Eksanti, The Next Sequel – 1

99 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  nyepong_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Kejadian pertama di akhir Desember 1996 itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Sejak kejadian itu, hubunganku dengan Eksanti dalam suasana kerja formal tidak berubah. Ia memang masih tetap Eksanti yang dulu, yang cantik, cekatan dan pintar membawakan dirinya. Akupun walau jadi lebih sering memperhatikannya, namun sama sekali tidak pernah berusaha untuk memberi perlakuan khusus mengenai urusan-urusan kantor kepadanya. Aku memang selalu berusaha untuk memisahkan masalah pribadi dengan urusan kantor.

Sebenarnya aku juga tahu bahwa pada saat yang bersamaan Eksanti juga menjalin ‘affair’ dengan rekanku sesama manajer di kantorku. Aku sangat tahu hal itu, karena secara tidak sadar si manajer itu sering ‘berkonsultasi’ kepadaku mengenai ‘affair’-nya dengan Eksanti. Mungkin ia beranggapan bahwa aku berpengalaman untuk hal-hal seperti ini, dan karena ceritanya itu, aku jadi lebih banyak tahu mengenai Eksanti. Satu hal yang pasti, aku tidak pernah menceritakan hubungan khususku sengan Santi kepadanya, sehingga sampai detik ini ia tidak pernah tahu. Demikian juga aku juga tidak pernah menyinggung cerita manajer itu pada Santi, sehingga Eksanti tidak menyadari kalau aku mengetahui hubungan mereka.

Setelah kejadian pertama di ruang kerjaku itu kami harus berpisah sementara waktu, karena kantorku libur akhir tahun selama kurang lebih satu minggu. Sebenarnya aku merasa kangen sekali kepadanya, namun aku tidak berusaha ‘mengganggunya’. Kadang-kadang aku merasa cemburu dengan sikap Santi yang mendua, namun seperti prinsipku semula, aku tidak akan pernah mengganggu kehidupan pribadinya. Aku merasa bahwa Santi pun juga memiliki prinsip yang sama denganku. Hal inilah yang membuatku malah semakin ‘sayang’ kepadanya.

Hari pertama masuk kerja di bulan Januari 1997, cuaca masih tetap tidak bersahabat. Jakarta kembali hujan rintik-rintik, udara dingin sekali. Eksanti masih berada didepan komputernya, sementara aku sudah bersiap hendak pulang.
“Kok, Santi belum pulang?”, aku menyapanya.
“Saya nungguin hujan berhenti”, Eksanti menjawab sambil memandang lurus ke arahku
“Eksanti pulangnya ke arah mana sih”, aku melanjutkan bertanya
“Ke Selatan, Mas ke arah mana?”, jawabnya singkat sambil balik mengajukan pertanyaan.
“Ke arah Selatan juga. So, mau pulang sama-sama”, aku menawarkan diri dan Eksanti menjawab dengan anggukan kepala tanda setuju.
“OK, Santi tunggu di bawah yaa.. saya ambil mobil lalu kita pulang sama-sama”. kataku menutup percakapan kami.

Lalu kamipun turun bersama dalam satu lift, kami sama-sama terdiam. Sesaat mata kami beradu pandang, mata kami saling berbicara melebihi kata-kata.. ada secercah desiran menggelora dalam perasaan kami. Ketika lift berhenti di lantai dasar, Eksanti keluar menuju lobby depan dan aku bergegas mengambil mobil yang di parkir di belakang gedung kantor kami. Aku mempercepat langkahku menuju mobil, dan dengan agak terburu-buru aku membuka pintu dan setengah melemparkan tas kerjaku ke dalamnya. Setelah itu aku segera memanaskan mesin mobil sebentar, lalu segera memacu ke arah depan lobby ke tempat Eksanti sedang menungguiku. Aku menghentikan mobil tepat di sebelahnya sedang berdiri, lalu pintu sebelah kiri aku buka dari dalam, dan Eksantipun segera melangkah masuk. Sesaat mataku melirik ke arah kaki indahnya, darahku berdesir membayangkan peristiwa yang pernah aku alami bersamanya minggu lalu.

