Kesempatan Dalam Kesempitan – 3

107 views

Cerita Sex : Kesempatan Dalam Kesempitan Part 3 – Cerita Sex Memek, Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum Terbaru 2015

cerita17_WM
( Cerita Sex : Bergambar Full HD )

Dari Bagian 2

Yenni tak merasakan apa-apa lagi saat tubuhnya dibopong Pak Daud. Dia sedang larut dalam arus birahinya. Bagi Pak Daud yang kuli panggul itu membopong Yenni bukanlah hal yang berat. Otot-otot lengannya nampak mengeluarkan biseps-nya saat tubuh Yenni dalam bopongannya.

Cerita Sex 2015 : Bergambar Paling Complete 🙂

Arus birahi Yenni menuntun spontan untuk memeluki bahu dan leher Pak Daud. Dengan posisi begitu Pak Daud dengan hati-hati meletakkan tubuh Yenni ke kasur empuk ranjangnya. Dan saat itulah Yenni yang semula memeluki leher kini dia menenggelamkan wajahnya ke leher itu dan menyentuhkan bibirnya. Pak Daud tahu Yenni dalam keadaan sangat haus. Dia merasakan nafas Yenni di lehernya. Juga saat bibir Yenni menyentuh pori-pori lehernya yang membuat Pak Daud kini ganti mengeluarkan desahannya.

Memang Yenni telah terayun dalam gelombang birahi. Ciuman yang meninggalkan cupang-cupang pada tubuhnya membuat Yenni terlempar tinggi dalam orbit syahwatnya. Yenni menjadi demikian haus dan kering tenggorokannya. Dia ingin ada sesuatu yang bisa membasahkan rongga mulutnya. Dengan sedikit menyentuhkan bibirnya ke leher Pak Daud dia bisa merangsang liurnya keluar dari kelenjarnya hingga kering mulutnya terhindari.

Namun saat dia mendengar desah Pak Daud akibat dari sentuhan bibirnya itu, birahinya yang memang telah bangkit langsung terdongkrak. Dia mulai merubah sentuhannya menjadi kecupan kemudian gigitan kecil. Tangannya bergerak menggapai dada Pak Daud kemudian meremasi otot-ototnya. Dia rogohkan tangannya masuk ke dalam kemeja pengantinnya yang belum dilepaskannya. Yenni menjawab desah Pak Daud dengan rintihan kehausan.

Pak Daud tanggap pada apa yang kini menyergap ‘istrinya’. Dia harus melakukan peranannya selaku ‘suami’ dengan sebaik-baiknya. Dia tindih tubuh Yenni untuk kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yenni. Bibir Pak Daud dengan rakusnya menerkam bibir Yenni. Lidahnya diruyakkan ke mulut Yenni untuk mendapatkan lidah Yenni pula. Gayung bersambut.

Yenni yang demikian kehausan langsung menerkam balik mulut Pak Daud. Dia tak lagi terpikir mengenai bau mulut kuli panggul terminal kota ini. Yang dia rasakan kini adalah kenikmatan saling pagut dan lumat antara mulutnya dengan mulut Pak Daud. Lidah dan ludah ‘suami istri’ itu saling bertukar. Mereka telah menyatu dalam ke-tunggalan arus syahwat birahi. Yenni bersama Pak Daud mulai mengarungi samudra nikmatnya pengantin baru. Desah dan lenguh saling bersahutan keluar dari mulut Yenni dan Pak Daud. Sebuah peristiwa Hak dan Kewajiban suami dan istri sedang berlangsung di kamar mewah keluarga orang tua Yenni. Jam dinding yang berdetak-detak tak lagi mengganggu keasyikan dua insan dalam mengarungi nikmatnya nafsu birahi.

