Lennie’s First Date – 2

126 views

Cerita Ngewe

Cewe Cantik Bugil,  naked_WMDari bagian 1

Lennie mengiyakan, “Ya, aku juga begitu. Melihat mereka aku benar-benar terangsang,”
Lennie meletakkan tangannya diatas pahaku dan mencondongkan wajahnya sehingga bibirnya berbisik di depan telingaku.
“Apa yang terjadi kalau kamu terangsang? apa kamu ereksi seperti yang tertulis di buku sex-ed?”

Sentuhan Lennie bahaikan listrik. Menjadikan kemaluanku semakin keras, sehingga semakin menekan keluar celanaku, sepertinya tidak pernah aku merasakan sebelumnya. Sambil mengatur nafasku aku menjawab, “Ya, aku hard-on”

“Kamu sedang tegang sekarang,” bisiknya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya digerakkan ke atas menyusuri pahaku sampai tepat diatas batang kemaluanku. Dia mengusap-usap batang penisku yang tegang itu, “Wah, Rickie! Seluruh bagian depan celanamu menonjol keluar”
Sambil mengusap-usap, dia berkata,
“Apa yang kamu kerjakan kalau seperti ini?”
“Mmm, aku.. Aku melakukan sesuatu. Kalau kamu sendiri, apa yang kamu lakukan?”
Lennie tertawa pelan dan menjawab, “Aku menggunakan tanganku untuk melepaskannya. Bagaimana kamu melakukan itu?”

Akupun tertawa sambil menjawab, “Aku beat off juga”

Sambil mempelajari wajahku Lennie bertanya lagi, “Apa kamu menginginkan beat off sekarang”
“Ohh ya, aku hampir nggak tahan lagi. Bagaimana kamu?”
“Dalam waktu yang singkat” bisik Lennie. “Apakah sebaiknya kita..?”
“Mungkin sebaliknya kita melakukan disini, di depan kita masing-masing?” kataku meneruskan kata-katanya.
“Yah, aku juga ingin mengatakan begitu” kata Lennie gugup.
“Kita mungkin akan lebih menikmati film jika kita melakukan itu, ayo kita lakukan”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, Lennie segera melepas kancing jeans dan menurunkan kebawah sampai lutut. Samar-samar aku dapat melihat celana dalamnya diturunkan sampai kebawah lututnya. Kemudian dia membuka pahanya dan segera tangannya dimasukkan diantara pahanya, sekilas aku lihat ada bayangan gelap disana. Lennie segera menggerakan tangan pelahan-lahan desahan kenikmatan keluar dari bibirnya.

Melihat apa yang dilakukan Lennie membuatku semakin terangsang melebihi yang pernah aku rasakan. Segera aku turunkan jean dan celana dalamku kebawah lutut seperti yang dilakukan Lennie. Batang kemaluankupun mencuat berdiri tegak, membentur roda kemudi. Lennie pasti melihat keadaanku, seperti apa yang kulakukan kepadanya.

Lennie setengah memekik melototi batang penisku, “Wah, Rickie, penismu sangat besar dan keras. Aku nggak mengira anak laki-laki mempunyai sebesar itu. Itu pasti panjangnya 7 atau 8 inci”

Aku nggak pernah meperhatikan tentang seberapa besar penisku. Aku juga nggak pernah membandingkan ukurannya dengan pemuda lainnya. Aku nggak ngerti apa yang harus kukatakan kepada Lennie kecuali, “Ya, mungkin kamu benar”.
“Aku belum pernah melihat penis laki-laki sebelumnya. Aku perlu cahaya yang lebih terang untuk bisa melihatnya lebih jelas. Boleh aku pegang?”.

Dipegang Lennie? Wah, aku sering membayangkan seorang gadis memegang dan mengelus penisku, dan sekarang disini ada yang menawarkan untuk melakukannya. Akhirnya akupun berbisik, “Ya, bila kamu juga menginginkannya”

Lennie segera meraih dan menggenggam batang penisku kemudian menggerakkan tangannya naik turun. Perasaan nikmat menggetarkan seluruh tubuhku, secara reflek mulutku mendesah dan pinggulku ikut terangkat-angkat. Lennie segera menarik kembali tangannya, “Apa kamu merasa sakit?” tanyanya khawatir.

“Tidak,” kataku tergagap-gagap, “Aku merasa lebih nikmat bila orang lain menyentuhnya, aku nggak bisa menahan kenikmatan ini”

Lennie pun segera menggenggam kembali penisku, meremasnya dengan lembut.
“Kalau kau merasa lebih nikmat bila aku yang melakukan, beritahukan aku caranya, apa yang sebaiknya kulakukan”.
“Genggamlah dengan lembut kemudian gerakkan tanganmu naik turun seperti tadi, itu saja. ”

Beberapa saat kemudian Lennie menghentikan gerakannya, kemudian berbisik,
“Rickie, kau mau menyentuhku seperti aku melakukannya untukmu. Dengan begitu kita bisa saling memberi dan mengeluarkannya sama-sama. Ayolah, kamu maukan melakukan seperti yang kulakukan?”.
“Ya tentu saja” kataku cepat, “Aku sangat menyukainya. Aku nggak pernah menyentuh seorang gadis sebelumnya, kamu ajari juga aku, apa yang sebaiknya kulakukan”

