Lennie’s First Date – 5

127 views

Cerita Ngewe

Cewe Cantik Bugil,  memek jepang_WMDari bagian 4

Kesadaranku mulai kembali ketika kurasakan Lennie menciumi seluruh wajahku. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah keadaan penisku. Meskipun baru saja meledakkan sperma yang begitu dasyatnya seperti ledakan gunung berapi, dia masih tegak berdiri, hanya sedikit mengendor, aku yakin dengan kondisinya serperti ini, penisku masih mampu untuk menjebol keperawanan seorang gadis. Aku jadi tidak berani membayangkan, apa yang akan terjadi dengan kelanjutan kencan kami ini. Tapi aku berniat membiarkan Lennie yang mengambil inisiatif selanjutnya. Apapun yang diinginkannya, aku akan mengikuti dan memenuhinya.

Lennie berbaring disebelahku, kami saling tatap tanpa bicara. Wajahnya basah oleh keringat dan di ujung bibir dan pipinya masih tampak sisa spermaku. Meskipun tampak lelah tapi mata itu tampak berbinar-binar, berbunga-bunga dan penuh semangat. Lennie-ku jadi tampak lebih cantik dari biasanya. Senyuman bibirnya seperti menyembunyikan suatu rahasia kepuasan dan kebanggaan.

Malam ini Lennie benar-benar ingin memanjakanku dan juga mempertunjukan bahwa malam ini segala yang ada pada dirinya hanya diperuntukkan kepadaku. Dengan senyumannya yang teramat manis dan mesra, diraihnya leherku, rambutku dibelai-belai. Tangan satunya mengusap-usap dadaku. Kemudian pelahan-lahan tangan itu turun menyusuri perutku. Dengan penuh sensual tangannya digerakkan ke bawah, terus ke bawah, sampai menyentuh hutan belantara di pangkal pahaku. Dan batang peniskupun digenggamnya dengan lembut sekali. Senyumannya tampak semakin manis ketika merasakan bahwa batang penisku masih tegak mengeras.

Matanya berkedip-kedip manis sekali. Seingatku aku belum pernah melihat sebelumnya. Lennie berbisik lembut, “Bagaimana kau bisa keras dan tegang seperti ini? Padahal baru saja orgasme? Apa yang membuatmu jadi seperti ini? Apakah aku sudah melakukannya dengan baik?”

Akupun tersenyum manis sambil berbisik, “Itu adalah klimaksku yang paling dasyat yang pernah kualami. Akupun juga heran bahwa penisku masih tetap tegang. Kupikir itu semua karena kamu. Kau memberikan kencan yang paling luarbiasa, dari yang diharapkan oleh semua pria.”

Lennie tidak langsung merespon pujianku, dia hanya menatap mataku sambil tersenyum manis. Kemudian dia berkata pelan setengah berbisik, “Terima kasih. Kamu telah memberikan yang terbaik buat kencan, seperti yang diharapkan oleh semua gadis.” Kemudian kami berciuman dengan sangat mesra sekali.

Kali ini ciuman kami sangat sangat lembut dan mesra tanpa dibumbui gairah birahi. Sepertinya Lennie ingin menunjukan betapa besar kasih sayangnya kepadaku. Tapi kemudian pelahan-lahan permainan kami semakin memanas kembali. Gesekan-segesan kulit tubuh kami yang telanjang bulat membuat kami tidak bisa mengendalikan emosi gairah sexual kami.

Lennie tersenyum dan berbisik, “Sebenarnya aku ingin menunggu beberapa saat lagi untuk memulai permainan kita, tapi sepertinya aku tidak bisa mengendalikan lagi, gairahku sudah terlalu tinggi.”

Kuraba pangkal paha Lennie dan kususuri celah-celah vaginanya. Memang daerah itu terasa hangat dan basah. Kurebahkan tubuh Lennie terlentang, kemudian aku duduk disampingnya, sementara tanganku masih berada diantara paha Lennie.

“Sepertinya daerah ini selalu hangat dan basah, tapi aku akan menanganinya dengan manis. Kamu santai saja berbaring, nggak usah terlalu tegang, enjoy dan nikmati saja apa yang kulakukan.”
“Tapi bagaimana dengan kamu sendiri?” tanya Lennie.
Aku tersenyum dan berkata, “Aku akan dapat gilirannya nanti, laki-laki berbeda dengan wanita yang bisa orgasme setiap saat. Tapi nggak usah khawatir, malam ini aku masih bisa orgasme beberapa kali lagi. Sekarang kamu cukup konsentrasi untuk dirimu sendiri, nikmati yang bisa kau dapatkan. Aku akan sangat bahagia dan puas bila bisa membuat dirimu puas, OK?”
“OK, ” katanya sambil tersenyum, “Aku cuma ingin meyakinkan bahwa malam ini kau juga menikmati seperti yang aku dapatkan.”
“Setiap kali kau merasakan nikmat, aku juga ikut puas dan bahagia seperti dirimu.”
“Aku tahu yang kau maksudkan. Tadi ketika kau meluar dimulutku, aku sepertinya juga ikut keluar hanya karena melihat reaksimu ketika mencapai klimaks.”

