Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu – 3

94 views

Cerita Sex

Artis Bugil, ngentot_WMDari Bagian 2

“Ouffss.. Lebbih cepat dong Ris.. Aahh..” desah Mbak Elga.

Tetapi aku tetap menggerakkan punggungku pelan-pelan, karena aku memang benar-benar ingin menikmati tiap detik bercinta dengan bidadari cantik ini.

“Oohh.. Please.. Yang cepat Riss.. Ahh.. Pleasee..” kata Mbak Elga terus merengek.
“Kenapa sih Mbak? Udah gatel banget ya..” godaku.
“Kamu nakal Ris.. Ohh.. Please..” desah Mbak Elga sambil mencubit pinggangku tetapi aku tidak mempedulikan permintaannya.

Tiba-tiba Mbak Elga membalikkan badan sehingga kini ia yang berada di atas. Lalu ia bangkit dan duduk di atas pahaku. Rupanya wanita cantik ini benar-benar sudah tidak tahan.

“Kamu nakal Ris..” katanya sambil mengarahkan memeknya ke arah penisku.

Digenggamnya penisku dengan tangannya, lalu dengan perlahan ia menurunku pinggulnya, dan tak lama kemudian penisku telah amblas ditelan bibir vaginanya. Dengan posisi agak membungkuk, tangannya berpegangan di atas dadaku untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ini adalah posisi favoritku, seperti halnya ketika aku bercinta dengan Mbak Yuni. Dengan posisi ini aku bisa melihat dengan leluasa ekspresi seorang wanita yang sedang dikuasai birahi dan sedang meniti tangga nafsu menuju puncak kenikmatan.

Mbak Elga menggerakkan pinggulnya naik turun sampai sebatas leher penisku dengan tempo yang cepat. Karena terlalu cepat, kadang-kadang penisku lepas dari jepitan memeknya, sehingga ia terpaksa memasukkanya lagi. Mulutnya mendesis-desis sambil menggigit bibir bawahnya dengan giginya yang putih bersih. Matanya yang sayu sesekali melirik ke arahku. Wajahnya dipenuhi keringat. Sungguh sexy! Sepasang buah dadanya yang indah dengan puting coklat kemerahan yang mengacung ke depan tergoncang-goncang menggemaskan, membuatku tak tahan untuk tidak menjamahnya. Kuremas lembut kedua buah dada yang kenyal itu, sambil sesekali kupelintir puting susunya.

“Ohh.. Aagghh.. Sshh.. Aahh.. Enak nggak Ris..” jeritnya nikmat.
“Ohh.. Iya Mbak.. Teruss..” kataku yang juga dilanda rasa nikmat.

Setelah kurang lebih 5 menit, kurasakan ada gejolak dalam diriku yang mencari jalan keluar. Kulihat Mbak Elga pun semakin dikuasai nafsu birahi. Keringat semakin mengucur deras dari seluruh tubuhnya. Ia menghentikan gerakan pinggulnya sambil merebahkan badannya di atas badanku.

“Aku nggak kuat lagi Ris.. Beri aku sekarang ya.. Please..” katanya penuh harap.

Aku lalu membalikkan badannya sehingga kembali ia kutindih dibawah. Aku mulai memompa memeknya dengan cepat karena akupun juga ingin segera mencapai puncak kenikmatan. Terdengar bunyi berkecipak dari gesekan penis dan memeknya, terdengar indah, menggairahkan.

“Aahh.. Ssthh.. Aarghh.. Come on baby.. Yess.. Lebih cepat..” rintihnya sambil mempercepat gerakan pinggulnya mengimbangi gerakan pinggulku.

Setelah berjuang beberapa lama, akhirnya Mbak Elga mendapatkan yang diinginkannya. Puas rasanya melihat Mbak Elga orgasme sambil menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Ia menghentak-hentakkan kakinya seperti ingin melepaskan sesuatu yang seakan teramat berat. Ia menjerit-jerit dan mengerang-ngerang keras melampiaskan kepuasan yang baru saja diraihnya. Ia gigit pundakku dengan gemas. Pinggulnya terangkat ke atas, tangannya mencengkeram pantatku yang ditekannya ke arah bawah.

“Oh my god, oh my god.. Oggh.. Yess.. Aaww, sshh.. Aahh..” Mbak Elga mengerang kenikmatan dan menjerit panjang.

Kurasakan cairan orgasmenya menyiram batang penisku yang terjepit di dalamnya. Kuhentikan sejenak gerakan pinggulku untuk memberikan kesempatan ia menikmati hasil perjuangannya. Beberapa detik lamanya ia dilandai puncak birahi, kurasakan jepitan memeknya kuat seakan-akan meremas-remas penisku. Kini kurasakan badai kenikmatan yang melandanya mulai reda, kucumbu bibirnya yang masih mendesis-desis merasakan sisa-sisa kenikmatan.

Aku yang juga segera ingin mendapatkan seperti apa yang baru diraih Mbak Elga, apalagi ditambah jepitan liang vaginanya membuatku tak kuat lagi untuk menahannya. Aku mulai menggerakkan pinggulku lagi dengan perlahan lalu kupercepat dan tak lama kemuadian akupun tak kuasa lagi untuk menahannya.

“Aku mau keluar Mbak.. Ahh.. Sstt..” desahku.
“Keluarin di dalam aja Ris.. Ayo sayangg..” Katanya sambil menggoyangkan pinggulnya.

Akhirnya air maniku keluar dengan deras menyembur ke dalam rahimnya. Crat.. Crat.. Kurasakan beberapa kali dan liang vagina itupun semakin banjir, terasa hangat. Kurasakan penisku tegang hebat, serasa memenuhi lubang memek Mbak Elga. Nikmat luar biasa serasa terbang di angkasa.

