Linda, Cikgu dari Malaysia – 4

94 views

Cerita Sex

Cewe Bugil, ABG Bugil, SMP Bugil,  dada montok_WMDari bagian 3

Akhirnya jam setengah delapan malam, Linda pun berpamitan pulang dan berjanji besok sore akan kembali lagi untuk mengulangi dan menambah pengalamannya dalam bercinta. Kusampaikan besok tunggu saja SMS dariku, mungkin sampai agak sore pertemuan dengan rekanan akan selesai. Iapun setuju dan setelah kuberikan ciuman ganas yang lama, maka iapun keluar dari kamar untuk kembali ke penginapannya. Malam ini masih ada acara di pertemuan yang diikutinya.

Esoknya aku melakukan pertemuan untuk membicarakan pekerjaan dengan rekanan bisnis dari perusahaan di KL. Pertemuan berjalan lancar, apalagi person yang menangani masalah ini berasal dari Indonesia dan sudah lima tahun bekerja di KL. Agaknya kesamaan asal-usul negara sangat membantu dalam pembicaraan kami. Draft kerjasama sudah kami selesaikan, hanya mungkin ada perubahan redaksional saja. Besok atau lusa mungkin konsep MOU sudah final.

Rekanan dari KL minta maaf kalau nanti malam ia tidak dapat menemaniku berjalan-jalan sekedar menikmati suasana KL karena ia ada pertemuan dengan pimpinannya untuk proyek lainnya. Ia menawarkan sopir untuk menemaniku berjalan-jalan. Kuterima saja tawarannya, toh kalaupun Linda datang aku bisa menyuruhnya kembali. Akupun memahami dan bahkan bersyukur, karena akupun sudah berjanji untuk memberikan pelajaran sesion kedua untuk Linda, sang cikgu.

Jam 15.00 waktu setempat, pertemuan selesai dan aku langsung kirim SMS ke Linda, “5 pm, OK”. Tak lama balasan dari Linda pun sampai, “OK”.

Jam 5 kurang lima belas menit aku sudah siap di lobby. Sopir kusuruh tunggu sebentar. Tak lama kulihat Linda sudah ada di depan pintu hotel. Kusambut dia di depan pintu. Kali ini ia mengenakan celana panjang hijau dan kaus ketat warna hitam yang ditutup dengan blazer sewarna dengan celananya. Namun dadanya sekilas terlihat membusung di balik lazernya.

“Linda, boleh temani Anto berjalan-jalan ke?” kataku sekaligus mengajaknya. Sengaja aku tak memanggil dia dengan sebutan kakak lagi. Sejenak ia ragu, namun kemudian kubisikkan,”Kita punya waktu sampai pagi. Kuberikan overtime kalau masih kurang”.

Ia tersipu-sipu dan akhirnya menyetujui usulku. Kami akhirnya keliling-keliling KL dan sempat makan malam di pusat jajanan di KL. Kami pilih masakan India yang kaya rempah, sekaligus persiapan untuk nanti malam. Selesai makan kamipun kembali ke hotel dan sopir kusuruh pulang setelah kuberikan sedikit tip. Kubilang besok jemput saja pukul 08.00 pagi.

Agar tidak mencolok, kami naik ke kamar dengan lift yang berbeda. Aku masuk duluan ke kamar tanpa mengunci pintu. Linda tak lama kemudian sudah menyusulku masuk ke kamar.

“Macam mana kesan Anto di KL ni?” tanyanya.
“Waduh, saya baru sekali ke sini dan baru keliling bersama Linda tadi. Sekilas saja kesan saya KL adalah sebuah kota yang maju dengan penduduk yang tertib dan ramah. Apalagi malam ini saya boleh tidur ditemani perempuan cantik macam Linda. Kita lansung start saja ke?”

Ia mengangguk dan tersenyum manis. Aku ke kamar mandi sebentar sambil sekalian mencuci penisku dengan sabun dan mengusap rambut kemaluanku dengan cologne.

