Eksanti, The Other Manager – 1

95 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  ngentot_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Cerita Manajer itu kepadaku:

Sore hari di bulan Februari tahun 1997, aku masih ingat betul kejadian itu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sementara aku masih duduk di ruang kerjaku merenungkan situasi ekonomi yang tidak juga kunjung membaik. Aku benar-benar pusing memikirkan hal itu, dan aku merasa butuh penyegaran bagi otakku yang mulai suntuk. Lalu aku mulai menyalakan modem dan men-dial website favoritku. Ketika aku sedang iseng-iseng melakukan surfing di web site itu, tiba-tiba temanku si manajer masuk ke dalam kamarku.

“Hei, lagi ngapain lu..”, ia bertanya singkat.
“Biasa.., lagi iseng surfing di internet”, jawabku tanpa melirik ke arahnya.
Aku dan dia memang terbiasa untuk menyapa dengan pangilan elu dan gua, kecuali untuk saat-saat yang sangat formal. Kami memang telah saling mengenal dekat cukup lama, dan kami pun dulu belajar di peguruan tinggi yang sama. Kedekatanku dengan dia membuat kami tidak perlu saling merasa sungkan untuk menceritakan hal-hal yang sangat pribadi, termasuk pengalaman kami masing-masing dengan teman-teman wanita. Baik pengalaman waktu kuliah dulu, juga pengalaman kami sekarang saat kami sama-sama telah menjadi manusia dewasa. Hanya saja, sejauh ini aku sama sekali tidak pernah menceritakan affairku dengan Eksanti demikian pula dengan si manajer itu, hingga kejadian sore itu.

Lalu aku melanjutkan lagi.. “..ehh.., elu tahu nggak aku menemukan fotonya Eksanti di internet”.
“Ahh.. masa, coba lihat”, ia bertanya dengan nada penasaran, sambil berjalan ke arah belakang tempat dudukku. Ia menarik kursi, dan duduk di sebelahku. Lalu aku mencari file yang aku maksud, dan segera membukanya.
“Naa.. ini ‘kan Eksanti”, aku menunjuk gambar seorang wanita yang sedang berpose menantang di layar komputerku. Aku sebenarnya tahu persis bahwa gambar itu bukanlah Eksanti, walau wajah wanita itu memang benar-benar mirip dengan Eksanti.
“Acchh.. ngawur kamu”, ia melontarkan pendapatnya, “..wajahnya memang mirip, tapi payudaranya terlalu besar.. achh”.
“Emang, elu tahu ukuran Santi?”, aku bertanya dengan sedikit nada heran bercampur sedikit rasa cemburu.
“Hee.. he.., tanya sama gua dong. Gua kan pernah begini sama dia”, katanya dengan nada bangga sambil meremaskan kedua tanggannya di dadaku.
“Achh.. lu, ngarang ‘kalii..!!”, aku mengomentari pernyataannya dengan segala usaha untuk menyembunyikan rasa cemburuku.
“Lu.., nggak percaya.., hee.. hee.. gua kan udah lebih lama ngenal dia daripada elu, jadi gua tahu persis segala-galanya tentang dia”, ia berujar lagi.
“Emang gimana sih.. si Eksanti itu”, aku bertanya lagi dengan penuh selidik.
“Gua tahu, tapi gua nggak mau cerita..”, ia menolak pertanyaanku.
“Acchh.. Lu bohong aja..!”, aku memancing lagi.
“Ecchh.. bener, gua tahu persis!!”, nadanya sedikit meninggi. Naa.. kena deh pancinganku. Lalu ia melanjutkan lagi, “..iya deh gua ceritaain, tapi elu jangan cerita-cerita ke yang lain yaa..”.
“Iya deh, kayak elu nggak tahu gua aja”, aku semakin berusaha memancing pengetahuannya tentang Eksanti.

Lalu si manajer tadi bercerita panjang lebar mengenai latar belakang si Eksanti. Ia memang tahu persis latar belakang keluarganya, pacar-pacarnya, affair-affairnya, bahkan sampai ke masalah-masalah sosial ekonomi-nya. Sebenarnya aku kagum pada pengetahuan dan kedekatannya dengan Eksanti, tetapi aku tetap berusaha menyembunyikan perasaanku. Aku jadi teringat bahwa ceritanya memang persis sama dengan yang Eksanti pernah ceritakan kepadaku, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayai ‘pengetahuan’ si manajer ini.

