Di Tangga Darurat – 1

122 views

jilbab bugil, cerita seks_WM

Cerita ini dimulai ketika saya sedang menjalani program pendidikan untuk sekolah ke luar negeri di kota J tahun 1998 yang lalu. Akibat badai krismon yang datang tanpa permisi, keberangkatan saya terpaksa tertunda sampai keadaan membaik. Begitu pula dengan teman-teman yang lain. Banyak di antara mereka yang sudah bersekolah di luar negeri harus pulang karena nilai dollar yang menguat, salah satunya adalah Wiwiek.

Pertama kali aku bertemu dengannya ketika masa orientasi. Saya tidak begitu memperhatikan sosok ini karena sibuk dengan kesendirian saya. Masa perkenalan adalah hal yang paling menjengkelkan karena saya tidak suka untuk memulai sesuatu yang baru. Kolot memang. Singkat cerita, saya telah mengenal satu persatu teman-teman baru termasuk Wiwiek.

Hari Senin, dua minggu setelah masa orientasi, saya datang lebih dulu dari yang lain. Saya langsung menuju kantin untuk makan siang sekaligus merokok. Ketika sedang asik makan, tiba-tiba pundak saya ditepuk dari belakang.

“Makan kok nggak ngajak-ngajak?” tanya Wiwiek.
“Hmm.. Eh, Wiwiek. Makan yuk,” jawab saya seadanya dengan mulut setengah penuh. Dia langsung mengambil posisi pas di depan saya.
“Makasih. Minta rokoknya yah..” Dia langsung mengambil rokok Marlboro Lights saya.
“Wah, rokok luar nih,” katanya sambil menghidupkan rokok. Lagi-lagi dengan mulut setengah penuh saya menjawab..
“He.. Eh, abis yang dalem suka bikin batuk. Gatel lagi,” kata saya.
“Kalo lagi makan jangan ngomong. Pamali,” katanya. Saya cuma tersenyum, lalu meneruskan makan siang saya.

Beberapa waktu berlalu, tiba-tiba saya merasa risih dan mengangkat wajah saya. Mata saya bertatapan lurus dengan mata Wiwiek yang ternyata terus mengamati saya selama makan.

“Kok saya deg-deg-an sih?” tanya saya dalam hati.

Lalu dia memalingkan muka ke arah lain. Saat itu saya baru menyadari betapa cantiknya sosok ini. Matanya yang tajam dengan alis tebal dan bulu mata lentik, hidung bangir dan bibirnya yang tipis mengingatkan saya dengan sosok Venny, mantan saya. Ada bulu-bulu tipis di atas bibirnya. Orang bilang, cewek yang begini nafsunya gede. Selesai makan, saya teruskan dengan merokok, kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan. ‘Abis makan nggak ngerokok, seperti dipukulin sama anak kecil sekampung di depan rumah, terus nggak ngebales lagi!’, kata seorang teman saya waktu SMA dulu.

“Nanti kita kelas jam berapa sih?” tanya saya basa-basi.
“Satu jam lagi,” katanya.

Kami mulai bercerita apa saja, dari mulai keadaan kota J yang macet, keadaan yang makin memburuk, sampai sedikit masalah pribadi.

“Kamu udah punya pacar, Wyatt?” tanya Wiwiek. Saya terdiam sesaat.
“Pernah punya sih. Namanya Venny. Sempet jadian selama 2 tahun, eh, dia ngelaba sama temen karib saya. Kita bubaran begitu aja. Nggak ada kata maaf atau alasan apapun dari dia..” jawab saya berat. Wiwiek menangkap maksud saya..
“Sorry, I didn’t mean to..”
“Oh, nggak apa-apa. Lagi pula saya seneng sama keadaan saya sekarang. Single fighter. Ke mana aja bebas, nggak peduli lagi soal jam ngapel. Nggak ada lagi yang memonitor lewat HP, kecuali ortu sama temen-temen,” kata saya sambil tersenyum. Kami terdiam sesaat.
“Kalo kamu gimana?” tanya saya memecah kesunyian.
“Udah di ambang kehancuran sih. Cowok saya itu super protektif. Saya dilarang ini-itu. Nggak boleh nelpon siapa-siapa kecuali dia. Saya nggak boleh punya temen cowok. Pokoknya lebih galakan dia dari nyokap saya,” katanya. Saya cuma tersenyum sambil menatap wajahnya yang cantik dan menggairahkan.
“Kamu kok dari tadi senyum-senyum aja sih. Jangan-jangan..?” tanya Wiwiek sambil menatap saya penuh curiga. Saya terbatuk mendengar pertanyaannya yang aneh.
“Maksud kamu apa sih?”
“Ah.. Nggak. Nggak ada apa-apa. Cuma..”
“Cuma apa, Wiek?” tanya saya penasaran. Sebelum menjawab pertanyaan saya, teman-teman yang lain datang.
“Ciee.. Beduaan aja nih?” tanya seorang dari mereka. Kami cuma tersenyum acuh.
“Kita lanjutin nanti,” kata saya pelan yang dibalas oleh anggukan.

Lecture selama dua jam akhirnya selesai. Dengan semangat saya langsung keluar menuju tangga darurat tempat kami biasa merokok. Untungnya ada setengah jam waktu istirahat. Nggak lama setelah saya duduk di tangga, Wiwiek masuk dan langsung duduk di sebelah saya. Saya menawarkan rokok yang langsung diambilnya dengan cepat. Lalu saya sodorkan lighter. Sebenarnya saya kurang suka dengan cewek perokok, tapi tidak dengan Wiwiek. Dia terlihat lebih seksi dengan rokok di sela-sela jawiekya.

