Eksanti, Affair Pertamaku – 4

56 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  subtitle_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Eksanti kemudian mencabut kewanitaannya dari kejantananku. Dikocoknya kejantananku dengan cepat. Aaacchh.., makin cepat Eksanti mengocoknya, berulang-ulang. Tapi belum juga keluar.
“Kulum Santii.., please”, pintaku.
“Aku belum pernah..”, jawabnya sambil terus mengocok.
Namun Eksanti kemudian menunduk dan memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya. Tangannya tetap mengocok. Eksanti tidak memainkan lidahnya atau mengemut-emut kejantananku. Mungkin masih janggal. Aku yang mulai. Aku naik turunku pantatku. Kejantananku keluar masuk mulut Eksanti yang terus mengocok. Aku masih sempat meneruskan tikaman kejantananku beberapa kali lagi hingga pada akhirnya..
“Santii.., aku keluaarr..!” teriakku sambil mendekap erat tubuhnya.

Dan, acchh.., acchh.., eemm.., berkali-kali cairan cintaku muncrat di dalam mulut Eksanti. Terasa bagaimana derasnya cairanku menyembur keluar, di sela-sela gulungan ombak ejakulasi yang menenggelamkanku dalam suatu sensasi kenikmatan yang sangat dahsyat. Namun Eksanti tetap saja mengocok. Aku merasa diperas sampai habis benih-benih nikmatku. Agak lama kejantananku berada di dalam mulut Eksanti. Ketika sudah loyo, Eksanti mengeluarkan kejantananku.

Diambilnya tissu dan disekanya bibirnya. Dikeluarkannya cairan cintaku dari mulutnya dan diseka dengan tissu berikutnya. Kemudian Eksanti mengambil coca cola, berkumur dan ditelan. Aku pandangi Eksanti yang luar biasa dengan perasaan kagum. Eksanti tersenyum padaku. Dalam beberapa saat ke depan kami hanya mampu berpelukkan erat, untuk kemudian bersisian rebah di ranjang.
“Thanks honey, you’re so great..” bisikku sambil mengecup lembut bibirnya.
“Acchh.. Mass..” lirih suaranya terdengar, seakan ingin mengatakan hal yang sama kepadaku
Kemudian dipeluknya aku. Kami masih telanjang. Aku tarik selimut. Aku peluk Eksanti erat-erat.

******

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dari jendela kamar ini terlihat bagaimana lengangnya jalan tol Simatupang yang melintas di atas sana. Hanya lampu jalanan yang mengerjapkan cahaya kuningnya yang menandakan maasih adanya kehidupan di sana. Sesekali masih melintas mobil menuju arah Pondok Indah atau ke arah Cawang. Kami hanya duduk menatapnya tanpa banyak berkata-kata. Aku genggam erat Eksanti dalam dekapanku, menatap kesunyian tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh kami. Terkadang aku dengus lembut telinga Eksanti, yang selalu saja diiringi desahan manjanya. Ah.. betapa romantisnya, memandang cahaya lampu lewat tengah malam tanpa selembar busana pun yang melekat.

Tak terasa sudah lebih dari lima belas menit kami berdua tertegun memandang jalanan, sejak gelombang-gelombang orgasme tadi menelan kami berdua dan menenggelamkan hingga ke dasarnya.
“Mas, Eksanti pengen mandi lagi rasanya,” tiba-tiba suara Eksanti mengejutkanku.
“Ya udah sana mandi..,” jawabku.
“Ehh.. pintunya jangan dikunci yaa.., siapa tau ntar aku mau nyusul,” godaku lagi.
“Huuh.. maunya, aku sudah lemess..,” sahut Eksanti manja sambil menjentikkan telunjuknya di hidungku dan kemudian berlalu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Selanjutnya aku hanya terdiam, melanjutkan lamunanku sendiri. Mengingat betapa beberapa menit yang lalu aku telah melalui sebuah permainan cinta yang sangat indah. Kali ini sungguh berbeda rasanya, lembut dan melenakan. Sungguh jauh lebih indah dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman terdahulu, dengan beberapa wanita yang sempat hadir dalam malam-malamku. Entah mengapa tiba-tiba timbul keinginanku untuk selalu berdekatan dengan Eksanti. Hanya beberapa menit ia tinggalkan (dan itupun hanya untuk mandi), rasa kehilangan itu sudah hadir dalam benakku.

Tanpa aku sadar telah aku langkahkan kakiku ke arah kamar mandi untuk menyusul Eksanti. Krek.. terdengar pelan suara handle pintu kamar mandi yang kuputar. Hmm.. ternyata memang Eksanti tidak menguncinya. Perlahan aku buka pintu untuk kemudian kembali mendapatkan suatu pemandangan yang sangat memukau. Terlihat samar-samar dari belakang bagaimana Eksanti tengah menikmati pancuran air dari shower yang membilas lembut tubuhnya. Kaca penutup shower menghalangi pandanganku karena telah tertutup uap dari air hangat yang Eksanti gunakan. Entah mengapa pemandangan yang tersamar ini membangkitkan kembali gairahku. Terasa bagaimana kejantananku mulai menunjukkan reaksinya.