Tangan-tangan lentik Yenni nampak tanpa ragu dan tak sabar melepasi kancing kemeja Pak Daud. Begitu terbuka sedikit dan dia melihati gempalnya otot-otot dada suaminya Yenni tak mampu menahan diri. Dia dekatkan bibirnya. Hidungnya mencium bau alami dari keringat tubuh kuli panggul yang kini adalah suaminya ini. Bau itu sangat menyentuh nuraninya. Yenni merasa jauh dari yang serba artifisial dan industri. Dia merasa jatuh ke pangkuan alam yang penuh jujur dan bening.

Yenni merasakan gairah birahi yang beda dengan yang pernah dikenalnya saat bersama Ryan suaminya dulu. Kontras latar belakang baik secara fisik maupun non fisik antara dirinya dengan diri ‘suaminya’ membuahkan sensasi sendiri. Dia semakin merasa terangsang secara seksual dalam tindihan tubuh Pak Daud yang kokoh, kuat dan kasar itu. Gairah libidonya membakar semangat syahwatnya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Yenni tak lagi tersendat oleh harga diri, martabat, status sosial yang dia cangking dari kerabat besarnya. Yenni ingin jadi Yenni pribadi. Yenni ingin meng-ekspresikan kehendak syahwatnya secara jujur dan lugas.

Dia tak lagi menunda keinginan syahwatnya. Dengan penuh nafsunya dia mengemoti dada Pak Daud. Dia mencaplok susu Pak Daud. Dia gigit-gigit kecil putingnya. Dia juga pelukkan tangannya ke punggung ‘suaminya’ dan mencakar-cakarkan kecil kuku-kukunya ke daging gempal punggungnya.

Sungguh sebuah karunia dunia yang kini sedang melanda nikmat pada diri Pak Daud. Seorang perempuan secantik dewi tengah nyungsep di dadanya. Pentil susunya sedang dalam lumatan bibir-bibir mungil Yenni yang ‘istrinya’ ini. Kenikmatan tak bertara yang dia baru pertama rasakan seumur hidupnya. Kemaluannya langsung ngaceng membengkak dan menonjol dalam celananya. Dia kini lebih berani untuk menindihkan selangkangannya ke paha istrinya. Dia juga gesek-gesekkan tonjolan itu. Dia ingin tunjukkan betapa organ vitalnya telah demikian haus untuk menyentuhi tubuh Yenni.

Dalam posisinya yang tertindih, Yenni menerima isyarat syahwat Pak Daud. Dia tahu yang menggesek-gesek pada pahanya adalah kontol kuli panggul yang kini ‘suaminya’ itu. Dia merasakan ada hangat dari tonjolan celana Pak Daud. Dia kembali merasa bahwa akan mengalami sensasi yang lain. Dia akan menjamah dan dijamah kontol lain dari lelaki lain yang sama sekali tidak dikenalnya sebelum ini. Macam apakah wujudnya? Semacamkah dengan milik Ryan yang bekas suaminya itu? Sebuah dorongan untuk menyibak keingin tahuan mendesaki rongga hati Yenni. Dia meng-‘egos’kan pinggul dan pantatnya. Yenni menjawab isyarat syahwat Pak Daud dengan isyarat pula. Pinggul dan pantatnya menjemput desakkan kontol Pak Daud pada pahanya. Yenni juga mengeluarkan desahan dan rintih panjang. Yenni nampak amat haus dan menuntut untuk dipuaskan oleh Pak Daud.

Pak Daud menjawab tuntutan Yenni dengan nalurinya. Dia bangkit melepaskan emotan bibir Yenni pada puting-puting susunya. Dengan kobaran birahinya dia turun ke selangkangan ‘istrinya’. Tangannya merenggut pinggul untuk merangkul pahanya. Dia mulai dengan menciumi perut Yenni yang langsung merespon dengan menggelinjang dan berteriak dalam desahannya. Kegelian erotis yang luar biasa menyerang Yenni. Jilatan dan sedotan pada pori-pori perut yang sarat dengan saraf-saraf peka membuat Yenni kelojotan dan menggeliat-geliat.

