Eksanti, Affair Pertamaku – 3

132 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  susu panas_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Aku duduk selonjor di atas tempat tidur, bersandar ke bantal di belakang punggungku. Eksanti duduk di atas pangkuanku. Kewanitaannya menempel erat di atas kejantananku. Sepiring mie goreng berada diatas tangannya, dan kami makan berdua. Sesendok disuapkan ke mulutnya, dan sesendok kemudian ia menyuapiku. Sungguh sangat romantis suasana waktu itu. Kami makan mie goreng itu dengan lahap, sehingga cepat tandas. Namun perut kami masih belum merasa cukup, Eksanti meraih piring lain bersisi nasi goreng dan kami makan lagi bersama. Sambil makan, Eksanti menggerak-gerakkan pantatnya. Kejantananku yang terjepit mulai mengeras.

“Sakit punyaku, Santii..”, bisikku sedikit mengerang.
“Sebentar.., tolong pegang piringnya”, ujarnya sambil mengangkat pantatnya kemudian memegang kejantananku yang sudah siap tempur. Perlahan dimasukkannya ke dalam celah kewanitaannya, “Bless”.
“Nggak sakit lagi kan..?”, katanya sambil tersenyum.

Piring yang tadi aku pegang dimintanya lagi. Gila,.. kami lalu makan kembali, sementara kejantananku menancap erat di dalam kewanitaannya. Eksanti menggerak-gerakkan pinggulnya sambil makan. Akhirnya habis juga sepiring nasi goreng itu. Ia mengambil coca-cola dingin segar..

“Siap?”, tanyanya.
“Ntar dulu, biar turun nasinya”, kataku.
Aku raih tubuh mulus Eksanti, aku peluk dan aku tidurkan di atas tubuhku. Kejantananku tetap menancap di dalam kewanitaannya. Karena tinggi badan Eksanti tidak beda jauh denganku, maka wajah Eksanti tepat berada di atas di wajahku. Kami diam menikmati tubuh kami yang sedang bersatu. Agak lama kami terdiam. Tanganku memeluk erat punggungnya.

Ruangan makin hangat. Bahkan cenderung panas. Kami mulai berkeringat. Wangi tubuh Eksanti menyapu hidungku.
“Mau didinginkan AC-nya?”, tanyaku.
“Dikit aja, Mas.. Makin panas makin asyik. Makin berkeringat..”, ujarnya.

Eksanti menggulingkan tubuhnya telentang di sampingku. Clepp.., bunyi ketika kejantananku tercabut dari kewanitaannya. Aku berbalik memandang Eksanti. Aku cium bibir Eksanti dalam-dalam. Eksanti menyambut dengan menyedot dalam-dalam bibirku. Disedotnya pula lidahku. Lalu turun ke leher dan akhirnya aku hisap-hisap puting susunya yang menantang. Eksanti melenguh-lenguh. Tangannya memeluk kepalaku, mengusap-usap dan menekan agar aku lebih dalam mengulum bukit dadanya. Capek.

Aku cium mulutnya dengan ganas. Tanganku meraba-raba pahanya, lalu mengusap-usap lembut rambut kewanitaanya, berulang-ulang. Jari tengahku lalu memasuki celah sempit kewanitaannya. Aku masukkan perlahan-lahan. Keluar.. masuk.. keluar.. masuk.. berulang-ulang. Kepala Eksanti bergerak-gerak tak beraturan ke kiri, kanan, kadang maju, mundur. Sepertinyanya ia mulai on lagi. Aku pindah lagi. Aku jilati putingnya dengan lidahku. Aku puntir-puntir, aku sentuh-sentuh dengan ujung lidah. Lalu aku hisap dan aku kunyah. Berulang-ulang. Matanya terpejam menikmati permainanku. Bibirnya aku lihat meringis menahan nikmat. Jari tengahku menemukan klitorisnya. Aku mainkan. Aku tekan, aku gelitik dan aku tangkap dengan jempolku lalu aku pencet pelan-pelan. Eksanti makin menggelinjang. Keringat mengucur di wajah dan lehernya.