Perlahan aku buka pintu kaca shower untuk kemudian mendekap tubuh Eksanti dari belakang.
“Hei..!” seru Eksanti terkejut sesaat menyadari ada orang lain yang berada dalam kotak showernya.
“It’s me honey..” kataku menenangkan sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke arah leher belakangnya.
“Ughh.. Mass..” lenguh Eksanti pendek. Terus aku daratkan ciuman bertubi-tubi ke tubuhnya. Kadang di leher belakangnya, kadang di punggungnya, terkadang pula kulumat bibirnya. Kami berciuman di tengah derasnya pancuran shower yang membasahi tubuh kami. Ingin sekali rasanya aku tikamkan kembali kejantananku dari belakang ke dalam liang kewanitaannya, menikmati sensasi bercinta di sebuah shower yang deras menghujani tubuh kami dengan butiran-butiran air.

Setelah aku rasa percumbuan kami cukup untuk kembali membuatnya bergairah, perlahan aku tuntun batang kejantananku ke dalam liang kewanitaannya. Sejenak terasa lembut dan hangat tatkala kejantananku menempel pada bibir liang kewanitaannya, sebelum aku hentakkannya menerobos hingga ke pangkal batangku.
“Arrgghh..” jerit Eksanti tertahan ketika ia mulai merasakan dirinya sesak dipenuhi oleh desakan kejantananku. Aku mulai memompanya perlahan, keluar dan masuk. Eksanti membuka kedua kakinya lebar sambil kedua tangannya bertumpu pada kedua keran panas-dingin pada shower. Kami kembali bercinta, bergumul dalam desakan arus birahi yang memenuhi kepala dan tubuh kami. Kami bercinta di bawah siraman kehangatan shower yang terus menghujani tubuh kami tiada henti. Terdengar sayup-sayup deru nafas Eksanti diantara derasnya suara air yang tumpah keluar dari shower. Aku lingkarkan tangan kananku di leher Eksanti ketika aku daratkan tangan kiriku untuk mempermainkan puting kanannya, sambil tentunya terus memompanya dari belakang.

Terus aku tikamkan batang kejantananku ke dalam liang kewanitaannya tiada henti. Menit demi menit berlalu, mengiringi persetubuhan kami yang sangat indah. Terasa bagaimana semakin ketatnya lubang kewanitaan Eksanti kian menghimpit kejantananku. Tiba-tiba kedua tangan Eksanti menjangkau tangkai shower yang terpaku pada dinding bagian atas kepalanya, mendongakkan kepalanya seraya melenguhkan erangan yang begitu menggairahkan perasaan, “Occhh Mass.. ahh..”

Ternyata Eksanti kembali meraih orgasmenya yang menariknya kembali ke dalam kenikmatan yang bergulung-gulung mendera batinnya. Aku dekap erat tubuhnya, menjaganya dari kelimbungan yang mungkin dapat saja menghempaskannya ke lantai marmer yang kami injak. Beberapa saat tetap aku dekap erat tubuhnya, sampai pada saat akhirnya Eksanti mulai dapat menggerakkan dirinya sendiri. Kami sejenak bertatapan, perlahan aku cium lembut bibirnya.
“You’re wonderful, Babe,” pujiku saat dia mulai membuka matanya dan memandang ke arahku.

Eksanti membalikkan tubuhnya dan memelukku erat. Aku cium kembali bibir Eksanti sambil aku angkat tubuhnya meninggalkan kotak shower tempat kami memadu nafsu. Aku rebahkan tubuhnya di lantai marmer kamar mandi dengan perlahan. Kembali aku letakkan kejantananku di bibir kewanitaannya seraya perlahan mendorongnya masuk ke dalam. Sejenak aku lihat Eksanti mengigit bibirnya sendiri, seakan tengah menikmati sensasi penetrasi batang kejantananku ke dalam liang kewanitaanya.

Kembali aku pompakan kejantananku ke dalam tubuh Eksanti, membiarkan tungkainya bersandar di pundakku untuk kemudian membuat kami terbang meraih kenikmatan duniawi dengan lembut dan perlahan. Terus aku setubuhi tubuh Eksanti yang tergolek di lantai, mencoba mengimbangi gerakan pinggulnya yang makin menjepit batangku.
“Eksanti, Mas mau keluar..” bisikku lirih saat mulai kurasakan sesuatu mendesak keluar dari batang kejantananku, setelah beberapa waktu berlalu.
“Yes Maass.., semprotkan ke dadaku, please..” sahut Eksanti sambil mengecup perlahan bibirku sejenak.

