Famitha 1: Occulta In Nocte – 2

82 views

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot, imgur_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Dari bagian 1

..Night in Dementia..

Begitu pintu kamar hotel tertutup, Romeo langsung memelukku dengan hangat dan mesra. Sepasang lengan yang kekar itu melingkari pinggangku dan akupun menyandarkan punggungku di dada yang bidang dan beraroma laki-laki yang begitu merangsangku. Di luar dugaanku, Romeo begitu halus dan memperlakukanku dengan lembut penuh perasaan. Dia menciumi tengkuk dan leherku sambil sesekali menyentuhnya dengan lidahnya. Aku menggeliat penuh kenikmatan dan menahan rasa geli yang menyenangkan.

Aku balikan tubuhku dan mengalungkan lenganku pada pundaknya yang kokoh kemudian mendaratkan ciuman panas kearah bibirnya yang telah menantikan bibirku. Mulut kami berpagutan demikian mesranya dan Romeo menggunakan lidahnya menggelitik langit-langit mulutku. Aku membalasnya dengan mengulum lidahnya hingga terasa memenuhi mulutku. Romeo kemudian mulai menciumi leher dan bagian dadaku. Bersamaan dengan itu, sepasang tangannya bergerak liar menelusuri tiap lekuk tubuhku. Dia menyelipkan tangannya kebalik bajuku lalu menyentuh puting payudaraku hingga mengeras dan menimbulkan perasaan merinding dan nikmat.

“Hmm..” aku menahan nafasku yang mulai memburu.

Dengan halus aku menepis tangannya dan mendorongnya hingga terduduk di kursi. Kemudian aku mulai melepaskan busanaku satu persatu di hadapan Romeo yang menatapku dengan tatapan penuh minat dan hasrat. Aku menghampirinya lalu kuciumi lehernya hingga nafasnya yang memburu menerpa rambutku. Kulepaskan kaos lengan panjangnya lalu mendaratkan bibirku di bagian dadanya yang kekar itu. Kunikmati asinnya keringat Romeo yang mulai membasahi dadanya sambil kujilati bagian putingnya. Romeo membelai halus rambutku dan tanganku membelai susunan otot di perutnya yang indah bagai terpahat kokoh itu. Sepasang payudara yang kencang milikku juga tidak luput dari remasan tangan Romeo yang tampak begitu gemas mempermainkan sepasang bukit indah milikku ini.

Aku hanya bisa menggigit bibirku sendiri menahan kenikmatan ketika Romeo menghisap kedua putingku bergantian. Kepalanya makin turun kearah bagian perutku lalu kearah bulu-bulu halus di antara kedua pahaku. Romeo rupanya ingin sekali merasakan kewanitaanku hingga aku kembali berdiri tegak di depannya. Untuk memudahkannya mencapai liang kewanitaanku aku mengangkat kaki kananku melampaui pundaknya dan kupijakkan di sandaran tempat duduknya sedang kaki kiriku agak berjinjit hingga kepala Romeo berada di antara selangkanganku.

“Indah sekali,” katanya bergumam.

Aku belum sempat mengucapkan sepatah kata ketika kurasakan liang kewanitaanku disentuh oleh hangat lidahnya. “Uuuhh” begitu saja keluar dari mulutku menahan kenikmatan yang begitu mebiusku akibat sentuhan di bagian paling sensitif dari tubuhku. Selanjutnya aku membiarkan diriku hanyut dalam permainan cinta yang begitu nikmat bersama Romeo. Dia membaringkan tubuhku di atas ranjang lalu meneruskan penjelajahannya di seluruh permukaan kulitku dengan penuh kelembutan.

Kupejamkan mataku dan pasrah menikmati kenikmatan foreplay yang diberikannya. Bagian kewanitaanku sudah begitu basah dan penuh cairan cinta ketika Romeo menancapkan penisnya. Kejantanan lelaki muda ini terasa menusuk begitu dalam hingga menembus relung jiwaku.

“Aaah!!” erangan lirih yang keluar dari mulutku masih belum bisa mewakili keindahan yang kurasakan.