Ketika ia mulai mengakhiri ceritanya, aku bertanya lagi kepada si manajer itu “..terus emang elu ada affair juga sama Eksanti?”
“Yaa.. gimana yaa.., abis gua juga lagi suntuk di rumah sih. Terus Santi juga lagi ada problem, gua kebetulan mau ndengerin problemnya. Terus dia mau ngedengerin problem gua.. Yaa.. saling curhat gitulah. Emang yang begituan begituan namanya affair..?”, aku tahu, ia masih berusaha menyembunyikan cerita yang sebenarnya kepadaku.
“Lho.., tadi elu bilang tahu persis ukuran Santi”, aku mengingatkan.
“Iyaa.. sih, gua emang pernah sama dia, tapi..”, ia berhenti sejenak nampak ragu-ragu melanjutkan ceritanya.
“Tapi gimana..?”, aku semakin penasaran.
“Ceritanya begini.., elu tahu ‘kan kita pernah punya bisnis kapal yang di Surabaya itu”, akhirnya dia tidak tahan juga untuk tidak bercerita.
“Iyaa.. terus apa hubungannya”, aku memancing lagi.
“Kan, Eksanti banyak mbantuin gua di bisnis itu. Jadi gua sama dia jadi makin deket. Gua jadi sering jalan bareng sama dia.”, ia melanjutkan.
“Terus..?”, aku mulai serius mendengarkan.
“Terus kejadiannya kira-kira sebulan yang lalu..”, ia mulai berterus terang, menceritakan kejadiannya secara rinci..

*****

Hari Jum’at sore selepas Maghrib, udara di kota Surabaya yang biasanya sangat terik, berubah menjadi dingin sekali akibat hujan yang turun seharian. Kami baru saja keluar dari sebuah kantor BUMN di Surabaya, setelah seharian kami melakukan rapat untuk mengurus ijin pelayaran kapal perusahaan kita. Sengaja hari itu, diam-diam tanpa memberitahumu, aku mengajak Eksanti ke kota Surabaya untuk membantuku dalam mengurus perijinan ini. Seperti biasa, menurutku birokrat akan lebih lunak bila dihadapi oleh seorang wanita, apalagi yang pintar, cantik dan sexy seperti dia.

Tadinya kami memang berencana untuk langsung pulang ke Jakarta menggunakan pesawat yang terakhir, tetapi karena waktu yang tidak memungkinkan lagi untuk memperoleh tiket pulang ke Jakarta, maka aku lalu berfikir lain.
“Wah, kayaknya kita harus nginep di Surabaya nih, Santi. Toh besok kita juga libur, kamu nggak keberatan ‘kan?”, ujarku kepadanya.
Terlihat ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Nggak apa-apa sih, Mas, tapi kita mau nginep di mana?”
Aku lantas memberi usul yang sangat rasional, “Kita cari hotel terdekat dengan airport saja deh. Nanti saya akan booking dua kamar yang sebelahan yaa.., jadi biar kamu nggak takut”.
“Oke.., itu ide yang baik”, Eksanti berkata singkat menyetujui usulku.

Lalu kami berjalan ke arah taksi yang kebetulan banyak yang sedang menunggu di depan kantor itu. Sebuah taksi berwarna biru segera menghampiri kami yang sedang berdiri di tangga lobby kantor itu.
“Ke hotel Holiday Inn Pak..!”, aku berkata pada sopir taksi begitu kami berdua duduk bersebelahan di kursi belakang. Rasa penat yang ada dalam diriku membuatku melamun. Aku mengingat-ingat pertemuan dengan para birokrat yang baru saja kami lakukan. Tiba-tiba aku tersenyum sendiri ketika aku mengingat, betapa pada saat meeting tadi darahku sempat mengalir deras ketika aku melirik ke arah kaki indahnya yang sedikit tersingkap. Hal itu sempat mengganggu konsentrasiku, sehingga aku agak tergagap-gagap ketika tiba-tiba si birokrat itu memberikan pertanyaan padaku.

Lamunanku tiba-tiba buyar ketika Eksanti berkata, “Kok, Mas senyum-senyum sendiri, ada apa sih..?”.
“Nggak.., nggak apa-apa”, aku menjawab dengan sedikit terbata-bata, sambil memandang lurus ke arah matanya dengan tajam. Eksanti lantas tersipu-sipu, dan mataku pun beralih kembali ke arah kaki indahnya. Dadaku kembali berdegup kencang ketika aku kembali menyaksikan pemandangan indah itu. Rasa penatku seakan langsung menghilang lenyap. Celanaku terasa sesak ketika kejantananku tidak bisa diajak kompromi lagi. Akupun lalu membayangkan hal-hal indah yang selama ini cuma ada di angan-anganku. Akankah bayanganku itu bisa menjadi kenyataan?

