Cerita Sex Rinada dan Adik Sepupu

824 views

Hi kenalkan namaku Rinada, usiaku 28 thn sama dua anak, yang pertama Tiga thn serta yang kecil baru sembilan bln.. Lakiku sendiri yaitu pekerja pasif di bagian fasilitas pendidikan. Juga sebagai orang dunia timur serta masih tetap berdarah mesir keluarga saya telah tinggal di Indo mulai sejak lama. Keluarga baruku tinggal di kota S, lakiku yang cuma pekerja pasif membuatku kerap tak nyaman, terlebih saat ini saya hidup jauh dari orangtua kandung yang dengan cara materi tak kekurangan. Mujur saya telah mempunyai dua anak ditambah seseorang adik sepupu yang bikin hidupku merasa lebih bergairah. Namanya Rafi baru kelas Lima sd, telah Lima bln. mulai sejak dia geser ke rumahku untuk meneruskan sekolah lantaran sekolah lamanya ditutup. Hari-hari kami lalui berbarengan, sesudah Rafi pulang sekolah dia kerap membantuku melindungi fadel anak keduaku. Di sinilah narasi riil itu diawali.

Cerita Sex Rinada dan Keponakan (1)

Semalaman saya tidak bisa tidur bukanlah lantaran ke-2 anakku yang rewel tetapi belakangan ini saya terasa jemu pada lakiku yang cuma mementingkan keperluan pribadinya saja, masalah materi saya masih tetap di beri duit penambahan dari ibu serta hasil kerja lakiku cuma cukup untuk dia sendiri, nafkah lahir yg tidak memenuhi tidaklah jadi beban bagiku tetapi sebenarnya kehidupan keluargaku alami permasalahan lantaran lakiku sebagai kepala rumah tangga tak memerhatikan keperluan batiniahku, bukanlah lantaran lakiku berkonsentrasi pada pekerjaanya tetapi lantaran setalah kami menikah dia jadi malas mungkin saja dia terasa mertuanya yaitu orang ada. Kejenuhan ini makin jadi beban saat lakiku sedang tidak sering dirumah, dia jadi kerap pulang ke rumah orang tuanya bahkan juga kerap bermalam. Serta saat pulang pagi harinya segera memintaku melayani hajat seksualnya tanpa ada memerhatikan begitu istrinya juga sangatlah memerlukan belaian kasih sayang, aktivitas seksual kami cuma satu arah yakni saya juga sebagai bini tak semestinya turut nikmati.

Sungguh suatu siksaan yg tidak kuketahui kapan bakal selesai, hingga datanglah kesibukanku mengatur ke-2 anakku, serta adik sepupuku. Oh hari-hari yg tidak bisa saya keluhkan, saya mesti tegar, serta terus memandang kedepan. Di satu pagi yang cerah waktu seluruhnya tanggung jawabku juga sebagai ibu rumah-tangga usai kukerjakan, mendadak rasa dahagaku bakal belaian kasih serta cinta bergelora seperti tengah ada di dalam ganasnya gurun lihat danau nan jernih, semangatku bangkit untuk mencapainya. Walaupun udara panas serta badai pasir datang sama-sama susul menyusul tetapi takan menggoyahkan langkahku. Anakku yang sulung tengah ada dirumah orang tuaku serta yang ke-2 tengah asik bermain denganku hingga Rafi pulang dari sekolah. Seperti keseharianku saya senantiasa kenakan baju muslim sama hijab, mula- mula saya minta Rafi untuk melindungi si kecil anakku sama menyampaikan mau beristirahat sesudah merampungkan kerjaan rumah, saya menuju kamar yg tidak tertutup rapat, yah.. kuakui saya juga seseorang eksibisionis, kerap kupertontonkan keindahan lekuk badanku dari balik jubah panjang yang kukenakan. serta pada pagi itu Rafilah sebagai penikmatnya, penah kupergoki Rafi tengah mengintip waktu saya mandi tetapi saat ini akulah yang seakan membutuhkannya. Sama jubah panjang sutra hitam serta hijab putih khas Turki sungguh kombinasi yang elok. Lantas saya tidur membelakangi pintu hingga pantatku bakal terlihat menonjol dan belahan panjang di bagian bawah jubahku bakal gampang terungkap serta menunjukkan begitu mulus pahaku, kulit badanku yang putih pasti bisa menarik Rafi. serta saat-saat yang kunanti datang juga, si kecil menangis lantaran haus, Rafi membawanya ke kamar serta Rafi terhentak melihatku.

