Eksanti, The Other Manager – 2

74 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  mp4_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Eksanti mengerang, merasakan kenikmatan luar-biasa mulai menyebar dan membuat tubuhnya menegang. Apalagi kemudian lidahku berputar-putar di bagian atas, di tonjolan kecil yang kini memerah itu. Oh! Eksanti menggeliat. “Adduhh.. Mas, enakk..”, Eksanti kembali mendesis sambil mengelinjangkan tubuhnya. Aku bertambah nekat dengan mengisap-hisap klitorisnya, sehingga seakan-akan seluruh tubuhnya tersedot ke bawah. Lelehan air wangi yang sedari tadi telah membasahi dinding kewanitaannya kini makin mengalir deras. Bunyi lidah dan hisapan-hisapanku pada klitorisnya makin menjadikan birahiku kian memuncak. Tangannya juga semakin cepat membenam-benamkan kepalaku sambil terus berteriak-teriak lirih, “..terus Mas, teruss.. Mas, please, jangan berhenti..”

Kemudian salah satu telunjukku menerobos liang yang telah licin dan basah itu. Oh! Eksanti menggelepar, merasakan kegelian-kenikmatan-kehangatan dalam sentakan-sentakan yang menggelora. Apalagi kemudian aku mencengkram kedua kakinya, mengangkat dan mengangkangkannya. Oh! tubuhnya meregang ketika aku memasukkan lidahku,–seluruh lidahku– sampai ke pangkalnya, ke dalam liang yang terasa semakin melebar itu. Apalagi kemudian aku memutar-mutar lidah itu, meraih-raih langit-langit kewanitaannya yang telah berdenyut-denyut nikmat. Oh! Eksanti tak tahan lagi. Kaki Eksanti kini dilipatkan di balik punggungku mencoba untuk menahan derasnya air wangi yang mengalir dari dalam kewanitaannya. Dua menit berselang ketika kewanitaannya sudah basah kuyup oleh air wangi dan air liurku, tiba-tiba badannya menegang, punggungnya melenting ke atas dan Eksanti menjerit, “Achh.., Santi keluar mass..”.

Eksanti merasakan orgasme pertamanya datang menyerbu, menggemuruh bagai air bah yang tak tertahankan. Apalagi kemudian aku menyedot dengan seluruh mulutku, bagai sedang menyantap seluruh kewanitaanmu dengan lahap. Tak tertahankan lagi, Eksanti menggerang, menggelinjangdan bergeletar hebat, berteriak, “Ahh..mass..”. Tersentak-sentak, tubuhnya yang mulai basah oleh keringat menyebabkan ranjang berderik-derik. Segera aku berdiri, aku merebahkan tubuhku di atas badannya dan aku memeluk erat dirinya sambil menciumi mulut kecilnya itu. Tanganku masih berusaha untuk membelai-belai lembut klitorisnya.
“Achh.. Mas, enak sekali, enak sekalii..”, Eksanti mendesis-desis lagi.

*****

Sejenak setelah Eksanti mencapai orgasmenya yang pertama, ia lalu melepaskan pelukanku, dan ia merebahkan diriku sepenuhnya di atas tempat tidur. Eksanti duduk di sampingku sambil matanya dengan gemas mengamati kejantananku yang menjulang ke atas. Eksanti segera meremas kejantananku dengan lembut dan menciuminya. Lidahnya yang basah menyapu-nyapu lembut kepala kejantananku, memberikan rasa geli bercampur nikmat yang luar biasa.

Pertama-tama Eksanti memang cuma mengecup di sana-sini, lentikan-lentikan bara birahi, membuatku tersentak-sentak kegelian. Tetapi tak lama kemudian, dengan satu tangan mencekal-mereMas, Eksanti mulai mengulum dan menghisap. Wow! Aku seperti dilambungkan ke langit-langit, kedua kakiku bagai tak menginjak bumi. Dan Eksanti pun semakin bergairah, bagai bayi dahaga mulai menyedot berkepanjangan, berusaha memasukkan semuanya ke dalam mulut kecilnya yang hangat dan basah.
“Ouughh..”, aku mendesah pelan ketika ujung lidahnya menyentuh-nyentuh lubang pada ujung kepala kejantananku. Sementara tangannya berusaha untuk mengocok-ngocok kejantananku.
“Ooohh.. sayang aku nggak tahan, nggak tahann..”, aku menjerit-jerit pelan.