Mobil segera meluncur ke luar dari kompleks perkantoran kami. Jakarta macet sekali, apalagi di tengah gerimis di saat jam pulang kantor begini. Tidak ada pilihan lain kecuali mobil harus segera berjalan menuju ke arah kemacetan itu. Di dalam mobil kamipun ngobrol kesana kemari, dan akupun merasa beruntung ditemani mengobrol oleh seorang bidadari cantik di sebelahku di tengah-tengah kemacetan yang menjemukan ini.

AC di dalam mobil bertambah dingin oleh cuaca di sore itu, sementara minimnya sirkulasi udara membuat harum bau parfum tubuhnya semakin menggoda perasaanku. Aku sendiri sudah lupa kami mengobrol apa saja waktu itu, ketika tiba-tiba ditengah obrolan itu, aku memegang jemari lentiknya dan aku angkat ke arah hidungku. Aku mencium lembut jari-jari itu, dan aku hisap-hisap ujungnya sehingga Eksanti bisa merasakan desiran-desiran hangat dalam darahnya.

“Mas, jangan nakal aacchh..”, begitu katanya manja seolah-olah Eksanti tidak menginginkan rasa itu muncul dari dalam dirinya.
“Nggak apa-apa, yang penting Santi bisa menikmati ‘kan?”, begitu jawabku.
Eksanti duduk gelisah di sampingku ketika akhirnya kami bisa melepaskan diri dari kawasan macet di jalur lambat dan kini meluncur menuju ke arah kota. Sengaja aku tidak mengambil putaran terdekat untuk menuju arah selatan, karena aku ingin berputar-putar kota sejenak sebelum membawa Eksanti pulang ke rumahnya. Aku mengerti perasaan gelisahnya, mungkin ia sedikit khawatir aku akan berbuat ‘nakal’ lagi. Aku mencoba menghiburnya dengan mengelus-elus pundaknya sambil tetap berkonsentrasi dalam menyetir mobil. Jalanan ramai, sehingga mobil harus berjalan perlahan dengan gigi 3. Untunglah kaca jendela sedan kami dilapisi film cukup pekat, sehingga kalau aku ingin menyentuh dirinya, orang luar tak akan bisa melihat.

Belaian jemariku memberi rasa damai dihatinya dan kini Eksanti merapatkan duduknya, sambil memindahkan tanganku dari punggungnya. Tangan itu kini mendarat di paha kanannya, dan ia mengelus-meremas dengan sayang. Ketika aku sedikit mengerem mobil, payudara kanannya terhenyak di lenganku. Aku menggesek-gesekkan lenganku untuk menggodanya, dan ternyata godaanku menimbulkan rasa hangat menggairahkan di dalam tubuhnya. Putingnya cepat sekali menegang, dan seluruh bulatan kenyal payudaranya cepat sekali terasa gatal-geli. Aku merasakan Eksanti mulai terangsang oleh ‘kenakalanku’. Pastilah keteringatannya pada peristiwa dua minggu lalu juga memberikan andil pada rangsangan itu.

Lalu aku meletakkan tangannya di pangkuanku, sementara tangan kiriku masih tetap berada di atas pangkuannya. Tangan kananku tetap mencoba berkonsentrasi pada stang stir mobil. Aku melirik sebentar kearah wajahnya, Eksanti tersipu-sipu, dan matakupun beralih sesaat ke kaki indahnya. Achh.. aku semakin tidak tahan menahan gejolak batinku yang semakin menggelora menikmati pemandangan indah itu. Lalu dengan sedikit keberanian yang tersisa aku singkapkan sedikit ke atas rok yang Eksanti kenakan, sebuah rok span warna hitam dengan bunga-bunga kecil berwarna coklat. Tanganku menyingkap roknya, yang memang tidak terlalu panjang itu.

