Kekasih dan Suamiku 03

121 views

Cerita Sex : Kekasih dan Suamiku Part 3 – Cerita Sex Update, Cerita Sex Daily, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerita Panas, Cerita Bersambung, Cerita Seks Terbaru.

memek Blogger Trick bugil_WM
( Cerita Sex + Bergambar + Bersambung Paling Update )

Sambungan dari bagian 02

Tadi malam susah tidur membuatku pagi ini tidak fresh. Hari ini babysitter minta cuti, mau pulang kampung, tugasnya diambil alih oleh pembantu. Aku beranjak hendak mandi ketika Aku lihat Si Iyem (pembantuku) kerepotan menjemur pakaian sambil momong anakku.
“Yem, kamu urus Randy aja ya, biar Ibu yang jemur pakaian.”

CerSexMekCerita Sex Memek hanya ada di >>> ceritasexmemek.com

“Baik, Nyah.”
Letak jemuran ada di samping rumah, persis di belakang bangunan kamar-kamar kost.
“Pagi, Mbak.”
Dari sejak menerima kost dulu Aku biasa dipanggil “Mbak” oleh anak-anak kost. Sampai sekarangpun begitu walau Aku sudah menikah dan punya anak satu.
“Pagi, baru berangkat?”
“Iya Mbak, ada kuliah jam 10, mari mbak.”
“Yuk.”
Hubunganku dengan anak-anak kost memang sekedar bertegur sapa dan berbasa-basi saja. Aku meneruskan kerjaanku. Kurasakan anak tadi tak langsung beranjak, tetap ditempatnya dan menatapiku. Aku pikir mungkin dia terheran, tak biasanya Aku menjemur pakaian, pekerjaan yang biasa dilakukan Iyem. Merasa ditatap begitu dengan sendirinya Akupun melihat ke arahnya. Mendadak anak itu mengalihkan pandangan, agak kaget, dan langsung berlalu.
Apa yang aneh pada diriku? Anak tadi seperti mencuri-curi pandang. Oh! Kancing depan dasterku ada yang terlepas, belahan dadaku jadi lebih terbuka. Cepat-cepat Aku betulkan. Sialan anak itu. Bukan cuma belahan dadaku saja yang sempat dilihatnya. Beberapa kali tadi Aku sempat membungkuk mengambil pakaian basah dari ember. Celaka duabelas!, Aku tak memakai bra! Aku baru sadar, tadi memang berniat mau mandi. Bahkan ternyata hanya daster ini saja satu-satunya pakaian yang kukenakan sekarang. Begitulah kalau Aku mau mandi.

Aku berniat mau masuk untuk berganti baju, tapi ah, tanggung, tinggal beberapa potong yang harus dijemur, sudah itu baru mandi, pikirku. Aku jadi merasa seksi, dadaku berguncang-guncang ketika bergerak membungkuk atau mengangkat ke atas. Di beberapa bagian dasterku basah kena cipratan air cucian makin mempertegas bentuk tubuhku. Apalagi di bagian dada.
Ups! Dari sudut mataku Aku melihat di salah satu jendela kamar kost suatu sosok bayangan di balik viltrage. Sosok bayangan kepala sedang mengintipku. Lelaki muda memang suka iseng tapi masih takut-takut. Aku pura-pura tak tahu dengan meneruskan pekerjaanku, toh tak lama lagi. Kubiarkan Si Pengintip ini menikmati guncangan-guncangan tubuhku, pusing tanggung sendiri ..

Dan rupanya Aku ‘menemukan’ cara untuk mengisi kesepian yang makin memuncak ini dengan ‘acara jemur pakaian’ tiap pagi. Mungkin Aku sudah gila. Entahlah. Aku menjemur pakaian yang sebelumnya merupakan tugas Iyem, dan dengan pakaian seadanya. Kadang hanya berdaster seperti tempo hari, atau pakai celana pendek dan t-shirt longgar panjang sampai menutupi celana pendek, sehingga seolah hanya kaus itu saja yang kukenakan. Tapi kalau sedang berkaus aku tak berani melepas bra, bulatan kembarku terlalu kentara. Herannya, Aku menikmati sensasi baru saat sosok bayangan di jendela mulai muncul mengintipku. Berdasarkan letak jendela Aku memperkirakan Si Pengintip ini adalah Anton atau Andi. Anton adalah yang biasa mewakili teman-temannya bicara dengan induk semang (Ayah, Ibu, atau kadang-kadang Aku) untuk urusan per-kost-an. Rupanya ia dianggap pemimpin oleh rekannya, mungkin karena dia penghuni paling lama. Andi adalah mahasiswa paling senior.

