Pertemuan Terindah

95 views

Namaku Dede asli dari pulau Dewata, tinggi 180 cm, berat 65 kg, umurku saat ini menginjak 30 tahun dan kulit putih kata orang yang mengenal saya. Statusku sudah berkeluarga dan mempunyai istri yang cantik dan 2 orang anak-anak yang Masih kecil. Dan bekerja pada salah satu BUMN terkemuka di kotaku di Denpasar. Namun hubunganku khususnya masalah seks dengan istriku kurang memuaskan disebabkan mungkin libidoku sangat tinggi dan juga istriku tidak dapat setiap saat melayaniku untuk melakukan itu. Pokoknya banyaklah alasan-alasan yang dikeluarkan, capeklah kondisi kurang fitlah dan lain sebagainya.

Memek Perawan, nikmat_WM

Hingga suatu hari di kantorku ada acara rapat masalah kinerja perusahaan, yang dihadiri oleh hampir seluruh unit di kawasan/wilayah Indonesia Barat. Aku masih ingat akan pertemuanku dengan Mbak Susi, sekretaris dari General Manager Unit bawahan kantor kami. Pada awalnya aku tidak begitu memperhatikannya, sampai pada suatu saat ia kebingungan untuk mempersiapkan bahan presentasi yang besok akan ditayangkan untuk bahan rapat tersebut banyak perubahan yang tentunya memerlukan komputer. Tanpa ada perasaan apapun akhirnya aku menawarkan komputerku untuk dipakai mengubah bahan-bahan presentasi tersebut karena kebetulan Mbak Susi duduk di sebelahku pada ruangan rapat tersebut.

“Silakan Bu, dipakai komputer di ruangan saya saja, untuk mengubah bahan presentasi itu”, kataku sambil berbisik karena suasana pada tegang untuk mengikuti rapat.
“Oh terima kasih Pak, tapi bagaimana ya, kita masih rapat nich”, sahutnya sambil berbisik pula.

Suasana hening sejenak tapi kulihat ia menulis sesuatu di secarik kertas dan menyodorkan padaku. Akupun membacanya, “Jangan panggil saya Ibu dong, panggil aja Mbak.. saya khan masih muda”, begitu tulisnya. Aku menoleh dan tersenyum. Dan bertepatan dengan itu acara rapatpun dibreak kurang lebih setengah jam untuk menikmati hidangan snack yang telah disediakan oleh panitia acara rapat tersebut. Tanpa menunda waktu lagi ia pun menagih janjiku untuk meminjamkan komputerku.

“Ayo Pak, di ruangan mana komputer Bapak?” tagihnya sambil tersenyum menggoda yang belum kutahu maksudnya.

Akupun menunjukkan ruanganku dan mempersilahkan Mbak Susi menggunakannya.

“Saya tinggal sebentar ya Mbak, mau ke toilet sebentar nich”
“Hayo.. Mau ngapain, kok pake ke toilet segala” sanggahnya.
“Biasalah panggilan alam sudah kebelet nich” kataku.

Keakrabanpun terjalin seiring dengan waktu berjalan. Dan astaga, baru aku menyadari bahwa Mbak Susi merupakan wanita karier yang sangat menarik dan cantik. Umurnya sudah 38 tahun berbeda denganku sekitar 8 tahun dan tingginya sekitar 170 cm berat badannya sungguh proposional dengan tingginya ditunjang dengan buah dadanya yang sangat besar dan padat ukurannya 36 B, kulitnya putih mulus pinggulnya sangat padat serasi dengan celana yang dikenakannya (itu aku ketahui setelah aku bercinta dengannya).

Seminggu setelah acara rapat selesai, tiba-tiba handphone Nokiaku berbunyi. Bergegas aku menjawabnya dan aku tersenyum setelah melihat siapa yang menelponku ternyata Mbak Susi.