Desahan nafas dan peluh di sekujur tubuh ini membuat diriku kembali menjadi wanita seutuhnya. Setidaknya di saat tubuh kekar milik Romeo menindihku aku seperti kembali merasa menjadi manusia biasa. Kenikmatan sexual, walaupun hanya sesaat cukup
menghidupkan gairahku yang beku oleh keabadian yang menjemukan. Kenikmatan ketika berhubungan sex adalah satu-satunya kenikmatan yang tidak dimiliki oleh keabadian. Iblis, malaikat sekalipun tidak pernah merasakan nikmatnya berhubungan sex.

Namun secepat hadirnya, secepat itu pula kenikmatan itu berlalu dan lenguhan lirihku berpadu dengan erangan berat Romeo di saat kami berdua mencapai puncak kenikmatan yang begitu memabukkan. Tubuh kami berdua saling mengunci dan bergetar menahan dahsyatnya orgasme dan ejakulasi yang menghantam bagai ombak memecah karang. Selama bebarapa menit kami berdua terdiam membisu membiarkan sisa-sisa hasrat meninggalkan tubuh telanjang milik kami berdua di atas ranjang itu.

Romeo bangkit perlahan dan duduk di tepi ranjang. Tangannya menarik celana panjangnya mencari-cari sesuatu dalam kantongnya.

“Cari apa?” tanyaku dengan suara datar dan dingin.
“Hmm.. aku mau merokok.. boleh?” katanya sambil menatapku canggung meminta ijinku.

Aku menganggukkan kepala mengiyakan dan Romeo segera menyalakan rokoknya. Wajahnya masih terlihat canggung dan kosong di balik kepulan asap rokoknya. Segala kenikmatan yang baru dia rasakan ternyata belum bisa menghilangkan dominasiku atas dirinya.

“Famitha.. kamu merokok?” katanya menawarkan rokok padaku.
“Tidak.. aku tidak merokok,” jawabku sambil bergerak dan memeluknya dari belakang.

Romeo menoleh menatapku sambil tersenyum dan setengah bersandar padaku. Terasa hangat tubuhnya menempel pada payudaraku. Rasa dahagaku yang tadi sempat terlupakan oleh kenikmatan persetubuhan kini mulai merongrong dalam kerongkonganku. Aku berusaha menguasai diriku dan menangkap aura kehangatan yang terpancar dari tubuh Romeo. Tidak biasanya aku menghabiskan begitu banyak waktu berhubungan dengan mahluk fana.

Biasanya aku langsung ketujuan utamaku yaitu melepaskan dahaga akan kesegaran darah para mangsaku. Namun sesuatu dalam diri pria tampan ini telah berhasil menyumbat iblis dalam jiwaku. Romeo memiliki tubuh ideal yang aku sukai dari lawan jenisku (pasti juga wanita pada umumnya). Tingginya sekitar 180 centimeter dan tubuhnya kekar dan bersih ditambah wajah yang cukup tampan. Wajahnya cenderung melankolis dan tatapan matanya walaupun tajam namun menyimpan kesedihan dan kepahitan hidup.

Aku bisa merasakan itu semua sejelas aku bisa mencium bau darah dan rasa takutnya. Kudekatkan wajahku ke tengkuknya lalu
menyandarkan daguku di atas punggungnya. Terasa begitu damai dan menyenangkan tatkala hangat tubuhnya menjalari tubuhku. Romeo-pun berceloteh tentang banyak hal terutama pengalaman-pengalamannya selama kuliah, pacaran dan keluarganya. Dari ceritanya itu aku menangkap kalau Romeo memiliki pandangan yang pesimistis tentang banyak hal dalam hidupnya. Mulai dari kejenuhannya dengan kuliah, pedihnya ditinggal kekasih serta keadaan keluarganya yang jauh dari harmonis.

Uniknya, dia menceritakan itu dengan setengah bercanda. Kepahitan hidup diceritakannya lewat humor-humor pahit yang penuh dengan ironi. Aku heran dengan pria yang satu ini. Pria seumurnya biasanya sedang mengalami masa2 terindah dan penuh cita-cita serta ambisi dalam melihat masa depan. Romeo seperti seorang yang menertawakan masa depan dan menganggap masa lalu sebagai suatu beban yang menjemukan. Dalam banyak hal, manusia fana ini memiliki kemiripan dengan diriku. Perbedaannya adalah dia masih memiliki hidup di genggamannya sedangkan aku memandang kehidupan sebagai masa lalu yang indah dalam kenangan saja. Terlalu lama berada dalam keabadian membuatku merindukan hidup dengan segala tantangan dan kepahitannya.