Suasana perjalanan dari kantor itu ke arah Airport Juanda benar-benar hening. Aku kembali pada lamunanku, sementara aku melihat Eksanti berusaha untuk memejamkan matanya. Ia nampak sangat letih. Kasihan juga gadis ini, aku sangat beruntung tadi sangat dibantu oleh kehadirannya. Aku berjanji akan memberinya hadiah bila sampai di Jakarta nanti, pikirku dalam hati.

Tidak terasa kami telah sampai di hotel, dan setelah aku membereskan administrasinya, kami segera menuju ke lantai 7 dimana kamar kami berada. Ketika di dalam lift yang menuju lantai itu, kami hanya berdua. Mata kami kembali beradu pandang, aku merasakan adanya desiran hangat dalam diriku, terlebih ketika harum bau parfum Eksanti begitu terasa di dalam lift yang sempit itu. Bayang-bayang tentang keindahan itu kembali menggaguku, dan “tingg..” tiba-tiba buyar begitu lift berhenti di lantai 7. Kami lalu menuju kamar masing-masing yang saling berhadapan pintunya, aku ingat betul nomornya 712 dan 713. Sesaat kami sempat beradu pandang kembali pada waktu membuka kunci pintu kamar. Darahku lagi-lagi berdesir deras, dan Eksanti pun tersipu malu..

******

Pukul 20.00 malam, aku selesai mandi, bayang-bayang Eksanti terus menggodaku. Dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di bawah perutku, aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Bayang-bayang itu semakin menggelorakan birahiku, dan tanpa terasa kejantananku pun menegak ketas membayangkan hal-hal indah yang belum pernah aku alami bersamanya.

“Achh.. seandainya..”, aku berkata dalam hati sambil mengusap-usap handuk yang menyembul ke atas menutupi kejantananku. Lalu, tiba-tiba aku teringat bahwa notulen rapat tadi siang masih ia bawa. Aku segera menyambar gagang telephone di sebelah tempat tidurku, lalu aku memutar nomor telephone di kamarnya. Aku meminta ijin pada Eksanti untuk mengambil notulen itu di kamarnya dan ia pun mengiyakan. Karena aku berpikir nanti terburu malam, maka aku hanya mengenakan kaos dan celana tidur saja, ketika aku beranjak ke kamarnya. Aku tidak pernah memakai celana dalam bila hendak tidur.

Aku mengetok pintu kamarnya, dan Eksanti segera membukanya. Ia sudah selesai mandi, rambutnya masih basah oleh air keraMas, dan saat itu Eksanti hanya mengenakan daster putih tipis yang menerawang. Sesaat jantungku berdegup keras ketika aku memperhatikan bayang-bayang tubuh indahnya yang nampak jelas karena terpaan sinar dari arah belakang kamarnya.
“Masuk dulu deh Mas, nanti saya ambilin!”, begitu sapa Eksanti. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, dan aku baru sadar bahwa saat itu Eksanti belum mengenakan celana dalam dan bra. Kejantananku kembali mengeras menyembul dari balik celana tidurku menyaksikan pemandangan indah itu. Aku semakin tidak tahan.

Eksanti berjalan menuju ke meja, tempat ia menyimpan tas berisi berkas-berkas kerja. Aku berdiri tepat di belakangnya. Bau harum tubuh dan rambutnya yang wangi semakin mengelorakan jiwaku. Tiba-tiba Eksanti berbalik badan dan berkata, “..yang ini yaa.., Mas!”, sambil memegang berkas notulen yang aku maksud. Aku terkejut, karena rambutnya yang basah mendadak tersibak mengenai mukaku. Tubuh kami secara tidak sengaja hampir berhimpitan.

Aku tahu bahwa Eksanti juga terkejut karena secara tidak sengaja kulit tangannya sempat menyentuh celana tidurku yang menyembul keras sekali.
“Yaa.. benar, yang itu”, aku terbata menjawab sambil mencoba menerima berkas kertas-kertas notulen itu. Karena kami sama-sama gugup, maka kertas-kertas itu terjatuh dari tangannya. Secara refleks aku mencoba untuk menangkapnya, namun justru pergelangan tangannya yang terpegang oleh tanganku. Kertas-kertas itu jatuh bertebaran di lantai, namun kami tidak menghiraukannya lagi.

