Eksanti, The Beginning – 2

96 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  phim_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Aku tidak sabar lagi, sembari kembali menjilati paha dalamnya, mulut dan gigiku kemudian segera beralih memegang ujung tepi atas celana dalamnya. Dengan sekali tarikan panjang!, lepaslah sempurna celana dalamnya. Kini tampaklah bukit indah di antara pahanya yang terpampang penuh, dengan rambut hitam segitiga, dan yang teristimewa, ada rambut halus memanjang di atas rambut kewanitaannya, menuju ke arah pusar. Inilah yang makin membuat aku terpesona, karena aku pernah mendengar dari teman-teman dekat, bahwa ciri istimewa dari putri atau cucu dalam raja-raja Jawa, adanya rambut halus memanjang ini.

Ketika celana dalamnya yang berenda-renda indah itu telah merosot diantara kedua pahanya, maka aku segera bisa melihat serta mencium bau wangi khas yang aku inginkan selama ini. Tentu aku makin bersemangat. Kini, kedua tanganku, terutama ibu jariku, memegang tepi-tepi kewanitaannya untuk membuka lubang rahasia itu lebih jauh, kini tampaklah semuanya. Betul!, bibir dalam kewanitaan Eksanti sangat utuh, lurus dan bagus, dengan warna semburat kemerahan, dan lubang sempit yang berada di dalamnya. Segera saja aku langsung menjilat-jilat bulu halus di sekitar kewanitaannya. Dengan penuh nafsu pula, aku jilati semuanya, terutama klitorisnya, yang makin terasa keras di ujung lidahku, terus-terus-terus, aku jilati, bagaikan tidak ada hari esok. “Hmm.. harum sekali wanginya”, desahku dalam hati, sambil mengagumi kepiawaian Eksanti dalam merawat tubuhnya. Eksanti merintih pelan, “Aduh Mas.. Santi tidak tahan..”.

Aku semakin berani, lidahku menjilat-jilat bibir kewanitaannya yang mulai membasah. Aku menghirup aroma wangi itu sambil terus lidahku menjilat-jilat liang kewanitaannya sampai menyentuh ujung klitorisnya. Eksanti semakin mengerang-ngerang dan klitorisnyapun kini telah menegang. Tanganku yang semula memegang buah pantatnya sekarang menuju ke atas kembali ke arah dadanya, seraya jemariku memilin-milin putingnya yang semakin mengencang. Eksanti semakin mengelinjang hebat, dan hampir mencapai klimaks, dan aku semakin merasakan derasnya air harum yang mengalir dari dalam lubang kewanitaannya. Aku terus menjilat-jilat hingga Eksanti duduk terhempas di atas kursiku seraya meremas-remas seluruh rambut kepalaku.

Desis Eksanti sekarang telah hilang, hanya muncul suara-suara “occhh.. occhh..” berulang kali dan tarikan napas yang makin panjang, berat dan dalam. Aku terus menjilati kewanitaanya. Setelah sekitar 20 menit, ujung lidahku merasakan makin membanjirnya cairan yang keluar dari lubang kewanitaannya, dan lubang itu juga makin sering menguncup dan mengembang. Eksanti menggelinjang keras dan suara eluhan panjang muncul dari bibir mungilnya, ia pun terengah-engah. Eksanti tengah mendaki puncak orgasmenya! Aku makin keras menjilati klitorisnya, dan aku menghisap pula lubang rahasianya, ia terus mengeluh panjang bagai tak pernah berhenti. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, dan Eksantipun melentingkan punggungnya seraya kedua kakinya menjepit keras leherku, lalu.., “Mas, Santi nggak tahan lagii..”, Eksanti berteriak kecil mengiringi pencapaian puncak klimaksnya yang pertama. Setelah lenguhan panjang itu, Eksanti bagaikan kehilangan semua daya dan tenaga, ia tergeletak leMas, menutup mata dan bibir tersenyum puas.

