Di Tangga Darurat – 2

82 views

jilbab bugil, cerita sex_WM

Dari Bagian 1

Kami berpindah posisi. Dengan posisi setengah duduk di tangga, saya buka celana jeansnya. Wiwiek menatap sayu. Saya hanya tersenyum. Dia membantu saya dengan meluruskan kakinya, memudahkan saya untuk membuka jeansnya. Saya nikmati ketebalan di sela-sela pahanya dengan jari saya. Dari sela-sela CD-nya, jari saya memainkan clitorisnya. Wiwiek mendesah penuh nafsu..

“Wyatt, shh.. Mm.”

Saya ciumi pahanya yang putih mulus sambil memainkan jari di arah labium minoranya. Dengan gemas, saya gigiti pahanya lalu menempelkan lidah saya sampai ke pangkalnya. Wiwiek meremas kedua bukitnya penuh nafsu, dengan lidah menjilati bibirnya berulang-ulang. Saya buka CD putihnya. Tercium bau khas vagina yang lembab. Saya ciumi vagina yang mulai basah berlendir itu. Wiwiek tetap mengerang dan mendesah pelan. Takut terdengar oleh penghuni gedung lainnya. Lidah saya menusuk-nusuk ke dalam vaginanya. Sesekali saya jilati clitnya dan menghisap pelan. Saya masukkan jari saya ke dalam vaginanya, memijat gelembung kecil di dinding dalam di balik clitnya. Wiwiek menjambak rambut saya. Kakinya mengejang, mengikuti urutan jari saya di g-spotnya. Saya gerakan lidah saya naik-turun di clitnya.

“Ahh, Wyatt.. Shh.. Terus, Wyatt.. Shh.. Ah.” Lagi-lagi Wiwiek mengerang nafsu.

Vaginanya basah kuyup oleh lendir bercampur ludah saya. Saya terus menghisap clitnya sambil menekan-nekan g-spotnya. Jari saya menjalar-jalar di bagian dalam vaginanya, saya keluar-masukkan, dan kemudian kembali memijit-mijit g-spotnya. Thanks to Venny, saya jadi tau di mana letak dan rasanya g-spot.

Permainan lidah di clit dan pijitan jari di g-spot saya percepat. Desahan nafas dan erangan Wiwiek menandakan gejolak birahi yang memuncak. Nggak berapa lama, Wiwiek tampak mengejang..

“Wyatt, ahh.. Saya.. Mhh.. Shh.. Ahh..”

Tubuh Wiwiek mengejang-ngejang sesaat diiringi oleh erangan nafsunya. Di puncak klimaksnya, saya tatap wajah Wiwiek yang mengerang. Begitu indahnya pemandangan ini. Saya duduk di sampingnya. Wiwiek memakai kembali CD dan jeansnya.

“Wyatt, makasih yah.” Wiwiek berkata lalu mencium pipi saya.
“Sekarang giliran kamu,” Tangannya mulai membuka kancing jeans saya, lalu mengurut ‘adik’ saya yang mulai tidur.
“Bangun dong adikku sayang,” kata Wiwiek sambil tertawa.

Urutan lembut Wiwiek membangkitkan kembali semangat ‘adik’ saya. Lalu Wiwiek menjilati pelumas yang keluar dari ‘adik’ saya itu. Seperti memakan es krim, Wiwiek memainkan lidahnya di arah batang sambil mengurut kantong ‘adik’ saya yang ikut-ikutan mengeras. Wiwiek mengurut batang saya dengan bibirnya sambil menghisap.

“Ugh, Wiek..” Hanya itu yang keluar dari mulut saya.

Lalu Wiwiek mengulum adik saya sampai setengah. Kepala Wiwiek bergerak naik turun, sesekali mencoba mengulum penuh ‘adik’ saya yang berukuran 15 cm itu. Saya sadar bahwa ini bukan yang pertama buat Wiwiek.

“Whatta heck lah!” pikir saya. Toh saya juga pernah ‘bermain’ dengan Venny dan beberapa teman wanita lain.
“Ini adik kedua yang saya mainin,” kata Wiwiek di sela-sela kerjaannya.
“I’m clean, Wiek. Saya nggak pernah jajan kok,” kata saya polos.