Sementara tangan yang satu sibuk mencekal-mereMas, tangannya yang lain tiba-tiba saja sudah menjelajahi selangkangnya sendiri. Di bawah sana sudah mulai lembab dan gatal. Maka Eksanti pun mengusap-usap, menelusur dengan jari tengahnya, menguak lepitan bibir kewanitaannya yang terasa mulai menebal. Dengan ujung jempol, Eksanti sentuh pula bagian atas, tempat sebuah benjolan kecil yang mulai mengeras, mengirimkan getaran-getaran nikmat ke seluruh tubuhnya. Jari tengahnya kini mulai melesak, mengurut-urut permukaan liang yang telah pula basah dan licin. Eksanti menggelinjang sendiri. Geli dan nikmat sekali rasanya.

Dengan mulut penuh, Eksanti cuma bisa merasakan nikmat. Aku mengerang-ngerang sambil memegang kepalanya, mengusap rambutnya yang legam, yang di sana-sini menyentuh bagian dalam pahaku, menambah nikmat. Kalau begini terus, pikirku, sebentar lagi aku akan menyebabkan Eksanti tersedak. Maka dengan lembut aku menarik tubuhnya untuk segera berdiri. Kami berduapun lalu berpelukan, dan aku mengulum-melumatkan bibirnya. Sambil tetap berdiri, kami bergeser perlahan-lahan menuju ranjang. Bagai menari, kami bergoyangan perlahan, seirama menuju tempat peraduan.

Lalu Eksanti beringsut dari posisi duduknya dan kini Eksanti duduk di atas kejantananku. Buah pantatnya yang kecil tetapi padat itu, ia geser-geserkan pelan-pelan pada kepala kejantananku. Lalu Eksanti membibing kejantananku menuju lubang kewanitaannya. Ketika kejantanan itu tepat berada di depan lubang nikmat itu, Eksanti lalu menekankan badannya ke bawah sehingga kejantananku pelan-pelan terbenam di dalam lubang kewanitaannya.

Eksanti mengerang lagi, merintih nikmat, merasakan otot perkasa yang panas membara menerobos masuk ke dalam tubuhnya yang sedang bergeletar hebat. Segera saja kembali muncul kenikmatan baru di tubuhnya. Dan aku langsung meremas dada indahnya yang sintal itu, yang telah pula mengeras bagai hendak meledak. Eksanti menjerit kecil, kedua tangannya terentang pasrah, jari-jarinya meremas-remas seprai yang memang sudah berantakan tak karuan. Nafasnya tersengal-sengal, matanya terpejam nikmat, mulutnya setengah terbuka.

“Oouugghh.., Mas”, Eksanti berteriak nikmat sambil berusaha menggigit bibir bawahnya. Lelehan air wangi kembali terasa membasahi kejantananku hingga menambah licinnya gesekan-gesekan nikmat dinding kewanitaannya. Eksanti bergerak turun naik perlahan-lahan sambil tangannya mencengkeram dadaku untuk menopang badannya.
“Sshh.. enak sayangg..”, aku mendesis nikmat saat klitorisnya terasa keras bergeser-geser di sepanjang kejantananku. Eksanti bergerak turun naik makin cepat dan semakin cepat, sambil matanya terpejam-pejam menikmati rasa birahinya. Aku sangat menikmati ekspresi wajahnya saat itu, dan tanganku memilin-milin dua buah putingnya yang juga sudah amat mengeras.
“Teruss.. sayangg.., teruskan, lebih dalam lagi..”, aku berteriak-teriak penuh rasa nikmat. Eksanti semakin cepat bergerak membenamkan seluruh kejantananku di dalam liang surgawinya.
“Ouchh.. Mas, enak Mas, enak sekalii..”, Eksanti menjerit-jerit kecil sambil mencakar-cakar lembut dadaku.