Gejolak birahi telah sedemikian menggelora dalam diriku. Dengan sisa keberanian yang ada aku meremas jemari tangannya sambil sedikit menarik tubuhnya ke arahku.
“Mas.., jangan Mas”, Eksanti mendesah lirih, namun ia memejamkan matanya seolah ia menikmati belaian lembut tanganku di jari-jarinya. Lalu dengan sedikit nekad, aku mencoba mendekatkan bibirku ke bibirnya yang tipis itu.

“Mas.., jangan..”, ia masih berusaha menolakku dengan lemah, tetapi tangannya sama sekali tidak berusaha untuk mendorong tubuhku yang menghimpitnya. Ketika sekali lagi ia membuka mulutnya untuk berkata “Jangaann..”, maka aku tidak mennyia-nyiakan kesempatan untuk mencium dan melumati bibir indah itu. Aku menggigit dengan lembut bibirnya. Serangan pertamaku berhasil, ia sama sekali tidak menolak bahkan tangannya memegang pipiku seolah berusaha agar aku lebih leluasa menciuminya.

Tanganku memeluknya dengan erat dan jemariku telah berada disekitar buah pantatnya seakan berusaha untuk menekan badannya lebih rapat ke arahku. Posisi ini membuat Eksanti bisa dengan jelas merasakan tonjolan kejantananku di balik celana tidurku.
“Hhhmm..”, Eksanti mendesah pelan ketika aku menggesek-gesekan kejantananku di sekitar daerah sensitifnya. Kini bibirku telah turun kearah lehernya yang putih. Lidahku menyapu-nyapu di belakang telinga dan membasahi rambut-rambut halus di atas tengkuk lehernya.

Tangan Eksanti kini telah turun dari leherku menuju ke arah buah pantatku, berusaha untuk menekankan kejantananku ke arah kewanitaannya. Lalu tangannya menyusup dari arah karet atas celana tidurku, dan jemarinya meraba-raba buah pantatku. Ia nampak sedikit kaget ketika ia tahu aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik celana tidurku. Jemari itu terus bergerak ke depan berusaha untuk menggenggam kejantananku.

“Ssshh..”, aku mendesis nikmat, saat jemari tangannya bergerak lembut melingkari kejantananku yang telah mengeras. Tanganku sekarang telah meraba-raba puting payudara kirinya, sementara mulutku menciumi putingnya yang kanan. Daster putih yang ia kenakan membasah di sekitar putingnya karena air liurku, sehingga putingnya yang kecil, tegang, merah kecoklatan itu semakin tampak jelas mencuat ke atas. Bergantian aku meraba dan mencium puting kiri kanannya, dan Eksanti mulai mendesis-desis nikmat, “Acchh.., Mas, enak sekalii..”.

Lalu dengan lembut aku membibingnya ke arah ranjang tidur. Eksanti terduduk di atasnya dan ia merebahkan sebagian badannya di atas tempat tidur. Sementara kakinya yang indah masih terjulai ke atas karpet. Aku menyingkapkan daster yang ia kenakan, dan aku menyaksikan indahnya bulu-bulu hitam lembut yang menutupi kewanitaannya dengan rapi. Sungguh sangat pandai ia merawat dirinya, pikirku dalam hati. Aku berlutut antara kedua paha indahnya yang berjuntai dan aku mengarahkan bibirku ke arah bulu-bulu lembut itu. Lalu aku mulai mengecup dan mengembus-hembuskan nafas hangat yang membuatnya berteriak kecil, “Aw..!” tanda kaget sekaligus senang.

“Aucchh..”, Eksanti mendesis lagi ketika jilatan-jilatan lidahku mulai menyentuh kulit pahanya. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku seolah-olah mengarahkan bibirku tepat ke atas kewanitaannya. Bibirku kini telah menempel di bibir kewanitaannya, lidahku menjilati dinding luar kewanitaannya dan Eksanti berteriak pelan menyebut-nyebut namaku. Apalagi kemudian aku mengeluarkan lidahku, dan dengan itu aku mulai menjilat perlahan, menyelipkannya di antara dua bibir kewanitaannya yang bersih dan wangi itu.

ke bag 2