Lennie memegang tanganku dan membimbingnya ke bagian diantara pahanya. Aku merasakan adanya rambut halus disana dan bibir tebal yang basah. Jari-jariku menelusuri celah diantara bibir-bibir tersebut, aku menemukan kemaluan Lennie sangat basah dan hangat pula. Kugerakkan jari-jariku naik-turun menyusuri lembah basah tersebut dan kutemukan tonjolan kecil dibagian atas. Pinggul Lennie terjungkit ketika jariku menyentuh tonjolan itu, dan dia meremas lenganku sambil berbisik,
“Ya, tepat dibagian itu. Ada tonjolan? itu tempat yang paling nikmat. Sentuhlah bagian itu sesering mungkin”.

Aku pun menggerakkan jari-jariku naik-turun di lembah basah tersebut, bergerak dari atas kebawah dan setiap kali kutekan-tekan tonjolan di bagian atas vagina Lennie.

Lennie mendesah-desah, “Uuumm.. Yaa.. Terruuss” dan pinggulnya pun ikut bergerak-gerak kedepan seirama dengan gerakan tanganku. “Ya.. Ya.. Ohh” desisnya pelan, “Terus lakukan seperti itu, aku merasa gerah, jangan dilepaskan”.

Aku hampir nggak percaya Lennie berkata seperti itu. Tadi dia mengatakan belum pernah melihat penis sebelumnya, meyakinkan aku bahwa dia masih perawan, dia kelihatannya sudah tahu cukup banyak dan tertarik mengenai sex seperti juga aku. Reaksinya atas sentuhanku dan kenikmatan yang dirasakannya paling tidak mirip seperti yang kualami.

Sambil menikmati aktivitas kanganku, Lennie kembali memperhatikan batang kemaluanku dan kembali tangannya digerakkan seperti tadi. Aku juga tidak bisa mengendalikan gerakan pinggulku, yang bereaksi seirama dengan gerakan tangannya yang naik-turun di batang penisku.

Kami juga memperhatikan layar film, dimana gerakan pinggul pemuda yang sedang mengerjain si gadis makin lama semakin cepat, suara desahan dari speaker pun semakin keras, keadaan itu semakin mengobarkan gairah aku dan Lennie. Kami berdua semakin mempercepat gerakan kami, seolah berlomba dengan gerakan yang ada dilayar film, untuk mencapai puncak orgasme kami.

Akhirnya Lennie lebih dulu mencapai uncak orgasmenya. Wajahnya menengadah kebelakang sambil mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi kedepan dan pahanya menjepit tanganku erat-erat. Seluruh tubuhnya menggigil dan bergerak-gerak dengan cepat. Lennie mendesah pelan,
“Ooohh, yaahh! Wah, oohh,” desahannya semakin pelan dan pelan, akhirnya terdiam lemas, dengan nafas tersegal-segal. Matanya terbuka dan memandangku sayu sambil berbisik lembut,
“Wah, aku tidak pernah bisa mengalami ‘keluar’ seperti ini sebelumnya”
Dia menggenggam batang penisku sambil berbisik, “Kamu sudah selesai juga?”.
“Belum,” kataku, “belum, aku hampir sampai kesana. Teruskan seperti tadi”

Lennie pun kembali mengocok batang kemaluanku, tangannya digerakkan naik-turun. Waktu melihat Lennie mengalami orgasme aku hampir ikut keluar juga, batang penisku sekarang berwarna semakin kemerah-merahan.

Sambil meneruskan gerakan tangannya Lennie berkata, “Bagian ujungnya sudah basah, kamu yakin belum keluar?”
“Belum” desisku, “Teruskan beberapa saat lagi, aku hampir sampai. Kamu akan lihat kalau aku sampai”.

Beberapa adegan dilayar film telah berlalu, si laki-laki telah meninggalkan si gadis yang masih terlentang di ranjang dengan pahanya yang terbuka lebar-lebar. Vagina si gadis tampak terbuka lebar sehingga terlihat bagian berwarna pink yang basah diantara bibir vaginanya. Aku membayangkan aku baru saja menjelajahi liang kenikmatan tersebut dan memenuhinya dengan spermaku.

Gabungan imajinasiku dengan gerakan tangan Lennie pada batang kemaluanku yang menimbulkan kenikmatan birahi yang teramat sulit kugambarkan mengantarkan aku kepuncak kenikmatan. Kuangkat pinggulku tinggi-tinggi ketika dari ujung batang penisku menyemburkan sperma kuat-kuat keudara dan jatuh ke dashboard, kemudian disusul dengan semburan berikutnya dan berikutnya. Sampai tidak bisa lagi menyembur keudara, kecuali meleleh membasahi tangan Lennie. Dan Lennie pun masih meneruskan gerakannya meskipun tangannya telah basah kuyup oleh lendir spermaku. Mulutku mengerang-erang setiap kali spermaku tersembur keluar.. Dan kemudian tertunduk lemas. Tapi batang kemaluanku masih tetap mengeras meskipun sudah tidak bisa mengeluarkan sperma lagi.

