Eksanti, The Riot – 3

71 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  memek merekah_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Lanjutan dari bagian 2

Eksanti tampak lemas, namun ia tiba-tiba bangkit lalu mendorong badanku sehingga aku pun terhempas telentang. Eksanti menggerakkan dan menggeser badannya, sehingga tubuh indahnya sekarang sudah berada di atas tubuhku. Eksanti mulai mencium kening, hidung, pipi dan bibirku. Ia semakin ganas saja dalam berciuman dan kadang-kadang kembali diselingi dengan menciumi seluruh wajahku.

Dengan posisi Eksanti yang masih tetap berada di atas badanku, aku memeluk tubuh Eksanti yang ramping tetapi padat itu rapat-rapat, sambil berusaha mencium seluruh wajah cantiknya, Demikian juga dengan Eksanti, ia melakukan ciuman yang sama sambil sesekali terdengar rintihan suaranya, “Aaacchh.., aacchh.., oocch.., maass..”.

Eksanti sekarang mencium leherku dan terus turun ke arah dadaku, terasa geli dan enak, sehingga tidak terasa aku berdesis lirih, “..sshh.., sshh.., Santii.., sshh”.
Dan tibalah di salah satu daerah paling sensitifku, di kedua putingku. Aku mulai mendesah ketika Eksanti menjilatinya, Eksanti tanggap akan hal itu, dia terus menjilatinya dan karena aku tidak tahan lagi aku memintanya menggigit dengan keras. Aku pun blingsatan menahan nikmat tak terkira, makin keras gigitannya makin puas aku rasakan.

Eksanti meneruskan ciumannya, sambil kepalanya terus bergerak menuruni badanku. Ketika mulutnya sampai di sekitar pusarku, ia menciuminya dengan penuh bersemangat, disertai dengan jilatan lembut lidahnya di sekeliling pusarku. Sungguh hanya rasa nikmat semata yang mampu aku rasakan sekarang, sehingga kejantananku kian menegang, masih di bawah tubuh indah Santi.

“..sshh.., Santii.., adduuhh.., aacchh”, aku merintih lagi.
Kepala Eksanti kembali secara perlahan-lahan terus turun. Ketika sampai di sekitar kejantananku, Eksanti tidak segera memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya, tetapi menciumi dan menghisap daerah sekelilingnya, termasuk bola kejantananku sehingga rasa enaknya terasa sampai ke ubun-ubun.
“..sshh.., aahh.., aahh.., Santii.., oohh”, aku mendesis berkepanjangan.
Jemari tangan kanan Eksanti mulai melingkari batang kejantananku dan mengocoknya perlahan dengan lembut.

Tiba-tiba, “hhuubb”, kejantananku hilang masuk ke dalam mulutnya. Karena merasa kaget dan merasakan nikmat yang sangat, tidak terasa aku menjadi sedikit berteriak, “..aacchh”.
Eksanti segera menaik-turunkan mulutnya pelan-pelan dan sesekali aku merasakan kejantananku seperti terhisap-hisap karena sedotan kuat mulutnya, “Aaaduuhh.., Santii.., enaakk.., aacchh”.
“Ayoo.., doong.., San.., sinii.., Mas juga kepingin”, kataku sambil sedikit bangun dari tidurku dan menarik badannya.

Eksanti sepertinya mengerti kemauanku. Tubuhnya diputar mengikuti tarikan tanganku dengan tanpa melepas kejantananku yang masih menyumpal di dalam mulutnya. Posisi kami sekarang 69 dan Eksanti masih tetap berada di atas tubuhku. Tercium aroma kewanitaan yang khas itu. Kewanitaan Eksanti ditumbuhi bulu-bulu hitam yang cukup lebat, menutupi celah nikmat yang belahannya masih sangat rapat. Pelan-pelan aku menjilat bibir kewanitaan Eksanti yang sudah sangat basah itu. Badan Eksanti menggelinjang setiap kali bibir kewanitaannya aku hisap-hisap.
Dari mulutnya yang masih tersumpal kejantananku itu terdengar suara, “hhmm.., hhmm.., hhmm”.

Dengan kedua tanganku, aku segera membuka belahan kewanitaan Eksanti pelan-pelan dan terlihat bagian dalamnya yang berwarna merah muda. Aku segera menjulurkan lidahku, mejilati dan menghisap-hisap seluruh bagian dalam kewanitaan Eksanti.
Kembali aku mendengar erangan Eksanti yang sekarang sudah melepas kejantananku dari mulutnya, “aacchh.., oocchh.., sshh.., maas.., oocchh..”, sambil berusaha menggerak-gerakkan pantatnya naik turun sehingga sepertinya mulut dan hidungku masuk semuanya ke dalam rongga kewanitaannya.
Wajahku terasa basah semuanya oleh cairan nikmat yang keluar dari kewanitaan Eksanti.