“OK, itu yang kumaksudkan. Sekarang tidur saja terlentang dan biarkan kakakmu mengisi acara kencan pertamaku ini dengan baik. Tubuhmu yang sangat aduhai ini akan membuat setiap laki-laki dengan suka rela melakukan apa saja buatmu.”

“Dan kemudian ML,” bisiknya dengan senyuman menggoda sambil mengangkat pinggulnya dan memutar-mutar dengan gerakan sangat sexy. “Sentuhkan bagian manapun yang kau inginkan dan buatlah aku mencapai orgasme sebanyak yang kau mampu lakukan.”

Kuletakkan tanganku di atas bukit dadanya sambil berbisik, “Kenapa tidak kumulai dari sini saja? Kau memiliki sepasang bukit dada yang paling sexy diantara gadis-gadis di sekolah.”

Lennie membusungkan dadanya ketika tanganku mengelus-elus bukit-bukit yang mencuat indah tersebut.

“Aku tidak yakin apakah payu daraku paling bagus, tapi memang mata mereka selalu melototi bagian ini. Umm.. Yess.. Sentuh disitu, ya ya, putingnya juga.”

Aku tahu bahwa Lennie sangat senang bila tanganku meraba-raba sepasang bukit dadanya, dia juga sangat menyukai bibir dan lidahku bermain disana.

Kuturunkan wajahku dan kusapu seluruh permukaan bukit-bukit indah itu. Kujepit putingnya sebelah kiri dengan bibirku, kemudian kutarik ke atas sampai terlepas. Putting itu bergoyang-goyang sangat indahnya. Kulihat putingnya semakin mengeras dan mencuat runcing. Kutangkap lagi puting itu dengan bibirku, kuhisap-hisap dan kukilik-kilik dengan lidahku.

Kedua tangan Lennie meraih leherku sambil mendesah desah, “Ohh, yes. Enak sekali.. Ooohh.. Benar-benar sangat luar biasa sekali.”

Bukan hanya Lennie yang sangat senang, kukira semua laki-laki termasuk juga saya akan sangat senang untuk menangani bukit-bukit yang aduhai ini. Dengan penuh gairah aku pindah ke puting Lennie yang satunya lagi, kembali kukerjai puting ini seperti tadi. Putting-puting itu telah basah oleh lidahku. Sementara aku mengerjai satu puting, puting lainnya kupilin-pilin dan kuremas-remas pelahan dengan tanganku. Kulihat puting Lennie semakin keras dan merah, sehingga tampak semakin indah menggemaskan. Suara erangan dan gerakan tubuh Lennie semakin liar, kelihatannya daerah ini juga memberikan sensasi birahi yang tak kalah behatnya dengan daerah pangkal pahanya. Ini benar-benar membuatku semakin penasaran, dan aku berjanji pada diriku sendiri, untuk menjelajahi seluruh bagian tubuh Lennie agar aku tahu bagian mana saja dari tubuhnya yang bisa menimbulkan sensasi kenikmatan dan meningkatkan gairah sex-nya.

Sambil terus mengerjai bukit-bukit indahnya itu, aku mulai menggapai sasaran lainnya. Tanganku satunya kuturunkan dan kembali menjangkau daerah V-nya. Jari-jariku kugerakkan naik turun menyusuri bibir vaginanya yang tebal itu. Dan setiap kali menyentuh tonjolan clitorisnya, kupijat-pinyat dan kutekan-tekan pelan-pelan. Lennie sepertinya sudah mulai mendekali puncak klimax-nya, tubuhnya menggeliat-geliat semakin cepat sambil merintih dan mendesis semakin keras. Pahanya dibuka semakin lebar agar tanganku lebih mudah mengeksplorasi daerah itu.

Aku semakin terpesona dengan reaksi sensualitas Lennie. Aku hampir tak percaya dengan kenyataan ini. Adikku yang tadi sore masih begitu lugu dan pendiam, sekarang berubah menjadi begitu liar dan menggairahkan. Benar-benar sulit dipercaya kalau adikku ini masih berstatus perawan. Mungkin dia memang benar-benar masih perawan, tapi ternyata secara diam-diam memiliki bakat sexualitas dan gairah birahi yang sangat tinggi sekali.

Lennie sepertinya semakin tidak sabar lagi menahan gairah birahinya yang sudah meluap-luap, dia raih kepalaku dan meremas-remas rambutku sambil berseru setengah menangis,

“Ohh, Rick, kau jangan menyiksaku lagi. Sentuh vaginaku, buatlah aku segera mencapai klimax lagi, aku.. Aku sudah tak tahan lagi, oohh..”