Tangan Lennie kuraih untuk menghentikan gerakannya, tapi dia masih terus menggenggam erat-erat batang penisku sambil menggerakannya pelan-pelan dan lembut sekali. Akupun berbisik lagi, “Kalau kau tidak menghentikan gerakanmu, aku bisa keluar lagi”.

Mata Lennie melotot seolah hampir keluar melihat batang penisku menyemburkan sperma, “Wah, kamu bisa lagi? Aku benar-benar tidak membayangkan seperti itu kejadiannya. Aku tahu dari buku sex-ed bahwa sperma akan keluar dari penis laki-laki pada saat climax, tapi kamu telah menyemburkannya begitu banyak, begitu kuat semburannya, aku tidak bisa membayangkannya”.
“Ya, itu lebih banyak dari yang pernah aku alami sebelumnya. Karena sambil menyentuhmu aku jadi begitu terangsang sehingga keluar beberapa kali”.
“Kamu senang menyentuhku?” bisik Lennie.
“Ohh, pasti. Apa kamu juga suka aku menyentuhku?”

Tangan Lennie mengusap-usap batang penisku sambil berbisik, “Ya, ya aku sangat menyukainya. Aku sudah lama menunggu seorang pemuda menyentuhku, dan akhirnya hal itu terjadi”.

Gerakan tangan Lennie di batang penisku menimbulkan perasaan semakin nikmat lagi, aku tahu bahwa dashboard mobil ini akan tersiram lagi oleh semburan spermaku. Tangankupun kuturunkan meraba vaginanya. “Kamu mau lagi Len?” bisikku lembut.

Lennie meraih leherku dan mendekatkan kewajahnya. Dia menempelkan bibirnya kebibirku dan mengesek-gesekan pelahan.

“Ya,” bisiknya, “Aku menginginkannya lagi, dan kemudian lagi, terus dan terus sampai kita tidak mampu melakukannya lagi. Tapi aku juga ingin bisa melihat dengan jelas apa yang kukerjakan. Aku ingin bisa melihat penismu, bisa melihatnya dalam keadaan terang, tidak gelap seperti di mobil ini.”
Dia kembali menyapukan bibirnya lagi, ciuman kecil yang membuat penisku semakin mengeras, dan ujarnya, “Tidak ada orang dirumah, Rickie. Semuanya terserah kita. Kita bisa melepas semua pakaian kita dan kita bisa saling melihat semuanya, saling meraba. Kita memiliki seluruh weekend sendirian, dan kita dapat melakukan apapun yang kita inginkan. Aku benar-benar akan melakukan seperti aku adalah istrimu”.

Aku ingat komentar Lennie sebelumnya tentang menjadi istriku dan senyuman aneh yang tersirat diwajahnya ketika Lennie mengatakan itu. Ini adalah penjelasan singkat dari pernyataannya, dan aku sangat berharap mendapatkan janjinya itu. Tanganku meraih kebawah jok mengambil kotak tissue untuk membersihkan tubuh dan bagian mobil disekitar kami. Semua bekas hubungan intim kami telah bersih sama sekali, kecuali aroma khas dari yang mengundang birahi memenuhi ruang cabin.

Lennie duduk merapat ketubuhku ketika kami pulang kerumah, tangannya diletakkan diantara pahaku, sambil mengusap-usap lembut tonjolan kemaluanku. Aku juga ingin menyentuhnya tapi kedua tanganku harus sibuk memegang steer. Aku pun berusaha secepat mungkin kembali kerumah. Sebelum melewati pompa bensin tiba-tiba Lennie berseru, “Rickie, stop disini. Aku kebelet kencing sekali”.

Akupun menghentikan kendaraan dan Lennie menuju ke toilet wanita. Aku senang dia minta berhenti disini karena aku juga memerlukan sesuatu. Ketika masuk toilet, aku lihat mesin penjual condom didinding. Kupikir aku dan Lennie mungkin akan membutuhkannya, akupun segera mengambil empat buah. Aku perlu mempersiapkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi.

Lennie pun segera keluar dari kamar wanita begitu aku kembali ke mobil. Sambil tersenyum lebar aku menyapa, “Sudah merasa baikan?”.

Kembali Lennie merapat ketubuhku sambil kepalanya disandarkan kepundakku, dan tangannyapun diletakkan diantara pahaku. “Yah, semuanya terkendali” katanya. “Sekarang bawa aku pulang secepatnya, Aku akan melanjutkan kencan pertamaku”.

Aku memang ingin segera sampai kerumah. Kalau mobil ini bisa terbang, sudah kuterbangkan sejak tadi. Tapi dengan tangan Lennie diatas kemaluanku sambil membelai-belai dari luar jeanku, menjadikan aku sulit berkonsentrasi untuk mengemudi.

Ke bagian 3