“Aaacchh..”, Eksanti menjerit dan menegang. Entah berapa lama keadaan ini berlangsung, ketika pada saatnya terdengar Eksanti mulai mendekati orgasme kesekian kalinya. Tangannya merangkul pundakku, mendekap tubuhku erat seakan ingin mengajakku ikut dalam gelombang orgasmenya. Nafasnya makin memburu, terdengar jelas di telinga kananku. Aku pun meningkatkan kecepatan penetrasi jemariku untuk membantunya mendapatkan puncak berikutnya.
“Eeegghh.. Mass.. aacchh..” jerit Eksanti tertahan saat gelombang orgasmenya benar-benar datang menggulungnya, menelannya kembali ke dalam jurang kenikmatan yang sangat dalam. Tanganku terjepit di antara pahanya. Sejenak Eksanti terdiam.
“Nikmatt.., sekalii.. mas..”, desahnya sambil memandangku.

Aku menghentikan pergumulan kami sejenak, memberinya kesempatan untuk kembali mengatur nafasnya seusai melewati puncaknya yang kedua. Aku hanya memberikan senyuman dan kecupan lembut di keningnya saat pada akhirnya Eksanti mulai membuka matanya.
“You’re so lovely tonight”, bisikku padanya.

Aku turun dari tempat tidur. Aku setel AC menjadi 28 derajad. Hembusan hawa agak dingin mulai menyapu ruangan. Lampu utama aku matikan. Juga lampu dekat kamar mandi. Pintu kamar mandi aku tutup agar cahayanya tidak masuk. Yang menyala hanya lampu kecil di kedua sisi atas tempat tidur.

Aku berdiri di samping tempat tidur. Aku memandang tubuh Eksanti yang bugil tanpa selimut. Indah, sempurna. Berkulit putih bersih tanpa ada cacat atau bekas goresan atau luka setitik pun. Kedua tangannya ditarik ke belakang kepala. Rambutnya tergerai di kedua sisi bantal. Matanya terpejam seperti menikmati orgasme yang baru saja aku berikan lewat jemari tanganku barusan. Dadanya menantang. Putingnya mencuat. Wajah, leher dan dadanya basah oleh keringat. Seksi sekali.

Aku layangkan pandangan ke bawah. Perutnya rata, tanpa lekukan lemak. Pinggangnya kecil. Pinggulnya seakan selalu siap ditempel. Rambut-rambut kewanitaannya sebagian menyeruak ke atas. Pahanya juga kecil, panjang, seperti jangkrik. Betisnya panjang. Mulus sekali. Ramping. Jari-jari kakinya lentik. Indah. Jagat Dewa Batara! Mimpi apa aku semalam! Aku menelan ludah. Tanpa sadar aku mengelus-elus kejantananku.
“Jangan masturbasi sendiri.., sini naik Mass..”, kata Eksanti dengan lirih mengagetkanku.
Matanya masih terpejam. Eksanti menggeliat. Dadanya dinaikkan. Duhai.., indahnya. Putingnya mencuat. Sekeliling payudaranya basah oleh keringat. Kakinya ditekuk sedikit. Mulus sekali..

Aku rebahkan badanku di samping tubuh indah Eksanti. Aku miringkan badanku. Aku peluk Eksanti dari samping. Eksanti tetap diam. Matanya terpejam. Nafasnya agak cepat tapi teratur. Kaki kananku di atas pahanya. Lututku tepat berada di tulang kewanitaannya. Aku gerak-gerakkan mengusap rambut kewanitaannya. Kejantananku menempel erat di pinggul sampingnya. Tanganku mengusap-usap payudara kirinya.
“Giliranku..”, ujar Eksanti sambil langsung bangun dan duduk bersila di sampingku.
Dipandanginya tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Eksanti tersenyum. Dibasahinya bibirnya dengan lidahnya.

Tanpa basa basi, langsung dipegangnya kejantananku dengan tangan kirinya. Uff.., Aku memejamkan mata. Dipermainkan di kejantananku. Dicengkeram kuat, lalu dilepas. Cengkeram lagi, lepas lagi. Senut-senut rasanya. Jempol jarinya lalu mengusap-usap topi baja kejantananku. Aku merasa melayang. Apalagi kalau jarinya tepat menyentuh ujung kejantananku. Uuuff.., rasanya tak tergambarkan.

