Derita di Balik Kenikmatan 01

93 views

Cerita Sex

Cewe Bugil, ABG Bugil, SMP Bugil,  memek lebat_WM

Aku lari dari rumah karena tidak tahan melihat rumah tangga orang tuaku yang berantakan. Terus aku ingin hidup mandiri. Aku melamar menjadi pembantu di rumah orang kaya. Majikanku yang lelaki umurnya 50 tahun, dia direktur perusahaan swasta, sementara istri pertamanya sudah meninggal, sedangkan istri keduanya jauh lebih muda dari dia, dia juga direktris di perusahaan swasta. Anak majikanku dari istri pertama dua orang, keduanya sudah menikah dan tinggal di tempat lain. Sedangkan dari istri keduanya baru satu, masih kecil sekitar 2 tahun. Memasuki bulan kedua aku bekerja, majikanku yang wanita sering pulang cepat dari kantor. Biasanya dia pulang pukul 5 sore. Suatu hari dia pulang cepat (jam 9 pagi), tubuhnya nampak lemas.

Aku sedang mandi ketika nyonyaku itu memanggilku.
“Son..!” panggilnya.
Aku terburu-buru meninggalkan kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di tubuhku. Tertegun nyonyaku waktu melihatku berdiri di hadapannya dengan hanya memakai handuk. Aku baru sadar kalau dia memandangi tubuhku yang kekar, mungkin hal ini membuat dia menjadi terbayang akan hal jorok.

“Ada apa Bu, Ibu kok kelihatan sakit?”
“Iya nich.., pundak Ibu agak sakit.”
“Kenapa nggak minta tolong Inem untuk memijit Ibu..?”
“Iya sich, tapi Inem lagi ke pasar.”
“Kalau mau.., Saya bisa bantuin pijit sebentar Bu, supaya bisa agak baikan.”
“Boleh dech..”
Lalu saya pijat pundaknya sebentar, kelihatannya sih tidak terlalu banyak masalah dengan pundaknya.

“Wah nikmat juga ya pijatanmu, sebenarnya punggung Ibu juga agak keseleo sedikit.”
“Ibu mau dipijitin punggungnya, tapi kalau pijit punggung harus sambil tidur karena posisinya susah kalau sambil berdiri.” kataku.
“Boleh saja.., kalau begitu Kita ke kamar Ibu saja ya..? Yuuk..!” katanya.
Saya ikuti langkahnya menuju kamar dia. Sampai di kamar, langsung saja dia tidur telungkup di tengah tempat tidur.
Lalu, “Son, langsung saja Kamu naik di tempat tidur dan pijitin Ibu, kalau butuh minyak gosok, itu ada di meja rias Ibu.”

Saya ambil minyak gosok yang dimaksud dan menuju ke tempat tidurnya, lalu, “Bu, bajunya tolong dibuka bagian atasnya supaya Saya bisa pijit punggung Ibu.”
Terus dia bangun lagi dari tempat tidurnya dan melepas dasternya. Ternyata di balik dasternya itu sudah tidak ada apa-apa lagi, alias full bugil. Saya hanya bisa bengong saja melihat pemandangan yang aduhai ini, body-nya termasuk lumayan bagus, dengan payudaranya yang tidak terlalu besar dan putingnya yang tegak menantang berwarna coklat kemerahan. Bulu kemaluannya yang di potong pendek dan rapih berbentuk segitiga, dan pantatnya yang montok terlihat jelas. Karena bodinya yang yahut itu, langsung tegang batang kejantanan saya dibuatnya. Dia tersenyum saja melihat saya terkesima memandangi tubuhnya.

“Son, jangan bengong achh, cepet bantuin Ibu.” katanya manja.
“Son, cepet saja tuh handuknya dilepas, lihat tuch yang di dalam sudah pingin nongol lihat temennya..!” katanya.
Karena saya hanya pakai handuk yang dililitkan, tentu saja batang kejantanan saya yang sudah tegang berat muncul dari lilitan dan kelihatan kepala kemaluan saya. Melihat saya masih bengong saja, dia dekati saya sambil menarik lilitan handuk saya. Begitu handuk saya lepas, penis saya langsung mengacung.

“Son, gede juga ya kontolmu,” sambil dipijit-pijit dengan lembut dan dia jilati batang kejantanan saya dan sekali-sekali memasukkan penis saya ke mulutnya sampai setengahnya, saya sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi karena rasanya nikmat sekali.
“Bu, jadi nggak punggungnya dipijit..?” kataku selagi batang kemaluanku dihisap-hisap oleh mulutnya.”Oh.. ya. Ibu jadi lupa..” katanya sambil telungkup di tempat tidur.
Lalu, aku mulai memijat punggungnya.

“Kamu udah punya pacar Son..?” tanyanya memecah keheningan.
“Belum Bu..”
“Wah.., Kamu masih perawan dong..?” katanya bercanda.
Aku hanya tersenyum saja menjawab pertanyaannya.
“Turun dikit Son..!” aku pun menurunkan pijatanku dari bahu ke punggungnya.
“Kamu duduk aja di atas pantat Ibu.., supaya bisa lebih kuat pijitannya..!”
Aku yang semula mengambil posisi duduk di sampingnya, sekarang duduk di atas pantatnya.