Sementara itu tangan-tangan Pak Daud juga meremasi bongkahan pantatnya yang sungguh indah itu. Yenni benar-benar mendapatkan sensasi seksual yang luar biasa dari lelaki yang baru dikenalnya ini. Demikian birahinya yang mendesak-desaki saraf-saraf peka itu membuat Yenni tak lagi mampu mengontrol gejolak syahwatnya. Dia tak lagi menahan teriakannya. Dia meraung keras seakan hendak memecah kaca-kaca dan menggetarkan kain gorden kamarnya. Dia cabik-cabik bahu Pak Daud. Dia betoti gumpalan otot kuli panggulnya. Kemudian dia sorong kepalanya. Yenni sudah sangat ingin Pak Daud merambahkan bibirnya ke memeknya.

Pak Daud memang tersorong ke bawah tetapi belum ingin memenuhi tuntutan Yenni. Dia tidak atau belum menyentuh memek ‘istrinya’ yang kini masih terbungkus celana dalam putih itu. Dia menenggelamkan mukanya ke selangkangan wanita cantik ini. Dia menciumi dan menjilati dengan penuh histeris kedua selangkangan sang dewi ‘istrinya’ itu. Pak Daud ingin menghirupi sebanyak aroma yang menebar dari lembah dan palung-palung selangkangan yang demikian bersih dan memancarkan pesona itu.

Jangan tanyakan lagi bagaimana gelinjang yang menerjang sanubari Yenni. Pantatnya dia angkat-angkatnya untuk menjemputi bibir Pak Daud dan tangannya meremas jengkel penuh geregetan syahwatnya. Dia jengkel kenapa Pak Daud tidak lekas nyungsep ke lubang kemaluannya. Tetapi dia juga menikmati betapa lidah-lidah dan bibir-bibir Pak Daud menjilati dan mengulum-kulum seluruh kawasan selangkangannya itu.

Sekali lagi Pak Daud belum ingin menyentuh memek istrinya. Dari selangkangnya dia sedikit meng-‘egos’kan wajahnya untuk menyentuhi celana dalam Yenni untuk kemudian cepat menurunkan jilatan dan kecupan bibirnya ke kedua paha Yenni. Uuuhh.. Bagaimana Pak Daud tidak terpana. Paha Yenni ini benar-benar paha yang.. Uuhh.. Pak Daud tak mampu mengistilahkan. Dia tak kuasa menyebutkannya. Keindahan paha Yenni seakan tak tersentuhnya. Nyaris tak kuat memandanginya. Pak Daud hanya terus mengecupi dan menjilatinya. Sepanjang itu pula hidungnya terus menerus diterpa wangi tubuh ‘istrinya’.

Pak Daud menyadari bahwa tak mungkin membiarkan Yenni terlampau lama disiksa syahwat birahinya. Tak mungkin membiarkan Yenni menunggu dengan kejam permainan libidonya. Pak Daud menyadari bahwa Yenni telah sangat tak tertolongkan. Dia harus cepat dipenuhi tuntutan kehausannya.

Dilepaskannya kancing celana yang pinjaman dari bapak Yenni untuk acara ijab kabul ini. Dia tolak dan perosotkan celana pinjaman itu dan dilepaskannya ke lantai. Dia juga lepaskan sisa kemejanya. Kini Pak Daud menindih tubuh Yenni dengan sepenuhnya telanjang. Kemudian dia mengisyaratkan kepada ‘istrinya’ bahwa dirinya telah lepas busana. Dia naik kembali untuk menerkam susu-susu ranum Yenni. Bibirnya mengemoti puting-putingnya. Dan dia juga membiarkan kontolnya yang telah demikian keras dan ngaceng lepas untuk menekan paha Yenni.