Dalam posisiku yang terbaring, aku berusaha mengimbangi gerakannya dengan mengayun-menghujam dalam sentakan-sentakan pendek. Eksanti merasa bagai ditikam-tikam, tetapi tanpa sakit, melainkan penuh berisi kenikmatan. Pinggulnya mulai bereaksi bagaikan seorang penari. Setiap hujaman dengan dorongan dan goyangan, sehingga kedua tubuh kami yang berpeluh bertumbukkan tepat di tengah-tengah. Setiap tumbukan mengirimkan getaran-getaran nikmat ke seluruh penjuru tubuh. Dua menit berselang, lalu Eksanti mencengkeram erat lengan tanganku sambil berteriak, “Ouchh.. Mas, Santi enakk.. sekalii..”, dan seluruh badannya menegang seiring dengan tercapai orgasmenya. Eksanti mengerang lagi, merintih lagi, berteriak-teriak kecil lagi.

Orgasme keduanya datang sangat cepat, posisnya masih tetap duduk di atasku, dan kedua pahanya erat menjepit pinggangku yang tak kenal lelah mengayun-menghujam. Dengan sekali hentak, aku melesakkan seluruh kelaki-lakianku jauh ke dalam tubuhnya, menyentuh bagian paling dalam, menyebabkan Eksanti berteriak nikmat dan meregang-menggelepar. Takut kedengaran kamar sebelah, aku segera membungkam mulut kecilnya dengan ciuman. Akibatnya Eksanti cuma bisa menggumam, “Ngg..” ketika puncak birahinya tiba dalam gelombang-gelombang besar yang mengguncangkan tidak saja tubuhnya, tetapi juga tubuhku yang sedang erat memangkunya di atas kejantananku. Ranjang kami berderit-derit bagai memprotes.

Setelah membiarkan dirinya sejenak tenggelam dalam gelombang orgasmenya, aku membantu mengangkat tubuhnya, menarik kelaki-lakianku keluar disertai protes lemahnya, “Mas, .. jangan dikeluarkan, Mas..please”. Tetapi aku tidak bermaksud berhenti. Sebaliknya, aku ingin memberikan yang terbaik baginya di malam yang dingin ini. Kapan lagi kesempatannya? Apalagi jam baru menunjukkan pukul 21.00. Masih banyak waktu untuk sebuah percintaan-bergairah.

Dengan kedua tanganku yang kokoh, aku menggulirkan tubuhnya sehingga kini Eksanti tertelungkup dengan nafas yang masih memburu dan dada yang turun-naik dengan cepatnya. Eksanti diam saja. Pasrah saja. Dan aku menggunakan kedua telapak tanganku untuk menyingkap kewanitaannya dari belakang. Lalu aku menghujamkan kelaki-lakianku dengan sekali, masuk sampai ke pangkalnya, membuat Eksanti tersentak. Oh! Eksanti membiarkan diriku berbuat sesuka hati, karena kewanitaannya kini sudah sangat sensitif. Diapakan saja, Eksanti pasti segera mencapai orgasme. Dan betul saja. Tikaman-hujamanku belum lagi mencapai hitungan ke delapan, ketika orgasme ketiganya datang lagi menggemuruh. Kali ini terasa lebih hebat, karena gosokan-gosokan kejantananku sangat keras terasa di dinding-dinding kewanitaannya, karena kedua kakinya kini menyatu, membuat aku terjepit erat. Kesat sekali. Nikmat sekali.

Orgasme ketiga juga terasa lebih panjang dan lebih intens, karena aku tak menghentikan hujaman kejantananku. Aku tetap menyerbu-menikam-nikam dengan nafas yang tak kalah menggemuruh. Eksanti mengerang-merintih-menjerit. Eksanti menggigit seprai yang telah pula basah oleh keringat. Kegelian yang tak tertahankan, bercampur kenikmatan yang meletup-letup, memenuhi seluruh tubuhnya yang terhimpit di antara kasur dan tubuhku. Eksanti tak tahan, tapi Eksanti tak ingin aku berhenti pula. Eksanti membiarkan gelombang demi gelombang kenikmatan merajah tubuhnya.

Dan akupun merasakan kenikmatan luar biasa ketika Eksanti mencapai puncak birahi untuk kesekian kalinya ini. Aku merasakan betapa kejantananku bagai dilumat oleh lapisan sutra yang lembut dan hangat. Bagai diremas-remas sambil disedot-sedot, sehingga bagian ujung yang sangat sensitif itu terasa hendak segera meledak. Aku mengayun-ayunkan terus pinggangku, menghujam-hujamkan terus kejantananku, karena kini aku tak bisa lagi berhenti. Aku harus terus menghujam, harus terus menikam, harus terus menikmati sensasi-sensasi kenyal di sekeliling kejantananku.