“Hallo Dede.. Lagi sibuk ya?” katanya nyerocos.
“Ya hallo, apa khabar Mbak kok tumben nich?” sahutku balik bertanya.
“Baik aja De, gimana kamu sibuk nggak?” tanyanya kembali.
“Nggak Mbak memang kenapa Mbak ada yang bisa saya bantu?” tanyaku kembali.
“Eh.. Enggak sih hanya iseng aja lagi suntuk nich.. Dede ada acara gak hari ini?”.
“Nggak ada sih Mbak..” kataku menggantung. Tapi setelah aku pikir-pikir memang hari ini aku tidak ada acara dan kerjaan juga lagi sedikit tidak terlalu mendesak.
“Kita ketemuan yuk De?” ajak Mbak Susi.
“Oke deh Mbak.. Dimana? Tapi kita ketemuan dimana nih, aku takut nanti dilihat sama.. Itu tuh”.
“Suamiku maksudmu ya.. Dede gak usah dech nanya dia” ujarnya dengan ketus.
“Emang kenapa Mbak?” tanyaku berlagak bodoh.
“Nanti dech Mbak ceritain kalau kita sudah ketemuan”.
“Iya deh Mbak, jam 09 kita ketemuan di..”, sejenak aku berpikir untuk mencari tempat untuk bertemu tapi Mbak Susi sudah langsung menyela alur pikiranku.
“Ntar aku jemput aja kamu, tapi tunggu di depan kantor ya?” pintanya.

Hanya sekitar 10 menit aku menunggu didepan kantor. Ketika sebuah mobil sedan Honda Civic menghampiri tempat aku berdiri.

“Ayo De, Masuk” terdengar suara Mbak Susi yang merdu.

Segera saja aku membuka pintu dan Masuk. Kamipun terlibat pembicaraan seputar Masalah kantor sampai dengan Masalah keluarga kami. Mbak Susi menceritakan bahwa suaminya lagi dinas keluar kota dan selama ini hubungannya dengan suaminya tidak lagi berjalan dengan baik dan sudah lama mereka pisah ranjang kurang lebih sudah sekitar 2 tahunan.

“Wah jarang dipakai dong?” kataku menggoda.
“Jangan ditanya lagi.. Say” jawab Mbak Susi manja.

Sempat juga aku kaget dengan jawaban Mbak Susi yang rada-rada manja yang membuat darah birahiku bergolak dan adik kecilku mulai meregang dibalik celana kantorku.

“Eh.. Ngomong-ngomong kita mau kemana nih?” kataku parau menahan nafsu birahi yang sedang meningkat tinggi.
“Terserah Dede aja deh, Mbak sih ngikut aja”.
“Gimana kalau kita ke daerah Sanur aja Mbak, disana banyak lho yang menyewakan tempat untuk.. Eehhhmmm” usulku nekad menawarkan tempat

Yang bisa digunakan untuk sort time tanpa takut Mbak Susi tersinggung dengan ajakan tersebut. Aku lirik ke kanan sembari tersenyum melihat reaksi Mbak Susi akan ajakan tersebut. Sekilas kulihat Mbak Susi yang lagi nyetir mobil balas tersenyum yang menandakan bahwa diapun setuju akan ajakanku tersebut.

Tanpa membuang-buang waktu setelah kami chek in disebuah bungalow dan mengurus administrasinya, langsung ku sambar bibirnya mencium dan mencumbu Mbak Susi dengan ganas menyalurkan hasrat birahiku yang telah meninggi sedari tadi.

“Ooohh.. Ssshhh.. De, nikkkmmmaaat saayyy.. Eemmpphhh” lenguh Mbak Susi ketika lidahku bermain di rongga mulutnya yang dibalas dengan ganas pula oleh Mbak Susi dengan sedotan-sedotan yang menimbulkan bunyi berdecak keras.

“Puaskan Mbak.. Sayannggg, Mbak menginginkan ini.. Eeehhh” rintihnya sambil tangannya meremas pelan bagian bawahku yang sudah sedari tadi tegang siap untuk bertempur.

Dengan cepat pula ku reMas buah dadanya yang Masih ditutupi blazer dan branya, terasa padat dan kenyal menggairahkan, kubuka baju Mbak Susi perlahan dan dengan cepat pula kubuka pengait branya yang berwarna krem. Menyembullah buah dadanya yang besar dengan puting yang memerah kecoklatan. Tanpa membuang waktu kuisap buah dadanya, kujilati putingnya yang membuat Mbak Susi menggelinjang dan mengerang keenakan.