Rintihan Lennie itu membuat gairah Rickie semakin menggebu, jari-jari tangannya semakin aktif mengosok-gosok celah-celah vertikal dipangkal paha Lennie. Daerah lipatan yang lembut hanyat itu semakin dibanjiri dengan cairan vagina kental dan licin. Rickie benar-benar tidak paham, bagaimana vagina lennie bisa memproduksi cairan yang sepertinya tak habis-habisnya itu. Dan kepekaan daerah itu begitu luar biasanya sehingga gairah gadis ini begitu cepat bergolak hanya dengan sedikit sentuhan saja. Gerakan tubuh Lennie semakin liar, pinggulnya diangkat-angkat semakin tinggi.

“Yess.. Ooohh, aahh..”

Pada saat Lennie semakin terbuai oleh gairah birahinya, aku mencoba untuk memasukkan ibu jariku ke liang kecil itu. Kutekan-tekan ujung ibu jariku sehingga melesak masuk satu ruas. Mungkin karena gairahnya sedang demikian tingginya dan juga dibantu oleh cairan vaginanya yang licin itu, aku tidak mendapat kesulitan yang berarti untuk memasukkan satu ruas ibu jariku dan sepertinya Lennie juga tidak mengalami ataupun merasakan kesakitan.

Setelah itu dengan gerakan lambat kuputar ujung ibu jariku sambil kugerakkan naik-turun. Lennie segera merintih setengah menjerit ketika tiba-tiba merasakan sensasi baru di vaginanya yang demikian luar biasa. Kali ini hampir seluruh tubuhnya terangkat-angkat sambil tanganya meremas seperai kuat-kuat.

Aku benar-benar terkagum-kagum dengan gerakan-gerakan Lennie yang sangat merangsang, spontan, alami dan liar. Jauh lebih merangsang dari pada yang ada di film X-Rates, yang kelihatan seperti dibuat-buat dan dipaksakan. Pemandangan yang demikian menggairahkan ini membuat penisku menjadi sangat tegang sekali, bahkan sepertinya aku hampir saja membuatku orgasme, kalau aku tidak cepat-cepat mengalihkan konsentrasiku.

Disamping itu ada yang lebih penting lagi yaitu Lennie masih perawan seperti juga aku, aku tidak ingin merusak keperawanannya. Apalagi hanya dengan ujung jariku. Aku benar-benar tidak berani melangkah lebih jauh kecuali dengan seijinnya dan memang Lennie juga menginginkannya. Dan seandainya itu harus terjadi, aku menginginkannya dilakukan dengan cara dan suasana yang sangat indah dan mengesankan, sehingga akan menjadi kenangan yang paling manis dan indah dalam hidup kami berdua.

Untuk mengalihkan perhatian dan sekaligus semakin meningkatkan gairahnya, aku melakukan percobaan lain lagi. Sementara ujung ibu jariku masih mengobok-obok liang vagina lennie, jari telunjukku kugosokkan kebawah, ke lubang anusnya. Dari buku yang pernah kubaca, aku tahu bahwa lubang anus adalah juga termasuk salah satu daerah sensitif wanita. Maka ketika ujung jari telunjukku kumasukkan ke lubang anus Lennie dan menggerakkannya keluar-masuk, Lennie tersentak kaget.

“Oh, Rickiiee.. Apa yang kau lakukan? Ohh, jijik!” seru Lennie sambil mengangkat pinggulnya,
“Ooohh, tapi enak sekali, jijik.. Tapi enak, oohh.. Enak sekali kau sentuh disitu.. Ooohh yes.. Yess, ” bisik Lennie.

“Aha,” pikirku, “Aku menemukan daerah erotic baru.”

Aku sangat senang sekali atas temuan baru ini, yang tentunya akan kupraktekkan di lain kesempatan. Gairahku semakin terpacu untuk menjelajahi dan menemukan semua fantasi dan gairah sexual di tubuh adikku. Suatu hal yang tadinya tidak pernah terpikirkan olehku. Dan aku yakin, sebelum malam minggu ini berakhir, aku akan mendapatkan lagi temuan-temuan baru tentang rahasia sexual kewanitaan Lennie.

Dua ujung jariku masih terjepit kuat di dua lubang tubuh Lennie. Kugerakkan jari jari tersebut keluar-masuk lebih cepat sambil kuputar-putar. Khusus dilubang anusnya, kutusukkan jari telunjukku semaksimal mungkin sehingga jari telunjukku tenggelam semua. Sementara aku tidak berani memasukkan ibu jariku lebih dalam lagi ke liang vaginanya, karena takut merusakkan selaput daranya.

Disamping itu bibirku tidak berhenti menghisapi dan memilin-milin puting susunya serta meremas-remas bukit dadanya dengan tanganku yang lain. Kali ini Lennie benar-benar disiksa oleh serangan gencar yang datang dari berbagai penjuru. Mulutnya merintih-rintih setengah menangis sambil tubuhnya menggeliat-geliat tiada hentinya.

Ke bagian 6