Pengalaman Pertamaku Bercinta – 2

124 views

Dari bagian 1

Dia sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja dia merasakannya. Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini.
“Gimana Bu, nikmat kan, Bu..?” Kataku.
“Hmh.. kamu.. sshtt.. kamu.. kok.. nggak jijik.. sih, Idan?” tanyanya ditengah-tengah desah dan deru nafasnya.
“Enggak, Bu.. enak kok.. gimana enak nggak kalau vagina Ibu saya jilat?”
“Iyahh.. aduh.. sshhtt.. eenak.. banget.. Dan.. sshhtt..” jawab Ibu Rima sambil terus merintih dan mendesah sambil tubuhnya bergoyang kesana kemari seperti cacing kepanasan.

Memek Perawan, smp twitter_WM

Kali ini aku kulum-kulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dengan lidahku. Aku lihat sekujur tubuh Ibu Rima seperti tersetrum dan mengejang. Memang gaya ini aku buat karena sering menonton film porno. Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalam-dalam klentitnya. Tak sampai disitu aku terobos liang vaginanya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang vaginanya.

Seiring dengan liukanku pinggul Ibu Rima ikut juga bergoyang.
“Ough.. oughh.. ough.. ough.. hmh.. oufghh..” suara itu terus keluar dari mulut Bu Rima menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan.
“Idan.. Idan.. lebih dalam lagi isapnya Ibu mau keluar”, teriak Bu Rima.
Bu Rimapun telah mencapai orgasmenya bibir Vaginanya yang sebelah kutarik perlahan dengan bibirku, sambil kugigit dengan lembut. Dia benar-benar menikmati.
“Aduh-aduh enak banget Idan”.
Lidahkupun mengaduk-aduk lubang vaginanya yang sudah basah sekali dan sekali-sekali cairan vagina Bu Rima kuhisap tanpa rasa jijik walaupun hal ini baru pertama kali aku lakukan.

Aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang vaginanya. Baru aku arahkan batang penisku ke liang vaginanya tiba-tiba tangan halus Ibu Rima memegang batang penisku dan meremas-remasnya.
“Auw.. diapain, Bu..?” tanyaku.
“Enggak.. ini supaya bisa lebih tahan lama..” katanya sambil mengurut batang penisku.
Rasanya geli-geli nikmat bercampur sakit sedikit. Sepertinya hanya diremas-remas saja tetapi tidak ternyata ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang penis untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama. Memang Bu Rima tahu kalau penisku tidak terlalu besar dan panjang tapi bagi dia itu tidak terlalu penting karena dia hanya ingin nafsunya dapat tercapai.

Aku tidak terlalu terburu-buru menerobos liang vaginanya. Aku angkat kedua kaki Ibu Rima dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang vaginanya dengan batang penisku yang sedari tadi sudah keras dan kencang. Dengan satu sodokan saja tiba-tiba.. sleb-sleb-bless! Batang penisku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang vagina Ibu Rima.
“Aughh.. augh.. hgh.. ogh.. pelan-pelan, Dan..” kata Ibu Rima ditengah-tengah deru nafasnya yang sudah mulai tidak teratur.
“Iya, Bu.. sayang.. egh.. aku pelan-pelan kok..” kataku sambil perlahan-lahan memaju mundurkan pantatku hingga penisku masuk semua keliang vaginanya yang indah dan berwarna merah itu.

“Ohh.. ohh.. iya.. sshh.. pelan-pelan aja yah, sayang..” kata Ibu Rima yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburu-buru.
Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu Rima berputar-putar seperti penyanyi dangdut.
“Ough.., Bu.. asyik.. banget.. baru kali ini saya merasakan kenikmatan sex!” kataku yang merasakan nikmatnya batang penisku diputar oleh pinggulnya dan jepitan vaginanya yang memutar-mutar penisku.
“Oogh.. sshtt.. egh.. sshh.. hmh.. ffhh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh.. Ibu juga merasa nikmat sekali soalnya baru ini kali Ibu ginian lagi” Ibu Rima terus merintih dan mendesah sambil matanya terpejam menikmati kenikmatan sexual yang nanti kali ini dia merasakan kembali setelah 3 tahun ditinggal suaminya.

Baru sekitar 20 menit dia ingin aku berganti posisi. Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional. Diaupun mau menawarkan variasi lain padaku. Dia ingin berganti posisi diatas tubuhku.
“Sayang.. kamu capek.. yah..?” tanya Bu Rima.
“Gak..” jawabku singkat.
“Mo keluar yah.. hi.. hi.. hi..?” godanya sambil mencubit pantatku.
“Gak.. ih.. aku nggak bakalan keluar duluan deh..” kataku sesumbar.
“Awas.. yah.. kalo keluar duluan..” goda Ibu Rima sambil meremas-remas buah pantatku.
“Enggak.. deh.. Ibu yang bakalan kalah sama aku..” kataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya.
“Auw.. hi.. hi.. hi.. pelan-pelan dong Idan”

Ibu Rima memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin horny dengan berguling ke samping kini Ibu Rima sudah berada diatas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk diatas pinggulku. Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping. Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya. Buah dadanya juga masih kencang dengan puting susu yang mengacung ke atas menantangku. Aku juga duduk dan meraih puting susu itu lalu ku jilat dan kukulum. Ibu Rima mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolah-olah kali ini cukup ia yang pegang kendali. Ibu Rima kembali meliuk-liukkan pinggulnya memutar-mutar seperti Inul Daratista.
“Gila, Bu.. nikmat banget..!” kataku sambil terus menikmati permainan sex yang diberikan Bu Rima.