Terus kujilati buah dadanya perlahan turun ke perut, puser dan perlahan aku melepas celana panjang sekaligus dengan celana dalamnya. Terpampanglah tubuh telanjang nan sangat indah, putih dan sexy didepanku yang membuat nafsu syahwatku memuncak. Mbak Susipun tidak tinggal diam, dengan cepat pula dia melepas bajuku serta celanaku dan membuang ke lantai, aku tidak mempedulikannya.

Aku dan Mbak Susi sudah tak tahan, kurebahkan perlahan Mbak Susi ke kasur dan mulai menindihnya, kucium dan kujilati kembali bibir, buah dada, perut, paha, betis dan gundukan yang.. Ohhh indah nian vaginanya dihiasi dengan bulu yang tidak terlalu lebat dan tertata dengan rapi seperti Mbak Susi yang katanya senang merawat diri.

Perlahan tapi pasti kujilati belahan dinding vaginanya yang memerah mengkilat dibasahi oleh cairan birahi, bau vaginanya membuat aku bertambah nafsu untuk terus menjilatinya.

“Aakhhk.. Eeeckkh.. Nikmat sekali sayang. Terus sayang..”, rintihnya menahan gejolak syahwat yang kuberikan.

Terus kujilati vaginanya naik turun, kujulurkan lidahku menjilati klitorisnya sambil jari tengah tangan kananku sibuk Masuk kelubang vaginanya mengocok dan mengaduk aduk isi vaginanya membuat Mbak Susi semakin meregang, menggelinjang menerima sensasi kenikmatan.

“Aaakkhh.. Sudah.. Sssudah sayang.. Mbak tak tahannn.. Aakkhhhkk.. Ayo sayyyaaang masukan kontolmu, masukan ke vagina Mbaakkk” rintihnya sambil menjepit kepalaku dengan pahanya menandakan bahwa dia menginginkan aku mengakhiri jilatanku di vaginanya.

Tanpa harus menunggu akupun menuruti kemauannya yang memang aku juga menginginkan permainan yang lebih. Dengan cepat kulepas celana dalamku. Mbak Susi terbelalak melihat kontolku.

“Ehmm.. Besar dan panjang juga punyamu sayang.. Mbak suka itu.. Ssshhh”.

Memang ukuran kontolku belum pernah aku ukur mungkin kira-kira panjangnya sekitar 18 cm. Langsung saja aku merangkak naik menindih Mbak Susi. Mbak Susi melebarkan pahanya dan kontolku kuarahkan menuju kelobang vaginanya. Kutekan ke vaginanya yang sempit itu walaupun sudah dilumasi cairan vaginanya tapi selalu gagal. Tangan Mbak Susi menyambar kontolku dan menuntunnya ke lobang vaginanya. Perlahan kutekan kontolku ke lobang vaginanya yang sempit serasa kontolku dijepit oleh dinding yang sangat lembut.

“Ssshhh.. Ya.. Saaayyyaang, tekan lagi yang dalam.. Aaacchh.. Enaakk sekali kontolmu sayang” Mbak Susi merintih kenikmatan ketika kutekan seluruh kontolku ke lubang vaginanya.

Beberapa saat aku diamkan kontolku di dalam vaginanya, kurasakan dinding vagina Mbak Susi berdenyut pelan nikmat luar biasa. Merasakan itu dengan pelan kukocok kontolku naik turun diimbangi dengan goyangan pinggul Mbak Susi setengah berputar dan terkadang naik turun. Kontolku terus mengocok dengan cepat mengikuti irama goyangan Mbak Susi yang membuat kenikmatan yang tiada tara. Aku pun berdesis kenikmatan.

“Ayo.. Sayang.. Ayo.. Puaskan Mbbaakk.., Ooocchh.. Aakkhhk.. Mbak mau keluar.. Saaayyyaaanngg”.