Suatu pagi Anton masuk ke rumah utama ingin bicara dengan induk semang. Karena Ayah dan Ibu sedang tak ada di rumah, maka dia bicara kepadaku.
“Gini Mbak, akhir-akhir ini ruang tamu jarang dibersihkan,” katanya. Matanya menatapku, hanya sebentar, lalu pandangannya turun ke dadaku.
“Oh iya”. Aku mengenakan celana jeans dan t-shirt ketat. Tak heran kalau matanya tertuju ke dadaku.
Walaupun Aku mengenakan bra, tapi ketatnya kausku menyebabkan kedua bukitku makin menonjol.
“Gini Dik, kebetulan saat ini Si Inah lagi pulang kampung. Tugas-tugasnya dikerjakan oleh Si Iyem. Bahkan saya sendiri membantu tugas Iyem. Nanti kalo Nah udah balik pasti dibersihkan. Atau nantilah saya nyuruh Si Iyem kalau kerjaannya udah beres.”
“Oh maaf Mbak, saya engga tahu kalo Si Inah pulang kampung, kirain dia mulai males ..” Lagi-lagi Aku menangkap basah bola matanya sedang menatapi dadaku.
“Oo enggak, tolong Dik Anton bisa ngerti ya ..”
“Iya Mbak, saya hanya menyampaikan keluhan teman-teman. Nanti saya sampaikan sama mereka. Ngomong-ngomong, Babe kemana Mbak?” Jelas sekali, jakun Anton turun-naik. ‘Babe’ memang cara anak kost memanggil Ayahku.
“Lagi pacaran ama Nyak tuh ..”
Lalu diam. Aku rasa Si Anton ini salah tingkah. Biasanya dia tak begitu. Apa karena dia tertangkap sedang menatapi dadaku?
“Mari Mbak, terima kasih.”
“Yuk.”

Dari gelagatnya Aku jadi yakin, yang setiap pagi mengintipku menjemur pakaian adalah Anton. Apalagi dia jadi sering datang sewaktu Aku sedang sendiri di rumah. Alasannya macam-macam, mengisi air minum, pinjam majalah, ngajak main Randy dan lain-lain. Setiap kedatangannya selalu saja dia mencuri-curi pandang menatapi dadaku sambil menelan ludah. Pandangan matanya menyiratkan dia menginginkanku, seolah dia ingin menelanku bulat-bulat, tapi Aku tahu dia ragu-ragu, takut, atau tak tahu cara memulainya. Anak ini memang menarik. Suka menolong dan sifat kepemimpinannya menonjol. Tapi salah dia kalau berharap mendapatkanku. Aku tak berminat lagi untuk bermain api. Affairku dengan Hendrik yang mantan kekasih saja membuatku merasa bersalah. Tiba-tiba Aku punya ide nakal untuk mengganggu Anton. Aku punya rencana tampil lebih ‘menggiurkan’ ketika Anton datang dan ketika Aku menjemur pakaian. Biarlah dia semakin tersiksa .. Buat ‘fun’ saja mengisi kesepian. Asal tak sampai ‘jatuh’ ke pelukan Anton, kenapa tidak? Dasar perempuan kurang kerjaan ..!

Pagi ini Aku sibuk memilih pakaian yang seksi untuk diintip Anton. Celana pendek plus kaus longgar, ah ini sudah pernah. Bagaimana kalau kali ini no-bra? Perubahan yang terlalu drastis.
Atau baju tidur tipis yang biasa Aku pakai tanpa pakaian dalam untuk ‘membangunkan’ Mas Jimmy, tapi dengan pakaian dalam. Aku ngaca. Ah, tubuhku nampak, pakaian dalamku terlihat jelas. Tak pantas. Akhirnya Aku pilih daster pendek model tank-top yang bahannya tak terlalu tipis. Bahu dan bagian atas dadaku terbuka, belahannya nampak jelas, juga separoh pahaku terbuka. Membungkuk sedikit saja kedua bulatannya tampak. Begitu Aku keluar sosok di jendela itu sudah nampak. Kadang Aku sengaja berlama-lama membungkuk dan menghadap ke arah jendela. Aku tak tahu apa reaksi Anton melihat penampilanku dan tingkahku pagi ini. Aku senyum-senyum sendiri. Selesai menjemur kusuruh Iyem membersihkan ruang tamu kamar kost, Aku momong Randy. Tepat seperti yang kuduga, Anton masuk, berbasa-basi sebentar lalu ambil koran dan duduk.
Masih mengenakan pakaian yang tadi tentu saja pahaku makin terbuka karena duduk. Aku tak peduli beberapa kali mata Anton menatapi dadaku bergantian pahaku. Tak hanya menelan ludah, beberapa kali kulihat Anton menghela nafas. Wajahnya yang mulai merah dan nafas yang agak tersengal menandakan “aroma” nafsunya. “Rasain lu” kataku dalam hati. Ah .. seandainya Mas Jimmy bernafsu melihatku seperti Anton sekarang.