Ia membuka blazernya. Dadanya yang membusung seakan menantangku untuk meremasnya. Dengan berciuman dan dalam posisi berdiri kami sudah menanggalkan pakaian kami dengan perlahan-lahan. Kami hanya mengenakan pakaian dalam saja. Tanganku menyusup ke balik bra-nya dan meremas gundukan daging lembut di dalamnya. Putingnya mulai mengeras di tanganku.

Kulepaskan pelukanku dan kumatikan lampu kamar seluruhnya. Kubuka korden sehingga cahaya lampu teras menerobos masuk membuat kamar menjadi remang-remang. Kurebahkan Linda dengan perlahan ke atas ranjang dan aku menyusul berbaring di sampingnya. Kuciumi dengan lembut mulai dari kening, pipi, dagu, leher dan dadanya. Dengan sedikit gerakan, maka bra-nya kemudian sudah terlempar di sudut kamar. Kami pun kemudian saling membantu untuk melepaskan celana dalam. Kini tubuh kami berdua sudah tanpa penutup selembar benangpun.

Linda menindihku, ia memainkan lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku. Bibirnya masih agak kaku. Ia memang kurang mahir dalam berciuman, maklum suaminya tidak pernah mengajarinya. Tangan kananku memilin puting serta meremas payudaranya.

Linda menggerakkan tubuhnya agak ke atas. Payudaranya pas sekali di depan mulutku. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya yang coklat kemerahan kuisap pelan dan kugigit kecil.

“Aaacchhh, Ayo Anto… Teruskan Anto… Teruskan,” ia mengerang..

Kejantanaku sudah berdiri dan mengeras. Puting dan payudaranya semakin keras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku, putingnya kumainkan dengan lidahku. Dadanya mulai naik turun dengan cepat pertanda nafsunya mulai naik. Napasnya terputus-putus.

Tangan Linda menyusup di celah selangkanganku, kemudian mengelus, meremas, mengocok dan menggoyang-goyangkan kejantananku. Linda menggerakkan bibirnya ke arah leherku, menyapu, mengecup, menjilati leherku dan menggigit kecil daun telingaku. Hembusan napasnya terasa kuat. Ia menjilati putingku dan tangannya bermain-main dengan bulu dadaku.

Tangan kiriku bermain di antara selangkangannya. Rambut kemaluannya kutarik lembut. Kubuka bibir vaginanya. Jari tengahku masuk sedikit dan mulai menekan bagian atas organ kewanitaannya pada tempat menonjol seperti kacang. Setiap aku mengusapnya Linda mengerang keras.

“Oouuhh… Aaauhhh… Ngngnggnghhhk”

Kulepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulutnya semakin ke bawah, menjilati bulu dada dan perutku. Tangannya masih bermain-main di kejantananku. Dengan bahasa tubuh kuisyaratkan agar ia mau melakukan oral sex. Dia tersenyum dan bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku.

Mulutnya kemudian sudah mencium dan menjilati batang penisku. Perlahan namun pasti peniskupun bereaksi dan menjadi keras maksimal. Tangannya mengocok penisku sementara lidahnya mulai menjilat kepala penisku. Aku tersentak ketika lidahnya mengelitik lubang penisku. Kuremas rambutnya dan kutekan kepalanya agar penisku bisa masuk semuanya ke dalam mulutnya. Tangannya mengusap kantung zakarku sampai dekat di bagian anusku.

Linda memutar tubuhnya sehingga kami bisa saling menstimulir alat kelamin kami. Ia semakin liar dan bersemangat menghisap penisku dan tangannya meremas kantung zakarku. Secara bergantian tangan dan mulutnya mengeksplorasi batang dan kantung penisku. Kami saling memekik perlahan ketika kenikmatan yang kami dapatkan melebihi kenikmatan biasanya.

Kususupkan lidahku untuk memberikan tekanan pada klitorisnya. Klitorisnya kelihatan merah dan agak membesar. Tanganku membuka bibir vaginanya dan mengusap bagian dalam vaginanya. Dua jariku kadang kumasukkan dalam lubang guanya bergantian dengan lidahku. Beberapa saat kami masih dalam posisi demikian.

Linda kembali bergerak memutar sehingga kami dalam posisi berhadapan. Tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri maksimal. Kugulingkan badannya sehingga aku berada di atas. Kembali kami berciuman dengan ganas.