Tubuhnya sedikit melemah, dan nafasnya masih memburu ketika jemarinya dengan sigap mulai melepas ikat pinggang dan resliting celanaku. Dengan tidak sabar Eksanti menarik ke bawah celana dan celana dalamku. Maka kejantananku yang sedari tadi sudah mengeras langsung menyembul keluar. Eksanti nampak agak terkejut melihat pemandangan itu. Pada mulanya aku merasakan ada keraguan pada Eksanti, kepalanya tidak segera tertunduk mengikuti kemauan tekanan tanganku yang ada dikepalanya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, segera kejantananku mulai terbenam di mulutnya yang basah. Dengan tidak sabar Eksanti mengulum-ngulum kejantananku itu dengan bibirnya yang mungil, sambil tangannya menarik-narik buah pantatku kearah mulutnya. Sementara aku menaik-turunkan tanganku sambil memegang kepalanya. Eksanti nampaknya belum pernah melakukan hal ini.

“Aduh Eksanti, jangan kena gigi, sakit aku.. hisap dan pakailah bibirmu saja”, aku sedikit mengeluh sambil memberinya petunjuk. Ternyata Eksanti nampak mengerti dan mengikuti kemauanku. Ia segera mengerti apa yang harus dilakukannya, aku tidak lagi merasakan tajamnya gigi Eksanti. Aku mulai menikmatinya, sementara tanganku tidak lagi memegang kepalanya, namun kembali memulai lagi meremas-remas payudaranya. Menit-menit berlalu, aku mulai merasakan munculnya rangsangan tinggi, spermaku hampir keluar. Eksanti rupanya tidak mengetahui hal itu. Aku kembali memegang kepalanya, menaik-turunkannya, agar kecepatannya sesuai dengan yang aku inginkan.

“Ouugghh.. enak sayangg..”, begitu erangku, ketika kejantananku hampir seluruhnya masuk kedalam mulut kecilnya. Eksanti menjilat-jilat kepala kejantananku lama sekali sampai-sampai seluruh otot-otot tubuhku menegang.
“Sayang, aku sudah tidak tahan lagi..”, begitu eranganku.

Seperti ada komando khusus, kami saling memposisikan diri. Aku menarik kejantananku dari mulutnya, dan aku arahkan ke lubang kewanitaannya sementara Eksanti berdiri dan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Kami berdua berdiri berhadapan rapat, lalu sambil dituntun tangan Eksanti, aku menekan kejantananku dalam-dalam. Pelan sekali, lembut sekali..
“Aaacch!” Eksanti menjerit sambil memejamkan matanya erat-erat. Kejantananku yang kenyal-keras itu menerobos masuk dengan lancar, langsung membentur bagian yang paling dalam,.. langsung memicu orgasmenya. Cepat sekali!

Sambil bertelektekan di bibir meja, aku menenggelamkan mukaku di leher Eksanti yang sudah dibasahi keringat. Sambil mencium dan menggigit-gigit kecil, aku mulai menggenjot, mengeluar-masukkan kejantanannya penuh semangat. Eksanti mengangkat kedua kakinya, memeluk pinggangku erat-erat, mengunci tubuhku yang juga sudah berkeringat itu kuat-kuat. Perjalanan menuju puncak birahi dimulai sudah..
“Aaacch.. yang keras, Mas..!” desah Eksanti, merasakan orgasmenya yang kedua sudah akan tiba, dan ia ingin digenjot sekeras-kerasnya!
Aku menekan lebih keras lagi, sampai kadang-kadang meja kerjaku seperti bergeser diterjang tubuh kami berdua. Pangkal kejantananku -bagian paling keras itu- membentur lingkar-bibir kewanitaan Eksanti yang sedang berdenyut-denyut mempersiapkan ledakan pamungkas.
“Aaachh..!” Eksanti menjerit merasakan ledakan pertama menyeruak dari dalam tubuhnya, “..Ngga tahan, Mas.. Aaacchh..!”