Sepi demi sepi yang berhasil Aku lalui ini tampaknya akan semakin meningkat. Sabtu malam sehabis kami bertiga Aku, Mas Jimmy, dan Randy jalan-jalan sekalian belanja ke Mall, Aku telah siap tergolek di ranjang dengan pakaian tidur seksi kesukaan Mas Jimmy dan tanpa pakaian dalam. Aku berharap malam ini, seperti setiap malam libur, kami dapat menikmati hubungan suami-isteri sehingga dahagaku yang telah sepekan kurasakan dapat terpenuhi. Beberapa saat setelah Mas Jimmy merebahkan diri disampingku, Aku seperti biasa mulai “mengganggunya” dengan menyilangkan sebelah kakiku ke tubuhnya dan menggesek-gesek. Belum ada reaksi. Kugosokkan paha telanjangku ke selangkangannya. Mas Jimmy memelukku. Kukeluarkan buah dadaku dari baju tidur dan menyodorkan ke mulutnya dan dia mulai menciuminya. Mas Jimmy memang suka ‘netek’, tak kalah sama anaknya. Putingku disedot-sedotnya, nafsuku mulai merambat naik, di bawah sana mulai terasa lembab.

Tanganku mulai menyusup di balik sarung Mas Jimmy dan terus merambat naik. Biasanya telapak tanganku akan langsung ‘berjumpa’ dengan ketegangan di dalam sana, tapi kali ini Aku harus menarik dulu tali elastis CDnya (tumben, Mas Jimmy masih mengenakan CDnya) sebelum mengelusi penis kesayanganku. Batang yang belum keras benar, telapak tanganku harus bekerja keras untuk mengeraskannya, sementara kelembaban di selangkanganku telah berdenyut-denyut minta ‘dipenuhi’. Hanya dengan melepas baju tidurku Aku sudah bugil, lalu kutelanjangi Mas Jimmy dan tubuhnya Aku raih jadi menindih tubuhku. Kubuka kakiku lebar-lebar menunggu dengan memejamkan mata. Menunggu saat-saat nikmat ketika milik Mas Jimmy memenuhi selangkanganku yang telah lembab ‘matang’ dan berdenyut.

Mas Jimmy dengan gagahnya memposisikan kedua lututnya di antara bentangan kakiku, lalu tubuhnya merendah. Saat nikmatpun dimulai, kurasakan benda itu menempel di mulut vaginaku, lalu menekan, kemudian melesak, dan ..aahh .. Aku menikmati gesekan di dinding-dinding vaginaku sebelum akhirnya seluruh batang penis Mas Jimmy tenggelam. Nikmatnya saat ‘pemenuhan’ ini susah diceritakan, pokoknya nikmat. Aku mulai menggoyang pantatku dan tubuh Mas Jimmy mulai mundur maju. Tak hanya pinggulku yang beraksi, tangan, dada, kepalaku bergoyang. Tentu saja termasuk mulutku.

Akupun mulai mendaki lereng bukit terjal kenikmatan hubungan seks. Tapi apa yang terjadi tak seperti biasanya. Puncak itu terasa masih jauh ketika tubuh Mas Jimmy mengejang. Kejangan tubuh yang khas menandakan pemiliknya telah sampai di puncak mendahuluiku. Aku merasa ‘ditinggal’ di lereng bukit dan ‘digantung’.. Tanda-tandanya sudah kurasakan waktu Mas Jimmy memasuki tubuhku tadi. ereksinya tak begitu keras.

Apa boleh buat, Aku harus menerima. Tahun-tahun pertama bersama kami masih bisa mulai pendakian lagi, tapi beberapa tahun terakhir ini Mas Jimmy tak pernah ‘nambah’. Sebenarnya tak masalah benar kalau tadi Aku juga bisa menyelesaikan pendakianku. Tapi kini .. kuhabiskan sisa malam dengan terisak di tengah dengkuran Mas Jimmy. Aku harus menunggu minggu depan. Betapa lamanya menunggu minggu depan itu dengan selangkangan yang selalu ‘membara’..