“Bukankah hidup, bagaimanapun beratnya masih lebih berharga karena masih ada masa depan yang menjanjikan sesuatu bagi kita?” (aku menggunakan kata ‘kita’.. walaupun sebenarnya aku sudah bukan jadi bagian dari kehidupan).

“Memang tapi kamu kan berbeda denganku Famitha, tiap orang punya masalahnya masing-masing..” Romeo menghembuskan asap rokoknya lalu melanjutkan, “Masalah yang harus aku hadapi tidak mungkin kau mengerti.. demikian pula masalahmu.. mana mungkin aku pahami.” Ucapan Romeo membuatku sadar kalau cara kami memandang hidup tidaklah sama.

Ucapannya tadi berlaku bagi semua orang terlebih lagi bagiku yang menjalani kehidupan yang lain dari manusia pada umumnya. Bagiku hidup begitu berharga karena aku sudah tidak lagi memilikinya sedangkan bagi Romeo-manusia pada umumnya hidup bisa saja tidak bernilai karena segala macam pengalaman pahit yang mereka rasakan. Mungkin bagi Romeo keabadian adalah sesuatu yang dia inginkan saat ini tapi bagiku yang sudah mengalami berbagai pengalaman dalam keabadian, sangatlah menjemukan.

Suatu paradox baru kutemui malam ini. Sepertinya kehidupan fana dan keabadian pada suatu ketika bisa berjalan paralel dalam suatu ironi. Tanpa sadar posisi wajahku yang berada dekat dengan lehernya membuat air liurku mengalir. Cairan dahaga segera memenuhi seisi mulutku dan tanpa bisa kukendalikan lagi, merangsang suatu ereksi lain di dalam mulutku. Bau keringat Romeo dan bayangan pembuluh-pembuluh darah yang tersembunyi di balik tipisnya kulit telah membangkitkan hasrat alamiku.

Tanpa kusadari dan di luar kendaliku, sepasang taring mungil namun tajam milikku telah mencapai bentuk aslinya. Tubuhku gemetaran menahan gejolak yang sama kuatnya dengan gejolak sex yang mulai mengambil alih kendaliku atas wujud fisik ini. Nafasku mendengus kencang menerpa lehernya dan belaian tanganku mulai berubah menjadi cengkeraman yang kasar di permukaan kulit lunak miliknya.

Tubuhku menjadi begitu dingin sedingin batu nisan pertanda hilangnya kemanusiaan dalam diriku. Romeo rupanya merasakan perubahan itu dan aku merasakan bulu kuduknya berdiri dicekam rasa takut yang penuh misteri. Begitu Romeo memalingkan wajahnya menengok kearahku, tubuhnya menjadi kaku dan terkesiap melihat pemandangan yang belum pernah dia jumpai sebelumnya.

Dia sedang berhadapan dengan Famitha si pemangsa! Tubuhnya meronta namun tidak sanggup melepaskan cengkeramanku yang
begitu kuat. Romeo membuka mulutnya hendak berteriak namun suaranya hilang ditelan rasa takut yang mencekik tenggorokannya.
Kudekatkan wajahku ke arah lehernya hingga air liurku jatuh menetes di atas tengkuknya. Tidak sabar ingin kubenamkan taringku ke dalam leher lunak miliknya untuk segera memuaskan dahagaku akan darahnya.

Romeo menatapku pasrah seperti sadar bahwa nasibnya sudah berada di tanganku. Tatapan matanya kini tidak lagi dipenuhi rasa takut namun penuh dengan kepasrahan dan penyerahan diri.

“Romeo.. masihkah kamu takut padaku sekarang? Tidakkah kamu bahagia karena aku telah memutuskan untuk menghadiahkan keabadian buatmu? Bukankah kau sudah jemu dengan hidupmu?” Pertanyaanku membuat seberkas sinar muncul di dalam tatapan Romeo yang tadinya sudah kosong penuh kehampaan.

