Eksanti, Love or Just Passion ? – 1

87 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  sex_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Sejak percintaan kami yang terakhir pada saat huru-hara melanda Jakarta (baca: Eksanti, The Riot 1,2), aku menjadi lebih berani untuk bertamu ke rumah kost Eksanti. Dengan sukarela beberapa kali aku membantunya menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan oleh perusahaan baru dimana Eksanti bekerja. Sebagai karyawati baru, ia memang masih harus banyak belajar, dan bantuanku sebagai bekas seniornya memang sangat ia harapkan.

Hingga suatu hari di tempat kostnya, seingatku hari itu hari Jumat malam. Kami berdua sedang beristirahat menikmati santapan makan malam, setelah hampir semalaman kami berdua memelototi angka-angka dan tabel-tabel tugas kantor Eksanti. Kami berdua makan sambil duduk di atas karpet lantai, dengan kaki diselonjorkan sehingga kaki jenjang Eksanti terlihat sangat indah. Menu santapan kami adalah nasi goreng sosis, yang kami pesan dari sebuah restoran di sekitar rumah kostnya yang buka 24 jam. Kami berbagi cerita tentang berbagai topik ringan. Yang aku ingat, kami cukup seru membicarakan tentang gosip kehidupan artis ibukota yang berinisial DR, yang baru saja bercerai setelah menikah hanya kurang lebih setahun.

Ketika itu Eksanti tiba-tiba terdiam, dan aku terpaksa bertanya, “Ada apa Santi? Kamu sakit?”
“Enggak apa-apa kok,” kata Eksanti, tetapi ia tampak cukup gelisah. Ia memalingkan wajahnya ketika aku sengaja menatapnya. Suasana menjadi cukup hening. Sambil tetap menyantap nasi goreng sosis yang memang nikmat rasanya itu, aku bertanya-tanya dalam hati, “Eksanti kenapa sih tiba-tiba jadi murung begini, setelah tadi membahas topik perceraian artis DR”.
Sedang asyiknya aku berfikir, tiba-tiba Eksanti berkata, “Mas maaf yaa.., Santi sedang menghadapi masalah pribadi, Santi baru ribut lagi dengan Mas Yoga”.
“Heek..”, sepotong sosis goreng yang baru saja aku telan terasa menyangkut di leher.
Aku bangkit dari dudukku, lalu meneguk aqua untuk melancarkan kembali saluran pencernaan dan pernafasanku. Setelah itu aku duduk kembali, meneruskan menyantap nasi goreng, sambil mendengarkan cerita Eksanti berikutnya.

Eksanti melanjutkan ceritanya, “Memang keterlaluan tuh Mas Yoga. Hari Sabtu kemarin aku, Mira adikku dan kedua orang tuaku yang datang dari Malang, sedang enak-enaknya bersantap di News Cafe – Kemang. Saat kami mau pulang, aku melihat Mas Yoga di salah satu sudut ruangan, sedang asyik makan berdua dengan seorang wanita. Tangan Mas Yoga sedang merangkul mesra bahu wanita itu, sementara wajah wanita itu ditempelkan ke samping wajah Mas Yoga, dengan rona muka seperti orang yang sedang kasmaran. Panas bener hatiku, tapi aku tidak melabrak Mas Yoga saat itu juga. Malu ‘kan banyak orang dan lagipula orang tuaku ada di situ. Hari Selasa malam lalu, Mas Yoga datang ke sini, aku tanya dia tentang kejadian itu. Mas Yoga sempat mencoba membantah, tetapi aku mengatakan bahwa adikku Mira, juga turut melihat. Mira tahu nama wanita itu, Anita. Anita dikenal Mira sebagai kakak kelasnya waktu kuliah di ASMI dulu. Akupun langsung melabrak Mas Yoga. Mas Yoga akhirnya mengakui, bahwa akhir-akhir ini ia memang sering bertemu Anita, bekas teman dekatnya dulu sebelum ia dekat dengan Eksanti. Tetapi kata Mas Yoga, ia masih tetap lebih mencintai Eksanti.”