Pinggulnya memainkan batang penisku yang berada didalam liang vaginanya. Tanganku meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya. Batang penisku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi. Ini berkat pijatan dari Ibu Rima tadi itu. Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi.
“Sshtt.. emh.. enagh.. egh.. sshhtt.. ough.. iyaahh.. eeghh.. enaxx.. ough..” liukan pinggul Ibu Rima yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan.
“Ough.. iiyyaahh.. egghh.. eghmmhhff.. sshhtt.. ough.. aku udah mau nyampe..” kata Ibu Rima.
“Bu.. aku juga pengen, Bu.. egh..” kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku.
“Egh.. iyah.. bagusshh.. sayangg.. ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough..”

Ibu Rima merespons gerakanku untuk membantunya orgasme. Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang penisku untuk keluar juga.
“Aaaughh.. ough.. ough.. ough.. iya.. teruss” Ibu Rima telah sampai pada orgasmenya.
Pada batang penisku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang penisku. Ibu Rima menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dengan erangan yang panjang dan nafasnya yang tersengal-sengal seperti orang yang kelelahan. Ibu Rima telah berhenti melakukan liukan pinggulnya. Hanya denyutan-denyutan kencang didalam liang vaginanya. Aku merasakan denyutan-denyutan itu seperti menyedot-nyedot batang penisku

“Bu, saya juga sedikit lagi mau keluar, saya keluarin didalam aja Bu ya?”
Dan.. crot.. crott.. crott..! muncrat semua air maniku diliang vagina Ibu Rima.
“Bu, kerasa nggak air mani saya muncratnya..?” tanyaku.
“Eh.. iya, Idan sayang.. Ibu udah lama pengen beginian..” kata Ibu Rima.
“Iya.. sekarang kan udah, Bu..” kataku sambil mengecup keningnya.
“Oh.. kamu.. hebat banget deh Idan, biar penis kamu nggak terlalu besar tapi Ibu puas main dengan kamu” Kata Ibu Rima sambil membelai-belai rambutku dan aku memainkan puting susunya.
“Itu semua kan karena Ibu, Ibu juga hebat apalagi baru kali ini saya juga pingin sekali ginian” kataku memujinya”.
Ih.. bisa aja.. kamu.. kita istirahat dulu” sahut Ibu Rima sambil mencubit pinggulku dan turun dari tubuhku.

Ibu Rima masih diatas tubuhku ketika HP-ku berbunyi ternyata dari ibuku yang menanyakan kalo undangannya sudah aku antar kepada Bu Rima langsung saja kujawab sudah dari tadi saya antar cuma sekarang aku masih di rumah temanku. Setelah telepon aku tutup Bu Rima menanyakan kalo ibuku tanya apa tadi, akupun bilang sebenarnya aku disuruh untuk mengantar undangan untuk Bu Rima. Akupun mengambil kertas undangannya Ibu Rima dan sebungkus rokokku yang ada di celana jeansku.

Ibu Rima langsung membaca isi undangan itu sambil aku menghisap rokokku yang baru saja kuambil dan tanganku yang satunya pun menjalar diputing susunya, sampai akhirnya tanganku sampai kevaginanya dan mengaduk-ngaduk tanganku didalam liang vaginanya. Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya lagi sepanjang siang hingga menjelang malam kami sama-sama kelelahan dan Bu Rima sangat senang sekali main denganku. Entah sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi.

Bu Rima banyak mengajari banyak gaya padaku sampai kami masih melakukannya lagi dikamar mandi. Sampai-sampai aku disuruhnya untuk memasukkan penisku kelubang anusnya yang membuat dia lebih puas ngesex dengan aku, bahkan ketika aku akan pulangpun dia masih mau kalau vaginanya saya jilati dan kami melakukannya lagi sambil berdiri sampai Bu Rima orgasme dua kali. Hal itu aku tidak mau lewatkan. Sebelum aku pulang Bu Rima berpesan untuk menjaga rahasia ini baik-baik, dan setelah kejadian ini dia meminta aku bahwa perbuatan ini hanya satu kali ini saja dilakukan karena dia takut orang nanti akan tahu terlebih oleh kedua anaknya. Akupun mengiyakan permintaan Bu Rima itu sambil mengucapkan terima kasih karena sudah mau mengajari aku.

Setelah kejadian itu hubungan saya dengan Bu Rima tetap baik-baik saja tapi aku tidak pernah meminta Bu Rima melakukan itu lagi karena akupun sangat menghargai dia dan itu adalah pengalaman yang tidak pernah aku lupakan hingga sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi baik dengan Bu Rima ataupun dengan orang lain.

E N D