Eksanti, The Riot – 1

94 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  memek perawan_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Seingatku kejadian ini terjadi di pertengahan bulan Maret 1998, saat ramai-ramainya demonstrasi melanda Jakarta. Ketika itu sudah lebih dari tiga bulan Eksanti pindah ke kantornya yang baru, yang berlokasi di daerah Jakarta Pusat, sedangkan kantorku masih menempati sebuah ruko kecil di bagian utara Jakarta. Dalam tiga bulan pertama perpisahan kami, sejak terakhir kali aku sempat pergi bersamanya (baca Eksanti: (Probably) The Last Session), aku memang jarang berkomunikasi dengan Eksanti. Namun sekitar pukul 16.00 tadi, aku mendengar bahwa Eksanti sempat mampir sebentar ke kantorku, untuk mengambil beberapa file penting miliknya yang masih tertinggal di kantorku ini.

Sayangnya saat itu aku sedang kedatangan tamu, seorang klien yang sangat penting bagi perusahaanku, sehingga aku sama sekali tidak sempat meninggalkan tamuku untuk menemui Eksanti barang sejenak. Aku sedikit merasa kesal dan kecewa ketika tamuku pulang, karena ternyata Eksanti juga baru saja meninggalkan gedung kantorku. Receptionist di lantai bawah mengatakan bahwa sebenarnya tadi Eksanti telah menunggu aku cukup lama. Tetapi karena ia merasa khawatir dengan informasi di radio yang memberitakan bahwa situasi demonstransi semakin memanas, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk cepat-cepat pulang. Maklum saja, suasana Jakarta waktu itu memang agak mencekam, apalagi bagi seorang wanita seperti Eksanti.

Sore itu di sekitar kompleks ruko kantorku pun sudah dipenuhi oleh para demonstran, baik yang memakai jaket mahasiswa maupun orang yang tidak memakai atribut apapun. Karena sudah jam 18.00 dan ingin segera sampai di rumah, aku nekat keluar dari kantor walaupun banyak teman-temanku yang menasehati dan bahkan melarang agar aku jangan meninggalkan gedung dengan menggunakan kendaraan, dalam situasi yang sedang sangat semrawut seperti ini. Namun peringatan mereka ini aku tidak aku indahkan.

Belum jauh aku meninggalkan kantor melewati jalur lambat yang penuh dipadati oleh para demonstran, kaca jendela kiri mobilku terasa dipukul oleh tangan dengan agak keras. Tadinya aku membiarkan saja, karena aku berfikir pasti itu adalah ulah tangan-tangan jahil para penjarah yang mengaku sebagai demonstran. Tetapi setelah aku melihat sekilas, ternyata yang memukul jendela tadi adalah seorang wanita,..Eksanti. Ia kelihatan berwajah lusuh dan sangat ketakutan. Segera aku membuka kunci pintu depan mobilku dari dalam. Dengan sigap Eksanti meloncat masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya kembali. Tubuh Eksanti terlihat gemetaran dan ekspressi wajahnya dipenuhi oleh rasa ketakutan.

“Maas.., cepat deh.., cari jalan yang sepi dan cepat keluar dari daerah sini.., bisa-bisa Santi mati ketakutan.., Tadi waktu Santi nunggu taksi di pertigaan itu, Santi melihat tentara dan orang-orang sudah saling bentrok dan pukul-pukulan, malah ada yang lempar-lemparan batu”, ia bercerita penuh rasa khawatir.
Aku melirik sebentar ke arahnya, dan baru aku perhatikan bahwa seluruh pakaian Eksanti ternyata basah kuyup.
Aku bertanya, “Santi.., kenapa bajunya sampai basah kuyup begitu..?”.
Eksanti menjelaskan dengan bibir gemetaran, “Waktu di pertigaan tadi, Santi kena semprotan air yang disiramkan oleh mobil tentara untuk mengusir para demonstran”.
Lalu ia melanjutkan lagi cerita tentang kejadian yang baru saja dilihatnya dengan lebih rinci.