“Oooch.., Mas.., aacchh.., sshh.., oochh.., teruuss.., Mas.., aacch”.
Apalagi ketika klitoris-nya aku hisap, gerakan pantat Santi yang naik turun itu terasa semakin dipercepat dan kembali terdengar erangannya yang cukup keras, “Oooch.. Mas.., teeruuss.., aachh”.
Beberapa kali klitoris-nya aku hisap-hisap sambil sesekali lidahku aku julurkan masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Gerakan pantat Eksanti semakin menggila dan cepat, semakin cepat dan, tiba-tiba tubuh Eksanti bergetar hebat sambil meremas kuat kedua betis kakiku dan terasa agak perih mencakarinya.
“Aaachh.., maas.., aadduuhh.., Santii.., aacchh.., keluaarr..”, sambil menekan pantatnya kuat sekali ke wajahku.
Aku sedikit kelabakan karena sulit bernafas dan terdengar nafas Eksanti terengah-engah di atas sana. Setelah tekanan pantatnya di mukaku terasa berkurang, perlahan-lahan aku memutar badanku ke samping sehingga Eksanti tergeletak di tempat tidur, tetapi masih tetap dalam posisi 69.
Dengan masih terengah-engah aku mendengar Eksanti memanggil pelan, “Mas, ke sini.., Mas..”.
Segera saja aku bangun serta memutar posisi, lalu aku memeluk tubuhnyanya. Aku mencium bibirnya dengan mulutku yang masih basah oleh cairan kewanitaannya.

“Mas..”, katanya di dekat telingaku, ketika nafasnya sudah mulai agak teratur.
“Ada apa Santii..”, sahutku sambil mencium pipinya.
“Mas.., sejak terakhir kali kita bercinta 3 bulan yang lalu, aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini, bahkan tidak juga dengan Mas Yoga “.
“Terima kasih.., Santii.., dan sekarang.., boleh akuu..”, sahutku dan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, aku merasakan Eksanti merenggangkan sudah kedua kakinya.
Aku tidak perlu meneruskan kata-kataku itu. Aku mengambil ancang-ancang dengan memegang kejantananku, lalu aku mengarahkan pada belahan kewanitaannya yang aku rasakan sedikit terbuka. Perlahan-lahan aku arahkan kejantananku ke depan bibir kewanitaannya. Sengaja tidak aku Masukkan dulu tetapi aku main-mainkan, dengan cara menyerempetkan ujung kepala kejantananku ke klitorisnya. Eksanti mulai mengerang lagi, ia kembali gelisah.

Aku melepaskan pegangan tanganku saat aku rasakan kepala kejantananku tepat berada di mulut belahan kewanitaan Eksanti.
“Mas.., jangan kasar kasar.., yaa.., Santi takut sakit”, kata Eksanti sambil memelukkan kedua tangannya di punggungku.
“Tidaak, sayaang.., Mas akan memasukkan sepelan mungkin. Kalau Santi merasa sakit tolong beritahu Mas yaa..”, sahutku.
Segera aku mengulum bibir Eksanti sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Eksanti menghisap dan mempermainkan lidahku, sementara itu aku mulai menekan pantatku pelan-pelan sehingga kepala kejantananku mulai memasuki rongga kewanitaannya. Dengan perlahan aku lesakkan batang kejantananku ke lubang yang sudah basah oleh cairan cintanya tadi.
Dan.., “Bleess..”. Akhirnya batang kejantananku sudah masuk setengahnya ke dalam kewanitaannya.
Eksanti berteriak pelan, “Aaachh.., Mass..”, sambil kedua tangannya mencengkeram kuat di punggungku.

Karena teriakan Eksanti ini, aku menahan tusukan kejantananku untuk masuk lebih dalam dan aku bertanya, “Sakit.., Santi?”.
Eksanti hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan, “Mas.., Santi kaget, rasanya makin besar aja..”, sambil mencubit hidungku. Kedua kakinya segera diangkat lalu dilingkarkan ke punggungku, sehingga akibat jepitan kakinya ini menjadikan kejantananku sekarang masuk seluruhnya ke dalam kewanitaan Eksanti.

Aku belum menggerakkan kejantananku karena Eksanti sepertinya sedang mempermainkan otot-otot kewanitaannya sehingga kejantananku terasa seperti terhisap-hisap dengan agak kuat.
“Santii.., teruus.. Santii.., enaakk sekalii.., “, aku membisikkan rasa kenikmatanku di telinganya.
Perlahan-lahan Eksanti menggerakkan badannya, menggantungkannya ke tubuhku,.. naik turun, sedangkan aku hanya terpejam diam menikmati ransangan surga dunia itu, “Aacch.. acch.. acch.. Santi.. pintar sekali.. enak Santi.. och.. terus.. ach.. ach..” aku mengerang kenikmatan.
Eksanti terus menggoyang, badannya melengkung ke atas lalu menjilati dan menggigit putingku lagi. Sungguh satu gaya yang benar-benar bisa membangkitkan kenikmatan sensasi birahiku. Aku hanya bisa pasrah pada situasi seperti ini.
“Puaskan aku dengan tubuhmu Santi..” bisikku kepadanya. Eksanti hanya tersenyum simpul, ia lalu menyodorkan payudaranya ke arah mulutku, aku pun mulai menghisap dan mengulum sekuatku.