“Unghh.. badan Kamu berat sekali..” dia mendengus tertahan waktu aku duduk di atas pantatnya.
“Hehehe.. tapi katanya suruh duduk disini..?” cuek saja aku melanjutkan pijatanku.
Batang kejantananku sudah terasa menegang sekali. Karena tekanan tubuhku ke depan, maka sesekali batang kejantananku masuk ke belahan pantatnya. Aku merasa nikmat dan hangat sewaktu penisku kutekan ke pantatnya.
“Iiihh.. nakal ya..” katanya sewaktu merasakan batang keperkasaanku menekan-nekan pantatnya.
“Udah belom Bu..?” kataku setelah beberapa jam memijat punggungnya.
“Iyah.. Kamu berdiri dulu deh.. Ibu mo balik..”
Aku berdiri dan dia sekarang berbalik posisi. Sekarang aku bisa melihat wajahnya yang cantik dengan jelas, payudaranya yang masih kencang itu berdiri tegak di hadapanku. Aku sampai terbengong beberapa detik dibuatnya.

“Hey.. pijit bagian depan dong sekarang..!” katanya.
“Lho.., katanya disuruh mijit punggung, kok sekarang tambah lagi sih Bu..?” kataku.
“Udah cepet.., pijit buah dadaku ini.. cepet gih..!” katanya manja.
Lalu kududuk di atas pahanya, kupijat dan kuremas dengan lembut kedua buah dadanya. Lalu kupuntir-puntir puting susunya dengan jari-jariku.
“Ihh.. geli.. hihihihi..” cekikikan dia.
“Udah Son, sekarang bagian memek Ibu.. ya..?”

Terus dia membuka lebar kedua pahanya, maka terlihatlah dengan jelas vaginanya dengan bulu-bulu halus yang dicukur dengan rapih membentuk segitiga di sekitarnya.
“Udah pernah lihat memek belum Kamu Son..?” tanyanya karena heran melihatku bengong.
“Ehh.. nggak kok Bu.. baru sekali ini..” nafasku sudah memburu, kata-kata pun sudah sulit kuucapkan dengan tenang.
Kulihat nafas dia juga sudah mulai memburu, berkali-kali dia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.

Lalu, “Jilatin memek Ibu dong Son..!” katanya memelas.
Mulanya aku ragu-ragu, tapi kudekatkan juga kepalaku ke liang senggamanya. Tidak ada bau tidak enak sama sekali, dia rajin menjaga kebersihan vaginanya kukira. Kujulurkan lidahku menjilati dari bawah menuju ke pusar. Beberapa menit aku bermain-main dengan bibir vaginanya. Dia hanya bisa mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat dia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya. Beberapa saat kemudian dia meronta dengan kuat.

“Aaahh.. ohh yess.. aargghh..” dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan kepalaku supaya menempel lebih kuat lagi ke liang senggamanya dengan dua tangannya. Aku susah bernafas dibuatnya.
“Lagi.. arghh.. klitorisnya Sonn.. sshh.. yah.. yah.. lagi.. oohh..” makin menggila lagi dia ketika aku mengulum klitorisnya dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut.
Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang kenikmatannya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. Vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di permukaan liang senggamanya dengan cepat dan kasar. Lalu dia menegang, dan tenang.

Saat itu juga, aku merasa cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari liang senggamanya. Aku jilati semuanya.
“Ohh.. Kau.. bener-bener hebat Sonn.. lemes Ibu.. aahh..” dia terbujur lemas setelah melalui setengah jam yang melelahkan itu.
Aku hanya tersenyum. Perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi tempat tidur, kubuka pahanya selebar-lebarnya dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Bibir kemaluannya sekarang terbuka lebar. Nampaknya dia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu dia sadar, batang kejantananku sudah menempel di bibir vaginanya.

“Ohh..” dia hanya bisa menjerit tertahan.
Lalu dia pura-pura meronta tidak mau. Aku juga tidak tahu bagaimana cara memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Aku sering lihat di film-film, dan mereka melakukannya dengan mudah. Tapi ini sungguh berbeda. Lubangnya sangat kecil, mana mungkin bisa masuk pikirku. Tiba-tiba kurasakan tangannya memegang batang kejantananku dan membimbing senjataku ke liang kenikmatannya.

“Tekan disini Son.. pelan-pelan yah.. punya Kamu gede banget sih..!” pelan dia membantuku memasukkan penisku ke dalam liang surganya.
Belum sampai seperempat bagian yang masuk, dia sudah menjerit-menjerit kesakitan.
“Aahh.. sakitt.. ooh.. pelan-pelan Son.. aduuh..” tangan kirinya masih menggenggam batang penisku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras.
Sementara tangan kanannya meremas-remas kain sprei, kadang memukul-mukul tempat tidur. Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang senggamanya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangannya membuat penisku susah untuk masuk lebih ke dalam lagi. Aku menarik tangannya dari batang keperkasaanku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya.

Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi.
“Aduhh.. sakkitt.. oohh.. sshh.. lagi.. lebih dalam Sonn.. aahh” kembali dia mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya batang keperkasaanku ke dalam. Kembali dia menjerit dan meronta dengan buas. Aku diam sejenak, menunggu dia supaya agak tenang. Aku lalu menggoyang penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Dia terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis, sambil memejamkan mata.

Bersambung ke bagian 02