Jujur saja, aku sebenarnya juga merasa khawatir dengan suasana mencekam saat itu, apalagi mobilku kembali dipukul-pukul oleh tangan-tangan jahil para demonstran. Aku menjadi bertambah ngeri mendengar cerita Eksanti ini. Akhirnya, terpaksa aku hanya sekilas saja mendengarkan penjelasannya dan sudah tidak perduli lagi dengan suasana panas di sekeliling kendaraanku. Aku hanya berusaha menjalankan mobil secara pelan di tengah kerumunan orang ramai untuk mencari putaran terdekat ke arah pintu tol. Aku berfikir bahwa jalan layang tol di atas sana pasti lebih aman. Ketika mobilku telah berhasil berputar ke arah pintu tol, ternyata aku melihat jalan layang tol itupun tidak kalah ramainya dengan jalanan di bawahnya yang baru saja aku lalui. Jalan tol itu dijadikan tempat lari dan berlindung oleh orang-orang yang sedang di kejar-kejar tentara dan polisi.

Untungnya tidak jauh dari pintu tol itu aku melihat ada sebuah kompleks ruko yang pintu pagarnya masih terbuka dan dipenuhi dengan mobil-mobil yang diparkir lebih dulu untuk berlindung di situ. Aku membatalkan niatku untuk mengambil antrean masuk ke jalan tol dan mobilku berjalan merayap lambat ke sisi kiri. Lalu segera saja aku Masukkan dan aku memarkir mobilku dengan susah payah di halaman kompleks ruko itu Aku melihat arlojiku, jam telah menunjukkan pukul 19.00 malam. Gila.. perlu waktu 1 jam, hanya untuk menempuh jarak kira-kira sejauh 2 km dari kantorku.

Aku melihat Eksanti duduk diam gelisah, ia kelihatan masih ketakutan. Badannya sedikit menggigil, mungkin kedinginan karena bajunya yang basah itu. Setelah aku berhasil mencari tempat parkir yang cukup aman untuk mobilku, tiba-tiba saja Eksanti menangis dan memelukku.
“Bagaimana kita.., Maas, kita bisa pulang apa tidak?, Santi.., takuut.. Maas..”.
Aku sebenarnya masih merasa ngeri setelah menjalankan kendaraan di tengah kerumunan para demonstran yang terlihat sedang beringas itu. Tetapi aku harus mencoba untuk menenangkannya dengan mengelus-elus pundaknya sambil berkata, “Tenaang.., tenaang.., saja Santi, mudah-mudahan di sini kita aman dan nggak akan ada apa-apa”.
Setelah beberapa saat dan mungkin Eksanti sudah sadar, tiba-tiba ia melepas pelukannya, “Aaacch.., maaf.., yaa.., maas, habis Santi takut sekali”, katanya lirih.
“Nggak apa-apa kok.., San..!”, jawabku sambil aku elus-eluskan punggung tangan kiriku di pipinya.

Sudah satu jam lebih kami di berada di dalam mobil yang diparkir di kompleks ruko ini. Bisa dibayangkan bagaimana kesalnya kalau sedang menunggu tapi tidak tahu apa yang sedang ditunggu. Apalagi situasinya bukan semakin sepi tetapi semakin ramai dan semrawut, petugas keamanan dan orang-orang saling kejar-kejaran dan lempar-lemparan, sehingga membuat Eksanti semakin bertambah ketakutan.

“Maas.., gimana.., doong.., apa kita mau di sini teruus..?, Santi sudah kedinginan, bisa-bisa masuk angin nanti”, kata Eksanti sambil mendekapkan kedua tangannya di dadanya.
Karena keadaan seperti ini, membuatku jadi kehilangan akal dan aku menjawab pertanyaan Eksanti sekenanya, “Yaa.., habis mau gimana lagi.., San?, Mau meneruskan perjalanan.., juga nggak mungkin”, lanjutku.
“Oooh.., iyaa.., San, aku baru ingat.., kira-kira 500 meter dari kompleks ini kan ada Hotel, gimana kalau kita ke sana?, Yang penting Santi bisa telepon ke rumah, mengeringkan baju dan kita bisa istirahat sebentar, sambil menunggu sampai suasana menjadi agak sepi. Lalu nanti baru Mas antar pulang ke rumah kostmu”, kataku.

Santi tidak segera menjawab dan ia kelihatan sedikit ragu.
“Ayoo.., deh Mas, kita ke sana. Kayaknya kita nggak punya pilihan lain ‘kan..?”, katanya tiba-tiba, “Benar juga kata Mas tadi, Santi ingin memberitahu teman-teman di kost, kalau Santi masih selamat dan nggak apa-apa”.