Aku bergerak menyamping sehingga aku bisa mengisap putingnya dan iapun bisa mengisap putingku. Kuisap-isap puting susunya sehingga dia mendesis dan memekik perlahan dengan suara sengau.

“SShhh… Ssshhh… Ngghhh..

Digigitnya putingku perlahan sehingga kini giliranku mendesis-desis. Kuambil posisi untuk memulai permainan yang sesungguhnya. Perlahan lahan kuturunkan pantatku sambil memutar-mutarkannya. Penisku bagian ujungnya lebih besar daripada pangkalnya. Kepala penisku digenggam dengan telapak tangannya, dan digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa hangat dan mulai berair. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya.

Kutepiskan tangannya dari penisku. Aku ingin memasukkan penisku ke dalam vaginanya tanpa bantuan tangan, hanya dengan aksi penisku saja. Linda merenggangkan kedua pahanya dan sedikit mengangkat pantatnya. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir luarnya sampai terasa keras sekali. Linda hanya merintih dan memohon padaku untuk segera memasukkannya semua.

“Ayolah Anto, please… Pleassse…”

Kukencangkan otot PC-ku dan mencoba untuk menusuk lebih dalam.

“Ouhhh… Anto… Ouhhh,” Linda setengah berteriak.

Aku bergerak naik turun. Perlahan-lahan saja kugerakkan. Linda mengimbangi dengan memutar pinggulnya. Kepalanya mendongak ke atas dan bergerak ke kanan kiri. Kedua tanganku bertumpu menahan berat badanku. Ketika lendirnya sudah membasahi vaginanya kupercepat gerakanku. Kadang-kadang kubuat tinggal kepala penisku saja yang menyentuh mulut vaginanya.

Kuhentikan gerakanku, kurebahkan tubuhku di atasnya. Kini penisku kukeraskan dengan cara seolah-olah menahan kencing hingga terasa mendesak dinding vaginanya. Aku menunggu agar ia juga melakukan kontraksi dinding vaginanya. Lindapun kemudian membalasnya dengan denyutan pada dinding vaginanya. Kami saling merintih ketika setiap otot PC kami berkontraksi. Beberapa saat kami dalam posisi itu tanpa menggerakkan tubuh, hanya otot kemaluan saja yang bekerja sambil saling berciuman dan memagut bagian tubuh lawan main kami.

“Anto, … Sedap… Nikmat… Ooouuuhhh” desisnya sambil menciumi leherku.

Kugerakkan kaki kanannya melewati kepalaku sehingga aku berada di belakangnya. Kuputar tubuhnya lagi sampai aku menindihnya dalam posisi tengkurap di ranjang. Dalam posisi ini gerakanku naik turunku menjadi bebas. Tangannya meremas-remas tepi ranjang. Kuciumi tengkuk dan lehernya. Kepalanya terangkat dan mulutnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan sebuah ciuman. Kuatur gerakanku dengan ritme pelan namun kutusukkan dengan dalam sampai kurasakan kepala penisku menyentuh mulut rahimnya. Ketika penisku menyentuh rahimnya Linda mengangkat pantatnya sehingga tubuh kami merapat.

Kupegang pinggulnya dan kutarik sehingga pantatnya terangkat ke belakang. Linda menyesuaikan keinginanku. Kepalanya ditaruh di atas bantal dan pantatnya menggantung dalam posisi nungging. Kupegang pinggulnya dengan kuat. Pantatku kugerakkan maju mundur dan terkadang memutar. Linda mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya maju mundur dan berputar menentang arah putaranku. Kujulurkan tanganku ke depan untuk menjangkau dan meremas payudaranya.

“Anto… Ayo lebih cepat lagi… Ayooo”

Kupercepat gerakanku dan Linda juga mengimbanginya. Kira-kira sudah setengah jam lebih kami bertempur. Kurasakan sebentar lagi akan kutuntaskan permainan ini.