Terus aku pompakan batang kejantananku untuk mencapai puncak ejakulasiku yang ketiga sejak malam hari tadi. Aku mencoba untuk menahannya selama mungkin, namun usahaku tidaklah banyak membawa hasil, karena tidak berapa lama kemudian aku pastikan bahwa benteng pertahananku tidak akan bertahan lama lagi. Sempat aku hujamkan beberapa kali lagi kejantananku ke dalam liang kewanitaannya sebelum berteriak keras seraya menarik keluar batangku dan memuntahkan isinya, membajiri seluruh permukaan dada Eksanti.

“Acchh.. Aku keluaarr..” teriakku parau.
“Yes.. ehhmm..” erang Eksanti tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, karena dirasakannya cairan kejantananku ternyata juga mendarat di wajah dan rambutnya.
Cukup lama aku meregang diriku dalam orgasme yang sangat dahsyat, dimana Eksanti ikut membantunya dengan mengurut-urut batang kemaluanku, menghabisi cairan yang mungkin masih tersisa di dalamnya. Aku cium bibirnya dalam-dalam sambil mengucapkan terima kasih atas klimaks yang baru saja aku dapatkan, sebelum akhirnya merebahkan diriku di sampingnya.

******

Pukul 5 pagi hari, aku tersadar dari tidur dengan mendadak. Di sampingku tergolek tubuh Eksanti yang tidur memunggungiku sambil aku peluk dari belakang. Sejenak aku coba mengingat-ingat apa yang baru saja aku alami. Samar-samar aku mulai mengingat bagaimana sekitar dua setengah jam yang lalu aku lalui sebuah klimaks yang dahsyat dalam dekapan Eksanti di lantai kamar mandi. Yaa.. aku ingat bagaimana kemudian kami saling membersihkan diri, mengeringkannya untuk kemudian menikmati tidur dalam posisi saling berpelukan.

Terasa dinginnya udara AC kamar menjalari tubuhku yang tidak ditutupi selembar kain pun saat aku singkapkan selimut untuk kemudian mencari pakaianku yang berserakan di lantai kamar yang ditutupi karpet bernuansa maroon. Aku kecup lembut kening Eksanti saat telah lengkap aku berpakaian. Terdengar lirih suara Eksanti saat dia mulai tersadar sedikit demi sedikit dari tidurnya. Aku kecup bibirnya saat dia benar-benar telah membuka matanya, memandangku dengan suatu tatapan yang sangat sulit ditebak artinya. Tatapan sayangkah itu?

******

Jam mobilku menunjukkan pukul 05.30 pagi, ketika dengan santai aku kendarai mobilku membelah jalanan yang masih lengang sambil mendengarkan musik yang mulai dimainkan radio-radio swasta yang mulai mengudara. Aku baru saja mengantarkan Eksanti kembali pulang ke rumah kostnya di sekitar jalan Radio Dalam, sedangkan aku langsung berangkat lagi menuju kantor. Toh di dalam bagasi mobilku selalu tersedia baju ganti, dan aku bisa membersihkan diri di Executive Toilet di kantor nanti. Aku memang harus segera pergi dari sisi Eksanti, setidaknya untuk hari ini, karena dia harus segera berbenah untuk berangkat ke kantor lagi. Sungguh, apa kata orang nanti kalau aku datang bersamanya ke kantor di pagi hari begini, apalagi dengan pakaian kusut yang belum diganti sejak kemarin.

“But no business talks allowed”, masih terngiang di telingaku perkataan Eksanti saat aku ajak dirinya melewatkan malamnya menikmati suasana romantis semalam. Yaa.. semoga memang begitu keadaan selanjutnya. Terus terang aku paling tidak mau mencampurkan urusan pekerjaan dengan pribadi.

Dalam hati aku masih sedikit terbersit harapan untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Masih terasa bagaimana Eksanti mengecup lembut bibirku saat dia melepasku sebelum dia turun dari mobilku. As I said before, everything seems so right when we’re together. Is she the Miss. Right for me after I’ve been looking for all over places? Why do I feel that she’s the one, eventhough I have known her deeply only by a day. Biarlah waktu yang menjawabnya, karena orang bijak berkata hanya waktulah yang dapat secara pasti menentukan apa yang akan kami jalani di masa depan, sepasti sinar matahari yang selalu menyapa penduduk bumi setiap pagi.

Seperti saat ini, dimana sinar matahari yang pertama jatuh menemani perjalananku menembus lengangnya jalanan kota ini. Sungguh beruntung sekali. Tak terduga. Tak dinyana. Aku bisa bercinta dengan gadis secantik Eksanti, berulang kali tanpa rencana.

*****

Siang hari di kantor, ketika aku sedang menulis cerita ini, ada email masuk dari Eksanti yang isinya, “Mas, nanti sore kalau boleh Eksanti ikut lagi, yaa..? “.
“Apakah aku sedang bermimpi..?”