Dengan ganas Eksanti lalu menyerbu mulutku. Dilumat dan dihisapnya bibirku hingga aku sesak nafas. Rambutnya yang agak panjang tergerai menerpa wajahku. Mulut Eksanti terus menerobos mulutku, dan lidahku menyusup masuk ke dalam mulutnya. Bagai ular, aku rasakan bibirnya menari-nari, mematuk-matuk lidahku. Mulut Eksanti menyerbu mulutku yang aku buka dan menghisap lidahku dalam-dalam. Dimainkannya lidahku di mulutnya, dikeluarkan sedikit, dan dihisapnya lagi. Nikmat sekali.

Tangan Eksanti tak kalah aktif. Dikocoknya kejantananku dari lembut, makin cepat, cepat dan lembut lagi. Permainannya ini aku nikmati sambil memejamkan mata. Aku merasa di awang-awang. Tanganku menemukan payudaranya, dan aku remas-remas. Kenyal dan nikmat sekali untuk diremas. Jariku memainkan putingnya dan memang menonjol karena ia juga sangat terangsang.

Eksanti melepas ciumannya dari bibirku dan mulai menciumi wajahku. Dari dahi, kelopak mata, pipi, lalu turun ke leher dan telinga. Dihisapnya telingaku bergantian. Ini membuatku geli namun mm.., nikmat sekali.

Eksanti mulai menciumi dadaku. Sampai di puting, dimainkannya lidahnya di putingku. Bergantian, yang kiri dan yang kanan. Rasanya tak tertahankan. Dihisapnya putingku, dan di dalam mulutnya, putingku dipelintir dengan lidahnya. Aacchh..

Eksanti kemudian merubah posisi. Tangannya tidak lepas dari kejantananku. Eksanti melangkahi aku, dan dengan perlahan Eksanti hendak mendudukiku.
“Mass.. eh..!” teriaknya sedikit terkejut saat tiba-tiba aku menarik kedua tangannya untuk kemudian mendudukkan pantatnya di atas pangkuanku. Punggungku bersandar di kepala ranjang, dan wajah kami saling memandang. Kami kembali berciuman. Perlahan kuangkat tubuhnya, untuk kembali menekankan kejantananku pada liang kewanitaannya. Tangan Eksanti membimbing kejantananku untuk memasuki lubang surgawinya. Dan uuff.., bless.., kejantananku masuk ke lubang kewanitaannya. Clep..!, Eksanti langsung duduk dengan mantap. Kejantananku tenggelam di dalam kewanitaan Eksanti. Walaupun kami tengah berciuman, masih sempat kudengar erangan lirihnya saat Eksanti merasakan bagaimana kejantananku perlahan menikam tubuhnya.

Aku membuka mataku. Eksanti tersenyum manis. Dadanya yang indah dengan puting yang menonjol tergantung dengan manisnya. Tanganku tak kuasa untuk tidak meraihnya. Aku usap pelan payudaranya. Juga putingnya.
“Kamu cantik dan seksi sekali Santi..”, kataku tulus dan pelan.
Eksanti mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, memutar. Aku masih diam, tetapi kedua tanganku mengelus-elus kedua bukit dadanya.

Kali ini kubiarkan Eksanti memegang kendali. Aku biarkan bagaimana dengan bebasnya Eksanti memompa diriku. Pundakku dijadikan tumpuan olehnya untuk terus menaik-turunkan tubuhnya di atasku. Aku hanya membantunya dengan meremas buah pinggulnya dan sedikit menaikkan posisi selangkanganku, hingga batang kejantananku terasa makin dalam menghujamnya. Acchh.. sungguh suatu pemandangan yang tidak akan terlupakan bagaimana melihat dirinya terus menyatukan raga kami ke dalam suatu persetubuhan yang sangat intim. Matanya yang terpejam, rambut sebahunya yang sudah mulai dibasahi keringat terurai bebas, bibirnya yang digigitnya sendiri dan tubuhnya yang berguncang-guncang. Ughh.. It’s really a loveable thing to see.