“Kakimu indah yaa..”, begitu kataku, dan Eksantipun semakin tersipu.
Degupan jantungku yang kian bertambah kencang, menambah rasa keberanianku. Jemari tanganku mulai membelai-belai dengan lembut kaki bagian atasnya yang telah tersingkap. Eksanti mendesis lirih, “Achh.. Mas..”, dan desisannya itu membuat aku semakin berani untuk merayapkan jemariku menuju pangkal atas kakinya. Lalu Eksanti membukakan pangkal atas kakinya, dan tangan kirinya membibing tanganku menuju ke arah daerah sensitifnya.

Eksanti merebahkan sedikit sandaran kursinya, memajukan duduknya. Nah, kini dengan mudah tangan kiriku bisa mengelus-elus daerah kewanitaannya, yang tentu saja masih terbungkus celana dalam satin putih halus. Eksanti mendesah dan menggigit pundakku ketika aku mulai menggunakan jari tengahku, menelusup di antara celah kewanitaannya yang sudah mulai lembab itu. Aku berkonsentrasi ke jalan, tetapi jariku juga tidak pernah luput menemukan titik-titik rangsang di sela pahanya. Untuk hal yang satu ini, aku merasa sudah sangat ahli. Jangankan sambil menyetir, sambil berlari pagi pun rasanya aku selalu bisa merangsang dirinya.

Eksanti merenggangkan kedua pahanya. Jemariku membuatnya kegelian, sekaligus membuatnya ingin bertambah geli lagi, bertambah gatal lagi, bertambah basah lagi. Eksanti mengerang dalam bisikan, merasakan cairan hangat mulai muncul di bawah sana. Pelan-pelan merayap turun, membasahi liang kewanitaannya, menimbulkan noda di celana dalam satin warna putihnya. Posisi duduknya kini sudah terlalu maju ke depan, sehingga hampir tak bertumpu di kursi. Hanya sepertiga dari buah pantatnya yang menyangga tubuhnya. Sandaran kursi semakin diturunkan, sehingga Eksanti sudah setengah terlentang. Kedua lututnya terangkat dan semakin terpisah, memberikan lebih banyak keleluasaan kepada tanganku yang cekatan.

Tanganku merasakan lembutnya daerah pangkal pahanya, dan aku juga merasakan adanya bulu-bulu lembut yang menyeruat dari balik celana dalam satin berenda yang membalut erat kewanitaannya. Aku semakin tidak tahan, lalu aku semakin berani menyelipkan jari tengahku melalui belahan samping celana dalamnya menuju bibir kewanitaannya. Eksantipun semakin mendesis, “Ughh..”, sembari tangannya memegang erat jok mobil disisi kanan kirinya. Terasa olehku lembutnya bibir kewanitaannya dan lelehan air wangi yang mulai mengalir deras dari dalam lubang bibir kewanitaannya. Aku mengusap-usap lelehan air wangi itu dengan ujung jariku, lalu kutarik sesaat jariku dari balik celana dalamnya, kulumat pelan-pelan jariku dengan mulutku, pelan.., pelan sekali, lalu jemariku yang basah oleh ludahku merayap kembali ke pangkal pahanya. Eksanti tampak sangat menikmati permainanku, dan mulai mendaki puncak orgasmenya..

Tiba-tiba lampu lalulintas menyala merah! Aku cepat-cepat menekan rem. Ban mobil berdenyit. Aku melihat ke spion, takut ada mobil yang terlampau dekat di belakang. Ternyata tidak. Mobil berikutnya cukup jauh, dan segera mengurangi lajunya ketika melihat lampu rem mobil kami menyala. Tak urung, mobil itu tersuruk ke depan, hampir saja melewati batas lampu merah. Eksanti kaget, tersentak dan meluncur ke depan. Tanganku terlepas dari selangkangannya. Eksanti jatuh terduduk di kompartemen depan, lalu tawanya meledak!
“Sorry, Santi..,” ucapku sambil ikut tertawa.
Eksanti bangkit, dan kembali ke posisi duduknya. “Ach.. sialan, tuh, lampu merah!” sergahnya masih tertawa. Buyar sudah pendakian orgasmenya yang sudah hampir meledak. Rasa nikmat segera diganti rasa lucu.