Setelah menarik nafas sebentar Eksanti berkata lirih, “Tidak bisa.., Santi tidak bisa menerima kelakuan Mas Yoga yang seperti itu. Saat itu juga Santi memutuskan agar Mas Yoga nggak usah datang-datang lagi ke tempat kost Santi”. Lalu Eksanti melanjutkan ceritanya lagi, “Santi mendorong Mas Yoga keluar dari pintu kamar, sambil membanting pintunya. Lalu hari Rabu paginya, Santi bilang pada resepsionis di kantorku untuk menolak semua telephone dari Mas Yoga. Sebel aku”, kata Eksanti berapi-api.
“Lantas..?”, tanyaku dengan rasa penasaran.
“Ya, sekarang aku benar-benar lagi benci sama Mas Yoga”, kata Eksanti sambil menarik nafas panjang, karena tadi ketika bercerita nafasnya sempat memburu, dadanya yang indah ikut turun naik.
“Terus..?”, aku cuma bisa berkata sepotong-sepotong, karena aku tidak tahu harus berkomentar apa terhadap cerita Eksanti itu.
“Mas, kamu mau ‘kan sekarang menemani aku jalan-jalan. Aku sedang sangat kesepian dan butuh teman untuk menghilangkan rasa gundahku”, katanya perlahan.
“Bagaimana tentang laporan kamu yang harus selesai hari Senin depan ini?”, tanyaku sambil menunjuk dokumen-dokumen kerja yang berserakan di meja.
“Ah, no problem”, kata Eksanti. “..kan sudah hampir selesai, besok kan masih ada hari Sabtu dan Minggu, ayo dong Mas”, katanya merajuk sambil menarik tanganku.
“ee.. eei, tunggu dulu!”, aku mengingatkan. “..kita bereskan dulu pekerjaan kamu malam ini, baru kita jalan-jalan keluar”.
“Oke Boss”, jawab Eksanti sambil tersenyum nakal. Aku tidak menyangka, ia langsung menumpukkan semua dokumen di atas mejanya menjadi satu. Kemudian tumpukan dokumen itu dimasukkannya ke dalam lemari kabinet. Lalu setengah berlari ia menghampiriku dan menumpukkan semua dokumen bagianku, menjadi satu untuk disimpannya juga di dalam lemari kabinet yang sama.
“Hei, tunggu dulu! Ini kan belum selesai”, aku berkata sambil mencoba menahan kedua tangannya yang sedang menggerayangi mejaku. Sengaja wajahku aku pasang dengan tampang yang serius.
“Maaf Boss, tetapi jam kerja sudah lewat dan sekarang saatnya kamu menemani aku jalan”, kata Eksanti yang tetap saja mengemasi dokumen yang ditumpukkanya ke dalam lemari kabinet.
“Ck.. ck.. ck.. Santi”, kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu ini kalau sudah ada maunya, tidak sabaran lagi yaa..”, ujarku sambil mulai ikut beres-beres.
Eksanti tersenyum.

*******

Kami pun keluar dari rumah kost Eksanti dan segera meluncur menuju Café Jalan-Jalan di kawasan Kuningan. Waktu itu sudah sekitar pukul 11 malam, kami masih asyik mendengarkan live music sambil ikut berdendang. Kadang-kadang kami juga berdansa di bar lantai dua café tersebut. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasakan bahwa Eksanti semakin berani menggodaku. Entahlah, mungkin karena pengaruh minuman yang telah cukup banyak masuk ke dalam mulutnya. Bahkan ketika sebuah lagu romantis berkumandang, dalam posisi duduk, tanpa ragu ia memeluk erat leherku. Eksanti menirukan lafal nyanyian itu, ‘You Are Still The One’ dekat sekali di telingaku, sambil tersenyum mengikuti syair lagunya. Terkadang wajahnya memelas, terkadang genit manja, terkadang tersenyum penuh canda. Ketika lagu itu berakhir, didiamkannya kedua tangannya memeluk leherku sambil tersenyum manja.

