Eksanti, Affair Pertamaku – 2

90 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  susu_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari dada Eksanti, seiring meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri kami. Dengan sekali gerakan, aku dapat menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri lagi dengan tubuh Eksanti dalam gendonganku. Tangannya mulai meremasi rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh terhempas ke karpet ruangan, menyisakan bagian atas tubuh Eksanti yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih.

Beberapa saat kami bercumbu dalam posisi ini, sampai akhirnya aku merebahkannya lagi di ranjang. Terdengar suara Donita, presenter MTV Asia, terakhir kali sebelum aku meraih tombol off TV yang terletak di buffet samping ranjang. Kali ini suasana benar-benar senyap, hanya tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk bercumbu. Eksanti mencoba untuk melepaskan satu per satu kancing kemejaku, hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya, hampir bersamaan saat aku berhasil melepaskan bra-nya. Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam hatiku.

She’s different, pikirku. Jujur saja, aku sudah beberapa kali mengalami sexual intercouse, pun dengan orang-orang yang baru saja aku kenal. Namun kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi tidak berarti lagi keberadaannya. Rasa sayang, yaa.. mungkin inilah yang disebut dengan perasaan sayang itu, sesuatu yang sudah lama tidak aku rasakan keberadaannya. Ini membuatku ingin memperlakukannya seindah dan selembut mungkin. Eksanti bukan hanya seseorang yang mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she deserves the best!

Terdengar lagi lenguhan Eksanti saat aku mulai mengulum buah dadanya. Kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya. Mungkin hasrat itu telah memenuhi kepalanya. Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di sekitar putingnya, berkali-kali membuatnya berjingkat terkejut. Aku meneruskan cumbuanku ke arah perutnya, hingga pada akhirnya berhasil membebaskan roknya ke karpet.

Sekarang terpampanglah pemandangan indah yang tidak mungkin aku lupakan, seorang dewi cantik, rebah dengan hanya berbalutkan celana dalam satin putih. Untuk pertama kalinya aku memandang seorang wanita dalam kondisi seperti ini, tidak dengan nafsu yang menguasai. Begitu terasa bagaimana aku memang menyayangi dan menginginkannya. Matanya yang memandang lembut ke arahku, menghadirkan begitu banyak kedamaian, sesuatu yang terus aku cari selama ini dari diri seorang wanita.

Kini aku mengulum pusarnya, seiring lenguhan-lenguhan kecil yang terdengar dari bibirnya. Perlahan aku mulai menurunkan kain terakhir yang menempel pada tubuh Eksanti. Terdengar sedikit nada terkejut Eksanti saat aku mulai menurunkan centi demi centi celana dalamnya menyusuri kedua kakinya hingga terlepas entah kemana. Seiring itupun, aku mulai menurunkan jilatan ke arah selangkangannya.
“Mass.. mau ngapain.. uugghh..”, pertanyaan yang coba diajukan Eksanti tidak dapat diselesaikannya begitu dirasakannya sebuah jilatan mendarat di bibir kewanitaannya.
Permainan lidahku pada liang kewanitaannya memang aku usahakan selembut mungkin, hingga terkadang hanya sedikit saja ujung lidahku menyentuhnya. Namun hal ini malah justru memicu reaksi Eksanti semakin terbakar.
“Occhh.. Mass..” lenguhnya panjang diiringi nafasnya yang semakin tidak beraturan.

Hisapan dan jilatan silih berganti aku lakukan dengan penuh kelembutan padanya, hingga pada akhirnya terdengar Eksanti seperti mendekati puncaknya.
“Aaacchh..” jeritnya panjang sambil menghentakkan tubuhnya ke atas, saat puncak itu datang melandanya, menggulungnya dalam suatu sensasi keindahan yang sangat melenakan dan menghempaskannya ke dalam jurang kenikmatan yang begitu dalam.

Kini aku memandang wajahnya. Matanya yang terpejam sambil menggigiti bibirnya sendiri, tangannya yang mencengkram seprei di tepian ranjang dengan kencang, serta nafasnya yang tidak beraturan, cukup untuk mengekspresikan betapa tingginya Eksanti telah terbuai dalam gelombang orgasme yang baru saja dilaluinya. Aku biarkan Eksanti meregang dirinya dalam detik demi detik puncak kenikmatan yang baru saja didapatnya.

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, sehingga kami harus menghentikan aktifitas yang sangat menggairahkan itu.
“Aku ke kamar mandi dulu”, bisiknya, aku mengangguk.
Makanan pesanan kami telah tiba, dan terhidang rapi di atas meja. Aku duduk di atas kursi dan menarik kursiku mendekat ke arah meja kaca itu. Aku menuangkan sebotol coca-cola ke dalam gelas yang telah berisi es. Aku meneguk.. hmm.., segar. Ditengah keheningan kamar itu, aku mendengar suara shower dari arah kamar mandi, rupanya Eksanti sedang mandi. Pantas lama sekali dia di dalam sana. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi.