Aku terbaring lemas di atas tubuh Mbak Elga. Aku cumbu bibirnya sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami raih. Kubelai rambutnya sambil kuusap pipi halusnya yang penuh dengan keringat. Penisku terasa mengecil di dalam liang vaginanya. Kurasakan dua buah dadanya menekan lembut dadaku.

Beberapa saat kemudian aku turunku badanku dan tidur di samping badan wanita cantik ini. Mataku menerawang ke langit-langit kamar dan membayangkan kenikmatan yang seolah-olah aku tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi. Kulihat Mbak Elga juga menerawang, aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya.

“Thanks Mbak..” kataku sambil berusaha mengecup bibirnya. Tetapi ia menepis wajahku dengan tangannya sambil bangkit lalu duduk di tepi ranjang sambil menutupi tubuh indahnya dengan selimut. Ia menangis.

Aku tentu saja terkejut dan bertanya-tanya dalam hati, apakah dia menyesal dengan apa yang baru saja ia lakukan? Aku mendekat lalu duduk di sampingnya. Kututupi penisku yang terkulai lemah tak berdaya dengan bantal.

“Mbak Elga.. Ada apa? Mbak nyesel ya dengan apa yang kita lakukan?” tanyaku. Ia hanya menggelengkan kepala sambil masih menangis.
“Trus kenapa Mbak?”
“Aku nggak nyesel, aku tahu ini akan terjadi.. Sejak suamiku tugas di Jakarta, terus terang Ris.. Aku kesepian. Kalau hanya seminggu sekali kami berhubungan seks, itu kurang bagiku Ris.. Saat aku lagi pengen dan nggak ada pelampiasan, kepalaku pusing, aku jadi gampang uring-uringan, gampang marah. Aku kasihan sama si kembar. Aku jadi sering marah-marah sama mereka hanya karena hal-hal sepele” katanya berpanjang lebar sambil mengusap air matanya.
“Aku coba mencari pelampiasan dengan masturbasi, tapi itu nggak cukup, aku nggak puas. Muncul dalam benakku untuk mencari pelampiasan ke lelaki lain, tapi aku nggak tahu dengan siapa dan aku harus mencari kemana, aku nggak punya teman di sini. Pas aku ketemu dengan kamu dan makan di KFC, dalam hatiku aku ingin mengajakmu bercinta, karena aku tak tahu lagi dengan siapa aku akan melampiaskan nafsuku ini, tapi kata-kata itu terasa sulit keluar dari mulutku. Masih ada gejolak dalam batinku. Aku juga ragu, karena kulihat kamu orangnya sopan..” katanya lalu ia terdiam sejenak.
“Aku tahu ini akan terjadi.. Aku tak bisa menahannya lagi.. Sudahlah Ris, aku harus menjemput Si Kembar” katanya sambil berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi dengan telanjang badan, aku melihatnya dari belakang, bokongnya yang indah seakan menantangku. Horny lagi aku jadinya. Ingin rasanya aku mendekapnya dari belakang lalu membopong tubuh indahnya ke kamar mandi dan menyetubuhinya lagi, tetapi suasana tidak memungkinkan.

Aku memakai pakaianku yang berserakan di lantai lalu aku menunggu Mbak Elga sambil menonton teve. Mimpi apa aku semalam, kok dapat rejeki kayak gini, rencana cuma PDKT dulu sama Mbak Elga, malah dapet apa yang aku incar. Tak lama kemudian ia datang dan duduk di sampingku. Wajah cantiknya terlihat segar, badannya pun harum.

“Nih buat kamu” kata Mbak Elga sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.
“Buat apa Mbak? Kataku.
“Ya buat yang tadi..”
“Nggak Mbak, aku nggak perlu itu”
“Ris.. Kamu harus mau menerima uang ini. Aku mau hubungan antara kita hanya sebatas nafsu saja. Aku nggak mau ada perasaan apa pun di antara kita. Bagiku cintaku tetap untuk keluarga. Aku melakukan ini, merendahkan diriku, semua ini demi anakku. Apapun dan bagaimanapun keluarga tetap nomor satu bagiku. Aku mau kamu melakukannya lagi sampai suamiku kembali ke Semarang nanti, setelah itu hubungan kita berhenti, kamu mengerti kan?” Katanya sambil menyelipkan uang tersebut ke saku bajuku.
“Iya Mbak, aku mengerti..” kataku.

Aku lalu pulang dan Mbak Elga pergi menjemput anaknya. Sejak saat itu hingga kini ia memintaku melayaninya paling tidak seminggu sekali, tetapi paling sering seminggu dua kali sampai suaminya kembali bertugas di Semarang yaitu pada awal Januari 2005. Ia cuma meminta satu syarat, jangan membuat cupang di tubuhnya, karena suaminya pasti akan curiga.

Agar tetangga tidak curiga dengan hubungan kami, aku bersembunyi di jok belakang mobilnya. Ia menjemputku sehabis ia mengantar anaknya ke sekolah dan membawaku keluar waktu ia mau menjemput anaknya. Kami janjian lewat SMS, tempat kami bertemu juga berpindah-pindah agar aman. Demi Mbak Elga aku bela-belain liburan semester tidak pulang. Aku bilang ke orang tua bahwa aku ikut semester pendek.

Moral dari cerita ini adalah setiap kebaikan pasti akan mendapat balasan yang setimpal, bahkan mungkin berlipat-lipat, seperti yang aku alami. Cuma membantu mengambil belanjaan yang jatuh, aku mendapat kesempatan bercinta dengan bidadari secantik Mbak Elga. Di samping itu aku juga dapat tambahan uang saku.

E N D