Saya sedang bangun lalu duduk serta buka satu per satu kancing jubah panjang yang kukenakan lantas keluarkan toket kananku sembari meremasnya hingga terlihat bergoyang-goyang. Rafi memandang tajam, nampaknya dia sangatlah menikmatinya lantaran tampak berkali-kali menelan ludah. ” Ehmm ” kataku, Rafi tesentak kaget, ” Kok bengong? ” tanyaku serta muka Rafi memerah tahan malu. ” Eh eee tidak mbak maaf “, ” Sini agar mbak tetekin dahulu adek “, Rafi mendekat serta terus memandang ke arah toketku, kuraih anakku dari gendongannya sama tangan kanan, siku tangan kiriku sama berniat menyentuh selangkangan Rafi yang sedari tadi terlihat menonjol. ” Mbak maaf Rafi lancang ” ucapnya bernada gemetar, ” Tak apa kelak anda dapat saksikan seluruhnya yang anda ingin, namun agar adek bobo dahulu, tunggulah mbak di kamarmu ya ” rayuku. Selekasnya kubaringkan badanku serta letakkan anakku disamping, sembari kusingkapkan sisi bawah jubah. Terlihat Rafi masih tetap berdiri mematung tetapi terus kubiarkan Rafi nikmati ujung kaki sampai beberapa paha yang berniat kuperlihatkan. Kusangka Rafi mengambil langkah keluar namun Rafi jadi mengunci pintu kamarku serta mendekat lagi, lantas Rafi turut naik ke ranjang, saat ini Rafi bukan sekedar memandang tetapi segera mencium pahaku yang membuatku terperanjat. ” Kelak di kamar Rafi saja ya ” pintaku, ” Tidak tahan mbak ” sanggahnya, lantas Rafi meneruskan mengecup-kecup paha kananku, ” Rafi kamu paham.kamu mengerti mandi kucing? ” tanyaku mengetes, ” Tidak mbak ” balasnya sembari menggelengkan kepala. ” Ingin tahu? ” imbuhku, Rafi menjawab cepat ” Bisa mbak “, lantas kuangkat kaki kananku kearahnya, ” Rafi jilati ujung kaki mbak ” serta segera Rafi lakukan kataku, ” Awal mula ibu jari, selalu ke jari telunjuk, jari tengah, sampai kelingking… ” Rafi sama semangat mengulum ibu jari kakiku lantas kuperintah ” Terusin ke atas dong ” pintaku, Rafi terlihat nikmati permainan awal, sama lahap Rafi menjilati tiap-tiap jengkal kulitku naik turun sampai basah mengkilap lantaran air liurnya. ” Geser ke kamarmu yuk supaya tidak ngganggu adek yang lagi bobo ” ajakku, sembari beranjak dari ranjang serta sama sigap Rafi ikuti langkahku menuju pintu, kubuka gagangnya serta kututup kembali pelan. Kami jalan berbarengan, lantas Rafi memeluk pinggangku, tiba didepan pintu kamar, Rafi mendahuluiku serta selekasnya membukakan pintu, kami masuk serta Rafi segera menguncinya, tak sabar kami berpelukan dibalik pintu sama-sama meraba serta mencium, badan Rafi yang cuma setinggi toketku membuatku mesti menundukkan tubuh, bibir kami berpagutan, ke-2 tanganku memegang kuat kepala Rafi serta kuhisap-hisap bibirnya, Rafi sekali-kali menjulurkan lidah menjelajahi mulutku. Tangan Rafi meremas ke-2 toketku, semakin lama makin kuat membuatku merintih sakit.