Gila..!, Gila..!, Belum pernah aku melihat pemandangan seindah dan seeksotik ini. Menggairahkan, menakjubkan. Aku bengong, terpana, terpesona. Suasana kamar mandinya remang-remang, karena hanya ada cahaya lampu 15 watt yang menerangi. Eksanti sedang mandi di bawah pancuran shower. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat sempurna. Putih dan mulus tubuhnya yang tersiram air bagaikan gambar-gambar wanita yang sering aku lihat di majalah Playboy. Badannya tinggi, kakinya panjang dan jenjang, pinggangnya kecil, tapi pinggulnya cukup besar. Sangat sempurna. Eksanti sedang menggosok lehernya dengan sabun sambil memejamkan matanya.

“Mas, tolong matikan AC kamar. Biar nggak kedinginan kalau aku keluar nanti”, katanya.
Aku terjaga dari lamunanku, cepat-cepat aku keluar. Memang dingin sekali di dalam kamar ini. AC tidak aku matikan tapi aku setel menjadi 35 derajad. Biar hangat. Lalu aku kembali melangkah ke kamar mandi lagi.
“Jangan bengong. Mas, mandi sekalian aja..”, katanya waktu aku bengong lagi. Aku segera melepas hem dan celana pantalonku.

Airnya hangat. Pantas Eksanti berlama-lama mandi setelah kedinginan di dalam mobil tadi. Sesaat ketika badanku basah tersiram air, Eksanti menyabuni seluruh tubuhku dengan pelan dan lembut. Mula-mula tanganku, lalu dada dan perut. Dimintanya aku berbalik badan dan kemudian punggungku mendapat giliran. Setelah bagian atas tubuhku rata terkena sabun, Eksanti berjongkok. Disabuninya kakiku, lalu naik ke paha. Aku memejamkan mata. Aku merasakan seluruh elusan dan usapan tangan lembutnya di sekujur tubuhku. Akhirnya, Eksanti memegang kejantananku dan mengelus batangnya pelan-pelan, terasa sangat licin dengan sabun. Setelah bersih, kemudian Eksanti menarik dan melepaskan tangannya dari batang kejantananku.

Kini tiba giliranku. aku segera mengambil sabun dari tangan Eksanti. Mula-mula aku mengusap kedua tangannya. Lalu beralih ke perutnya. Kemudian tanganku merayap naik, kedua payudaranya aku sabuni dengan lembut. Kenyal.. Puting kecoklatannya mencuat ke atas, sangat kontras dengan warna putih mulus kedua bukit kembarnya. Tangan kiriku membelai lembut dada kanannya, sementara tangan kananku mengusap-usap dada kirinya. Aku lakukan berulang-ulang.., berganti-ganti.. Eksanti memejamkan matanya sambil mendesah, menikmati sensasi. Tubuhku merapat ke tubuhnya, dan dengan posisi seperti memeluk, tanganku beranjak menyabuni punggung dan pantatnya. Ketika tanganku sampai di belahan pantatnya, sengaja dengan lembut aku sedikit menusukkan jemariku ke lubang anusnya. “Emmhh.. mass,..”, Eksanti mendengus perlahan.

Setelah bagian atas tubuhnya rata dengan sabun, aku lalu berjongkok. Aku mulai mengusap kaki dan betis indahnya. Pelan.., perlahan sekali. Aku sungguh sangat menikmati keindahan ini. Lalu tanganku naik ke pahanya. Eksanti agak merenggangkan kakikanya, agar tanganku bisa menyusup ke celah pahanya. Lalu tanganku naik lagi, sampai akhirnya aku bisa menyabuni rambut-rambut kewanitaannya. Agak lama aku mengusap-usap sekitar daerah kewanitaannya dengan lembut, hingga bibir kewanitaannya merekah.
“Sudah.. Mas, sudah.., please..”, lenguhnya.

Aku berdiri, aku segera memeluk tubuh Eksanti. Terasa licin, tetapi nikmat. Tubuh kami bersatu. Aku mencium mulutnya sampai Eksanti kembali terengah-engah. Tubuh kami terus bergerak mencari kenikmatan. Tanganku mengusap pantat, paha dan kedua bukit payudara indahnya. Tangan Eksanti juga terus menggerayangi tubuhku. Dari usapan di punggung, pantat dan akhirnya bermuara ke kejantananku. Dikocok-kocoknya kejantananku. Aku merasa nikmat. Belum pernah aku mengalami pengalaman sedahsyat ini sebelumnya.

Eksanti mundur dan bersandar di dinding. Kakinya direnggangkan, matanya terpejam seolah membayangkan sesuatu.. Tangannya lalu memegang batang kejantananku. Sabun makin mencair tapi masih tetap licin. Eksanti baru membuka matanya ketika dirasakannya sebuah benda menempel lembut pada bibir kewanitaannya. Dibukanya matanya, memandang lembut ke arah wajahku yang tepat berada di depan wajahnya. “Santi, bolehkah aku..?” bisikku sambil mengecup keningnya. Eksanti hanya mengedipkan kedua matanya sekali, sambil tetap memandangku. That’s enough for me to know the answer of this question.