“Famitha.. kau.. kau begitu.. nyata,” kata Romeo dengan pandangan takjub bagai seorang yang menemukan sesuatu yang baru dan berharga baginya. Aku terkejut mendengar jawabannya. Tiba-tiba kurasakan rasa takut telah meninggalkan dirinya. Romeo sepertinya menjadi begitu tenang dan bicara padaku bagai seekor domba yang tersenyum ramah menyapa serigala yang akan memangsanya.

“Apa maksudmu?” kataku bingung. Kujauhkan taring mautku dari lehernya.
“Kukira kau hanya ada dalam mimpi.. ternyata kau begitu nyata,” suara Romeo terdengar halus dan penuh simpati, “Jadikan aku seperti dirimu.. bawa aku bersamamu”.

Aku tidak sanggup menjawabnya. Permintaannya itu menyadarkan diriku akan sesuatu yang selama ini kulewatkan. Selama ini aku memuaskan dahagaku akan darah manusia untuk memenuhi kebutuhan tubuhku agar tetap bertahan. Menjadi vampir seperti diriku berarti memiliki jiwa abadi yang terperangkap di dalam tubuh yang sudah mati. Cepat atau lambat tubuh ini akan menyadari kalau dia sebenarnya hanyalah seonggok mayat yang ditunggangi oleh jiwa iblis di dalamnya.

Darah segar yang berasal dari tubuh-tubuh yang masih hidup membuatnya tetap bertahan pada wujudnya. Amatlah mengerikan buatku membayangkan terperangkap dalam tubuh yang membusuk karena tidak memberinya darah. Sepintas ide akan keabadian amatlah menyenangkan dan menghadiahkannya pada seseorang membuat diriku bagai seorang pahlawan yang membebaskan orang lain dari sesaknya kehidupan fana. Akan tetapi kini kusadar bahwa memberinya keabadian sama saja dengan menyiksa jiwanya dalam tubuh yang sudah mati.

Aku rasa bukan keabadian seperti itu yang diinginkan Romeo. Dan aku tidak ingin menanggung perasaan bersalah bila kelak menyaksikannya tersiksa oleh dahaganya akan darah selama-lamanya. Sepertinya aku tidak sanggup menyaksikan Romeo-ku menjadi pembunuh seperti diriku. Bisikan jiwa dari dalam relung keabadian membuatku kembali menguasai diriku. Mematikan nafsu dari jasad iblis ini untuk meneruskan niatnya. Air mata mengalir membasahi pipiku karena hampir saja aku merenggut hidup pria di depanku ini. Hampir saja aku merubah orang yang telah menyalakan api cinta dalam diriku menjadi mahluk keji seperti diriku. Mungkin juga menyesali keberadaanku selama ini. Romeo-ku tidak mengeluarkan sepatah katapun ketika kupeluk tubuhnya dengan penuh penyerahan.

Kuserahkan tubuh dingin dan mati ini kedalam rengkuhan hangatnya. Aku membiarkan Romeo menghadiahkan kehangatan cintanya padaku. Walau hanya sesaat, kehangatan cinta dan tubuh fana miliknya lebih berarti dibanding keabadian dalam kegelapan yang selama ini kurasakan.

Aku Famitha adalah bagian dari malam
Aku terlahir dalam kegelapan

Dia Romeo adalah bagian dari siang
Dia terlahir dalam cahaya

Sesaat kunikmati cahaya dalam dirinya
Sesaat kuberikan kegelapan untuk dinikmati olehnya

Kala fajar menjelang, dan rembulan menghilang
Romeo harus kembali pada hiruk-pikuknya kehidupan
Dan Famitha harus kembali pada sepinya keabadian.

..In Extenso..

Pertemuanku dengan Romeo pada malam itu merupakan awal dari pertemuan-pertemuan kami berikutnya. Makin lama aku mengenalnya, semakin besar keyakinanku pada hasrat yang terpendam dalam diriku. Aku betul-betul telah jatuh cinta padanya. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya untuk menjadi mangsa dari cinta dan nafsunya. Malam demi malam kulalui dengan menikmati cumbuan dan ciuman hangatnya. Kubiarkan tubuhnya menggeluti tubuhku ini di atas ranjang dengan penuh hasrat. Kunikmati tiap penetrasinya, kutenggelam di dalam tiap orgasme yang diberikannya. Kami melakukannya hampir tiap malam. Tidak sabar aku menanti bertemu dengannya tiap malam di diskotik tempat kami petama kali bertemu. Tidak sabar aku menanti untuk segera menuju hotel yang sama untuk memuasakan segala gejolak rindu dalam hati.

