mau mereguknya sekali lagi! Tubuh di atasku terus berpacu. Aku kembali mengikuti iramanya. Kadang kubalas dengan gerakan erotis. Ikut bergoyang. Kuputar. Kutahan. Hampir satu jam kami berpacu. Dan.., sepertinya aku hampir tidak tahan lagi.

“Akk.., aku mau keluar lagi..” desisku di tengah kenikmatan tiada tara.
Seraya tetap bergerak, Mbah Purwo mengubah posisinya hingga duduk. Kaki kiri-kananku dinaikkannya di atas pahanya. Kemudian dipeluknya aku dalam sikap duduk berhadapan. Aku menduduki pahanya. Aku terlonjak-lonjak bagai orang naik kuda. Kupeluk erat punggungnya. Kucoba bertahan lebih lama, namun.. pertahananku bobol lagi. Tubuhku gemetaran, tulang-tulang seperti dilolosi. Pelukanku pun melemah, melemah dan akhirnya lunglai.. dalam pelukan si kuda jantan yang masih terus memacuku dalam posisi duduk berhadapan. Dua kali aku ditaklukkannya, sementara dia masih tegar. Kekuatan apa yang dimilikinya?

Dikembalikannya posisiku rebah telentang. Dibentangkannya kedua kakiku lebar-lebar. Ditindihnya lagi. Dihunjamnya. Dihantamnya bertubi-tubi. Ugh.. apa birahiku akan bangkit lagi untuk mengimbanginya? Nampaknya ia memang sedang berusaha merangsangku lagi. Dan benar apa katanya dulu bahwa aku termasuk wanita yang mudah bergairah. Disenggol sedikit saja di daerah sensitif, bangkitlah nafsuku. Ya, meski sudah dua kali dipukul knock-out, pelan-pelan aku terbangunkan lagi. Kubalas pelukannya. Kubalas kecupannya. Kubalas gairahnya. Goyangannya. Keperkasaannya yang entah sampai kapan.., karena agaknya aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Aku lelah sekali, Mbah..”
“Bertahanlah sampai yang kelima kali, Sur. Ini salah satu syarat yang harus kita penuhi, yakni aku harus bisa memuaskanmu lima kali berturut-turut tapi aku sendiri tidak boleh kalah. Kalah sekali saja maka prosesnya harus diulang dari awal lagi.”
“Hahh!” aku tercengang. Tidak habis mengerti dengan syarat gila ini.
“Beruntung aku sudah memiliki Paku Bumi, sehingga syarat itu bisa kulakukan. Baru nanti pada yang kelima kalinya kita akan mencapainya bersama-sama.. Ugh.. ugh.. ugh..”

Guncangan di atasku terus berlangsung gencar. Keringat kami membanjir membasahi tilam yang sudah berantakan namun harum wangi cendana dan melati tetap tercium. Sudah kepalang tanggung, pikirku. Dua kali lagi tidak jadi soal. Maka aku kini diam saja untuk menyimpan tenaga. Kubiarkan proses keempat berlangsung tanpa responsku. Tubuhku yang sudah luluh lantak rasanya kubiarkan terkapar dinikmatinya. Dan tidak lama, kembali aku harus membeliak karena puncak itu datang lagi. Dari keadaan diam aku tersentak-sentak beberapa kali. Rasanya keluar habis seluruh cairan di dalam tubuhku.

“Sss.. sekarang yang terakhir, Sur. Kkk..kita harus mencapainya bersama-sama. Aaa.. aku sudah hampir tak tahan lagi..” dengus Mbah Purwo di sela-sela guncangannya.
Sementara aku perlahan mulai membangkitkan semangat lagi. Kubenamkan wajahnya di dadaku. Kudekap erat. Kunikmati hisapan kuda liar ini yang dengan cepat mengundang birahiku kembali. Auuwww..! Aku terpaksa membuka paha lebih lebar merasakan gempuran di situ semakin dahsyat. Kepala meriam yang membesar itu terasa kian sesak mendesak-desak, memborbardirku. Aku kewalahan.

“Ayo, Sur, sekarang.. egh.. egh..” pacunya semakin cepat.
Kedua tangannya bertumpu di sisi kiri-kanan lenganku. Keringat menetes dari dagunya. Membasahi dadaku. Segera kutarik kepalanya ke bawah. Kusambut bibirnya. Lidah kami saling belit. Saling hisap. Bersamaan dengan itu, kupergencar goyangan pantatku. Kuangkat. Kuputar. Kugetarkan. Kuhentakkan. Akhirnya.. akhirnya.. tubuh di atasku mulai gemetaran.

“Sss.. sekarang, Sur. Keluarkan..”
“Iii.. iya, Mbah,” sahutku sambil ikut menggigil merasakan desakan lahar dari dalam tidak tertahankan lagi.
Getaran Mbah Purwo semakin hebat.
“Uugghh..” sambil memekik panjang, mendadak pantatnya bergenjut-genjut belasan kali.
Bersamaan dengan itu, aku pun tidak dapat bertahan lagi. Tubuhku menggigil keras. Dan.., “Surr.. surr..” kami merasakan kenikmatan bersama-sama.
Aku yang kelima kalinya, sedang dia yang pertama. Satu syarat lagi telah kami lalui.