Wiwiek tersenyum dengan mulut tersumpal ‘adik’ saya. Gerakannya dipercepat. Saya melenguh nikmat sambil menuntun kepalanya naik-turun. Bunyi berdecak terdengar saat Wiwiek mengulum-ngulum ‘adik’ saya. Sesekali lidahnya menjilati helm ‘adik’ saya yang basah oleh liurnya. Wiwiek juga mengigit kecil ‘adik’ saya yang membuat dengkul saya gemetar.

“Mmuach.. Shh.. Ugh, Wyatt, mmh.. Mmh.. Mmh.”

Wiwiek mengulum-ngulum ‘adik’ saya dengan mata menatap lurus ke mata saya. Lidah Wiwiek menjilati ‘adik’ saya dari pangkal sampai helm. Lalu dia melanjutkan kulumannya sambil berdecak-decak. Sebelum saya memuntahkan cairan yang berprotein sama dengan dua gelas putih telur (kata guru biologi SMA dulu), saya menghentikan permainan Wiwiek.

“Wiek, stop dulu, yang,” kata saya pelan. Dia berhenti lalu menatap saya.
“Ada apa, Wyatt?” tanyanya.
“Boleh saya merasakan dirimu, sayang?” saya belai rambutnya yang panjang sepundak itu. Wiwiek tersenyum.
“Lakukan apa maumu, Wyatt sayang.”

Tanpa menunda lebih lama, saya suruh Wiwiek membuka jeans dan cdnya, lalu saya turunkan jeans saya sampai lutut. Dengan posisi setengah tidur, saya tuntun dia untuk duduk di atas ‘adik’ saya sambil berpegangan ke tembok.

Dengan tangan kanan menumpu keseimbangan, tangan kiri Wiwiek menuntun ‘adik’ saya ke lubang kenikmatannya. Lalu saya peluk dia untuk menjaga keseimbangannya. Kami mendesah bersamaan dengan masuknya ‘adik’ saya ke lubang hangat Wiwiek. Meskipun bukan perawan lagi, vagina Wiwiek tetap sempit. Mungkin karena diameter ‘adik’ saya yang cukup lebar atau mungkin dia merawat tubuhnya dengan jamu.

“Bodo amat,” pikir saya lagi.

Dengan gerakan perlahan, kami bercinta dengan posisi setengah duduk. Wiwiek memeluk tubuh saya agar tetap seimbang.

“Ugh, Wiek.. Sempit sekali.. Shh.. Ahh.”
“Wyatt, shh.. Mm.. Enak banget sih ‘adik’ kamu..” balas Wiwiek.

Saya membantu gerakannya dengan menaik turunkan pinggulnya. Wiwiek menguasai permainan sambil sesekali memutarkan pantatnya. ‘Adik’ saya serasa dipijit-pijit. Lalu tangan Wiwiek menggosok-gosok kantung ajaib doraemon ‘adik’ saya. Gerakan kami semakin cepat. Untuk mengurangi erangannya, saya kulum bibir Wiwiek. Erangannya yang tertahan membuat nafsu saya semakin membakar.

“Ugh.. Shh.. Ah, Wyatt.. Mmh.. Shh, ahh..” Sesekali dilepaskannya ciuman saya untuk mengerang.

Saya rebahan agar Wiwiek lebih leluasa menaik-turunkan tubuhnya. Dia mengambil posisi jongkok. Saya melihat ‘adik’ saya keluar masuk vagina Wiwiek. Bibir vaginanya terlihat seperti mengulum-ngulum batang ‘adik’ saya. Suara berdecak terdengar sesekali akibat vagina Wiwiek yang basah berlendir. Saya basahkan jari saya dengan liur, lalu mengosok-gosok clitnya. Wiwiek makin terbakar.

“Ugh.. Shh, ahh.. Terus, Wyatt, akh.. Mmhh.. Shh.. Uuh, uhh..” Wiwiek mengoyangkan pinggulnya dengan tangan bertumpu ke tembok dan pegangan tangga. Tangan saya meremas pantatnya sambil mengikuti gerakan naik-turunnya.

Kemudian kami ganti posisi. Wiwiek mengambil posisi merangkak. Saya ciumi pinggulnya dan pantatnya yang putih.

“Wyatt sayang, cepetan dong.. Nggak tahan nih..” pintanya. Saya basahi vaginanya dengan jari dan liur saya, lalu memain-mainkan helm ‘adik’ saya di mulut vaginanya. Wiwiek mendesah..
“Ugh.. Shh, Wyatt..” Tangan kirinya menekan pantat saya untuk segera memasukkan ‘adik’ saya ke vaginanya. Saya langsung membenamkan ‘adik’ saya sepenuhnya ke lubang kenikmatan Wiwiek.
“Ugh.. Shh.. Ahh.. Wyatt.” Dia mengerang bercampur perih.