Permainan cinta pertama ini berlangsung cepat sekali bagi Eksanti. Tidak lebih dari 15 menit. Tetapi dilakukan dengan sangat bergairah, sehingga setelah ia mencapai puncak, ia rubuh di atas kursiku. Aku berhasil menahan lava panasku dan mengikutinya menubruk tubuh Eksanti di atas kursi. Eksanti tersengal menahan tubuhku, dan terduduk di kursiku tak berdaya dengan sendi-sendi yang seperti copot! Sementara itu kejantananku yang keras menegang masih menancap erat di dalam liang kewanitaannya.

Semenit kemudian, ketika tenagaku kembali pulih aku mulai menggoyangkan kembali buah pantatku. “Achh..”, begitu desahnya begitu kepala kejantananku kembali menyentuh bibir kewanitaannya.
Aku desakkan pelan-pelan kejantananku, dan Eksantipun menarik buah pantatku ke arahnya. “Augghh.. enak Mass”, begitu desahnya ketika seluruh kejantananku kembali telah terbenam di dalam lubang kewanitaannya.

Lalu aku menarik, mendorong, menarik lagi, mendorong lagi. Aku merasakan kewanitaannya semakin basah. Kewanitaannya yang sempit itu semakin menjepit kejantananku. Dengan irama yang teratur aku menarik dan mendorongkan tubuhku kearahnya, Eksanti menyilangkan kakinya di belakang buah pantatku, sehingga terasa kejantananku terjepit disela-sela bibir kewanitaannya. Makin dalam.. dan semakin dalam kejantananku masuk kedalam liang kewanitaannya yang semakin membasah. Kami sama mengerang-erang penuh kenikmatan, dan peluh menetes dari lehernya, aku jilat-jilati peluh itu, aku ciumi seluruh leher dan belakang telinganya.

Lalu ketika irama kami semakin cepat Eksanti berkata “Ayo Mas.., lebih cepat Mas.. lebih dalam lagi.., please”.
Aku menggigit bibirku menahan rasa nikmat yang luar biasa, kejantananku semakin cepat dan semakin dalam menusuk-nusuk kewanitaannya, seluruh otot-otot tubuhkuku menegang. “Uchh sayang.. enak sekali..”, aku mengerang-mengerang sambil terus kugigiti bibirku.

Tak lama kemudian, ketika irama kami semakin cepat tubuhnya menegang sambil meremas rambut kepalaku dan mendesah, “Ougghh.. Mas, aku enak..sekali..”

Eksanti menjepit buah pantatku dengan menyilangkan rapat-rapat kakinya, dan aku pun menahan napas sambil terus menusuk-nusukkan kejantananku. Dinding-dinding kewanitaannya terasa memijat-mijat kejantananku, sehingga memberikan rasa nikmat yang luar biasa pada diriku. Aku menikmati ekspresi wajahnya yang mengalami orgasme dengan kenikmatan luar biasa yang belum pernah Eksanti alami selama ini, sambil matanya berkaca-kaca karena kenikmatan itu.

Aku terus menekan dan menghujam, ia sendiri juga sudah ingin meledak rasanya. Seluruh perasaannya seperti ingin tumpah ruah sesegera mungkin. Apalagi otot-otot kenyal di kewanitaan Eksanti kini mencekal erat, seperti meremas-remas dan mengurut-urut kejantananku. Aku juga tidak tahan lagi..
“Uuucch..!”, aku menggeram sambil menggenjot keras-keras lima kali.
“Ah-ah-ah-ah-ah!” Eksanti mengerang setiap kali genjotan maha dahsyat itu menerjang tubuhnya. Dan akhirnya, tidak lama kemudian..
“Ouughh.. sayang,.. Mas keluarr..”, aku mengerang kenikmatan ketika aku mengeluarkan lava panas dari kejantananku membasahi seluruh lubang kewanitaannya yang telah basah kuyup. “Aaachh..!” aku kembali mengerang keras, menancapkan dalam-dalam kejantananku dan bertahan di sana ketika lecutan-lecutan ejakulasi melanda seluruh tubuhku.
“Ooocch..!” Eksanti mendesah panjang merasakan cairah panas tumpah ruah di dalam kewanitaannya dan seperti memberi penyedap utama bagi geli-gatal orgasme ketiganya.