Lalulintas terhenti di lampu merah. Aku melihat kiri kanan, takut ada orang iseng yang memperhatikan aktifitas kami berdua. Tetapi tampaknya tak seorang pun bisa tahu apa yang terjadi di dalam sedan hijau gelap itu. Terlalu gelap. Hanya tampak bayangan dua orang duduk. Satu di belakang setir, dan satu agak tertidur. Itu saja.

Sambil menanti pergantian arus lalu lintas, aku semakin berani. Aku menelusupkan tangan ke dalam celana dalamnya. Hangat sekali tubuhnya di bagian bawah itu. Sudah basah pula di sana-sini. Jari tengahku menemukan tonjolan kecil-kenyal di lepitan atas kewanitaannya. Aku mengelus pelan tonjolan itu. Eksanti mengerang, menggeliat kecil, memejamkan matanya. Sentuhan pertama di bagian itu selalu menimbulkan rasa campuran: enak dan mengejutkan. Seperti disengat lebah, tetapi tentu tidak sakit. Sengatan yang justru memberikan nikmat. Apalagi kemudian aku memutar-mutar ujung jariku di situ, perlahan saja, seperti seseorang sedang meraba-raba di dalam gelap. Ahh.., Eksanti semakin merasakan rasa nikmat merayapi tubuhnya.

Kembali aku menarik jariku dari balik celana dalamnya, lalu aku melumat pelan-pelan jariku dengan mulutku.
“Achh.. harum sekali..”, begitu kataku. Namun Eksanti semakin tidak sabar, ia menarik lagi tangan kiriku dan kembali diarahkan ke daerah sensitif itu. Sementara tangan kanannya, mencoba menurunkan celana dalamnya.

Ketika lampu kembali menyala hijau, kami masih saling menikmati aktifitas percintaan itu. Pengendara mobil belakang tak sabar, menekan klakson keras-keras. Aku cepat-cepat menekan gas, membuat sedan kami melesat cepat dengan suara ban berdenyit. Masih dalam posisi gigi 2, aku menekan pedal gas. Sebetulnya, ini praktek yang tidak sehat untuk mobil. Tetapi tangan kiriku masih sibuk, maka aku memaksa mobilnya bergerak walau mesinnya terdengar menggerendeng seperti memprotes. Untung saja sedan ini masih baru, sehingga tak berapa lama jalannya pun sudah lancar. Aku mempertahankan gigi 2 karena lalulintas toh masih tersendat.

Kini celana dalam Eksanti telah turun sampai ke lututnya, sehingga bibir kewanitaannyapun telah terbebas. Tanganku semakin beraksi masuk kedalam lubang bibir kewanitaannya, aku sentuh pelan-pelan lipatan-lipatan bibir kewanitaannya. Jariku menggelincir turun. Eksanti menggeliat, mengangkat pantatnya, bergeser ke kanan. Jari tengah itu pun masuk, menyelinap ke liang kewanitaannya. Licin sekali di bawah sana, hangat dan berdenyut pula. Ohh,.. Eksanti menggeliat lagi. Jari nakal itu seperti sedang menggoda dengan gelitikan-gelitikannya. Menimbulkan serbuan-serbuan geli-nikmat yang memenuhi sekujur tubuh. Eksanti segera tenggelam dalam lautan birahinya sendiri, sejenak ia lupa bahwa dirinya masih berada di mobil yang sedang merayapi kemacetan ibukota.

ke bag 2