Dan bersamaan dengan rintihan kepuasan Mbak Susi mengejang, bergetar dan terkulai lemas. Sedang diriku belum mencapai klimaks, turun dari atas tubuhnya dan rebah di samping kanan untuk memberi kesempatan beristirahat dan memulihkan tenaga bagi Mbak Susi.

“Uuffhh.. Sayang.. Dede.. Belum keluar ya?” tanyanya melihat kontolku yang masih mengacung gagah.
“Tapi sebentar ya.. Nanti Mbak kasih yang terindah dalam hidupmu sayang..” ujarnya sambil tangannya membelai kontolku yang basah oleh cairan vaginanya dan dengan lembut mulai mengocok kontolku yang sedari tadi telah tegang dengan keras semakin keras saja.
“Bagi aku, yang penting Mbak puasss.. Ssshhh.. Eehhhkk” ujarku menahan rasa nikmat oleh kocokan tangan lembut Mbak Susi.

Dan Mbak Susi pun kurasa mulai bangkit kembali nafsunya, ketika dengan aktif dan perlahan kuusap, kuremas buah dadanya dan kupilin putingnya yang semakin mengeras. Perlahan Mbak Susi pun mulai mencari bibirku, mencium dan mengulum, leher dengan nafsu terus turun ke dadaku menjilati putingku yang membuat aku kegelian tapi juga nikmat. Dengan gemas pula Mbak Susipun menggigit putingku hingga akupun terkejut dan mengelinjang dengan aksinya. Kunikmati apa yang dilakukan olehnya padaku sambil tangan kiriku meremas buah dada dan tangan kananku mengelus punggungnya yang putih dan mulus.

Perlahan ciuman Mbak Susi turun ke arah perutku menjilati pusar dan perlahan pula mulai menjilati kontolku yang semakin membuatku melayang oleh permainan lidahnya diujung kontolku yang sekali kali dikulumnya hingga kulihat bibir Mbak Susi yang indah penuh sesak oleh kontolku. Dihisap dan dijilatnya kontolku tanpa ada perasaan jijik sama sekali, sepertinya Mbak Susi menikmati permainannya bagaikan anak kecil yang haus akan es krim.

Dan yang membuatku semakin melayang adalah ketika Mbak Susi menjilati pangkal kontolku dan mengulum buah pelirku serasa ngilu tapi nikmat, sekali kali Mbak Susi menjilati lubang anusku hingga aku mengelinjang dengan hebatnya menahan sensasi nikmat yang tak terlukiskan dan membuatku ketagihan akan permainan lidahnya.

“Uuugghh.. Ayo Mbak.. Aku sudah tak tahan nicchhh..” kataku lirih kepada Mbak Susi.

Diapun menuruti apa kemauanku dan mulai naik mengangkangi tubuhku serta dengan sekali tekan amblaslah kontolku di vagina Mbak Susi.

“Oouuughh.. Ayo sayang kita berpacu lagi.. Entot vagina Mbak sayanngg.. Aaakkhh.. Nikmmaaatt.. Belum pernah Mbak mendapatkan kontol yang uuueennakkk begini.. Ssshhhkk.. Kamu hebat sayang dari tadi belum keluar juga” ceracau Mbak Susi dengan liarnya.
“Iya.. Mbak.. Vagina Mbak enak sekalliii.. Emmmhhh.. Aaahhhkk” kataku seiring dengan goyangan Mbak Susi yang memutar dan terkadang naik turun yang membuat buah dadanya yang besar menggelantung bergoyang. Dengan cepat pula aku meremas kuat-kuat dan menaikan kepalaku untuk dapat menjilat buah dadanya yang padat itu.
“Terusss.. Sayyy.. Eesssttt.. Hisap terus teteknya Mbak.. Sssttt.. Oouughh” rintihnya sembari terus menggoyangkan pinggulnya di bawah hingga mengocok kontolku yang menimbulkan suara crep.. crep.. crep..
“Mbbaaakkk.. Terus.. Sayyy” hanya itu yang dapat aku katakan menahan kenikmatan dari permainan Mbak Susi.

