Derita di Balik Kenikmatan 02

86 views

Cerita Sex

Cewe Bugil, ABG Bugil, SMP Bugil,  memek_WM

Sambungan dari bagian 01

Tiba-tiba kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan sangat kuat. Tubuhnya mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
“Ohh.. oohh.. Ibu udah mo keluar nih.. sshh.. aahh..” goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan.
“Kamu masih lama nggak Son..? Kita keluar bareng aja yuk..! Aahh..” aku tidak menjawab, aku mempercepat goyanganku.
“Aahh.. ohh.. Ibu.. keluar Sonn.. oohh.. yess..!” dia menggelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.
Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku bakal keluar tidak lama lagi.
“Aahh.. sshh..” kusemprotkan saja cairanku ke dalam liang senggamanya. Lalu kucabut kejantananku, dan terduduk di lantai.

“Kamu hebat.. udah lama Ibu nggak pernah klimaks..” katanya.
“Aaah.. capek Bu..”
“Mandi yuk..! Lengket-lengket nih jadinya..” dia berjalan ke kamar mandi dan aku mengikutinya.
Kami saling membersihkan tubuh di bawah siraman shower. Setelah mandi, kami tidur-tiduran tanpa busana, berciuman, bercumbu ringan dan saling berpelukan.

Selagi kami berdua bercanda, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kami berdua kaget, dan ternyata suami dari majikanku masuk sambil membawa pentungan.
“Kurang ajar, anak tidak tahu balas budi. Sudah diberi pekerjaan ee.., malah bertindak kurang ajar dengan istriku.” katanya sambil mengayunkan pentungan itu ke kepalaku dan, “Tuunngg..!” kepalaku terkena pukulan, lalu gelap gulita.

Sewaktu aku tersadar dari pingsan, aku membuka mata. Kulihat sekeliling, disitu terlihat orang berpakaian putih.
“Aku ada dimana..?” kataku agak lemah.
“Tenang.., saudara ada di rumah sakit.. lebih baik saudara istirahat, agar kesehatan saudara bisa pulih.”
Lalu aku tertidur lagi.

Esok paginya setelah kubangun dari tidurku, aku berniat meninggalkan rumah sakit ini, soalnya aku tidak mungkin bisa membayar biaya rumah sakit. Setelah itu aku pergi meninggalkan rumah sakit. Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah sakit. Dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di kursi taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya.

Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup cantik juga wajahnya. Dia mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar dan rendah, sehingga memperlihatkan seluruh bahu serta sebagian punggung dan dadanya yang menonjol dalam ukuran cukup besar. Kulitnya putih dan bersih, celana pendek yang dikenakan membuat pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup leluasa untuk memandangnya. Aku langsung berpura-pura memandang jauh ke depan, ketika dia tiba-tiba saja berpaling dan menatapku.

“Lagi ada yang ditunggu Mas..?” tegurnya tiba-tiba.
Aku terkejut, tidak menyangka kalau gadis ini menegurku. Cepat-cepat kumenjawab dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga kalau dia akan menyapaku.
“Tidak. Eh, Kamu sendiri..?” aku balik bertanya.
“Sama, Aku juga sendirian.” jawabnya singkat.
Aku berpaling dan menatap wajahnya yang segar dan agak kemerahan. Gadis ini bukan hanya memiliki wajah yang cukup cantik, tapi juga punya bentuk tubuh yang bisa membuat mata lelaki tidak berkedip memandangnya. Apa lagi pinggulnya yang bulat dan padat berisi. Bentuk kakinya juga indah. Entah kenapa aku jadi tertarik memperhatikannya.

“Kita jalan-jalan yuk..!” ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.
“Kemana..?” tanyaku ikut berdiri.
“Kemana saja, dari pada bengong di sini.” sahutnya.
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya dengan gerakan yang indah dan gemulai. Bergegas aku mengikuti dan mensejajarkan ayunan langkah kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa saat tidak ada yang bicara. Namun tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, karena tanpa diduga sama sekali, gadis itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu. Dan aku juga belum kenal namanya. Dadaku seketika jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya begitu halus dan lembut sekali. Dia bukan hanya menggandeng tanganku, tapi malah mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya di bahuku yang kekar.