Malam-malam berikutnya kuisi dengan pergulatan bathin yang hebat. Pergulatan antara tetap setia kepada Mas Jimmy dan mengundang masuk Anton, si anak kost. Ah, seandainya Hendrik tidak di Kaltim. Hendrik? Sama saja! Toh dia juga ‘menggantungku’ di lereng bukit! Yang sedang kupikirkan memang Si Anton. Mengajak Anton bersetubuh adalah mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Perilakunya akhir-akhir ini mengisyaratkan dia sudah begitu ‘siap’ menerkamku. Tapi janjiku pada diriku sendiri untuk setia kepada Mas Jimmy setelah Hendrik pergi, menghalangi niatku. Pada malam keempat akhirnya keputusanku sudah bulat: mengundang Anton! Resiko apapun yang akan terjadi, Aku siap menanggungnya.

Begitulah, didorong oleh keputusanku yang bulat Kamis pagi ini kembali Aku menggelar “aksi menjemur pakaian” yang setengah gila, hanya dengan T-shirt panjang sebagai penutup tubuhku (tanpa CD dan Bra)! Tak heran kalau ketika selesai menjemur pakaian Aku duduk di sofa, Anton mendatangiku. eh, ternyata Aku jadi amat gugup di hadapan Anton dengan pakaian gila ini. Apalagi Anton terus menatapi dadaku –yang tercetak bulat oleh T-shirt, Aku makin salah tingkah. Yang jelas Aku tak akan memulai. Menunggu apa yang akan dilakukan anak muda ini. Pengin tahu bagaimana dia memulainya.

“mBak, boleh saya minta tolong?” katanya. Suaranya agak serak.
“Tolongin apa?”
“Saya tahu mBak pandai menulis.”
“Tahu dari mana?”
“Saya sering baca tulisan mBak di tabloid .”
Aku memang sering mengirimkan tulisan ke tabloid wanita.
“Ah, itu hanya iseng aja,” kataku.
“Ya, tapi bahasa mBak bagus dan enak.” Aha, dia mulai merayu.
“Trus, saya bisa nolong apa?”
“Gini, tolong periksa makalah saya ini, terutama dari bahasanya”. Taktis juga dia.
“Bahasa makalah kan beda sama bahasa tulisan populer.”

“Ayolah mBak ..” Anton beranjak sambil membawa lembaran-lembaran kertas dan duduk di sebelahku, meletakkan kertas-kertas itu di pangkuanku. Aku berdebar. Duduknya begitu dekat. Lalu dia menunjukkan bagian-bagian tulisannya untuk kukoreksi. Kesempatan dia untuk menekan-nekan pahaku. Aku merinding dibuatnya. Puting dadaku mengeras. Nafasnya kudengar memburu, dan eh, ternyata Aku juga begitu, tiba-tiba Aku jadi sesak nafas. Aku memang membaca tulisan itu tapi tak satupun nyantol di otakku. Dari sudut mataku Aku melihat, Anton tak memandangi tulisannya lagi, tapi matanya bergantian menatapku dan dadaku. Oh, puting dadaku begitu jelas menonjol, Aku yakin Anton bisa jelas melihatnya. Aku jadi malu. Risih ditatap begitu, Aku menoleh. Wajah kami begitu berdekatan.
“Kenapa?” Ah, suaraku juga serak!
“Mbak ..”
“Hmm?”
“MBak cantik.” Aku tak komentar.
“Dan seksi.”
Lagi-lagi rayuan. Setelah itu apa? Tak kusangka Anton begitu nekat. Diciumnya bibirku. Aku berontak. Kertas di pangkuanku bertebaran ke lantai.

“Ton!” teriakku begitu bibirku terbebas. Anton bukannya mundur, malah tangannya merangkul bahuku dan memeluknya erat-erat, sementara kembali bibirnya mencari-cari bibirku. Dia melumatku lagi. Berontakku berikutnya hanya pura-pura saja. Aku menyerah, apalagi lumatan bibirnya mulai membuatku melayang. Tangannya melepaskan pelukan dan pindah ke dadaku, meremas. Remasan kasar sebetulnya, tapi Aku mulai menikmatinya. Remasan yang masih terhalang kain kaos. Kain bukan halangan bagi Anton, dia bahkan bisa ‘menemukan’ putingku dan memelintirnya. Pelintiran kasar juga, yang tak nyaman bagiku, bahkan cenderung sakit. Oleh karenanya Aku jadi tersadar dan melepaskan ciumannya. Dengan refleks Aku menoleh ke belakang.
“Engga ada orang Mbak, Anton sendirian ..” Anton menangkap maksudku. Aku bangkit.
“MBak..” Anton juga bangkit mengikutiku. Kubiarkan. Aku hendak mengunci pintu, siapa tahu Randi dan pengasuhnya masuk.