Tidak tahan saya membungkuk berlama lama kuangkat badanku untuk hirup nafas yang merasa seperti kehabisan hawa, kepala Rafi saat ini pas ada didepan toketku. Kutatap berwajah yang masih tetap polos lantas kudekap kuat diantara ke-2 toket, ” Ini yang tadi anda lihatin kan, saat ini bebas anda apakan saja ” ucapku lirih, ” Bisa kucium mbak? ” tanyanya, kujawab sama anggukan. Serta Rafi buka jubahku sampai ke-2 toketku tampak, lantas dia menciuminya terlebih di ruang putingku yang sedari tadi mengeras, ” Putingnya anda isepin ya ” pintaku, dihisapnya puting toket kiriku sekian kali, saya melenguh ” Uh uuh uu uuu hefs.. lebih kuat lagi ” pintaku, ” Aaaaaahhhhr aaaahs enak banget aduuuuuhhh lagi, lagi yang keras, hessss ahhh ah ah ah.. ” saya mengerang-erang serta menghentakkan kaki, lantas kubimbing Rafi menuju tepian ranjang serta saya duduk sesaat Rafi selalu mengulum putingku serta sesekali diselingi sama pilinan lidah serta gigitan kecil, ” Ouhhhhhh uuuh ouuuuuhhhhh ” lenguhku panjang waktu Rafi menarik putingku sama gigi serta ke-2 bibirnya mengatup-ngatup seraya menghisap panjang. Senang sama toket kiri Rafi berpindah ke toket kanan, berkali-kali Rafi menjilatinya sampai merasa basah, lidahnya selalu berkelana ke tiap-tiap penujuru seakan tidak mau melupakan sedikitpun dari kulit badanku yang terbuka. Merayap keatas sampai leherku yang masih tetap tertutup hijab lebar yang kukenakan, ” Ah ahh hees aaah ” desah ku di antara tarian lidahnya. Kubuka lagi kancing bajuku sampai terpampanglah perutku, ” Mbak mulus banget ” kata Rafi, ” Anda basahin sama lidah ya Rafi ” saya minta serta Rafi menurutinya hingga ke pinggang, sisi punggung. Saya berputar supaya Rafi dapat lebih leluasa serta jilatannya meninggi selalu ke pundak belakang. Tangan kanannya yang tengah meremas pantat kutarik kedepan untuk meremas toketku sesaat yang kiri kumasukkan ke jubahku serta mengarahkannya ke sisi selangkangan, kugosok-gosokan jemari tangan Rafi yang menyelusup dari atas, lantas kubiarkan tangannya berkreasi sendiri, ” Ash ash esh esttt aaaa ahh ” lenguhku seraya menggigit-gigit bibirku sendiri. Ke-2 tangan Rafi telah lincah bermain-main disetiap bonkahan badanku yang masih tetap padat serta sintal. Lantas saya berdiri serta kutanggalkan jubahku tetapi masih tetap tersisa jilbabku, terlihatlah badan indahku yang telanjang bulat, Rafi memandang nanar memekku yang mulus tanpa ada rambut kemaluan, lantas dia segera bereaksi.

Cerita Sex Rinada dan Keponakan (2)

Rafi segera mengulum puting toket kananku, tangan kanannya meremas-remas toket kiriku serta tangan kirinya mengusap-usap memekku, ” Ooohhh oooh, Rafi sukai kan? eff effff aagh ” lenguhku sembari perlahan kubaringkan badanku di ranjang, is masih tetap selalu mengulum serta menjilat-jilat toket kiriku lantas perlahan-lahan turun ke sisi perut, makin turun sampai bersua bibir memekku, sesekali dia menghisapnya, ” Auhh auhh uhhhhh heeeef, gulung serta julurkan lidahmu Rafi, aaaagh ” perintahku, ” Selalu aaah oohff masukin ke sini ” jariku menunjuk ke sisi lubang di depan hidung Rafi. Didahului sama ciuman serta kecupan, lidah Rafi merojok-rojok lubang memekku sama lidah, ” Rafi anda pilin daging kecil yang diatas ini yaa ” pintaku, ” Ooooh ohhhh yaaa ya yaaaaa di situ ehhhh aaagh ” lenguhku saat bibir serta gigi Rafi memainkan daging mungil memekku, Rafi menarik-narikmya serta ” Ehrrr ahhhhhhh ahhhhhh ” erangku sembari mendongak, perut mengejang, dan kakiku menghentak keras. ” Cret sretttt cret cret ” memekku menyemburkan cairan hangat ke mulut Rafi yang tengah terbuka, kepalanya kutarik mendekat ” mimik ya pasti terasa enak ” kataku yang segera dihisapnya hingga habis ” serttt sertttt serttt ” keluar lagi dari dalam memekku cairan yang lebih kental serta banyak, dihisap serta disapu sampai merasa bersih. Kubuka resliting celana merah seragam sdnya, serta kukeluarkan penisnya, ukurannya kecil serta belum disunat, ukurannya yang kecil bagiku tidak permasalahan, lantas perlahan-lahan kujilati dari ujung sampai pangkal menuju testisnya, kubuka kulupnya serta kumasukkan ke mulutku, kukulum perlahan-lahan sembari kumainkan lidahku ” Ah ah ah enak Mbak aah agh ” erangnya sembari memegangi kepalaku, belum hingga lima menit ” Mbak saya ingin pipis Aaaaaghhhhh ” tersemburlah mani dari penisnya yang masih tetap ada dalam mulutku, kutelan serta kuhisap ujung ujung glans penisnya hingga bersih. ” Rafi ingin dibawah atau diatas? ucapku lirih di deket telinganya yang disahut sama nada seraknya ” bawah saja Mbak “.