“Eh, nama Kamu siapa..?” tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.
“Sony,” sahutku.
“Akh.., kayak nama merk TV aja,” celetuknya.
Aku hanya tersenyum saja sedikit.
“Kalau Aku sih biasa dipanggil Lilis,” katanya langsung memperkenalkan diri sendiri.
“Nama Kamu seindah orangnya.” aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.
“Eh, boleh nggak Aku panggil Kamu Mas Sony..? Soalnya Kamu pasti lebih tua dariku.” katanya meminta.
Aku hanya tersenyum saja.
“Eh, nasi pecel disana enak lho. Mau nggak..?” ujarnya menawarkan, sambil menunjuk warung di pojok kota.
“Boleh..!” sahutku.

Kami langsung menikmati nasi pecel yang memang rasanya enak sekali. Apa lagi perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Lilis banyak bercerita. Sikapnya begitu riang, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Lilis memang pandai membuat suasana jadi akrab.

Selesai makan, aku dan gadis itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang ke rumah. Tanpa diduga sama sekali, justru Lilis yang mengajakku.
“Mas.., ikut Lilis yuk..! Itu mobilku disana..” katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.
“Kamu bawa mobil..?” tanyaku heran.
“Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum,” katanya beralasan.
“Kamu sendiri..?”
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.

“Ikut Aku yuk..!” ajaknya langsung.
Belum juga aku menjawab, Lilis sudah menarik tanganku dan menggandeng aku menuju ke mobilnya. Sebuah mobil Starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya masih cukup baru. Lilis malah meminta aku yang mengemudi. Lilis langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan komplek perumahan elite. Sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Lilis menahan dan memaksaku untuk singgah.

“Ayo.., masuk dulu Mas..!” sambil menarik tanganku, Lilis memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya.
Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa laki-laki yang baru dikenalnya ke dalam kamar.
“Tunggu sebentar ya..!” kata Lilis setelah membawaku ke dalam sebuah kamar.
Kuyakin kalau ini pasti kamarnya. Sementara gadis itu meninggalkanku seorang diri, entah kemana perginya. Tapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tapi bersama dua orang gadis lain yang sebaya dengannya. Dan gadis-gadis itu juga memiliki wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan berisi.

Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke tempat tidur. Lalu mereka tiba-tiba mengikat tanganku dan kakiku hingga terbaring telentang di ranjang. Aku benar-benar terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, hingga aku tidak sempat lagi untuk melawan. Mungkin karena aku tadi bengong memperhatikan 3 cewek cantik di hadapanku.

Lalu tiba-tiba Lilis mulai melepaskan bajunya. Lilis bukan hanya menanggalkan bajunya, tapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membeliak lebar saat Lilis mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali. Akhh, tubuhnya super luar biasa bagusnya. Baru kali ini aku melihat payudara seorang gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat. Bentuk pinggulnya ramping dan membentuk bagai gitar yang siap dipetik. Bulu-bulu kemaluannya tumbuh lebat di sekitar kemaluannya. Sesaat kemudian Lilis menghampiriku, dan merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhku, hingga aku henar-benar polos dalam keadaan tidak berdaya.

Bukan hanya Lilis yang mendekatiku, tapi kedua gadis lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.
“Eh, apa-apaan ini..? Toloonngg..!” aku membentak kaget.
“Berteriaklah kamu sekuatnya.., kamar ini kedap suara.. Ohh tubuhmu sungguh ok.. Mas..!” katanya.
Lilis mulai menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga terentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Lilis saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tapi kedua gadis lainnya juga melakukan hal yang sama. Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat, seperti tersengat listrik 1 juta volt, ketika merasakan jari-jari tangan Lilis yang lentik dan halus menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang kejantananku. Seketika itu juga batang kemaluanku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat kemaluanku dikocok-kocok dengan bergairah oleh Lilis. Aku hanya bisa merasakan seluruh batang keperkasaanku berdenyut-denyut nikmat.

Aku benar-benar kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam khayalan dan mimpi-mimpiku. Aku benar-benar tidak berdaya ketika Lilis duduk di atas, dan merjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih mulus dan padat. Sementara dua orang gadis lainnya yang kutahu bernama Ratih dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan sekujur tubuhku.