Eksanti merasakan nikmat luar biasa ketika kejantananku mencapai ketegangan maksimum. Di tengah gelombang orgasmemu, Eksanti bisa merasakan aku sedang menuju orgasme pula. Dan ini memicu gairahnya semakin kuat. Eksanti menjepitkan kedua paha lebih erat lagi, sehingga kini Eksanti bagai memeras kejantananku, meremas-menyedot agar aku segera mencapai puncak birahi bersama-sama.

“Terus, mass.. terus.. terus..,” ucapnya merintih-rintih. Dan aku hanya menyahuti dengan erangan, karena aku kini sedang mengejang merasakan kenikmatan yang luar biasa menyergap tubuhku. Aku juga menikmati desahan nikmat nafasnya, dan aku masih bergerak turun naik, turun naik.. menanti-nanti datangnya saat nikmatku sendiri.
Sesaat kemudian, “..ouucchh.. Santii.., Mas nggak kuat lagii..”, aku menjerit sambil memeluk erat tubuhnya dari belakang.

Dengan sebuah hujaman terakhir yang sangat dalam, aku berteriak, “Akhh..!”, dan Eksanti menyambut dengan jeritan kecil, lalu mengerang panjang ketika merasakan semprotan-semprotan hangat memenuhi seluruh rongga kewanitaannya. Nikmat sekali.. Aku mengeluarkan lava panas di dalam lubang kewanitaannya. Dinding kewanitaannya terasa memijat-mijat seluruh kejantananku, lembut, lembut, lembut sekali. Eksanti juga merasakan puncak birahinya bagai dipicu kembali oleh semprotan-semprotan itu. Gelombang-gelombang kenikmatan masih menggetarkan tubuhku yang kini lunglai. Kepalanya menengadah, ia menciumi bibirku, penuh mesra, penuh rasa terimakasih. Cairan-cairan cinta kami berleleran memenuhi kedua pahanya, menempel pula di pahaku. Lava panas itu mengalir turun lagi dari dalam kewanitaannya sesaat waktu kami berpelukan erat. Aku menciumi keringat yang mengalir di sepanjang belakang lehernya dan Eksanti pun terkulai lemas di bawah tubuhku. Akhh.., betapa liarnya kami berdua malam ini, gumamku dalam hati.

Lalu Eksanti merebah kesamping sambil berkata dengan nada yang manja, “Mas, tadi Santi rasanya enak sekali. Santi keenakan sampai empat kali.., Mas hebatt.. deh. Sekarang Santi capek banget, pengin bobo duluu..”.
Aku tersenyum sedikit bangga sambil mencium keningnya. Lalu tanpa tersadar Eksanti terlelap dalam pelukan tanganku. Kami tertidur tanpa selembar benangpun menempel di kulit kami, seolah-olah lupa akan dinginnya AC sentral di hotel Holiday Inn malam itu.

************

Pukul empat pagi Eksanti terbangun, udara masih sangat dingin. Eksanti dengan mesra menciumi pipiku sambil berkata ,”Bangun Mas, kita harus mengejar pesawat pagi ini”.
Aku terkaget sejenak lalu tersenyum sambil membalas ciumannya dengan melumati bibir mungilnya. “Mandi yuk Mas, nanti kita telat”, begitu katanya sambil menyelendangkan selimut ditubuhnya.
“Santi duluan deh, aku masih kedinginan nih”, aku menjawab sambil mencoba menarik selimut menutupi badanku.

Eksanti lalu berlalu menuju kamar mandi. Sementara ia masuk ke kamar mandi, aku memandang langit-langit hotel sambil tersenyum sendiri mengingat kejadian indah malam tadi. Lalu aku mendengar suara air mengalir di kamar mandi, menandakan bahwa Eksanti sedang mengisi bathtub. Tanpa aku sadari kejantananku kembali mengeras membayangkan dirinya lagi. Aku mendengar suara Eksanti sedang menggosok gigi, sementara air pengisi bathtub masih mengalir deras.

End