Rafi kubaringkan di dalam ranjang serta saya duduk diatas pahanya. Nafasku makin memburu, kugenggam penis Rafi serta perlahan-lahan kugosok-gosokkan di bibir memekku, ” Ohh oh oh ” merasa geli sekali, semakin lama semakin kencang penis kecil Rafi serta memerah. ” Ehhhr eeehr ehr ” pada akhirnya kumasukkan ke pintu surga kesenangan yang sampai kini terbangun cuma untuk lakiku. Kumasukkan penis Rafi hingga pangkalnya, lalu kugoyangkan pantatku berputar-putar, maju mundur serta sekali saat kutarik ” Heeef heeeff….. ehrrrrrr enak banget ahh…. ahh ” seputar enam menit saya menari-nari diatas badan Rafi serta ” Oahh ouhh ohhh ” erangku, ” Mbak saya ingin pipis lagii.. aaaaaakhh ” erang Rafi, ” Iya keduanya sama yaa.. aaaaaaaaagghh ” lubang memekku merasa disembur cairan hangat berkali-kali. Rafi terkulai lemah sembari memandang wajahku yang tersenyum senang, ” Rafi ingin lagi? ” tanyaku sembari menyeka keningnya yang berkeringat, tidak kunjung memperoleh jawaban kurebahkan badanku di sebelahnya. ” Rafi cape pingin istirahat mbak ” tuturnya lirih, kukecup pipinya serta kutatap berwajah yang memanglah terlihat kelelahan, lama saya menatapnya lugu berseri bagiku Rafi seperti bayi yang baru lahir. Sebentar gairah seksualku musnah tak tahu kemana, yang ada pada benakku hanya sosok mungil yang terlelap dalam mimpi indah di awan putih.

” Eak.. eakkk…. ” saya tersentak waktu mendengar anakku menangis, mungkin saja dia terbangun serta terasa sendiri tanpa ada saya yang umum menyanding di sampingnya. Seseorang ibu yang semestinya berikan ketenangan saat ini jadi tengah dibuai sama lamunan riil perihal makna suatu kegersangan ” Muach… selamat mimpi indah Rafi ” ucapku meninggalkanya di awan khayal nun jauh di atas batas kewajaran. Kukenakan jubahku kembali lantas hampiri anakku yang masih tetap menangis, kubopong serta kuberi dia asi untuk isi perutnya yang mungkin saja lapar serta saat toketku menyeruak keluar nampaklah terang sisa gigitan Rafi yang kecil-kecil serta samar seperti goresan kuas di atas kain kanvas sang pakar. Sama lahap anakku mengenyut-enyut serta asyiku keluar deras penuhi rasa dahaganya. Nyaris 15 menit lamanya saya duduk di pinggir ranjang tanpa ada kusadari Rafi telah ada di sebelahku memerhatikan indahnya panorama yg tidak tiap-tiap anak seusianya bisa nikmati.