Aku kembali ke sofa dan Anton langsung menubrukku. Eh, dadanya sudah telanjang, entah kapan dia melepas bajunya. Aku rebah, Anton menindihku. Sesuatu yang keras menekan pahaku. Leher T-shirtku ditariknya ke bawah lalu diciuminya dadaku. Ditariknya lagi kausku sampai bibirnya bisa mencapai puting dadaku, dan dikemotnya.
Tangannya menelusuri pahaku dan terus menyusup ke atas. Aku cegah tangannya. Aku malu kalau dia tahu Aku tak pakai CD. Aku juga mencegah tangannya yang berusaha menarik ujung bawah kausku. Aku tak mau dia melihat milikku lebih dulu sebelum dia telanjang bulat. Beberapa kali usahanya melucutiku kutolak, Anton seolah mengerti maksudku. Dia bangkit dan turun dari sofa, lalu mencopot celana jeans-nya. Kurang ajar, Anton tak pakai CD! Kurang ajar lagi, penisnya itu beda. Maksudku dibanding milik Mas Jimmy dan Hendrik (memang hanya dua orang itu yang pernah Aku lihat miliknya). Besarnya sih tak berbeda dengan milik suami dan mantan kekasihku tadi, hanya panjangnya lebih dan bagian ujungnya –mulai dari sebelum leher– sedikit melengkung ke atas. Lengkungan kecil yang justru menambah ‘indah’nya barang itu. Satu hal lagi yang menambah nilai, warnanya muda dan mulus. Kesan keseluruhan (dalam keadaan tegang) panjang mengacung dan ‘bersih’.
“Kenapa mBak ..” rupanya Anton melihatku lama menatap miliknya. Aku tak komentar.
“Kecil ya mBak ..”. Lelaki cenderung menganggap miliknya ‘tak sesuai ukuran ideal’, tapi kalau ditanya berapa ukurannya cenderung melebihkan, kata literatur.
“Panjang ..” komentarku jujur.
“Ah masa ..” katanya dengan roman muka senang. Kedua belah tangannya lalu menelusuri pahaku sambil menyingkap ujung kausku, Aku membiarkannya.
“Hah ..” serunya kaget, matanya berbinar menatapi selangkanganku yang bugil.
“Dari tadi mBak engga pakai CD ya .. ah..” tubuhnya membungkuk dan sejurus kemudian kurasakan kelembutan lidah Anton bermain di bawah sana. Kilikannya menunjukkan bahwa Anton berpengalaman dalam hal ini. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir menahan sesuatu, hanya sebentar, keluar juga eranganku. Geli-geli enak. Hanya sebentar juga, Anton bangkit dan mengarahkan senjatanya siap masuk, lagi-lagi Aku merem menunggu. Uh! sialan nih anak, kasar benar.
“Aduh .. pelan-pelan dong Ton.”
“Oh ..maaf mBak .. habis engga sabaran.”
Anton jadi lebih berhati-hati, pompaannya yang lebih perlahan justru memberikan sensasi lain. Sensasi yang ditimbulkan dari gesekan pada relung-relung vaginaku oleh panjangnya penis.

‘Merasakan’ Anton memang agak berbeda. Ada sentuhan ‘baru’ di dalam sana yang selama ini tak terjamah oleh suamiku dan Hendrik. Pendakian serasa lebih mudah oleh sensasi-sensasi baru ini. Begitu tampaknya. Tapi kenyataannya tidak. Tak berbeda dengan Mas Jimmy Sabtu lalu. Aku ditinggal di lereng, sementara Anton berlarian ngos-ngosan menuju puncak. Untung Anton masih sempat mencabut dan menumpahkan cairannya ke perutku.
“Maafkan saya mBak,” Anton membaca kekecewaanku.
“Mbak begitu seksi membuat saya jadi bernafsu banget,” tambahnya lagi.
Aku diam saja, musti komentar apa? Dalam foreplay tadi kelihatan sekali dia telah pengalaman, tapi kenapa dia cepat selesai?Setelah beberapa malam berperang batin hingga sampai pada keputusan berat untuk mengkhianati Mas Jimmy, hasilnya ternyata hampir sama, tak memuaskan. Merindukan pungguk di bulan burung dara di tangan dilepaskan. Aku memang perempuan konyol, isteri yang konyol, tepatnya. Nasib ..

Bersambung ke bagian 04