“Mas, aku ingin sekali bercinta denganmu malam ini, tetapi sekarang Santi lagi dalam masa subur”, ia berbisik lirih di telingaku, lalu ia melanjutkan, “..ntar kalau Mas nakal sama Santi, hati-hati yaa.., jangan sampai jadi..”, ia tersenyum menghentikan kata-katanya. Sepertinya Eksanti memang sedang dalam keadaan ‘on’ karena pengaruh minumannya tadi, dan ditambah lagi dengan keruwetan masalah yang dialaminya dengan Yoga. Tidak seperti biasanya, kali ini ia begitu terus terang mengungkapkan keinginannya untuk bercinta denganku.

Aku membalas tersenyum sambil berkata dalam hati, “O.. o.., sepertinya ada bekal yang perlu aku beli”.
“Okay Santi, Mas mengerti. Sekarang Mas mau ke toilet dulu yaa..”, kataku sambil bangkit dari duduk. Aku sebenarnya agak ragu, apakah Eksanti benar-benar sadar akan keinginannya yang baru saja diucapkan kepadaku, karena aku tahu fikirannya saat itu benar-benar sedang dalam kondisi yang tidak fit. Namun di toilet, setelah selesai membuang hajatku, aku mengambil beberapa koin dan membeli beberapa kondom yang tersedia di box yang tertempel di dinding toilet. Siapa tahu aku benar-benar memerlukannya nanti. Aku kembali ke tempat duduk, dan kembali bercanda, menikmati berbagai lagu lain yang dinyanyikan.

Hingga suatu ketika, “Aaacch..”, Eksanti menguap sambil menutup mulutnya,”..capek niih..”. “Sekarang antar Santi pulang yuk..!”, katanya sambil menggamit tanganku. Setelah menyelesaikan pembayaran minuman kami, aku pun bangkit dan berdua kami berjalan keluar menuju mobilku. Mobil pun meluncur kembali ke rumah kost Eksanti di kawasan Selatan Jakarta.

********

“Eeh.., Mas parkir dulu dong!”, kata Eksanti ketika aku memberhentikan mobil di muka pintu pagar rumah kost untuk menurunkannya.
“Aaah.. haa..”, aku berfikir sambil tersenyum dalam hati, “..ternyata aku benar-benar harus menginap nih, untung aku sudah punya bekal”.
“Antar aku sampai kamar yaa.. Mas,” kata Eksanti lagi, sambil memegang tanganku. Wajahnya menatapku dengan senyum menggoda. Mobil bergerak lagi dan akhirnya aku memarkir mobilku di dalam halaman rumah kostnya. Kami berjalan kaki ke pintu pavilion rumah kostnya, lalu masuk ke ruang tamu pavilion yang sudah gelap gulita karena lampunya sudah dimatikan.
“Sepi sekali Santi, yang lain pada kemana..?”, aku berkomentar
“Ach.. biasa, ini kan week end, Mas. Paling mereka pada nginep di luar”, ia menjawab.
Di dalam ruang tamu tersebut Eksanti memeluk leherku sambil merebahkan wajahnya di dadaku seraya bergumam, “Hhhmm, ngaantuuk..”. Kepalanya bergerak-gerak halus bagaikan orang yang sangat menikmati mimpinya.

Pada saat itu kejantananku mulai menegang karena merasakan payudara indah Eksanti yang menekan hangat di dadaku. Sementara pahanya yang nakal bergerak-gerak halus, persis mengenai kejantananku.

Keluar dari ruang tamu kami berjalan ke pintu kamar Eksanti, yang terletak persis di sebelah ruang tamu itu. Dibukanya pintu sambil menarik tanganku.
“Ayo masuk dulu”, kata Eksanti sambil menarik tanganku.
Wajah lembutnya menatapku dengan mesra. Aku pun ikut masuk ke dalam kamar Eksanti. Ia menutup pintu kamar dengan perlahan, lalu berpaling kepadaku.
“Duduk dulu yaa.. Mas, tolong dong puterin CD lagunya Shania Twain tadi, please..”, katanya sambil meninggalkan aku menuju ke kamar mandi di dalam kamarnya.