Peluh kami telah menetes membasahi kasur tersebut, jeritan-jeritan liar kenikmatan terus memenuhi ruangan tempat kami mengayuh bersama puncak dari kenikmatan duniawi. Tidak terasa hampir 1/2 jam Mbak Susi berada di atas tubuhku dan sudah berkali-kali pula Mbak Susi mencapai orgasme yang katanya merupakan gaya kesukaan dari Mbak Susi tapi aku tak kunjung juga mendapatkan orgasme dan dengan inisiatifku aku minta Mbak Susi untuk menungging mencoba doggie style.

Hanya dengan sekali tekan kontolku menebus dinding vaginanya yang terlihat dengan jelas bila Mbak Susi menungging. Pantatnya yang besar, putih dan padat membuatku semakin bernafsu mengocok maju mundur.

“Ooohh.. Mbak nikmat.. Sseekkkaaallii” kataku sambil sekali sekali menepuk pantatnya yang bergoyang menuruti irama kocokanku dan kadang-kadang Mbak Susi menjerit ketika pantatnya aku tepuk dengan keras sehingga pantat samping Mbak Susi memerah oleh tepukan tepukanku.

Belum puas dengan permainan itu, aku menyuruh Mbak Susi berbalik dan tidur di pinggiran ranjang. Tanpa banyak tanya Mbak Susi menuruti apa yang akan aku lakukan, sambil berdiri di pinggir ranjang kubuka pahanya lebar-lebar dan dengan sekali dorong kontolku kembali menembus vagina Mbak Susi.

Sambil kupegang kedua kakinya terus kugoyang maju mundur kadang memutar yang semakin membuat Mbak Susi merintih dan merintih kenikmatan. Ketika kunaikan kakinya ke pundakku dia pun semakin keras merintih dan akupun merasakan sesuatu akan meledak di dalam diriku, vaginanya serasa menjepit dengan lembut kontolku.

“Mbakk.. Aku mau keellluuaarr.. Aaacckkhhh..”, kupercepat tusukan kontolku ke vaginanya untuk mendapatkan orgasmeku.
“Keluarkan dimana.. Mbaakkk?”
“Di dalam saja sayy.., ayo sayyy.. Kita.. Kelluaar sama-sama..” rintih Mbak Susi sambil terus menggoyangkan pinggulnya yang juga akan mencapai klimaks.
“Ouugghh.. Aakkhhh”, croot.. crot.. kontolku pun berkedut mengeluarkan maniku di dalam rahimnya sebanyak 6-7 kali. Akupun terkulai lemas. Kubiarkan tubuhku menindih tubuh Mbak Susi dan dia pun memelukku dengan mesra.
“Ssshhh.. Kamu hebat De.. Mbak sampe dapat 7 kali orgasme sedangkan kamu baru satu kali.. Hihiihi.., Mbak bisa ketagihan nich sama kamu De..” bisik Mbak Susi sambil membelai rambutku.
Sambil mengecup kening dan bibirku Mbak Susi berkata, “Trim’s ya De..”
Akupun membalas kecupannya, “Iya Mbak.. Sama-sama, Mbak juga hebat padahal baru kali ini lho aku selingkuh sama orang.. Dan Mbak sungguh sangat memuaskan aku” kataku jujur.

Setelah beristirahat sejenak, kami pun mandi bersama. Saling berpelukan, menggosok untuk menyabuni dan tentunya bermain cinta kembali di dalam kamar mandi. Dan hari itupun kami terus bermain cinta, di sofa, bungalow, di tempat tidur, di kamar mandi dan juga di lantai memenuhi hasrat kami berdua mereguk kenikmatan bersama.

Menjelang malam aku dan Mbak Susi pun sepakat menyudahi permainan bercinta kami, mengingat bahwa aku ada yang menunggu di rumah.

Hari itu adalah hari yang terindah dan awal dari selingkuhku dengan Mbak Susi yang merupakan hari yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang perjalanan hidupku dan kami pun berjanji untuk saling memberikan kenikmatan di saat kami saling membutuhkan kapan saja asal kami bisa menjaga rahasia hubungan kami berdua.

*****

E N D