Perlahan-lahan aku tekan kejantananku menerobos liang kewanitaannya. So gentle and smooth. Eksanti mengerti. Direnggangkannya lagi kakinya. Dibimbingnya kejantananku ke arah lubang kewanitaannya. Dan acchh.., aku mulai masuk. Terdengar nafas Eksanti tertahan di tenggorokannya, menikmati sensasi mili demi mili penetrasi yang aku lakukan terhadapnya, hingga akhirnya keseluruhannya terbenam utuh. Kami terdiam dan saling berpandangan sejenak, menikmati bersatunya raga (dan hati) kami berdua.

Aku kecup bibirnya lembut sebelum mulai melenakannya dalam sebuah percintaan yang sangat indah. Mula-mula perlahan. Makin lama makin cepat. Tangan Eksanti memeluk kedua pantatku ikut menekan. Nikmat sekali rasanya. Badan kami masih licin. Terus aku ayun-ayunkan pantatku dan kejantananku menghujani kewanitaan Eksanti berulang-ulang. Aku masih ingat persis, bagaimana kedua tangan kami saling bergenggaman erat, saat kami terus bergumul menyatukan hasrat dan raga kami. Betapa lembut buah dadanya menekan dadaku, dan betapa hangat dinding-dinding kewanitaannya melingkupi kejantananku yang terus memompanya, membawa kami semakin tinggi terbuai kenikmatan duniawi.

Tak lama, Eksanti merasa tak tertahankan lagi. Dipeluknya aku erat-erat. Eksanti telah sampai ke puncaknya lebih dulu. Kejantananku makin kencang menancap. Aku ayun lagi pelan. Makin lama makin cepat.
“Achh.., achh.., terus mas.., teruss..”, lenguhnya.
Pinggulnya terus bergerak mengimbangi tusukanku. Sejurus kemudian, kami saling berpelukan erat sekali. Mulutnya lalu aku cium. Bibir sensualnya terlalu sayang untuk dilewatkan.

Aku mencabut kejantananku. Aku menghadapkan tubuh indah Eksanti ke arah dinding. Aku sangat menginginkan doggy style. Eksanti mengerti, lalu ia menungging. Pantatnya masih licin oleh sabun. Aku usap-usap. Jari tengahku mulai memainkan kewanitaannya. Eksanti melenguh. Aku mainkan klitorisnya. Aku usap, aku pelintir, aku sodok. Eksanti makin menggelinjang.
“Sekarang.., sekarang..”, desahnya.

Dipegangnya kejantananku, dan dibimbingnya masuk ke dalam celah kewanitaannya. Aku memejamkan mata. Aku tusukkan pelan-pelan kejantananku. Aku condongkan badanku, bersatu dengan punggungnya. Licin.., enak sekali. Tanganku meraih kedua bukit indah payudaranya. Aku mengusap-usap. Licin.., nikmat sekali. Aku lakukan berulang-ulang, sambil tetap menusuk, menggenjot kejantananku ke dalam kewanitaan Eksanti. Aku lalu menegakkan badanku. Aku memegang sisi pinggulnya. Aku mulai mempercepat ayunan. Eksanti menggoyang-goyangkan pinggulnya. Aku menarik pinggulku, Eksanti juga ikut menarik pinggulnya. Aku menusukkan sekuatnya, Eksanti pun mengimbanginya, “Clep.., clep.., clep”.

Akhirnya aku mau keluar. Gerakanku makin aku percepat. Jeritan Eksanti makin keras.
“Di dalam atau di luar Santii..”, bisikku sambil terengah-engah.
“Di luar saja”, sahutnya.
Eksanti tetap dalam posisi menungging. Pinggulnya makin liar. Aku makin tak tahan. Dan.., aku cabut kejantananku dari lubang kewanitaan Eksanti.
“Sekarang Santii..”, kataku sambil memejamkan mata.
Eksanti segera membalik badannya, lalu ia jongkok dan mengocok kejantananku.
“Acchh.., “cret.., cret.., cret”, benih-benih cintaku muncrat ke wajah dan badan Eksanti. Banyak sekali. Eksanti terus meremas kejantananku sampai tetesan terakhir air nikmatku.

Eksanti meratakan cairan cintaku ke dadanya, perut dan mengusapkan sedikit ke wajahnya. Baru kemudian dibasuh dengan air shower. Aku membantunya menggosok-gosok tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang masih menempel. Tetapi tetap saja, yang lama aku gosok adalah payudaranya yang ranum itu. Putingnya aku hisap-hisap, aku mainkan dengan lidahku.
“Sabar, Mas. Nanti lagi, yaa..”, bisiknya mesra.
“Nggak usah pakai handuk Santi..”, kataku, ketika Eksanti mau keluar menuju tempat tidur.
Eksanti tersenyum. Dia keluar kamar mandi dengan tubuh telanjang. Aku mengikuti. Eksanti langsung menuju ke tempat tidur. Hawa sudah hangat.
“Lapar?”, tanyaku.
“Sangat”, jawabnya singkat.

Ke bag 3