“Saya nggak ngerti loh gurunya tadi ngomong apa. Inggrisnya berantakan sih.” Wiwiek membuka pembicaraan. Saya tanggapi dengan tertawa kecil.
“Kamu aja yang udah pernah sekolah di luar nggak ngerti. Apalagi saya,” tanggap saya.

Wiwiek tersenyum. Memabukkan sekali senyumannya itu. Diam-diam saya mengamati posturnya.

“Hmm.. Kira-kira 34C. Gede juga,” pikir saya sok tau.
“Saya boleh curhat nggak ke kamu?” tanya Wiwiek.
“Boleh.. Asal dibayar yah,” kata saya sambil ketawa.
“Hmm, matre juga yah kamu,” kata Wiwiek rada ketus. Tapi saya tau kalau dia cuma bercanda.
“Cerita deh,” lanjut saya.
“Menurut kamu saya harus gimana ke Erik? Saya nggak betah diperlakukan seperti ini. Jenuh,” Wiwiek berkata sambil menghisap rokoknya.
“Venny juga memperlakukan saya seperti itu. Tapi nggak keterlaluan sih. Lagi pula saya kan mau bebas juga. Kalo bergaul sama laki-laki terus, lama-lama saya jadi homo. Akhirnya, yah.. Kita putus begitu aja,” kata saya.
“Kalau putus, saya nggak bisa sayang-sayangan lagi dong, Wyatt,” kata Wiwiek. Nggak tau atas dasar apa saya langsung ngejawab..
“Kan masih ada Wyatt.” Wiwiek terkejut menatap saya.
“Upss, dasar bego!” pikir saya. Wiwiek hanya tersenyum.
“Tapi masih ada Venny di hati kamu, Wyatt. Saya nggak mau ngerusak hal itu,” lanjutnya.
“Like I said before, Wiek. Saya single fighter sekarang,” jawab saya. Dia tertawa, lalu menyenderkan kepalanya ke pundak saya.
“Dua minggu itu nggak lama loh, Wyatt. Tapi kok rasanya saya sudah mengenal kamu lebih jauh yah..” kata Wiwiek sambil mengusap-usap paha kiri saya. Darah saya bergejolak. Satu tahun tanpa belaian wanita adalah waktu yang cukup menyiksa buat saya. Saya cium rambutnya. Harum.
“Boleh saya mengenal kamu lebih jauh, Wiek?” tanya saya sambil merangkulkan tangan ke pundaknya. Wiwiek cuma tertawa. Saya angkat wajahnya, lalu mencium bibirnya pelan. Mata Wiwiek terpejam, menikmati ciuman saya.

Merasa mendapat balasan, saya lanjutkan dengan permainan lidah ke mulutnya. Wiwiek membalas dengan hangat. Perlahan tapi pasti, tangan saya merayap ke dadanya, lalu menekan bukit indah itu pelan. Wiwiek melenguh. Tidak ada penolakan, saya meremas yang dibalas oleh pagutannya. Tiba-tiba saya tewiekgat bahwa kami belum lama berkenalan. Saya menarik ciuman saya. Bibir Wiwiek terasa tidak ingin mengakhiri ciuman ini.

“Wiek, apa saya terlalu jauh?” tanya saya. Wiwiek menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Kamu bilang mau mengenal saya lebih jauh. Teruskanlah, Wyatt,” jawabnya.

Saya kembali meneruskan permainan kami yang tertunda. Sambil berciuman, tangan saya mulai merambah ke dalam bajunya. Wiwiek mendesah halus. Tangannya terus mengusap paha saya, sambil melangkah lebih jauh ke arah pangkal paha. Wiwiek lalu melirik ke tonjolan di celana saya.

“Adik kamu bangun yah Wyatt? Kasian yah, udah lama nggak ada yang mainin?”

Tangan Wiwiek mengusap-usap ‘adik’ saya. Birahi saya memuncak. Saya sudah tidak peduli lagi di mana kami berada. Saya ajak Wiwiek berdiri, menyandarkannya ke tembok, lalu mengangkat kaos dan meremas bukit kembarnya. Kami terus berciuman. Penuh nafsu. Saya cium, jilat, dan gigit lehernya yang putih.

“Hmm, shh, uuh..” Wiwiek mendesah.

Saya buka tali branya lalu menjilati bukitnya yang kenyal dengan puting yang merah muda mengeras. Saya jelajahi bagian dadanya dengan sapuan lidah dan ciuman, menekan bukitnya dan menciumi keduanya bergantian. Ciuman dan jilatan di bukitnya membuat Wiwiek mendesah..

“Mmh.. Wyatt, shh.. Aahh.”

Dia mengambil jari saya lalu mengulumnya. Saya jilati perlahan putingnya lalu menggigit dan menghisap perlahan. Suara Wiwiek mengulum jari saya membuat ‘adik’ saya bertambah keras.

“Mhh.. Shh, mmhh.. Mmhh.. Shh, ahh.. Terus, Wyatt.” Wiwiek mengerang penuh nafsu.

Saya remas dan angkat kedua bukitnya, menghisap sekaligus menggigit putingnya bergantian. Tangan kiwiekya membuka retsleting saya. Untungnya saya memakai boxer yang ada kancingnya. Dengan cepat, Wiwiek membuka kancing boxer saya, lalu meremas ‘adik’ saya yang berukuran sedang dengan diameter yang cukup besar. Dengan gerakan maju-mundur, Wiwiek mengurut-urut ‘adik’ saya yang sudah mulai mengeluarkan pelumas.

Ke Bagian 2