*******

Setelah aku mengunci pintu mobilku, lalu kami berjalan keluar kompleks ruko itu dan masuk di sela orang-orang yang hiruk-pikuk di jalanan. Dengan bersusah-payah karena harus berdesak-desakan, akhirnya kami bisa sampai ke depan pintu Hotel tanpa hambatan yang berarti. Tetapi ketika aku mengajak masuk ke dalam lobby Hotel, tiba-tiba Eksanti berhenti dan melihat ke arahku.
Aku mengerti dengan keragu-raguannya dan segera aku katakan, “Santi.., jangan takut, kita bisa pesan 2 kamar. Ayoo.. laah”, kataku lebih lanjut sambil menggandeng tangannya masuk ke dalam lobby Hotel.
Ketika aku memesan 2 kamar kepada receptionist Hotel, “..ternyata yang tersisa hanya 1 kamar Junior Suite pak, sedangkan kamar lainnya sudah dipenuhi oleh orang-orang yang baru masuk seperti Bapak”, kata receptionistnya.

Aku melihat ke arah Eksanti untuk meminta pendapatnya, tetapi belum sempat pertanyaanku keluar, Eksanti segera menyahut, “Ok deh Mbak.., kami ambil saja”, katanya kepada receptionist hotel.
Ia segera merogoh tasnya, mungkin mau mengambil uang atau credit cardnya, tapi tangan Santi segera aku pegang dan aku katakan, “Biar Mas saja”.
Setelah administrasinya aku selesaikan, kami diberi kunci dan ditunjukkan arah kamarnya. Karena suasana di dalam hotel juga terlihat agak kacau, sehingga tidak ada bell boy yang bisa mengantarkan kami ke arah kamar, seperti biasanya standar operasi sebuah hotel berbintang seperti ini. Kami pun maklum, sehingga kami memutuskan untuk langsung menuju kamar yang ditunjukkan itu, tanpa harus ada yang mengantarkannya. Setelah kunci pintu kamar aku buka, Eksanti yang aku persilahkan masuk ke kamar terlebih dahulu.
Ternyata ia tidak segera masuk dan aku mengetahui keragu-raguan yang muncul di wajahnya. Sambil memegang pundaknya, lalu aku mengatakan, “Santi, jangan takut.., Mas janji nggak akan mengganggumu”.
Dan mendengar kata-kataku ini, Eksanti langsung memelukku serta mencium pipiku sambil berkata, “Terima kasih Mas, Santi nggak takut.., kok”.

Setelah masuk ke dalam kamar yang cukup luas dengan tempat tidur yang mewah itu, segera Eksanti menuju ke tempat telepon dan memencet angka-angkanya.
“Mbak, ini Santi.., Santi sedang di tempat kost-kostan temanku di dekat kantor”, katanya sambil melihat ke arahku dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya dan terus menceritakan aksi-aksi demonstran tadi.
“Mungkin aku akan nginap di sini sampai semuanya aman dan mudah-mudahan besok pagi aku bisa pulang”, lanjut Santi di telepon.

Setelah Santi selesai dengan telephonenya lalu dia mengacungkan gagang phone padaku, “Mas, apa Mas nggak telephone ke rumah dulu supaya yang di rumah nggak was-was?”, kata Santi.
Benar juga kata Santi dalam fikiranku, lalu aku mengambil gagang telepon dari tangan Santi dan aku putar nomor rumahku.
“Ini aku.., aku nggak bisa pulang malam ini dan sekarang aku ada di rumah salah satu teman kantor yang rumahnya nggak jauh dari kantor. Mudah-mudahan demonya selesai malam ini dan besok pagi aku bisa pulang.”, kataku sambil meletakkan gagang telepon di tempatnya.

Kami saling bertatapan dan hampir secara serentak kami berseru dan saling menunjuk, “Naah.., belajar bohong yaa?”, sambil terus tertawa bersama.
“Mas, Santi mau mandi duluan yaa..?”, kata Eksanti sambil berjalan ke arah kamar mandi, tetapi kemudian berhenti dan berbalik menengok ke arahku.
“Mas, kalau Santi mandi nanti.., tolong panggilkan room boy-nya dong. Minta tolong mereka mencuci baju kita super kilat, supaya bisa kita pakai lagi dengan segera”.
“Iyaa.., tuan putri.., perintah dilaksanakan..”, kataku bergurau.
Eksanti segera masuk ke kamar mandi, tetapi selang beberapa saat dia keluar lagi dengan hanya mengenakan lilitan handuk di badannya. Ia meletakkan bajunya yang telah digulung-gulung di atas lantai, kemudian mengacungkan sebuah handuk lain kepadaku.
“Niih Mas, ganti deh bajunya dengan handuk ini.., supaya room boy-nya bisa mencuci baju-baju kita”.

Bersambung ke bagian 2