Saat itu aku merasa kembali memiliki hidup dan sejenak melupakan keabadian yang menyiksa ini. Semua bagaikan mimpi bagiku hingga suatu saat Romeo tidak lagi datang saat kunanti dia di tengah hiruk-pikuk diskotik itu. Akupun terus menantinya hingga beberapa malam sesudahnya. Cukup lama bagiku untuk menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi. Naluri keabadianku telah dibutakan oleh perasaan cinta hingga sudah sangat terlambat ketika kusadari bahwa aku telah kehilangan Romeo-ku.

Romeo-ku telah pergi selamanya dari pelukanku. Romeo-ku telah menemukan keabadian yang sejati. Selama ini rupanya dia merahasiakan penyakit yang dialaminya. Pantas dia begitu mendambakan keabadian. Aku sama sekali tidak menyesal karena telah membiarkannya hidup lebih lama hingga penyakitnya merenggut hidupnya. Setidaknya aku telah memberikan cintaku seutuhnya walau cuma sesaat. Di balik semua kesedihanku aku merasa senang karena aku masih bisa mencintai seseorang. Sesuatu yang semula kukira telah hilang dalam keabadian ini.

..Epilogue..

Aku bergerak tanpa bersuara..
Langkah kakiku cepat dan ringan..
Aku menyusuri jalan yang gelap ditemani kegelapan malam.
Melewati manusia-manusia fana yang tidak mengenaliku
Aku terbius oleh aroma mereka.. mereka adalah mangsaku.
Aku berhenti di bawah cahaya lampu jalan..
Membiarkan wajahku terlihat oleh mereka.
Kubiarkan mereka sejenak terpaku melihat wujudku..
Segera mereka mempercepat langkah mereka..
Ketakutan di wajah2 itu amatlah menyenangkanku.
Tatapan-tatapan itu dipenuhi rasa takut yang mencekam.
Kuangkat wajahku dan tertawa..
Membiarkan suaraku terdengar oleh mereka.
Kumelangkah keluar dari sinar lampu dan kembali bersembunyi dalam kegelapan.
Kulanjutkan langkahku hingga tiba di sebuah taman yang sepi..
Kudengar suara tangis seorang gadis yang duduk di atas bangku taman..
Tangisannya begitu lirih dan pelan..
Airmata berlinang membanjiri pipinya..
Gadis itu tidak menyadari kehadiranku.
Sepasang matanya tertutup rapat dan tubuhnya gemetar menahan isak tangis.
Degup jantungnya terdengar jelas olehku..
Berdenyut di dalam dadanya..
Perlahan aku menghampirinya..
Kini aku telah berada tepat di sisinya.
Sejenak mengagumi pipinya yang lembut memerah karena tangis.
Aku beranjak mendekatkan wajahku ke lehernya..
Kemudian berhenti untuk menikmati aroma kehidupan yang tercium jelas..
Aku terkejut ketika paras kesedihannya berubah dan bibirnya membentuk senyuman..
Dia menoleh dan menatapku..
Tatapan matanya begitu dalam dan pasrah.
Bibirnya yang halus dan lembut itu terbuka dan berbisik padaku..
“Terima kasih”
Kemudian aku segera menghujamkan taring-ku menembus kulit lehernya..
Kulubangi kulit lembut itu hingga darahnya terasa memenuhi mulutku..

I drink till i can drink no more.. Again, i am alive.

Suatu saat nanti akan datang hari di mana aku akan meninggalkan siksaan yang berkepanjangan ini untuk bersatu kembali dengan Romeo-ku dalam keabadian yang sejati. Tapi hingga saat itu tiba, semuanya akan tetap menjadi rahasia sang rembulan. Tersamar dan tersembunyi di gelapnya malam.. occulta in nocte.

E N D