Eksanti mendekapku erat sekali, dan kepalakupun terkulai di lehernya sambil menikmati bau keringatnya yang merebak wangi. Lima menit sudah kami saling terkulai, lalu ketika debar jantung kami telah kembali normal, aku menarik kejantananku dari kewanitaannya.

“Eksanti, tolong ambilkan tissue di atas mejaku”, aku berujar pelan. Eksanti bangkit dari duduknya, masih dengan mata nanar, diambilnya kotak tissue di mejaku. Ia kemudian kembali ke arahku, sambil matanya masih memandang kejantananku. “Santi, tolong sekalian di bersihkan yaa..” kataku sambil menunjuk kejantananku. Lalu di lapnya pelan-pelan dan penuh keraguan kejantananku, matanya masih nanar dan penuh tanda tanya.

Meskipun kakiku sedah meleMas, tetapi kejantananku masih menegang keras dan basah kuyup. Matanya nampak sangat gemas memandangi kejantananku, seakan ingin mengulumnya, akan tetapi ia nampak ragu-ragu.. Melihat hal itu, aku kembali mendekatkan kejantananku ke arah mulutnya, lalu Eksanti mencium dan menjilatinya sambil membersihkan lava panas yang masih menempel. Geli dan enak sekali rasanya ketika lidahnya menyapu-nyapu kejantananku itu.

Ketika kejantananku kembali bersih dan meleMas, kemudian Aku kembali memeluknya, sambil berbisik ditelinganya “Eksanti, jangan takut dan malu, aku dan kamu hanya manusia biasa dan sudah dewasa, kita berdua masih sama-sama belajar tentang hidup”, bujukku menenangkannya. “Kamu masih seperti dulu, Eksanti yang aku kenal”.

Keraguan, mulai pelan-pelan sirna di matanya, senyumnya mulai lagi muncul di matanya. Ia membalas bujukanku dengan membalas memelukku.
“Selamat!” pikirku selintas.
“Mas, Santi boleh keluar sekarang?”, sambil masih memelukku. Aku mengangguk sambil mencium keningnya. Wajahnya kembali tersenyum, Di ambilnya celana dalamnya yang bagus dari lantai, semula ia ingin menggunakannya di depanku. Ia kembali melihatku, ia tidak jenak dan sungkan, melihat laki-laki asing di depannya akan melihatnya memakai celana dalam. Ia melipat celana dalamnya, dan dimasukkannya ke kantong roknya. Ia berdiri, sambil memperbaiki kancing dan baju serta bra yang dipakainya.

Sambil kami mengenakan pakaian kami masing-masing, mataku tak lekang menikmati pemandangan yang sangat sensual itu. Dan setelah kami kembali berpakaian rapi, ia kembali memandangku. Masih dengan tersenyum, ia dekatkan wajahnya pada wajahku dan dengan segenap hati aku sambut. Aku memegang kepalanya, lalu aku mencium pipi dan keningnya.
Aku berbisik pelan “Aku, ingin segera bertemu kamu lagi, tunggulah telponku, thank you.., take care yourself”. Ia mengangguk dengan pelan. Eksanti berjalan ke arah pintu. Aku tahu untuk pertama kali ini ia berjalan ke arah pintu itu tidak memakai celana dalam. Sesampai di depan pintu, ia menoleh ke arahku, matanya kembali memancarkan harapan dan ketulusan. Ia mengangguk sambil tersenyum..

Eksanti pun keluar dari kamarku sambil berkata “Besok jangan nakal-nakal lagi yaa.. Mas..!!”. Akupun cuma mengedipkan sebelah mataku tanda setuju..

TO THE NEXT SEQUEL..