Eksanti mulai menggerakkan pinggulnya makin cepat. Aku mulai menaik-turunkan pantatku. Nikmat sekali. Tangan Eksanti mendekap tanganku di dadanya. Menekan agak keras. Aku makin mengeraskan cengkeramanku pada payudaranya. Aku remas keras. Eksanti makin menggila. Pinggulnya berputar hebat. Erangan Eksanti makin keras.
“Acchh.., aachh.., tusuk lebih keras..”, erangnya.
Aku makin ganas menembak Eksanti. Untung spring bednya bagus, bisa memantul. Makin keras aku menyodok, makin keras desahan dan erangan Eksanti. Dan, “..aacchh..”, Eksanti mengerang panjang, menggelinjang, lalu diam. Eksanti lalu rebah ke atasku. Aku peluk erat tubuhnya. Ternyata Eksanti mengalami orgasme lagi.

Kejantananku masih tegak dan keras di dalam kewanitaannya. Aku mulai menggerakkan perlahan. Eksanti duduk lagi. Kali ini Eksanti mengambil posisi jongkok. Mulanya diangkatnya pantatnya pelan, lalu dimasukkan lagi pelan. Makin lama makin cepat. Aku juga makin cepat, makin keras dan makin dalam menusuk Eksanti. Gila..!, Bagai naik kuda, Eksanti menghunjamkan kewanitaannya ke batangku di bawahnya. Eksanti mulai mengerang lagi. Dengan binal Eksanti menaik-turunkan pantatnya dan aku serbu kewanitaannya dengan kejantananku.

“Acchh.., achh.. Mass..”, Eksanti terus mengerang.
Ketika pantat Eksanti meluncur ke bawah, dengan kekuatan penuh aku naikkan pantatku. Aku sambut kewanitaannya dengan kejantanan perkasaku. Aku tak tahu lagi rasa nikmat apa ini. Berulang-ulang kami mereguk kenikmatan. Mata Eksanti terpejam. Kepalanya tengadah ke atas bergoyang-goyang. Seksi sekali. Keringat deras mengucur dari wajah dan lehernya yang putih bersih.

Pemandangan yang sangat melenakan ditambah dengan kehangatan yang makin erat menghimpit kejantananku, menit demi menit mulai membuaiku ke dalam sensasi kenikmatan sebuah persetubuhan. Terasa sesuatu mendesak, menghimpitku untuk keluar dari dalam tubuhku. Oh My God, aku rasa aku akan sampai puncaknya, pikirku.
“Mass.. I’m almost there..” bisik Eksanti lirih sambil mempercepat gerakan tubuhnya memompaku.
“Yes.. babe, me too..” jawabku sambil mengecup erat bibirnya.
Selanjutnya terasa bagaimana gelombang menuju puncaknya seakan berpacu dengan gelombang menuju puncakku. Goncangan tubuhnya makin terasa mendesak cairan kejantananku untuk keluar, sementara tikaman batangku semakin menghadirkan sensasi kenikmatan suatu orgasme yang hanya tinggal sejengkal dari raihannya.
“Aaacchh.. Mass..” jeritnya lirih memanggil namaku saat ternyata gelombang orgasme lebih dahulu menyapanya.

Aku merasa hampir sampai. Aku percepat tusukanku.
“Acchh.., acch.., achh.., cepat.., cepat”, Eksanti juga makin liar. Gerakannya makin tak beraturan.
“Aku mau keluar Sann..”, bisikku pada Eksanti, Eksanti diam saja. Terus saja dia menggoyangku. Dan, “..Aaacch..”, Eksanti menjerit lagi. Kejang. Menggelinjang lagi. Orgasme lagi dia! Kurasakan jepitan bibir kewanitaannya semakin kencang, seolah memijat-mijat batang kejantananku.
“Santii.., di dalam atau di luar..?”, tanyaku sambil ngos-ngosan karena terus menggoyang Eksanti.

Ke bag 4