Karena rasa enak yang amat sangat menderaku, dengan tanpa sadar aku mulai menggerakkan kejantananku naik turun secara perlahan dan teratur, sedangkan Eksanti secara perlahan juga memulai memutar-mutarkan pinggulnya. Setiap kali kejantananku aku tekan masuk ke dalam kewanitaannya, aku mendengar suaranya, “Aaachh.., sshh.., Mas, aaccrrhh..”, mungkin karena kejantananku menyentuh bagian kewanitaannya yang paling dalam.

Karena seringnya mendengar suara ini, birahiku menjadi semakin terangsang. Gerakan kejantananku keluar masuk ke dalam kewanitaan Eksanti semakin cepat. Suara-suara, “Aaachh.., sshh.., aahh.., oohh.., aachh” dari mulut Eksanti semakin sering dan semakin keras terdengar. Gerakan pinggulnya semakin cepat sehingga kejantananku terasa semakin enak dan nyaman.

Aku semakin mempercepat gerakan kejantananku keluar masuk kewanitaannya dan tiba-tiba Eksanti melepaskan jepitan kakinya di pinggangku dan mengangkatnya lebar-lebar. Posisi ini mempermudah gerakan kejantananku keluar masuk kewanitaannya. Terasa kejantananku dapat masuk lebih dalam lagi.
Tidak lama kemudian aku merasakan pelukan Eksanti semakin kencang di punggungku dan, “Aaachh.., oohh.., ayoo maass.., aachh.., akuu.., mauu.., keluaar.., aachh.., Maass..”.
“Tungguu.., Santii.., aachh.., kitaa.., samaa.., samaa..”, sahutku sambil mempercepat lagi gerakan kejantananku.
“Oocch.. Mas.. enak Mas.. oh.. terruus.. Mas.. occhh.. oocchh..” sambil tangannya meremas kedua putingku. Aku semakin mempercepat goyangan, setelah beberapa lama keringatku membasahi dada Eksanti, butir demi butir. Tubuh kami berdua berkeringat hingga kami berdua bermandikan peluh. Justru hal itulah yang membuatku semakin bernafsu. Mataku terpejam-pejam, aku sungguh menikmati pemandangan indah ekspressi wajah Eksanti di bawahku.
Perut Eksanti mulai mengeras, otot perutnya mulai mengencang siap untuk meledakkan sesuatu, ia bergetar hebat. “Adduuhh.., Maas.., akuu.., nggaak.., tahaan.., Maas.., ayoo.., se.. karaang.., aarrcch”, sambil kembali kedua kakinya dilingkarkan dan dijepitkan di punggungku kuat-kuat.
“Oochh.. Santii Mas juga mau keluar.. Keluarin di mana Santii.. di dalam yaa.. och.. och..” aku mengerang kenikmatan.
“Keluarin di dalam aja Mas, terus Mas.. makin cepat.. yaa.. begitu.. och.. och.. terus Mass..” dengan menjerit Eksanti terlihat pasrah.
“Ooh.. Santii.. sekarang.. Sann.. occh.. acch.. acchh.. sshh.. acch.. Santii.., akuu.., jugaa..”, dan terasa, “Plash.., plash.., plash” (8X), ledakan lava kentalku keluar dari ujung kejantananku dan tumpah ruah di dalam kewanitaan Eksanti. Aku mengejan sambil aku tekan kuat-kuat kejantananku melesak ke dalam rongga kewanitaannya.

Dengan nafas yang masih terengah-engah dan badan penuh dengan keringat, didorongnya aku dari atas badannya sehingga aku jatuh terkapar di sampingnya, tetapi kejantananku masih tetap terjepit erat di dalam lubang kewanitaannya. Setelah nafasku agak teratur, aku mengatakan di dekat telinganya, “Santii.., terima kasih.., yaa..”, sambil aku kecup telinganya. Eksanti tidak menjawab atau berkata apapun dan hanya mencium wajahku.

Setelah diam beberapa lama lalu aku mengajak Eksanti membersihkan badan di kamar mandi dan kami terus tidur sambil berpelukan. Paginya aku antar Eksanti pulang ke rumah kostnya di bilangan Selatan Jakarta.

Hari-hari selanjutnya kami tetap bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun. Yang pasti sejak kejadian yang terakhir itu hubunganku dengan Eksanti ini kembali berlanjut walaupun ia telah pindah kerja dan memiliki kekasih yang dicintainya, Mas Yoga-nya.

T A M A T