” Rafi masih tetap ingin lagi? ” kataku lembut diiringi senyum yang kurasa pasti menggetarkan hatinya serta tanpa ada menjawab Rafi mendekat dan memeluk pinggangku sama tangan kanan dan tangan kirinya melekat di paha merayap naik-turun, waktu meraih selangkangan tanganya bergetar menibulkan sensasi yang mengagumkan merasa dari ujung kakiku sampai kepala ” Oohh sabar ya Rafi tunggulah hingga adek bobo lagi ” kataku. Saat ini permainan Rafi lebih halus serta enyutan anakku meningkatkan kencang degup jantungku ” Aahh ohhhhsettt….. tahan dahulu Rafi, mbak pingin pipis ” namun jadi Rafi menjongkok masuk ke sisi bawah jubahku, tangannya meraba-raba serta mengusap-usap memekku yang telah basah kembali, lantas dia sedang menjilatinya ” Aduh mbak ingin pipis dahulu ” rengekku. ” Mbak pipis saat ini saja agar Rafi bantu agar tidak ke toilet ” jawabnya bikin saya tersentak kaget. ” Anda ingin apa Rafi? ” kataku. ” Rafi ingin minum pipis mbak seperti tadi, terasa enak ” Rafi selalu menghisap-hisapnya sama merojok lubang memekku. Serta saya tidak kuat lagi menahannya ” Ehrrrr ehrrrr ehrrrr….. pessssssssss… senang Rafi? enakkan? ” kataku, kepalanya keluar serta tampak basah kuyup sampai pakaiannya, kesenangan ini membuatku lupa bahwa saya tengah menyusui anakku yang telah tertidur lagi, sesudah kubaringkan anakku lantas saya peluk Rafi yang bengong di hadapanku.

” Disini saja ya mbak ” pintanya, ” Bisa namun jangan sempat ganggu adek yang lagi bobo ya ” serta kubuka kancing bajuku satu persatu lantas kutanggalkan lagi jubahku, toketku menggelayut bebas, lantas mulut serta tangan Rafi sama sigap meremasnya, jilatan dan gigitan kecil silih bertukar mendera-dera toketku kanan ataupun kiri. Sembari perlahan-lahan berbaring di lantai lantas kukangkangkan ke-2 kaki tahap ini serta kukalungkan di pinggang Rafi, ” Dapat sedang mbak? ” tanyanya. ” Bisa, namun agar lebih nikmat mainin dahulu yah yang ini ” jari telunjukku menunjuk ke klitoris. Lantas Rafi menggulungkan lidahnya mengutak-atik, menyapu, menghisap dan menggigit-gigitnya, ” Ouh ahh ouh hessttt… ahhhhhh ” saya melengking tidak tahan tahan kesenangan dari surga besama adik sepupuku. ” Terusss… ohhhh… ahh ah ahh hemmm ehrrrr oh oh oh ah ah hestt…. ehrmmmm erhmmmmm…. aduh enak bangetttt yah yah yaaa oh oh oh oh uuuuuu.,,,, esssstttt… ” kuraih penis Rafi serta kubimbing menuju lubang memekku yang lagi megap-megap, membuka-menutup, ” bless ” penis Rafi yang masih tetap kecil sama mudahnya amblas tertelan. ” Pompain ya…. oh hap hap ehr ehr oh setsss lebih keras lagi… aaah ” lenguhku, seputar Sepuluh menit Rafi memompa memekku, ” aah aagh ahhhhr ahhhhhr ahhhhhhr mbak ingin pipis lagi aaaaaaaaaaaaahhhhhrrrrrrrrrr aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaahehhh eeeenngh ” serta ” sretttt sreetttttt sretttttt ” banjirlah selangkanganku sama cairan putih. ” Oh hehhhh heeh ” nafasku tersengal-sengal panjang pendek. ” Mbak senang? ” bertanya Rafi singkat. Kuraih lehernya serta kukecup pipi serta keningnya ” Terimakasih ya Rafi ingin nganterin mbak ke puncak kesenangan.. ” saya tersenyum tulus padanya. Serta penis kecil Rafi yang belum pernah ditarik keluar menaikkan kesenangan ini. ” Nyuttt nyuttt nyuttt ” rasa hangat menyirami lubang memekku diiringi erangan Rafi. Pada akhirnya kami berdua terkulai lemas serta Rafi menindih badanku, terbuai sama sejuknya angin dari surga duniawi. Waktu kami terbangun kulihat jam dinding menunjuk jam dua belas. 30 lantas Rafi berdiri serta memunguti pakaian serta berhambur keluar kamar. Tengah saya yang masih tetap lunglai meneruskan tidur disamping anakku yang lelap..