Sementara itu, Lilis semakin asyik menaik-turunkan pantatnya di atas tubuhku. Meskipun ada rasa takut dalam diriku, tetapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini kejantananku merasakan kelembutan dan hangatnya lubang senggama seorang gadis, lembut, rapat dan super basah. Lilis pun merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia merintih tertahan. Lilis terus menggenjot tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya, membuatku benar-benar tidak kuasa lagi menerima kenikmatan bertubi-tubi. Aku berteriak tertahan. Lilis yang mendengarkan teriakanku ini tiba-tiba mencabut vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang kemaluanku dan melakukan gerakan-gerakan mengocok yang cepat. Hingga tidak lebih dari beberapa detik kemudian, aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa, berbarengan dengan spermaku yang menyemprot dengan derasnya. Lilis terus mengocok-ngocok batang keperkasaanku sampai spermaku habis dan tidak bisa menyemprot lagi. Tubuhku merasa ngilu dan mengejang.

Tetapi Lilis rupanya tidak berhenti sampai disitu, kemudian dengan cepat dia dibantu dengan kedua temannya menyedot seluruh spermaku yang bertebaran sampai bersih. Dia memulai kembali menggenggam batang kejantananku erat-erat dengan genggaman tangannya, sambil mulutnya juga tidak lepas mengulum kepala penisku. Perlakuannya ini membuat batang keperkasaanku yang biasanya setelah orgasme menjadi lemas, kini menjadi dipaksa untuk tetap keras, dan upaya Lilis benar-benar hebat, batang kejantananku tetap dalam keadaan keras, bahkan semakin sempurna. Lilis kembali memasukkan penisku ke dalam lubang senggamanya kembali, dan dengan cepatnya Lilis menggenjot kembali vaginanya yang sudah berisikan batangan penisku.

Aku merasakan agak lain pada permainan yang kedua ini. Kejantananku terasa lebih kokoh, stabil dan lebih mampu meredam kenikmatan yang kudapat. Tidak lebih dari sepuluh menit, Lilis tiba-tiba menjerit dengan tertahan, lalu dia menghentikan genjotannya. Matanya terpejam menahan sesuatu. Aku bisa merasakan liang senggamanya berdenyut-denyut dan menyedot-nyedot batang kemaluanku. Hingga akhirnya Lilis melepaskan teriakannya saat dia merasakan puncak kenikmatannya. Aku merasakan lubang kenikmatan Lilis tiba-tiba lebih merapat dan memanas, dan aku merasakan kepala penisku seperti tersiram cairan hangat yang keluar dari liang senggamanya. Saat Lilis mencabut vaginanya, kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan banyak di batang keperkasaanku.

Setelah Lilis baru saja mendapatkan orgasmenya, Lilis menggelimpang di sebelah tubuhku setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya. Melihat itu, Sari langsung menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih buas lagi daripada Lilis. Membuat batang kejantananku menjadi sakit dan nyeri. Hanya dalam tidak sampai satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka bergelinjang kenikmatan dengan dalam keadaan tubuh polos di sekitarku, setelah masing-masing mencapai kepuasan yang diinginkannya.

Sementara itu, aku hanya bisa pasrah.., pasrah dan pasrah, tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini. Aku hanya bisa berharap mereka cepat-cepat melepaskanku, sehingga aku bisa pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku hanya tinggal angan-angan belaka. Mereka tidak melepaskanku, hanya menutupi tubuhku dengan selimut. Aku malah ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam keadaan telentang dengan tangan dan kaki terikat tali kulit. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri. Tapi justru membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya bisa mengeluh dan berharap gadis-gadis itu akan melepaskanku.

Lalu, tiba-tiba, “Cut.., cut.., cut..! Good.., goodd goodd.., bagus sekali.. oh terima kasih sayang.”
Aku kaget sekali melihat di sekelilingku berkumpul banyak orang, dan semua wanita. Ada yang membawa kamera dan alat-alat lainnya. Ternyata aku sedang menjadi bintang film porno. Ooo.., sial lagi aku. Sudah kepala benjol, lalu diperkosa, terus aku jadi bintang BF.
“Ooo.. Mama.., Papa.., maafkan anakmu ini.” batinku.

Lalu salah seorang crew melepaskan ikatanku sambil menjilat batang kejantananku yang masih basah. Ohh sedapnya. Setelah itu aku langsung saja memakai bajuku, lalu sekuat tenaga aku berlari meninggalkan tempat laknat itu. Sesampai di jalan, aku berlari menyeberang tanpa menoleh.
Dan, “Brraakk..! Gedebukk..!” aku terbangun dan melihat diriku terbaring di bawah ranjang sambil memeluk guling kesayanganku.
“Ohh.., hee.. hhee.. hii.. hii.., ternyata gue lagi bermimpi. Sorry.. yee..”

TAMAT