Saya mulai bergerak maju mundur penuh nafsu. Erangan dan desahan silih berganti. Kadang saya tepuk pantatnya yang membuat Wiwiek mengeluh nikmat. Dia membantu proses dengan memaju mundurkan pantatnya berlawanan dengan irama saya. Begitu saya tekan, dia dengan sigap memundurkan pantatnya, seakan-akan ingin melahap ‘adik’ saya sampai habis ke akar-akarnya. Setelah belasan menit, Wiwiek tampak mempercepat gerakannya.

“Wyatt.. Wiwiek mau, shhaa.. Ahh.. Mmh.. Aahh, Wyatt sayang.. Shh.. Ahh..” Tubuh Wiwiek mengejang mencapai klimaksnya. Saya makin mempercepat gerakan saya agar ‘adik’ saya juga muntah.
“Wiek.. Shh.. Saya juga.. Uhhg.. Ughh.. Hhm..”

Saya tekan sekuat-kuatnya ‘adik’ saya sampai Wiwiek menangis. Berbarengan dengan keluarnya cairan hangat dari ‘adik’, pantat saya menekan kuat sambil menarik pinggulnya ke belakang. Sebelum berdiri, saya mengeluarkan sapu tangan untuk menghalangi tumpahan dari vaginanya. Setelah bersih dari ‘cairan surgawi’, Wiwiek memakai CD dan jeansnya. Wiwiek memegang muka saya dengan kedua tangannya sambil menempelkan hidungnya ke hidung saya. Kami berdua tersenyum puas. Sesaat kami berciuman.

“Wyatt, makasih lagi yah,” katanya.
“Saya nggak mau ini berakhir, Wiek. Nggak tau kenapa, saya nggak mau kehilangan kamu,” kata saya. Perasaan ini tiba-tiba muncul begitu saja. Wiwiek hanya tersenyum manis.
“Sapu tangannya biar nanti Wiwiek cuci, Yang,” katanya manja.

Lalu kami merapikan pakaian. Wiwiek menjepit rambutnya yang terlihat sedikit acak-acakan. Saya mengeluarkan rokok dan menyodorkannya ke Wiwiek.

“Nanti aja lah,” katanya.
“Smoking after sex itu enak loh, Wiek,” kata saya sambil menghidupkan rokok.

Baru sekali hisap, dia ambil rokok saya lalu menghisapnya. Kami berdua tertawa ambil bertatapan. Pas Wiwiek menyerahkan rokok ke saya, tiba-tiba pintu terbuka. Teman saya yang bernama Heri muncul sambil tersenyum penuh curiga.

“What?!” tanya saya.
“Nah, ya.. Gua tau sekarang..” katanya. Wiwiek tersentak. Saya merasa seperti naik roller coaster yang turun dengan cepat. Muka saya terasa tebal. Pucat.
“Elo berdua pacaran yah? Kok ngerokoknya saweran begitu?” tanya Heri. Astaga, saya kira dia mengetahui apa yang kami lakukan tadi. Wiwiek menghela nafasnya sambil tersenyum lega.
“Rokok gue tinggal sebatang. Nggak ada salahnya kan kalo saweran. Elo mau? Nih..” Saya sodorkan rokok ke Heri. Dia tertawa senang.
“Sip.. Ini namanya temen. Sebatang saweran,” katanya sambil menghisap rokok.
“Siapa bilang saweran rokok itu berarti pacaran? Buktinya elo saweran sama Wyatt, berarti kalian berdua pacaran dong,” kata Wiwiek.
“Weits, enak aja kalo ngomong. Si Wyatt tuh yang hombreng..” kata Heri. Saya cuma tertawa.
“Udah dikasih rokok malah begitu..” tanggap saya.

Kami bertiga tertawa. Dalam tawanya, Wiwiek menatap saya, lalu saya balas dengan anggukan pelan. Hal ini akan terus berlanjut, entah besok atau lusa. Yang pasti nggak bakal di tangga darurat lagi.

Buat Wiwiek-Wiwiek lainnya yang kepengen jangan malu-malu kirim email, ditunggu ya.

E N D