Aku berjalan ke CD player, mengambil CD yang ia inginkan dan aku memasang dengan volume yang rendah. Lagu mengalun lembut, aku duduk di sofa sambil menyalakan TV, memilih-milih berbagai sisa acara yang masih disiarkan. Tanpa aku sadari Eksanti muncul di belakangku sambil berkata, “Waah.. udah nggak ada acara yang bagus yaa.. Mas”, sambil terus melangkah ke lemari CD. Eksanti mengambil sebuah VCD dan menyalakannya. Ternyata VCD itu adalah sebuah film produksi Vivid Video dangan bintang cantik favoritku, Asia Carera. Eksanti meninggalkanku menuju kulkas, lalu kembali dengan dua kaleng minuman dingin. Ia langsung duduk rapat di sampingku.

“Santi suka nonton film-filmnya Vivid?”, tanyaku penasaran.
“He..em, kadang-kadang”, jawabnya sambil menyandarkan kepalanya di sofa. “Ini film favoritku kalau Santi sedang kesepian sendiri,” katanya melanjutkan sambil tangan kanannya mengelus pangkal leherku. Aku menyandarkan kepalaku ke sofa sambil menatapnya.
“Kamu belum ngantuk?”, tanyaku.
“Heemm..”, ia menggeleng sambil tersenyum menggoda. Aku memalingkan wajahku kembali menonton VCD yang menayangkan adegan Asia Carera sedang mengulum kejantanan seorang pria dengan penuh semangat. Aku menikmati VCD tersebut, lalu aku meneguk minuman dingin yang ada, “Aaacch.. segar..”

Sementara itu, kejantananku mengeras kembali, karena terus terang para pemain di film tersebut cantik-cantik, sexy bagaikan para foto model dan hampir semuanya memiliki bentuk tubuh yang sangat indah.

Aku berbalik menatap Eksanti yang ternyata tangan kanannya sedang asyik meremas payudaranya sendiri, sementara tangan kirinya sedang mengelus-elus kewanitaannya di atas rok mini yang masih rapi dikenakannya. Ia pun menatapku dan tiba-tiba ditariknya kepalaku ke arah wajahnya. Ia mencium bibirku dengan mesra. Tanpa ragu lagi, aku membalas dengan mengulum bibir tipisnya. Sesaat kemudian ciuman Eksanti makin bertambah ganas. Kami pun saling berpagutan, kedua lidah kami menari-nari, kadang aku sedot lidahnya, kadang ia yang mengulum lidahku, seraya menggigit halus bibir bawahku.

Perlahan-lahan aku melepas bibirku dari mulutnya sambil mencium dengan lembut hidung, pipi, kelopak mata dan keningnya. Eksanti menarik wajahku mendekat. Ditatapnya mataku sambil berkata, “Mas, make love with me, please..,” dengan tatapan memohon bercampur gelora birahi.

Bibir kami pun kembali saling berpagutan dan kini tangan-tangan kami mulai saling menjelajah. Tangan kiriku mengelus dada kirinya, melalui blouse sutranya yang masih tertutup bra. Sementara tangan kananku merayap ke bawah, dari lutut terus naik ke pahanya, masuk ke dalam rok mininya dan menuju ke pangkal paha. Jari-jari lembut Eksanti yang tadinya aktif mengelus kejantananku dari luar celana pantalonku, kini mulai melepaskan kancing jaketku dengan kedua tangannya. Mulut dan lidah kami masih tetap saling berpagutan. Setelah jaketku terlepas, Eksanti dengan gemas menjelajahi dadaku. Ia menarik ke atas bagian bawah hem dari dalam celanaku, dan langsung mulai melepas kancing hemku satu persatu. Akhirnya aku pun bertelanjang dada. Eksanti mulai menciumi dadaku. Disedotnya puting susuku yang kanan sambil diremasnya dadaku yang kiri. “Oocchh.. nikmatnya,” lenguhku. Secara bergantian, hal yang sama dilakukannya pada dada kiriku.

Bersambung ke bagian 2