Yenni merasa Pak Daud mempermainkannya. Syahwat birahinya marah dan mengamuk. Dia betot gumpalan otot-otot Pak Daud dengan cakarnya. Dia lampiaskan kemarahan birahinya yang panas membara. Dia teriak dan menangis histeris,

“Mas.., kamu kejam!! Kejam!! Ampuunn..! Ayyoo.. Mass..! Cepat mas.., kamu telah menyiksa aku mass..!! “. Tangannya juga memukuli otot-otot tubuhnya.

Ucapannya yang terakhir ini disertai dengan amuk tubuhnya. Dia bangkit bak singa betina lapar. Dia bangun dengan tangannya cepat mencari untuk menerkam kontol Pak Daud. Dan.. Kena!

Tangan itu bisa meraih dan menangkap kemaluan Pak Daud. Tetapi seketika pula dia cepat lepaskan. Yenni sungguh terkaget dan terpana. Dia sama sekali tidak membayangkan akan apa yang sesaat tadi di raihnya. Dia sangat kaget hingga tubuhnya tersentak. Dia mendapatkan kontol yang sangat hewaniah. Kemaluan Pak Daud hampir tak tergenggam oleh telapaknya. Kontol itu hhaahh.. Kenapa demikian ukurannya. Sangat besar dan demikian panjangnya. Sangat tak sepadan dan begitu jauh dengan kontol milik Ryan mantan suaminya itu. Yenni berbalik dengan kengerian. Adakah dia harus melayani monster ini?

Tetapi lumatan bibir-bibir nikmat Pak Daud yang ‘suaminya’ di puting-puting susunya memberikan jawaban pada syahwat Yenni. Lumatan bibir Pak Daud itu macam api pemicu. Lumatan itu juga disertai gigitan kecil yang sangat pedas. Pedasnya ini merambati saraf-saraf libidonya menuju kawasan yang paling peka di tubuhnya. Kemaluan Yenni tak lagi mau menunggu keraguan pemiliknya. Memek Yenni kini telah demikian membasah oleh cairan birahinya. Dia, kemaluan itu telah menantikan kemaluan gede Pak Daud memasuki gerbangnya.

Dan Yenni, yang sementara dalam keraguan berada di persimpangan, tanpa dia sadari sepenuhnya kini tangannya bergerak dengan sangat cepat.

Tangan-tangan Yeni merengkuh dan menarik lepas celana dalamnya sendiri. Dia angkat menjulang tungkai kakinya untuk melepas keluar potongan kecil kain putih celana dalamnya itu. Dan kini Yenni telanjang bulat.. Dia tunjukkan keindahan kewanitaannya. Dia tampakkan rahasia kemaluannya yang diseputari rambut-rambut halus tipis yang sangat mempesona. Dia pamerkan betapa kelentitnya merebak lebar simetris macam sayap-sayap kupu dengan warna merah bak anggur yang matang siap panen. Duh.. Sungguh indahnya kelentit itu..

Pengantin putri ini telah siap memberikan keindahan tubuhnya untuk melayani kebutuhan nafkah batin bagi pengantin prianya.

Ketakutan Yenni telah sirna. Dia yakin ‘suaminya’ akan membimbingnya dalam menapaki nikmat surga dunia. Dan itulah yang kini sedang dirintis Pak Daud.

Dia menguakkan paha istrinya dan membuka jalan bagi kemaluannya untuk mendekat ke gerbang memek Yenni. Yenni menutup matanya. Dia ngeri menyaksikan monster itu. Dia hanya percayakan kepada Pak Daud dan menunggu serta merasakan apa yang terjadi.

Agak terkaget saat ujung kontol Pak Daud menyentuh bibir kemaluannya. Tetapi kaget itu langsung sirna tergantikan rasa gatal sekaligus haus yang sangat. Dia tak sabar lagi untuk merasakan kemaluan Pak Daud menerjangi gerbang memeknya. Pantatnya naik dan bibir kemaluannya menjemput.

Ke Bagian 4