“Lebih cepat lagi, ooohhh… Aku mau pancut… Keluar aaacchhkkk…”

Akupun merasa ada yang mau terlepas dari laras meriamku. Kucabut penisku dan kugulingkan lagi tubuhnya kembali dalam posisi konvensional. Kumasukkan kembali penisku dengan perlahan dan dengan ketegangan yang penuh. Linda memelukku erat. Kakinya membelit pahaku, matanya terpejam, kepalanya terangkat.

Kuubah gerakanku, kugerakkan dengan pelan dan ujung penisku saja yang masuk beberapa kali. Dan kemudian kutusukkan sekali dengan cepat sampai seluruh batang terbenam. Matanya semakin sayu dan gerakannya semakin ganas. Aku menghentikan gerakanku dengan tiba-tiba. Payudaranya sebelah kuremas dan sebelah lagi kuhisap kuat-kuat. Tubuh Linda bergetar.

“Ayo jangan berhenti, teruskan… Teruskan lagi” pintanya.

Aku merasa wanita ini hampir mencapai puncak. Kugerakkan lagi pantatku dengan gerakan yang cepat dan dalam. Bunyi seperti kaki yang berjalan di tanah becek makin keras bercampur dengan bunyi desah napas yang memburu.

Crrok crok crok…

“Ayolah Anto, aku mau… Sampai…”.

Gerakan pantatku semakin cepat dan akhirnya

“Sekarang… Sayang… Sekarang… !!”

Tubuhnya menegang, dinding vaginanya berdenyut kuat, napasnya tersengal dan tangannya mencakar punggungku. Kukencangkan otot PC-ku dan kutahan, terasa seperti ada aliran yang mau keluar. Aku berhenti sejenak dalam posisi kepala penis saja yang masuk vaginanya, kemudian kuhunjamkan cepat dan dalam.

Crot… Crottt… Crott kutembakkan spermaku. Kami saling berteriak tertahan untuk menyalurkan rasa kepuasan.

“Yesss… Achhh… Auuhhhkkk,”

Pantatnya naik menyambut hunjamanku dan tubuhnya gemetar, pelukan dan jepitan kakinya semakin erat sampai aku merasa sesak, denyutan di dalam vaginanya terasa kuat sekali meremas kejantananku. Kucium bibirnya dengan ganas dan akhirnya melembut seiring dengan meredanya denyutan pada kemaluan kami.

Beberapa saat aku diam beristirahat di atas tubuhnya tanpa mencabut penis untuk memulihkan tenaga. Lima menit kemudian kucabut penisku dan kami membersihkan diri di bawah shower dan kemudian berendam bersama di bathtub sambil bercumbu ringan. Namun kemudian cumbuan kami berubah menjadi cumbuan yang panas dan bergairah. Kuraih tutup bathtub dan kucabut. Perlahan-lahan permukaan air dalam bathtub menurun. Ketika air hampir kering barulah Linda sadar bahwa tutup bathtub telah kucabut.

“Anto ingin kita bermain sex di sini ke?” tanyanya.

Aku tak menjawab, hanya mulutku yang bekerja mengisap putingnya yang kembali mengeras. Akhirnya dalam posisi Linda di atas kami menuntaskan satu ronde permainan di dalam bathtub.

Setelah membersihkan diri kembali maka kami berdua berbaring di ranjang dalam keadaan telanjang dan berpelukan. Sepanjang sisa malam itu kami melakukan dua ronde lagi. Sekali menjelang tengah malam dan sekali lagi menjelang pagi. Kuberikan ia puncak ekstra sehingga dalam dua ronde tersebut ia telah mengejang empat kali.

Paginya iapun keluar dari kamarku dan kami membikin janji untuk kembali berpacu dalam birahi nanti malam. Dua malam berikutnya lagi masih kami isi dengan sambung raga sampai ketika permainan terakhir menjelang pagi pada malam terakhir aku sudah mencapai orgasme tanpa memuntahkan peluru lagi. Peluruku sudah kosong dihabiskan oleh Linda.

Aku pulang ke Jakarta dengan berbagai perasaan. Rasanya seperti bermimpi saja kejadian ini. Kami masih saling mengirim E-mail, namun tidak tahu kapan kami bisa bermandi keringat dan mengejang bersama-sama.

E N D